Senin, 8 Zulhijjah 1439 H / 20 Agustus 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 163: "Analisa Sejarah Faktor Penyebab Kemunduran Dunia Islam"


Materi Khutbah Jumat Edisi 163 tanggal 16 Jumadil Awwal 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Analisa Sejarah Faktor Penyebab Kemunduran Dunia Islam

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Islam dan Realitas Peradaban

Ketika Islam diperkenalkan sebagai pola dasar sejarah (archetypal of history), kaum muslimin telah dijanjikan oleh Al-qur’an akan menjadi komunitas terbaik di panggung sejarah bagi sesama umat manusia lainnya. Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imron: 110).

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55).

Keberhasilan umat Islam menangkap sinyal dan gagasan Al-Qur’an telah terbukti secara historis dengan keberhasilan mereka dalam merealisasikan ajaran-ajaran Islam yang berkembang dalam berbagai produk budaya; mulai dari persoalan hukum, filsafat, seni, ekonomi, politik, sosial, sains, dan sebagainya. Semua aspek tersebut merupakan bentuk olahan kreativitas yang mereka lakukan dalam proses dialog dengan budaya lokal yang mereka hadapi. Konsep-konsep dialogis yang mereka lakukan dalam semua lini dalam bentuknya yang berbagai macam –tergantung bagaimana kita melihat (apakah dari sudut teori konflik, integrasi, kompromi, dan sebagainya)– pada akhirnya membuktikan bahwa Islam telah melahirkan berbagai corak peradaban yang paling berpengaruh dan paling luas jangkauannya. Pada abad ke-13 saja peradaban Islam telah membentang begitu luasnya ; mulai dari wilayah Sungai Nil hingga Oxus, dan antara Balkan hingga kepulauan Nusantara (Indonesia), juga hampir separuh dari wilayah Eropa, Spanyol, hingga wilayah India dan dataran Cina.

Hanya persoalannya, bagaimana ketika the principles of relegion yang agung ini terwujud dalam realitas historis di masing-masing kawasan? yang pasti ia akan melahirkan berbagai keragaman budaya, sesuai dengan proses historis dan potensi masing-masing kawasan yang dimasukinya. Terbayangkan oleh kita, betapa ketika nilai-nilai Islam menembus batas-batas budaya lokal, seringkali mengalami tarikan muatan lokal yang sarat dengan ‘kepentingan’nya. Pada kenyataan demikian, betapa besar peranan pelaku-pelaku sejarah dalam merealisasikan dan membuka pintu integrasi antara doktrin Islam dengan potensi lokal.

Visi Islam Sebagai Agama Peradaban

Islam sebagai agama merupakan wadh’un ilahiyyun yang berarti peraturan dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa yang kebenarannya mutlak dan abadi. Peraturan Allah SWT itu telah tertuang dalam Al-qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun. Sebagai pedoman hidup, Al-qur’an sudah mencakup seluruh aspek kehidupan; dan sebagai kerangka operasionalnya, Nabi Muhammad SAW telah menerjemahkannya dalam bentuk ucapan, perbuatan, dan ketetapan yang disebut sebagai Hadis atau Sunnah. Dengan demikian, Al-qur’an dan Sunnah Nabi merupakan sumber ajaran Islam yang harus dipahami secara dinamis sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman kehidupan sepanjang zaman dalam semua hal.

Sebagai agama Islam mengatur manusia dengan konsep akidah yang menjadi landasan syariah dan akhlak yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam beribadah maupun dalam menciptakan karya-karya budaya. Sehingga dalam bermuamalah yang lebih luas misalnya, umat Islam terikat dengan nilai-nilai akidah, syariah, dan akhlak dalam pengertian yang seluas-luasnya, agar dapat melahirkan wujud peradaban yang bisa menegakkan sendi-sendi iman, Islam dan ihsan menuju terciptanya baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Mereka akan terus saling mempengaruhi antara sistem dan pelaku sejarahnya serta produk budaya atau peradaban yang dihasilkannya.

Analisa sejarah faktor penyebab kemunduran dunia Islam pada abad XIV-XVI

Masa kemunduran yang dialami oleh umat Islam ditandai dengan hancurnya negara-negara Islam ke tangan imperialis kaum kristen dan hancurnya kota Baghdad yang merupakan pusat keilmuan umat Islam ke tangan bangsa Mongol.

Faktor-faktor penyebab kemunduran Dunia Islam

Ada dua faktor yang menyebabkan dunia Islam mengalami fase kemunduran, yaitu faktor dari luar (eksternal) dan faktor yang timbul dari kalangan umat Islam itu sendiri (internal).

  1. Faktor Eksternal
  2. Terjadinya perang salib yang berulang-ulang telah menyebabkan jalannya seni dan budaya Islam terhenti.
  3. Adanya serangan dari bangsa Mongol telah menghancurkan beberapa negara Islam.
  4. Terjadinya bencana alam dan berjangkitnya wabah penyakit sehingga menyebabkan perekonomian tidak stabil, seperti halnya yang terjadi di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah dengan istilah syiddatul ‘udzma.
  5. Faktor Internal
  6. Perpecahan dan tidak adanya kesatuan politik

Kepemimpinan dalam Islam dipandang sebagai amanat dari rakyat sehingga harus tunduk dan patuh kepada syariat Islam yang diwahyukan Allah SWT berupa Al-qur’an dan Sunnah yang memiliki nilai kebenaran absolut. Lambat laun sumber inspirasi dan motivasi yang merupakan motor penggerak dan tali pemersatu mulai ditinggalkan, diganti dengan mempertaruhkan hawa nafsu berupa ananiah (akuisme) dan ashabiyah(sukuisme).

Meski ajaran tauhid telah berusaha menyatukannya, tetapi kadar iman dan kesukuan satu sama lain berbeda. Iman dan Islam yang menyatukan kadangkala menjadi pecah berantakan dan hilang ingatan pada waktu mereka dilanda emosi dan erosi. Daya kontrol menjadi lemah, kebersamaan menjadi goyah karena ingin kemenangan atas dasar kesukuan, keakuan, dan keuntungan pribadi. Masing-masing di antara mereka membanggakan golongannya.

Desentralisasi dan disintegrasi bertambah meningkat, ini terbukti dengan terbaginya dunia Islam kepada dua bagian, yaitu arab yang terdiri atas arabia, irak, suria, palestina, mesir, dan afrika utara dengan mesir sebagai pusatnya, dan bagian persia yang terdiri atas Balkan, asial kecil dan asia tengah dengan Iran sebagi pusatnya. Kebudayaan persia mengambil bentuk internasiolanal dan dengan demikian mendesak lapangan kebudayaa arab.

  1. Rasa puas diri dan kejumudan berpikir

Hal utama yang menyebabkan  kejumudan berpikir antara lain ialah hilangnya daya cipta dan sumber inspirasi. Mereka kurang percaya terhadap kemampuan diri sendiri. Mereka hanya bertaqlid kepada para imam yang terkenal. Pendapat tentang tertutupnya pintu ijtihad semakin meluas di kalangan umat Islam.

  1. Membudayanya pola hidup mewah dan berfoya-foya di kalangan penguasa

Dari Ka’ab bin Malik Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan”.

Hadits ini berisi permisalan yang sangat agung, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kerusakan pada dien seorang muslim dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan (dunia) tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali sedikit orang yang selamat.

Permisalan yang agung ini mencakup peringatan keras dari bahaya ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia.

Adapun ambisi terhadap harta terbagi menjadi dua macam, yaitu:

Pertama: Sangat cinta terhadap harta, dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya meskipun dengan jalan yang halal. Walaupun akibat yang timbul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya waktu dalam hidup ini, padahal memungkinkan bagi manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut agar mencapai kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, cukuplah hal tersebut sebagai celaan terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.

Kedua: Disamping yang pertama, dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajib ia berikan kepada orang lain.

Islam telah menjelaskan dengan gamblang melalui lisan RasulNya SAW, bahwasanya:

“Halal adalah jelas dan haram itu juga jelas.  Dan diantara keduanya ada syubhat (perkara-perkara yang masih samar dan meragukan).  Barangsiapa berhati-hati (takwa) dari syubhat, maka dia telah membersihkan diri bagi dien dan kehormatannya.  Dan barangsiapa terjerumus ke dalam syubhat, maka dia akan terjerumus ke dalam haram.  Bagaikan gembala yang menggembala di sekitar kawasan terlarang dan nyaris melanggar kawasan terlarang  tersebut”[i]

Ruang lingkup wara’ adalah juga ruang lingkup  syubhatTaqwa dan wara’ pada diri seseorang bisa diketahui pada saat menghadapi perkara-perkara syubhat.  Manakala ketaqwaan, kehati-hatian serta kewaspadaan itu berjalan secara kontinyu, maka saat itu pula sifat wara’ pada diri seseorang semakin meningkat dan tinggi.

Wara’ itu muncul pertama kalinya dalam dua persoalan; persoalan kepemimpinan dan persoalan harta.

Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas dalam kumpulan domba itu lebih merusak daripada ketamakan seseorang akan kedudukan dan harta terhadap agamanya”[ii]

Rasulullah SAW menyerupakan dua orang tersebut dengan dia serigala yang lapar, tamak kepada kedudukan adalah serigala yang lain.  Kedua serigala ini bergerak mengendap di malam yang dingin untuk memangsa dien dan sifat wara’ seseorang.

Yang terakhir dari hati manusia adalah kecintaan (ambisi) terhadap kepemimpinan dan kedudukan.  Ambisi yang demikian itu merusakkan.  Berapa banyak manusia yang  terjerumus ke dalam jurang kebinasaan akibat ketamakan mereka terhadap kedudukan atau jabatan dan kepemimpinan.  Wara’ dari emas dan perak lebih ringan dibanding wara’ terhadap jabatan dan kepemimpinan.  Sebab emas dan perak adalah alat yang dipergunakan untuk mencapai jabatan dan pangkat.  Syahwat terakhir yang keluar dari hati manusia adalah syahwat yang ingin nampak menonjol dan ingin memimpin.  Berapa banyak harta benda yang dihabiskan untuk mencapai ambis tersebut.  Berapa banyak kaum muslimin yang menemui kebinasaan, berapa banyak negara yang porak-poranda, dan berapa banyak pula kerajaan yang lenyap?  Semua itu akibat ketamakan seseorang atau dua orang atau tiga orang terhadap kepemimpinan, syahwat terakhir yang muncul dari hati seorang mu’min adalah keinginannya untuk dikenal/terkenal.

INGIN NAMPAK MENONJOL DAN SYAHWAT BERBICARA

Ingin nampak menonjol.  Berapa banyak keinginan untuk menonjol itu membinasakan seseorang.  Kaum muslimin adalah yang pertama kali dijadikan teladan dalam sifat wara’, sangat menjauhi bahaya yang menggelincirkan ini, yakni keinginan untuk menonjol yang senantiasa mencampuri hati, kecuali siapa yang dirahmati Allah dan kecuali yang dijaga oleh Allah dan dilindungi hatinya dari terperosok ke dalam syahwat tersebut.  Sedikit sekali hati manusia yang bisa melepaskan diri darinya kecuali di saat bertemu dalam menjaga diri.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[i] HR. Bukhari shahih

[ii] Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 5620