Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Perayaan Asyuro dan Kekuatan Baru Syiah


Oleh: Ustadz. Ahmad Fatih
(Juru Bicara Jamaah Ansharusy Syariah)

Asyuro buat syiah merupakan hari suci, dan menjadi sakral yang sebagai wujud bukti mereka ikut bersedih atas kematian Husain cucu Rosulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. Distorsi sejarah dan manipulasi sejarah yang selalu di dengung-dengungkan oleh penganut syiah selama ini.

Perayaan asyuro yang selalu dilakukan pada setiap 10 Muharram ini selalu melibatkan jumlah besar dari pengikut syiah di seluruh negara tidak terkecuali penganut syiah di Indonesia. Tercatat di beberapa kota besar di Indonesia mereka secara terang-terangan mengadakan acara asyuro ini. Di semarang yang merupakan pusat perayaan asyuro syiah di Jawa Tengah mendapat perlawanan dan protes keras dari umat islam yang merupakan gabungan elemen-elemen ormas islam, di Bandung di Al Jawad Geger Kalong acara yang serupa berhasil digagalkan umat islam di kota kembang. Di Jakarta menurut informasi diadakan disalah satu gedung milik mereka sendiri di ICC Pusat kebudayaan Islam Jakarta yang berlokasi di Jl. Warung Buncit Pasar Minggu Jakarta selatan tidak jauh dari kantor Republika.

Kebangkitan Syiah di Indonesia

Perayaan-perayaan penganut sekte syiah yang sudah di fatwakan sesat oleh MUI jawa timur dan di fatwakan oleh MUI pusat bahwa syiah berbeda dengan sunni dan hendaknya umat Islam mewaspadai ajaran syiah yang sejak tahun 1984 telah menunjukkan bahwa syiah semakin konsisten dan menunjukkan kekuatannya di Indonesia. Budaya taqiyah yag selama ini masyhur dikalangan syiah dan menjadi kedok mereka untuk bersembunyi di umat islam sedikit-sedikit mereka mulai tinggalkan karena mereka mulai merasa bahwa kekuatan syiah di Indonesia sudah mulai banyak dan sanggup menghadapi perlawanan umat islam.

Ketua dewan Syuro IJABI (ikatan jamaah ahlu bait Indonesia) mengatakan bahwa jumlah syiah di Indonesia sekarang sudah 5 juta orang (eramuslim, 23 November 2013). Jumlah ini jelas bukan jumlah yang sedikit mengingat penganut syiah terkenal fanatik dan rela berkorban demi keyakinan mereka. Jumlah ini mendekati jumlah anggota masyarakat yang memilih salah satu partai Islam pada pemilihan pada tahun 2014 ini yang berjumlah 8.480.204 Pemilih. Sehingga sangat wajar jika seorang dosen syiah sudah berani mengatakan di depan mahasiswa nya secara terang-terangan bahwa dirinya syiah di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Jakarta.

Kebangkitan Syiah dan kelesuan Umat Islam

Bangkitnya syiah di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kelesuan umat Islam di Indonesia, perbedaan ijtihad dan cara perjuangan menjadi jurang pemisah antar jamaah, ormas islam dan elemen umat Islam dan sedikit melupakan bahaya sekte syiah di Indonesia. Hal ini terlihat dari sedikitnya elemen umat Islam yang ikut serta di acara menggagalkan peringatan as syuro di Semarang.

Sedikitnya umat Islam yang memberikan konsen dan perhatian terkait perkembangan syiah inilah yang menyebabkan syiah begitu bebasnya merekrut umat Islam untuk menjadi pengikut sektenya dan menimbulkan bahaya baru yang akan menggerogoti dan merusak aqidah umat Islam. Suriah menjadi pembuktian ketika syiah berkuasa maka pembantaian umat Islam dan adu domba jamaah dan harokah Islam akan terjadi.

Maka sudah seharusnya umat Islam waspada dan memberikan perhatian terkait bahaya laten syiah ini, di luar bahaya laten komunis dan bahaya laten sekulerisme dan liberalisme.

Begitu banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan bersama. Pekerjaan ini tidak bisa digarap oleh satu atau dua jamaah dan ormas Islam. Maka sudah sepatutnya Umat Islam ditengah segala perbedaannya menyatukan langkah untuk bersama-sama berjuang dan berjihad untuk mencegah dan membentengi umat islam dari sekte-sekte sesat seperti syiah. Wallahu’alam (Izzam/ansharusyariah.com)