Senin, 8 Zulhijjah 1439 H / 20 Agustus 2018 M

Khutbah Jumat Edisi. 161: "Sigap Memenuhi Seruan Jihad Media Sosial"


Materi Khutbah Jumat Edisi 161 tanggal 24 Rabiul Akhir 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Sigap Memenuhi Seruan Jihad Media Sosial

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Umat Islam di Tengah Kedzaliman Media

Bukan rahasia lagi bagaimana kini Islam Indonesia begitu buruk di mata dunia karena proses framing konten media luar negeri yang selalu mencitrakan Islam yang identik dengan perilaku radikal. Sementara di sisi lain kita tidak memiliki media yang besar dan kuat yang berpengaruh secara massif hanya sekedar menampilkan Islam yang sebenarnya.

Jangankan ummat Islam berbuat negatif, tidak melakukan apapun bisa jadi konten yang buruk. Aksi yang tanpa cacat saja masih tetap dicerminkan negatif di media besar yang berpengaruh terutama media luar, apakah dengan diksi-diksi yang negatif atau penghubungan dengan peristiwa lain yang sesungguhnya terpisah sama sekali.

Islam kini hampir tidak memiliki wajah yang sebenarnya. Islam dirasakan kedamaiannya bagi pemeluknya sendiri. Aksi terorisme yang seringkali identik dengan Islam pun, tidak mampu dihadang oleh ribuan statement para ulama yang mengatakan tidak ada kaitannya dengan Islam, hanya karena simbol-simbol keislaman yang digunakan oleh para pelakunya.

Di sini, Islam menjadi objek penderita dari sebuah proses framing media yang benci terhadap Islam. Proses degradasi citra keagamaan ini menjadi sebuah proses penghancuran yang dilakukan secara profesional dan tertata rapi. Semuanya dibalut dengan sebuah mekanisme jurnalisme yang terverifikasi sehingga sulit terbantahkan. Maka tidak aneh jika ummat Islam pun kesulitan untuk menemukan celah dimana sisi kelemahan media-media yang berbau islamphobia ini sehingga dapat digugat secara hukum.

Proses pembingkaian berita terhadap sebuah fakta yang terjadi di jagat peradaban ini memang sah dilakukan. Sekaligus ini juga yang bisa menjelaskan bahwa tidak ada media yang sungguh objektif. Semua fakta terjadi dalam sebuah narasi kepentingan besar membungkus sebuah praktek jurnalistik. Subjektifitas menjadi terasa tatkala kita sudah “mengkonsumsi” pesan-pesan media tersebut.

Sementara di sekeliling kita (ummat Islam) selalu resah dengan keadaan tanpa bisa melakukan klarifikasi sekalipun. Hanya untuk menyajikan data paling otentik saja, kita hanya ramai dalam perbincangan warung kopi, atau paling banter diceramahkan para pendakwah di atas mimbar, tanpa membangun cara pandang dunia karena keterbatasan jangkauan – karena tidak ada media yang mau memuatnya.

Keadaban dan nilai-nilai baik Islam akhirnya terkubur dalam ruang-ruang religius sempit yang terbatas oleh benteng-benteng mesjid, mushola, majelis ta’lim, atau forum-forum keagamaan lainnya. Kita merasa hebat dan soleh karena berada di dalamnya. Sementara orang menganggap kita adalah bagian dari masyarakat keras, radikal, tidak toleran, bodoh, dan reaktif.

Kesadaran bermedia akhirnya tercecer dalam kelompok-kelompok kecil ummat Islam yang membangun kekuatannya sendiri-sendiri dengan kemampuan yang sangat terbatas. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, bahkan banyak media Islam yang diterbitkan pun dengan metode dan teknik jurnalistik sendiri dan tidak mampu mengimbangi media luar yang selalu menyerang Islam. Keberadaan media Islam yang masih kecil-kecil itu, juga harus menghadapi persoalan metode penyajian yang masih hitam putih sehingga orang sudah kabur sebelum mebaca.

Keberadaan media Islam yang dianggap representatif dan memiliki kekuatan yang bisa mengimbangi media mainstream. Namun, keberadaan beberapa harian (yang dinilai representasi Islam) harus “babak belur” dihajar kanan-kiri, bahkan harus tetap berjalan menghadapi para pesaing yang sangat banyak dengan modal yang tidak berimbang. Sedangkan ummat Islam sendiri (termasuk Ormas-ormas Islam) tidak semua paham akan arti penting mendukung media seperti ini sehingga turut memberikan nafas agar Koran Republika (sebagai salah satu contoh) misalnya agar semakin besar.

Bercerai berainya ummat Islam dalam konteks dakwah di ranah media membuat kita tidak memiliki agenda yang terstruktur. Ormas Islam yang diharapkan dapat menjadi pemersatu ummat Islam untuk dakwah di bidang ini ternyata belum terlihat secara signifikan. Padahal setiap hari, setiap menit dan detik hidup ummat ini sangat dipengaruhi oleh konten media.

Peran Media Hadapi Propaganda Anti Islam (Islamophobia)

Islamophobia Di era konvergensi, media ini ternyata apa yang disebut “Islamophobia” justru cenderung semakin meningkat. Islamophobia adalah ketakutan berlebihan yang tidak memiliki dasar berpikir yang kuat dan logis tentang Islam, bahkan dapat dikatakan mengada-ada tentang Islam.

Media massa Barat sering menggambarkan Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan, kebencian, egois, tidak toleran, dan membatasi pemeluknya dengan aturan-aturan yang ketat sehingga tidak memungkinkan adanya kebebasan.

Di Barat, khususnya di negara-negara Eropa dan Amerika, media massa kerap dimanfaatkan untuk menyudutkan Islam. Bahkan, hingga kini beberapa film bioskop dan televisi yang menghina Islam terus ditayangkan di beberapa negara Eropa dan Amerika.

Media massa di sana, dari koran, radio, televisi hingga media online secara kompak sering mempropagandakan anti-Islam melalui artikel dan karikatur-karikatur yang mendiskreditkan Islam. Denmark adalah negara yang dikenal kerap mempublikasikan karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Lebih dari itu, di Belanda bahkan ada partai politik yang secara resmi menyatakan anti-Islam. Partai politik tersebut dimimpin oleh seorang aktivis, Geert Wilders.

Haluan politik Geert adalah kanan nasionalis yang liberal. Ia dikenal sebagai politisi anti-Islam dan antiimigran. Pada 2008, ia bersama rekannya, Arnoud van Doorn membuat film pendek berjudul “Fitna” yang menyulut kontroversi.

Film itu berisi tentang pandangannya yang miring mengenai Islam dan Al-Qur’an. Film yang menggemparkan dan menyulut kemarahan Dunia Islam itu disebarluaskan di internet pada 27 Maret 2008.

Ia juga pernah menyuarakan usul agar Pemerintah Belanda melarang peredaran Al Qur’an di Belanda. Pria kelahiran 6 September 1963 itu mengaku tidak punya masalah dengan para pemeluk Islam, tetapi ia sangat membenci ideologi mereka (ajaran Islam). .

Jihad Media Adalah Setengah Dari Jihad Perang

Istilah “orang yang menguasai media dialah yang menguasai dunia” bukan isapan jempol. Ini merupakasan salah satu langkah musuh-musuh Islam untuk memenangi perang peradaban melawan Islam. Mereka berhasil memenangkan perang dan menguasai dunia dengan wasilah media. Sehingga Islam tercitrakan buruk. Pejuangnya disebut teroris. Syi’ar-syi’ar Islam dianggap simbol keterbelakangan.

Melalui media, kaum kuffar menguasai opini umum masyarakat. Mengarahkan ke mana yg mereka kehendaki. Bahkan kepada kesesatan, baik secara ideologi atau keyakinan. Mereka berhasil memutarbalikkan fakta dan arah kecenderungan masyarakat melalui opini media. Sehingga genderang perang terhadap Islam yang mereka tabuh mendapat dukungan masyarakat global. Bahkan sebagiannya dari negara-negara kaum muslimin dan kalangan masyarakat muslim.

Allah mengisyaratkan pentingnya umat Islam untuk menguasai media. Baik untuk membentuk opini positif terhadap Al-Haq (Islam), juga sebagai counter opini media-media anti Islam. Terlebih dalam jihad Islam, keberadaan media menjadi sarana yang tak boleh diremehkan. Karena tersebarnya opini buruk terhadap Islam dan pejuangnya bisa melemahkan kekuatan jiwa kaum muslimin.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pendukung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73)

Sikap loyalitas sesama kafir juga berlaku dalam perang global terhadap Islam. Angkatan-angkatan perang kafir dan pelaku media mereka bekerjasama dan saling mendukung dalam perang salib modern ini. Bahkan sebelum invasi militer dimulai mereka sudah menyerang melalui invasi opini lewat corong-corong media mereka. Sehingga semakin lengkaplah fitnah dan semakin dahsyat kerusakan yang timbul. Maka jika umat Islam tidak juga menggarap media –sebagaimana mereka telah mengupayakannya- maka pasti benar-benar terjadi fitnah (kekufuran dan kesyirikan) dan kerusakan yang besar di muka bumi ini.

. . . Melalui media, kaum kuffar menguasai opini umum masyarakat. Mengarahkan ke mana yg mereka kehendaki. . .Sehingga genderang perang terhadap Islam yang mereka tabuh mendapat dukungan masyarakat global. Bahkan sebagiannya dari negara-negara kaum muslimin dan kalangan masyarakat muslim. . .

Pengaruh kerja media dapat kita lihat saat saat perang Uhud. Ketika kaum muslimin mendapat serangan balik dan terdesak. Gugurlah sebagian dari pasukan Islam. Namun mereka tetap semangat dan terus berjuang memerangi musuh. Lalu tiba-tiba tersebarlah kabar yang dihembuskan syetan “Ketahuilah, sesungguhnya Muhammad telah terbunuh.” Dan hal itu benar-benar membuat lemah dan jatuh semangat sebagian besar pasukan mujahidin. Lihatlah pengaruh opini buruk melalui berita yang tersebar berhasil membuat peta peperangan berubah dan menjatuhkan mental para ksatria Islam.

Oleh sebab itu, pasukan jihad Islam harus memberikan perhatian yang serius terhadap media, baik cetak maupun elektronik. Dan sekarang sudah muncul media yang fleksibel dan dapat menjangkau tempat di seluruh penjuru dunia, yakni media online. Ini untuk mendukung kerja jihad, menguatkan semangat kaum mujahidin, dan melemahkan pasukan kafirin.

Bagi umat, jangan ragu lagi untuk membiayai media-media Islam yang mengumandakan dakwah dan perjuangan Islam. Sungguh pahalanya tak berbeda dari menyalurkan infak untuk jihad fi sabilillah, karena jihad media adalah setengah dari jihad perang. Bahkan peran jihad media sudah memulai perang sebelum terjadinya perang fisik, dan ini berlanjut saat berkecamuknya perang dan pasca perang. Media berperan menjaga nama baik Islam dan mujahidin, serta membangun opini positif di tengah-tengah umat.

. . . Bagi umat, jangan ragu lagi untuk membiayai media-media Islam yang mengumandakan dakwah dan perjuangan Islam. Sungguh pahalanya tak berbeda dari menyalurkan infak untuk jihad fi sabilillah, karena jihad media adalah setengah dari jihad perang. . . .

Disarikan dari tulisan Asy Syahid –kamaa nahsabuh insya Allah- Samir Khan: Inspire Magz Vol VII, Spring 2011:

Saya teringat akan sebuah nasehat yang sangat berkesan hampir dua tahun yang lalu di saat saya berdiri di depan Amir AQAP, Syekh Abu Bashir Al Wuhaisyi, semoga Allah melindunginya. "Ingat," ujarnya sementara di latar belakang nampak para mujahidin lainnya sedang sibuk bekerja di depan komputer mereka. "Pekerjaan Media Adalah Setengah Dari Jihad.“

Beliau mengulangi kata-kata Syaikh Usamah bin Laden, kata-kata yang mengingatkan saya akan sebuah dunia yang tak terkatakan yang telah membentuk kehidupan jutaan orang di seluruh dunia berkat beberapa orang di depan komputer mereka dan orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.

SIGAP MEMENUHI PANGGILAN JIHAD MEDIA SOSIAL

Dan setiap muslim yang di dalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah.

Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad-Majmu’ah Rasail Al-Banna).

Hadirin rahimakumullah.

Adakah jalan yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak kebahagiaan selain jalan dakwah menegakkan Islam yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau nyatakan menjadi jalan pengikutnya? Allahumma laa. Dan adakah kematian yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii sabiililllah? Allahumma laa.

Jama’ah Jum’at, saudaraku yang dimuliakan Allah SWT.

Tidak ada yang telah membuat usia para sahabat dan para ulama sekaliber Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad r.a. seolah terus memanjang hingga akhir zaman, kecuali dakwah yang mereka lakukan. Tidak ada sesuatu yang telah membuat lisan orang-orang mukmin menyebut dan mendoakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Khalid bin Walid r.a. atau tokoh-tokoh seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq bin Ziyad, dan Al-Muzhaffar Quthuz selain jihad fii sabilillah. Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Namun akhil kariim, kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini berkat taufiq dan ri’ayah rabbaniyah. Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman: “…dan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (di mahsyar).

Maka kita patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi di akhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan ri’ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi karakter dalam diri kita? Seberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita?

Kekuatan inilah yang menyebabkan Anas bin An-Nadhr r.a.--paman Anas bin Malik r.a.) memberikan respon spontan kepada Saad bin Muadz r.a. tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di perang Uhud dengan ucapannya: “Ya Saad! Surga…surga… aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.” Kemudian beliau maju menjemput syahid hingga jenazahnya tidak dapat dikenali, kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya (Muttafaq ‘alaih - Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits No 1317).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ