Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Untuk Siapa Densus 88 Dibentuk; Indonesia, Asing Atau Segelintir Elit?


(Ansharusyriaah.com) Papua kembali diguncang berita penembakan aparat. Delapan aparat anggota Polres Lanny Jaya mendapat serangan dari kelompok bersenjata Papua pada Senin (28/07). Dua di antaranya dinyatakan meninggal di tempat, dua tertembak dan beberapa senjata polisi berhasil dibawa kelompok bersenjata.

“Dua anggota meninggal dunia atas nama Bripda Zulkifli D Putra dan Bripda Yoga AJ Ginuny. Mereka terkena luka tembak di kepala,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny Frangky Sompie di Jakarta, Selasa 29 Juli 2014.

Selain dua orang dinyatakan tewas seketika, Briptu Heskia Bonyadone juga terkena luka tembak di bagian perut. Sementara Bripda Alex Numberi terkena luka tembak di bagian pelipis.

Buntut dari kejadian ini, Kasat Brimob Polda Papua, Direktur Intelkam, dan Wakapolda segera meluncur ke Lanny Jaya melalui Wamena.

Kejadian penembakan aparat di Papua bukan kali ini saja terjadi. Jumlah aparat yang tewas akibat serangan kelompok bersenjata Papua juga bukan angka kecil. Pelakunya juga sudah diidentifikasi wilayah, nama kelompok, jumlah anggota dan pimpinannya.

Namun begitu, meski kerap menghabisi nyawa aparat kepolisian maupun TNI, bahkan ingin meredeka dari Indonesia, kelompok teror Papua tak pernah dijuluki dengan sebutan teroris. Polisi maupun media-media mainstream kerap menjuluki perusuh di Papua dengan sebutan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Polisi juga tidak segera menyiagakan Densus 88 sebagai jagoan pemburu “teroris”. Padahal jelas-jelas para gerombolan Papua tersebut ingin memerdekakan diri dari Indonesia, kerap menyerang aparat dan menembaki warga. Kejadiannya juga bukan sekali dua kali, bahkan kelompok tersebut sudah memiliki “cabang” di luar negeri.

Aroma kental pendanaan kelompok terror Papua dari Luar Negeri pun bisa terendus jika aparat serius menanganinya. Namun sayang itu tidak segera dilakukan, atau lamban untuk segera diselesaikan.

Densus 88 dan teroris memang sengaja dibentuk untuk umat Islam. Densus 88 hanya bergerak jika umat Islamlah yang akan digrebek dan ditangkap.

Maka patut menjadi pertanyaan, sebenarnya untuk kepentingan siapa Densus 88 ini dibentuk. Apakah untuk Indonesia? Tapi mengapa saat gerombolan bersenjata yag kerap dan sering merusak dan menyatakan ingin merdeka denses 88 diam seribu bahasa?

Atau untuk asing sehingga Densus akan bergerak sesuai arahan dan petunjuk sesuai pemberi dana. Dampaknya densus akan tebang pilih. Atau Densus 88 bergerak hanya untuk kepentingan segelintir elit pimpinannya yang menjadikan kasus terorisme sebagai alat penaik jabatan dan kucuran dana dari luar negeri? Wallahua’lam (lasdipo/ansharusyariah.com)