Rabu, 5 Jumadil Akhir 1439 H / 21 Februari 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 160: "Analisis Cobaan Perjuangan Ulama Berdasarkan Shiroh Nabawiyah"


Materi Khutbah Jumat Edisi 160 tanggal 17 Robi'ul Akhir 1438 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Analisis Cobaan Perjuangan Ulama Berdasarkan Shiroh Nabawiyah

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Cobaan Perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mulai menyambut perintah Allah dengan mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala. Dakwah Nabi ini dimulai dengan tahapan dakwah sirriyah (berdakwah secara rahasia) untuk menghindari tindakan buruk orang kafir Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan paganismenya. Dakwah secara sembunyi dilakukan atas ilham dari Allah SWT sebagai pelajaran dan bimbingan bagi para da’i sesudahnya agar melakukan perencanaan secara cermat dan mempersiapkan sarana-sarana yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan dakwah. Akan tetapi hal ini tidak boleh mengurangi rasa tawakkal kepada Allah semata dan tidak boleh dianggap sebagai faktor yang paling menentukan sebab hal ini akan merusak prinsip keimanan kepada Allah, di samping bertentangan dengan tabiat dakwah kepada Islam yang tidak disukai pengikut hawa nafsu dan orang yang fanatik dengan kemusyrikan sebagai mayoritas manusia di muka bumi.

Kemudian dakwah Nabi SAW dilakukan secara terang-terangan setelah selama 3 tahun dakwah secara rahasia. Namun sikap bangsa Quraisy menentang dan menolak dakwah dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka. Pada saat itulah Rasulullah mengingatkan mereka akan perlunya membebaskan pikiran dan akal mereka dari belenggu taklid. Taklid terhadap tradisi budaya nenek moyang hanya merupakan arus perilaku yang manusia terbawa olehnya secara spontan karena semata-mata faktor peniruan dan taklid (ikut-ikutan tanpa ilmu) yang ada padanya.

Permusuhan kaum Quraisy kepada Rasulullah dan para sahabatnya semakin keras dan gencar. Rasulullah sendiri mengalami berbagai penganiayaan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata: “Apakah kalian hendak membunuh seorang yang mengucapkan Rabbku adalah Allah“. (HR. Bukhari).

Demikian pula halnya para sahabatnya. Masing-masing dari mereka telah merasakan berbagai macam penyiksaan. Di antara mereka bahkan ada yang meninggal dan buta karena dahsyatnya penyiksaan, akan tetapi, semua itu tidak melemahkan semangat keimanan mereka.

Diantara permusuhan dan peperangan kepada Rasulullah SAW adalah:

  1. Peperangan Psikologis

Penduduk jahiliyah sangat lihai memerangi Nabi Muhammad SAW. Mereka melakukan segala macam cara untuk menghancurkan Islam, dan mengerahkan segenap kekuatan untuk menghadang pola hidup Qur’ani.

Pertama-tama, mereka mempergunakan perang psikologis murahan yang ditujukan untuk menghancurkan reputasi dan kredibilitas Rasulullah SAW dan menghancurkan semangat serta idealismenya yang tinggi. Untuk itu, mereka mempersiapkan “pasukan besar” berupa cemoohan dan olok-olok. Semua itu dibeberkan oleh Al-qur’an Karim dalam banyak tempat.

Allah berfirman:

“Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk Kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas Kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas Kami sebuah kitab yang Kami baca". Katakanlah: "Maha suci Tuhanku, Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?"(QS. Al-Isra: 90-93)

Ketika metode murahan ini gagal menyerang psikologis Rasulullah SAW, kaum musyrikin mempergunakan cara lain, berupa penyebarluasan isu dan rumor, atau tuduhan kepada Rasulullah SAW. Semua itu mereka sebar-luaskan di mana-mana untuk melemahkan kepercayaan umat kepadanya dan menghalang-halangi mereka dari jalan Allah.

Cobaan –bagaimanapun besar dan kerasnya– tidak menambahkan apapun kepada Nabi Muhammad selain ketegaran dan keteguhan. Ketegaran dalam menghadapi segala tantangan apapun jenis dan kadarnya, serta keteguhan dalam meneruskan misinya bagaimanapun besarnya pengorbanan yang harus dikeluarkan.

  1. Penganiayaan dan Tipu Daya

Orang-orang jahat kafir Makkah tidak merasa cukup dengan pendustaan dan tuduhan tak beralasan yang dilakukan mereka terhadap Islam dan umatnya. Mereka berbuat lebih nekat lagi –dan ini dilakukan berulangkali– untuk melenyapkan Nabi Muhammad SAW (utusan Allah untuk mengajak manusia kepada jalan yang lurus yaitu Islam) dan mereka menganiayanya.

Gagal dari peperangan psikologis, perang urat saraf, dan perang informasi, mereka beralih kepada peperangan fisik untuk menghancurkan para Da’i Islam. Lantas mereka melampiaskan kedengkian dan dendam kesumatnya dengan berbagai cara, menyulut api permusuhan dan kemurkaan di setiap ruang dan waktu, sebagai upaya melampiaskan segenap kejengkelan dan balas dendam terhadap orang-orang yang meninggalkan agama nenek moyang serta mengingkari Hubal dan Latta.

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)

Analisis dari cobaan Nabi tersebut diantaranya adalah:

  1. Banyak musuh Islam dan sekutunya dari kalangan orang munafiq menuduh orang yang sebenarnya jujur dan dapat dipercaya, dengan tuduhan yang tidak benar. Para ulama dihalangi dakwahnya, (maraknya persekusi ulama yang berdakwah menyampaikan Islam, kriminalisasi ulama, dll). Berapa banyak mereka menyumbatkan penutup ke dalam aliran sungai Islam dan menghantamkan bandul besar ke dalam dada pergerakan Islam.

Allah SWT berfirman:

“Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar[1]  Padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (QS. Ibrahim: 46).

  1. Cobaan merupakan sebuah fenomena yang mesti dialami oleh setiap muslim, apalagi seorang da’i dan ulama. Sebagaimana kehidupan para Nabi dan Rasul diwarnai dengan berbagai macam cobaan, fitnah, dan penyiksaan.

Allah SWT berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al-Baqarah:214)

  1. Islam adalah dakwah mengajak ke jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan, kejahiliyahan, kezhaliman, kerusakan moral, kekejian tingkah laku, dan kesesatan fanatisme penyembahan berhala. Keunikan yang menjadi karakteristik Islam ini telah menyebabkan pergerakan Islam paling sering dihadapkan kepada berbagai bentuk cobaan. Konsekuensinya, keunikan ini telah menjadikan cobaan memiliki konsep dan pemahaman tersendiri di dalamnya.
  2. Cobaan merupakan sebuah pendidikan dan ujian hidup.

Cobaan merupakan salah satu faktor terpenting dalam membina dan mendidik umat Islam. Berbagai konsep atau teori tidak bernilai apa pun tanpa cobaan. Keutamaan jiwa manusia yang selamat dan kekebalannya terhadap berbagai bahaya –dalam banyak hal– menuntut jiwa untuk sering berhadapan dengan berbagai kesulitan dan cobaan, sehingga ia memperoleh kekuatan dan ketahanan. Kekukuhan dan ketahanan yang memungkinkannya menghadapi berbagai kendala dan bencana. Keimanan sendiri membutuhkan cobaan untuk mengetahui sejauh manakah kekuatan dan kekukuhannya. Keimanan yang kuat itulah yang akan mampu menjadi sandaran dalam situasi dan kondisi sulit, sedangkan keimanan yang lemah akan cepat hancur. Allah berfirman:

Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah[2] dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya Kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?” Dan Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (QS. Al-Ankabut:10-11)

  1. Setiap pengakuan harus dibuktikan. Keimanan adalah sebuah pengakuan yang membutuhkan pembuktian. Keteguhan dalam menghadapi cobaan merupakan salah satu fenomena keimanan dan bukti eksistensi kekukuhannya.
  2. Cobaan merupakan sunnatullah (ketetapan Allah) yang pasti terjadi.

Kebenaran selalu berada dalam pertarungan abadi dengan kebatilan. Setiap kali cahaya datang menyinari kebenaran, maka lebah-lebah malam pun saling bersahutan karena sentuhannya. Semenjak Nabi pertama, semenjak kebajikan dan keburukan dilahirkan, dan semenjak perseteruan abadi antara keduanya, realitas yang senantiasa terulang secara kontinu dan tampak dengan jelas adalah, bahwa kebenaran selalu menang dari kebatilan, sedangkan kebatilan selalu kalah. Allah berfirman:

Dan Sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan Sesungguhnya tentara Kami[3]  Itulah yang pasti menang,”(QS.Ash-Shaffat:171-173).

  1. Faktor yang memperkuat keteguhan dan keistiqomahan dalam menghadapi cobaan adalah berjamaah, bersatu, berkumpul di atas kebenaran

Sesungguhnya serigala akan memangsa domba yang menyendiri, setiap kali manusia hidup menyendiri dan meninggalkan saudara-saudaranya, maka dia akan mengalami futur (malas, terhenti setelah aktif, mundur dari keimanan). Karena sesungguhnya manusia akan lemah semangat bila hidup menyendiri dan penuh gairah bila hidup bersama saudara-saudaranya seiman, satu fikrah, satu jalan. Sesungguhnya perjalanan hidup ini berat, membutuhkan pembaharuan, semangat baru, dan mengasah kemauan, dan hal ini tidak mungkin didapati manusia kecuali dengan hidup bersahabat serta berjamaah yang tulus. Jika seseorang yang bersikap konsisten (istiqomah) terus menjauhi saudara-saudaranya, maka dirinya tidak akan selamat dari keputusasaan, kepenatan, dan kebosanan.

  1. Pemimpin Bejat: Menyesatkan Umat Manusia dan Menghancurkan Islam

Keberadaan para pemimpin bejat zalim lagi jahil seperti yang diberitakan di atas sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)

  1. Saatnya Tegakkan Kepemimpinan Ulama

Umat Islam ini masih senantiasa terjaga lagi aman, kokoh lagi tegar di hadapan kezhaliman, ketamakan umat-umat kafir dan durjana sepanjang tenggang waktu yang mana ia dipimpin oleh khalifah muslim yang memimpinnya dengan dien, menghukumnya dengan syari’at Rabbul ‘alamin, melindungi kehormatan dan hak-hak kaum muslimin dengan kekuatan sulthan dan menggetarkan musuh-musuh mereka dengan jihad menegakkan kalimat Allah diatas hukum, aturan, dan hawa nafsu manusia.

Saat itu kaum muslimin berada dalam kebaikan, ‘izzah, kemuliaan dan haibah (disegani), yang mana musuh berhitung seribu kali sebelum berfikir untuk melakukan sedikit penganiayaan, sampai akhirnya runtuh akhir pilar-pilar Khilafah Utsmaniyyah di awal abad ini yang telah lalu dengan perbuatan dan taqshir kaum muslimin itu sendiri dan dengan makar yang dahsyat yang dirancang dan direncanakan oleh semua kekuatan kafir, thaghut dan kezaliman di dunia ini.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1]Maksudnya: orang-orang kafir itu membuat rencana jahat untuk mematahkan kebenaran Islam dan mereka berusaha menegakkan kebathilan, tetapi mereka itu tidak menyadari bahwa makar (rencana jahat)mereka itu digagalkan oleh Allah SWT.

[2]Maksudnya: orang itu takut kepada penganiayaan-penganiayaan manusia terhadapnya karena imannya, seperti takutnya kepada azab Allah, karena itu ditinggalkannya imannya itu.

[3]Yang dimaksud dengan tentara Kami disini ialah Rasul beserta pengikut-pengikutnya.