Sabtu, 14 Sya'ban 1440 H / 20 April 2019 M

Mengapa Kita Tidak Bisa Berdamai Dengan Saudara Kita Yang Berbeda Ijtihad Politik Dengan Kita ?


MENGAPA KITA TIDAK BISA BERDAMAI DENGAN SAUDARA KITA YANG BERBEDA IJTIHAD POLITIK DENGAN KITA ?
Oleh: Ustadz Fuad Al Hazimi
(Majelis Syariah Jamaah Ansharu Syariah)

Memasuki tahun politik ini banyak terjadi pro dan kontra berkaitan dengan ijtihad sebagian ulama maupun tokoh gerakan Islam yang menjadikan demokrasi sebagai washilah perjuangan untuk menegakkan syariah Islam. Sebagian membolehkan dengan syarat tertentu sebagian pula mengharamkan. Sebenarnya masalah ini sudah sangat lama menjadi perdebatan panjang. Dan butuh waktu yang tidak sedikit untuk mengkaji dan menelaah hujjah dan dasar dari masing-masing pendapat. Karena itu alangkah baiknya jika kita bisa saling menahan diri dan menghargai perbedaan ijtihad ini karena musuh sudah di depan mata.

Pertanyaannya, mengapa kita tidak bisa sejenak "berdamai" dan saling mendukung antar gerakan Islam ? Bukankah di akhir zaman nanti kaum muslimin juga "terpaksa" berdamai dengan Romawi untuk melawan "musuh dari belakang kalian" ? Bahkan Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam menyebut perdamaian itu dengan kalimat "shulhan aaminan" atau perdamaian yang terjaga, aman dan saling percaya.

Beberapa hadits berikut semoga bisa mencerahkan kita dan mendorong kita bersikap inshof dan adil

عن ذي مخبر رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ستصالحون الروم صلحا آمنا فتغزون أنتم وهم عدوا من ورائكم فتنصرون وتغنمون وتسلمون ثم ترجعون حتى تنزلوا بمرج ذي تلول فيرفع رجل من أهل النصرانية الصليب فيقول غلب الصليب فيغضب رجل من المسلمين فيدقه فعند ذلك تغدر الروم وتجمع للملحمة

Dari Dzu Mihbar, seorang laki-laki dari kalangan shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Kalian pasti akan melakukan perdamaian dengan Romawi dengan aman. Kalian bersama mereka akan memerangi musuh dari belakang kalian. Kemudian kalian akan dimenangkan dan berhasil mendapatkan ghanimah serta selamat. Kemudian kalian kembali pulang hingga kalian singgah di sebuah daerah bernama Dzu Thulul. Tiba-tiba seorang laki-laki dari kaum Nashrani mengangkat salib seraya berkata : “Salib telah menang”. Hingga marahlah seorang dari kaum muslimin dan mendorongnya. Maka ketika itu mulailah tentara Romawi berkhianat serta menyiapkan pasukannya untuk pertempuran besar”
[HR. Abu Dawud no. 4292; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2767].

Bahkan andaikan kita harus "berdamai" dengan orang yang masih banyak maksiat sekalipun selagi ia bersedia ikuy bersama kita menegakkan syariah Allah di muka bumi ini, hal ini pun diperbolehkan.

ن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وإن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Allah (bisa jadi) menolong agama ini melalui perantaraan orang fajir”
[HR. Bukhari no. 2897 dan Muslim no. 111].

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata :

{ والذي يظهر أن المراد بالفاجر أعم من أن يكون كافرا أو فاسقا }

“Yang nampak adalah bahwa maksud dari kata Al Faajir lebih umum daripada
sekedar makna kafir dan fasiq saja”
[Fathul-Baari juz 7 no. 3970].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah meminjam baju besi kepada Shafwan bin Umayyah ketika ia masih kafir sebagaimana riwayat :

عن صفوان بن أمية أن رسول الله صلى الله عليه وسلم استعار منه أدراعا يوم حنين فقال أغصب يا محمد فقال لا بل عارية مضمونة

Dari Shofwan bin Umayyah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah meminjam darinya beberapa baju besi sewaktu perang Hunain. Ia bertanya : “Apakah ia rampasan ya Muhammad ?”. Maka beliau menjawab : “Tidak, ia pinjaman yang ditanggung”
[HR. Abu Dawud no. 3562; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 631].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah meminta bantuan kepada Bani Tsaqif yang masih kafir ketika tekanan dari kaum kafir Quraisy semakin menjadi-jadi setelah meninggalnya Abu Thalib yang senantiasa melindungi beliau (walaupun akhirnya beliau tidak mendapatkan bantuan sebagaimana yang diharapkan).

Dan yang lebih jelas adalah ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersepakat dengan qabilah Bani Khuza’ah (dari kalangan musyrikin) untuk saling tolong menolong ketika peristiwa Perjanjian Hudaibiyyah.

Marilah kita kedepankan husnuzhon kepada mereka yang ingin menegakkan kalimah Laa Ilaaha Illallah walaupun kita berbeda ijtihad

Wallohi A'lamu bish showab