Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Ulama adalah Pemimpin Umat Bukan Pelayan Penguasa


Ditulis oleh: Ustadz Hamzah Baya, S.Pd.I. (Ketua Mimbar Syari'ah)

Umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Ulama’ yang hari ini menjadi panutan umat membimbing manusia kembali kepada jalan Allah Subhanahu Wata’alaa mendapatkan perlawanan dari musuh-musuh Islam, Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan. Membuat opini bahwa ulama merusak Negara dan memecah persatuan bangsa. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam kondisi terlena, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak yang gugur dalam kehinaan. Cinta kepada dunia dan takut akan kematian

Fungsi ulama’ sebagai pewaris nabi hilang ditengah-tengah umat yang semakin haus akan bimbingan para ulama’ yang lurus untuk kembali kepada syariat Islam, justru mendapatkan seorang ulama yang menjadi bagian dari kekuasaan untuk memaksakan kehendak para penguasa menentang berlakunya syariat Allah Azza wajalla,  musuh-musuh Islam terus menggunakan cara yang sangat halus dengan melakukan pendekatan terhadap ulama demi menggapai keinginan mereka dengan mengadu domba umat Islam bahkan menjauhkan dari ajaran yang benar sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya, Allah Subhanahu Wata’alaa berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS Al A’raf:176)

Ibnu Katsir mengatakan: Allah ingin mengangkat derajat seorang ulama’ dan memuliakanya tetapi dia lebih memilih dunia yang hina, Malik ibnu Dinar mengatakan bahwa orang itu adalah salah seorang ulama Bani Israil, terkenal sebagai orang yang mustajab doanya, mereka datang kepadanya di saat-saat kesulitan. Kemudian Nabi Musa a.s. mengutusnya ke raja negeri Madyan untuk menyerukan agar menyembah Allah. Tetapi Raja Madyan memberinya sebagian dari wilayah kekuasaannya dan memberinya banyak hadiah. Akhirnya ia mengikuti agama raja dan meninggalkan agama Nabi Musa a.s. dan meninggal dalam keadaan kafir. (Tafsir ibnu Katsir)

Di tengah-tengah kehidupan yang diatur dengan aturan-aturan sekuler dan bukan aturan-aturan Islam Munculah sosok ulama’ yang menjadi pelayan bagi umat (Khadimul Ummah) dan ada juga ulama yang menjadi pelayan untuk penguasa (Khadimul hukumah), popularitas mereka sebagian karena ketokohan mereka yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tingkat ketakwaan ataupun keilmuan Islam.

Seorang ulama menurut pandangan Allah Subhanahu Wata’alaa adalah dia senantiasa menegakkan kewajiban dan melarang kemungkaran. Mereka tidak menyembunyikan kebenaran dan memutar balikkan syariat Islam. tidak mengkaburkan ayat-ayat Allah.

Allah Subhanahu Wata’alaa berfirman:
“Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan keterangan (yang jelas) dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Qur’an, mereka itu dilaknat oleh Allah dan oleh semua mahluk yang dapat melaknat”. (QS Al-Baqarah : 159)

Seorang Ulama dia akan senantiasa takut kepada Allah dalam segala keadaan serta senantiasa berpegang kepada aturan dan melaksanakan syariat islam Allah Subhanahu Wata’alaa berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba hamba-Nya hanyalah para ulama". (QS Fathir: 28)

Antara Ulama’ dan Penguasa

“Diantara kebiasaan para ulama terdahulu adalah mengevaluasi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah. Mereka mengikhlaskan niat dan fatwa mereka membekas di hati umat. Sebaliknya sekarang, terdapat penguasa yang tamak, namun ulama hanya diam. Andai mereka berbicara, pernyataan yang keluar berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu adalah akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama adalah akibat tamak akan harta,pangkat dan juga jabatan”. (Imam al-Ghazali dalam kitab ihya’ ulumuddin)

Jika keadaan para ulama pada zaman Imam al-Ghazali demikian, tidaklah mengherankan jika dewasa ini keadaannya lebih parah, apa lagi sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah dan umat islam hari ini dibawah penguasa yang menerapkan hukum positif hukum buatan manusia sehingga menuntut kita umat islam untuk berjuang menegakkan kepemimpinan menurut syariat kembali kepada Alquran dan Assunnah

Rasulullah Shallallohu Alaihi Wassallam bersabda:

Jihad yang paling utama adalah menyatakan keadilan (menyampaikan kebenaran) di hadapan penguasa jahat. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmizi)

Al-Imam Abul-Hasan Al-Mawardi (364-450 H.)berkata:

“Imamah (kepemimpinan) dibentuk untuk menggantikan posisi khilafah nubuwwah guna memelihara agama dan mengatur dunia. Mengangkat orang untuk melaksanakan tugas imamah di kalangan umat Islam adalah wajib menurut ijma’ ulama, meskipun AI-Asham menyeIisihi mereka. Namun mereka berbeda pendapat mengenai kewajibannya. Apakah imamah diwajibkan secara akaI atau secara syari’at? Sekelompok ulama berpendapat: lmamah wajib secara akal, karena sesuai dengan tabiat orang-orang berakal, yang menyerahkan urusan kepada seorang pemimpin yang bisa mencegah mereka dari tindakan saling mendzalimi.

Sudah waktunya Kepemimpinan umat hari ini idealnya dipegang oleh para ulama yang bertakwa. karena, para ulama adalah pewaris para nabi (waratsah al-anbiya’), sementara para nabi khususnya Nabi Muhammad Shallallohu Alaihi Wasallam adalah pemimpin umat. Sebagai pemimpin umat, Nabi Muhammad Shallallohu Alaihi Wasallam membimbing umat sekaligus mengurus mereka dengan wahyu Allah Subhanahu Wata'ala. Nabi Shallallohu Alaihi Wasallam bukan saja menjalankan fungsi kenabian (nubuwwah), yakni menyampaikan risalah (tabligh ar-risalah), tetapi sekaligus juga menjalankan fungsi kepemimpinan (ri’ayah), yakni mengurus umat dengan menerapkan syariah (tanfidz ar-risalah) atas mereka. Kepemimpinan atas umat setelah Nabi Muhammad wafat diteruskan oleh para khalifah. Dalam sejarah Islam yang panjang, para khalifah utamanya Khulafaur Rasyidin adalah para ulama, bahkan mereka adalah para ulama mujtahid. Umumnya para khalifah pada masa lalu bukan hanya imam (pemimpin) dalam urusan kenegaraan, tetapi sekaligus juga imam dalam urusan keagamaan.

Mengapa ulama harus menjadi pemimpin karena Merekalah orang-orang yang paling banyak membaca, memahami dan menguasai Alquran. Merekalah orang-orang yang paling faqih dalam ilmu-ilmu agama. Merekalah yang diharapkan bisa mengurus negara dan umat berdasarkan Alquran dan as-Sunnah. Dengan kata lain, yang mesti menjadi pemimpin umat sejatinya adalah ulama yang melayani umat (khadimul ummah), yakni pemimpin yang alim yang mengamalkan ilmunya, bukan ulama penguasa (khadimul hukumah), yakni ulama yang biasa menjilat para penguasa bukan pula penguasa yang bukan ulama.

Wallahua’lam bisshowab