Rabu, 10 Rabiul Akhir 1440 H / 19 Desember 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 158: "Mengokohkan Jihad Melawan Kezholiman"


Materi Khutbah Jumat Edisi 158 tanggal 3 Robi'ul Akhir 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Mengokohkan Jihad Melawan Kezholiman

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Makna Zalim dalam Al-Qur’an

Sudah mafhum bagi kita jika makna dzalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, baik mengurangi, menambahi, ataupun menyimpang. Dari makna ini kemudian berkembang pada beberapa makna yang kesemuanya sejatinya tidak keluar dari makna asalnya. Setiap kata dalam bahasa Arab yang kata dasarnya terdiri dari huruf dzâ’, lâm, dan mîm mempunyai dua makna asal, yang pertama sebagaimana telah disebutkan dan yang kedua adalah lawan dari sinar cahaya, demikian terang Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah.

Sementara al-Ashfihani dalam Mufradât Alfâdzh al-Quran menukil dari para bijak bahwa dzalim itu ada tiga macam; a. kedzaliman antara manusia dengan Allah swt, seperti berbuat musyrik; b. kedzaliman antar sesama manusia yakni berbuat dosa sosial; c. kedzaliman terhadap diri sendiri yaitu berbuat dosa yang nantinya merugikan diri sendirinya.

Dalam al-Quran kata dzalim dan yang seakar diulang ssebanyak 289 kali. Hal ini menandakan bahwa dzalim merupakan sesuatu yang seringkali dilakukan oleh banyak manusia. Setidaknya kata dzalim dalam al-Quran berkisar pada Sembilan makna, di antaranya:

Pertama, kemusyrikan sebagaimana dalam QS. Al-Anʻam [6]: 82, orang-orang yang beriman namun tidak mencampur keimanan mereka dengan kezaliman (kemusyrikan) merekalah yang mendapatkan keamanan dan terhitung dalam orang yang mendapat petunjuk. Kemusyrikan ini merupakan makna yang ditafsirkan oleh QS. Luqman [31]: 13. Makna ini juga didapatkan pada QS. Hud [11]: 18, QS. Al-Insan [76]: 31.

Kedua, berbuat dosa selain kemusyrikan sebagaimana QS. Fathir [35]: 32, QS. Ath-Thalaq [65]: 1 dan QS. Al-Baqarah [2]; 231, QS. Al-Baqarah [2]: 35, QS. Al-Anbiya [21]: 87, QS. An-Naml [27]: 44.

Ketiga, pembuhunan seperti dalam QS. Al-Isra [17]: 33 dan QS. An-Nisa’ [4]: 30.

Keempat, mengurangi seperti firman-Nya QS. Al-Kahfi [18]: 33, dan QS. Maryam [19]: 60.

Kelima, menganiaya orang lain sebagaimana QS. Asy-Syuro’ [42]: 42 & 40.

Keenam, membahayakan seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 57, QS. Al-Aʻraf [7]: 160.

Ketujuh, ketidakadilan sebagaimana QS. Az-Zukhruf [43]: 72 & Ali Imran [3]: 182.

Kedelapan, mengingkari al-Quran, Taurat dan mukjizat sebagaimana QS. Al-Aʻraf [7]: 9, QS. Al-Anʻam [6]: 103, QS. Al-Isra’ [27]: 59.

Menyelamatkan Umat Manusia dari Kedzoliman

Telah banyak timbul fitnah di zaman ini, yang mana ia seperti penghujung malam yang gelap gulita, yang telah memalingkan banyak orang dari berpegang teguh kepada Dienul Islam, dan menyeret banyak orang kepada perbuatan keji, dosa-dosa besar dan kemungkaran, sehingga seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman dan sore hari menjadi kafir, dan dia menjual diennya (agamanya) untuk mendapatkan harta dunia. Sementara kaum muslimin diperangi dengan hebatnya, sehingga berakibat mereka mengekor dibelakang orang-orang kafir dan meniru (tasyabbuh) kepada mereka dalam banyak hal. Seperti orang muslim merayakan natal bersama, pekerja muslim memakai atribut/simbol natal, merayakan tahun baru masehi, bahkan memboroskan uangnya untuk beli petasan, kembang api dan lain sebagainya meniru budaya dan ajaran mereka. Virus LGBT, sekularisme, liberalisme, komunisme dan pemikiran batil lainnya telah melanda dan menyusup ke tubuh sebagian besar masyarakat Islam, termasuk ke kalangan intelektual umat Islam, sehingga mereka betul-betul membutuhkan kehadiran para juru dakwah yang mukhlis, para penulis yang benar, para khotib/penasehat yang membimbing dan para pengarang yang lurus pemikirannya dan luhur pekertinya.

Khususnya pada saat orang-orang telah menjauhi jihad, lebih memberati tempat tinggalnya dan enjoy dengan kehidupan dunia. Tidak akan selamat dan terbebas dari musibah yang amat dahsyat ini selain dengan ma’rifat yang benar serta pemahaman yang shahih terhadap dienullah (agama Allah) dan berjihad untuk menerapkannya dengan hati dan lisannya.[1]

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar-Rum: 41).

Jihad adalah Syi’ar Setiap Orang Muslim dimana-mana

Diantara macam-macam jihad setiap orang muslim di seluruh dunia seperti Jihadun Nafs, Jihad Dakwah, Jihad Perang, berjihad dengan jiwa, raga, dan harta, mengorbankan yang mahal dan yang murah, yang remeh dan yang berharga dalam rangka menegakkan kalimat Allah SWT, mengembalikan kaum muslimin kepada ajaran Diennya (agamanya, hukumnya, aturan hidupnya), serta mengokohkan Dien mereka dan menyelamatkan anak manusia dari jurang kehinaan serta menetapi syari’at Allah dalam setiap gerak dan aktivitas, dan juga menetapi kebenaran serta keikhlasan dalam setiap amalan dan ucapan.

Jihad untuk Mengokohkan Kaum Muslimin di Permukaan Bumi.

Islam datang untuk menghentikan kerusakan dan kesewenang-wenangan manusia dan mengikis kesyirikan serta kekafiran sampai ke akar-akarnya, serta membasmi segala sesuatu yang dipertuhankan selain Allah baik berupa keyakinan mempertuhankan matahari, pepohonan, batu, binatang, manusia dan berhala-berhala lainnya.

Inilah tujuan yang terkandung dalam makna kalimat tauhid La ilaha illallah (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah).

Tidak ada hak ataupun kekuasaan atas seseorang untuk meminta disembah dan dipertuhankan oleh manusia, untuk menghinakan, melemahkan, dan menundukkan mereka agar mengikuti keinginan dan kemauan nafsunya, seperti mengikuti nafsu melakukan LGBT, zina, dan kemaksiatan lainnya.

Allah SWT berfirman:

  1. Thaa Siin Miim
  2. ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).
  3. Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun de- ngan benar untuk orang-orang yang beriman.
  4. Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka[2]. Sesungguhnya Fir'aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
  5. dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)[3],
  6. dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu[4] . (QS.Al-Qashash:1-6)

Manusia tidak boleh rela ataupun menerima rabb lain yang disembah selain Allah SWT, dan mereka tidak boleh mematuhinya sebagaimana kepatuhan orang buta terhadap penunjuk jalannya atau kepatuhan binatang ternak yang tersesat (kepada pengembalanya), dan mereka tidak boleh tunduk serta cenderung kepada tindak kezhaliman, kelaliman dan kesewenang-wenangannya, sebagaimana kaum fir’aun tunduk kepada Fir’aun, maka Fir’aun pun memperbodoh akal mereka dan tidak memperdulikan urusan mereka, bahkan menjadikan mereka sebagai, budak-budak yang hina dan rendah. Setiap penguasa yang zhalim apabila tidak ada yang bernai mencegahnya atau melarangnya, atau menegur secara terang-terangan di hadapannya, akan bertambah-tambah kesewenangan-wenangannya dan kezhalimannya.

Allah berfirman mengisahkan keadaan Fir’aun kepada kaumnya:

“Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan Perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (QS. Az-Zhukruf: 54-56).

Allah SWT memperingatkan kaum muslimin agar tidak condong dan cenderung kepada orang-orang zhalim. Karena itu, singgasana dan tahta mereka yang diselewengkan untuk berbuat kezhaliman harus ditumbangkan, dan hukum-hukum mereka yang zhalim serta menyimpang seperti membolehkan yang haram dan mengharamkan yang halal maka harus diganti, kapan dan dimanapun ditemukan, dan kemudian ditegakkanlah sebagai gantinya syari’at Allah SWT melalui tangan hamba-hambaNya yang beriman.

Dengan cara itu saja, tidak dengan cara yang lain, manusia dapat dibebaskan dari kezhaliman penguasa dan ketidakadilan hukum. Demikian pula orang-orang yang tertindas di muka bumi dapat diselamatkan dari belenggu kelaliman para penguasa zhalim. Dan pada saat itulah, anak manusia dapat hidup mulia, bahagia, senang, damai, selamat, dan sejahtera.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1]Abdul Baqi Ramdhan, Al-Jihadu Sabiluna, ( Muassasah Ar-Risalah : Beirut, 1990), hal.11.

[2]Golongan yang ditindas itu ialah Bani Israil, yang anak- anak laki-laki mereka dibunuh dan anak-anak perempuan mereka dibiarkan hidup.

[3]Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri sekitar keduanya yang pernah dikuasai Fir'aun dahulu. sesudah kerjaan Fir'aun runtuh, negeri-negeri ini diwarisi oleh Bani Israil.

[4]Fir'aun selalu khawatir bahwa kerajaannya akan dihancurkan oleh Bani Israil karena itu Dia membunuh anak-anak laki-laki yang lahir dalam kalangan Bani Israil. ayat ini menyatakan bahwa akan terjadi apa yang dikhawatirkannya itu.