Senin, 6 Ramadhan 1439 H / 21 Mei 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 166: "Menyingkap Tabir Penghalang Penegakkan Syari’at Islam"


Materi Khutbah Jumat Edisi 166 tanggal 8 Jumadil Akhir 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Menyingkap Tabir Penghalang Penegakkan Syari’at Islam

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

MUNGKINKAH SYARI’AH ISLAM TEGAK DI INDONESIA ? 

Inilah sebuah pertanyaan yang selalu berulang, terkadang sesekali menghilang, namun tidak berselang lama kembali muncul menempati posisinya semula. Mengapa begitu…? Karena memang kelazimannya demikian, afdhalnya disebuah Negara yang mayoritas terbesar penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia ini, seharusnya adalah Negara Islam atau Negara yang dikelola berdasarkan Syari’at Islam. Ditinjau dari tatakerama demokrasi sekalipun, yang salah satu asasnya adalah kedaulatan rakyat, maka sangat wajar bila Indonesia memberlakukan Syari’at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di manapun di dunia ini, keyakinan dan dominasi penduduk mayoritaslah yang menjadi identitas negaranya. Di Rusia, China, Nikaragua, penduduk mayoritas berfaham komunis, maka berdirilah negara komunis. Begitu pun di Amerika, Inggris, Australia, Prancis dan lain-lainnya, mayoritas penduduknya berfaham demokrasi, maka berdirilah negara demokrasi.

Apalagi, jika ditinjau dari kaidah dan akidah Islam, yang mewajibkan umat Islam menjalankan syari’at Islam dalam segala aspek kehidupan. Semangat iman seperti inilah, yang membuat perjuangan menegakkan Syari’ah Islam di Indonesia tidak pernah padam. Semenjak Islam masuk ke negeri ini pada abad ke-13, kerajaan-kerajaan Islam di kala itu senantiasa berusaha untuk menegakkan Syari’ah Islam di wilayah kerajaannya. Ketika penjajah Belanda berkuasa pun, upaya-upaya ke arah tegaknya Syari’ah Islam masih terus dilakukan. Setelah Indonesia merdeka, usaha penegakan Syari’ah Islam juga tidak pernah berhenti, baik melalui parlementer oleh parpol Islam Masyumi sehingga melahirkan Piagam Jakarta, maupun melalui perjuangan bersenjata dengan diproklamirkannya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat, Aceh, Kalimantan dan Sulawesi Selatan oleh SM. Kartosuwiryo, Tengku Daud Beureueh, Ibnu Hajar dan Qahhar Mudzakkar.

Namun, apa yang dianggap wajar dalam Negara demokrasi bahkan komunis sekalipun, menjadi tidak wajar di Indonesia. Negara justru bersikap represif terhadap aspirasi dan keyakinan penduduk mayoritas Muslim. Bayangkan, sekiranya mayoritas penduduk Indonesia berfaham komunis, wajarkah bila mereka menuntut berdirinya Negara komunis, dan hukum yang berlaku adalah hukum komunis yang anti tuhan itu? Jika ya, mengapa hal yang sama tidak berlaku bagi Islam, malah umat Islam yang menuntut berdirinya Negara Islam atau berlakunya Syari’at Islam di lembaga Negara dimusuhi sebagai pelaku subversi, anti pemerintah, dan musuh negara? Tapi, jika tidak, itukah mentalitas demokrasi sesungguhnya?

URGENSI PENEGAKKAN SYARIAT ISLAM

Sesungguhnya menegakkan agama Allah Ta’ala di bumi berarti perbaikan, keberkahan, dan keberuntungan di dalam kehidupan orang yang beriman baik di dunia dan begitu juga di akhirat. Tidak ada pemisahan antara agama islam dan dunia, dan antara dunia dan akhirat, sebab Islam adalah satu-satunya jalan hidup yang benar untuk di dunia dan di akhirat. Islam adalah petunjuk yang benar yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dan hal ini wajib diyakini, dibenarkan dengan keimanan yang sebenarnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ سدد خطاكم قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وآله وسلم -: «حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِى الأَرْضِ خَيْرٌ لأَهْلِ الأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا». (رواه ابن ماجه، وحسنه الألباني).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasululloh - صلى الله عليه وآله وسلم –bersabda: (satu hukum huddud yang diterapkan di bumi lebih baik bagi penduduk bumi daripada turun hujan selama 40 hari pada waktu pagi). HR. Ibnu Majah dihasankan oleh syekh Albaniy.

Sesungguhnya keamanan dan ketenangan dan kebahagiaan di dunia sebelum kehidupan akhirat tidak akan terjadi kecuali dengan tegaknya syari’at Allah Ta’ala di dalam kehidupan manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Yang Allah Ta’ala ciptakan untuk ibadah, tunduk kepadaNya semata. Dan jika tidak ditegakkan maka manusia akan celaka, tidak terarah hidupnya, tersesat, dan hancur. Dan kita bisa mengambil pelajaran yang demikian dari Negara-negara adi daya yang dianggap modern, maju, berkembang, ada berapa persen kriminalitas, dan  kejahatan di dalamnya baik berupa pembunuhan, pencurian, korupsi, kejahatan seksual pada anak dan dewasa, perzinahan, dll.

Kondisi krisis moral tersebut yang berdampak negatif  kepada aspek politik, ekonomi, budaya, dll, solusi dan perubahan atas hal tersebut sudah pasti akan hanya  bisa diperbaiki, diarahkan, dan dipimpin oleh syari’at Alloh atau hukum Allah, dimana Allah ta’ala yang menciptakan manusia dan alam semesta ini.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96)

Allah Ta’ala berfirman: “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa(melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya), pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan (kebaikan yang sangat banyak) dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).

Sebab yang menghalangi manusia menegakkan syariat Islam

Sesungguhnya orang Islam sangat mendambakan untuk dapat meniti (dalam) kehidupan yang fana ini di atas jalan yang benar, di jalan keridhaan-Nya.

Setiap muslim pasti menginginkan agar dalam hidupnya di dunia ini benar-benar berada di atas shirathal mustaqim (jalan yang benar), bahkan kita selalu berdoa kepada Allah SWT ketika shalat minimal tujuh belas kali dengan doa:

“Tunjukilah[1] Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[2] (QS. AlFatihah:6-7).

Itulah doa yang selalu kita panjatkan, agar kita dapat tetap berjalan di atas kebenaran. Tetapi, ketika kita berusaha untuk mengikuti kebenaran, mengikuti jalan Islam yang haq, untuk taat kepada Allah SWT, mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan jalan para sahabat Rasulullah, apalagi sampai membela dan memperjuangkan syariat Islam agar tegak dan berkuasa diatas semua agama, sistem, dan hukum manusia ternyata merealisasikan itu semua tidaklah mudah, karena dia harus menghadapi banyak rintangan dan godaan yang selalu menghalanginya dari kebenaran tersebut. Segala macam tantangan dan rintangan menghadang kita, agar kita gagal meraih cita-cita mulia, gagal menghadapi ujian hidup. Penghalangnya bersumber dari dalam diri kita sendiri tantangan dan rintangan berupa hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan, ditambah dengan musuh-musuh dari luar berupa syaitan dari jin dan manusia yang bekerja mati-matian siang dan malam untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Mereka bekerjasama dan saling tolong-menolong dalam hal dosa dan perumusuhan.

Diantara sebab yang menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran Islam dan menegakkannya adalah sebagai berikut:

  1. Kurangnya ilmu dan lemahnya pemahaman tentang kebenaran Islam dan urgensi penegakkannya dalam kehidupan manusia.

Kita telah mengetahui, bahwa seorang muslim wajib untuk menutut ilmu, karena ilmu itu adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Dengan ilmu ia dapat membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang batil (sesat).

Banyak dari hal-hal yang benar akan dianggap salah dan yang ternyata salah akan dianggap benar oleh seseorang, disebabkan karena kurangnya ilmu tentang dien (Islam) dan disebarkan virus syubhat yang menghalangi manusia dari kebenaran dan pengamalannya serta dijauhkannya manusia dari para penyampai kebenaran dan pejuang penegak syariat Islam. Ulama yang melakukan aksi bela Islam diteror, dikriminalisasi dan dipersekusi, dipenjara, dan dibunuh.

Dengan sangat masifnya penyebaran virus syubhat mengakibatkan umat manusia tidak tahu kebenaran dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang sesat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Dan sesungguhnya, tidak ada seorangpun yang dapat selamat dari fitnah syubhat ini, kecuali dengan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah SAW (semata) dan berhukum kepadanya tentang masalah dien (Islam) dalam hal-hal yang kecil maupun yang besar.” (Kitab Ighatsatul lahafan, juz 2, hal.176-177).

Allah SWT berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)[3].(QS. Al-An‘Am: 116).

  1. Hati yang kotor akibat maksiat

Imam Ibnu Qayyim mengatakan: “Bisa jadi pengetahuan dia tentang ilmu tersebut sempurna, kedudukannya sebagai tokoh umat dengan gelar yang mulia, tetapi tidak cukup hanya pengetahuan saja untuk bisa mengikuti kebenaran (apalagi menegakkannya). Ada syarat lain, yaitu harus bersih atau dia telah siap untuk menerima kebenaran, siap untuk dibersihkan. Apabila dia sendiri belum dibersihkan, maka kebenaran yang datang akan sulit diterima, apalagi untuk diikuti. Apabila tempatnya itu tidak bersih dan juga tidak siap untuk dibersihkan, maka seumpama tanah gersang, meskipun turun hujan tetap tidak menumbuhkan tanaman-tanaman  disebabkan tanah itu tidak pantas untuk tumbuhnya tanam-tanaman tadi. Apabila seseorang memiliki hati yang keras seperti batu, ia tidak bisa menerima pembersihan hati. Nasehat-nasehatpun tidak berdampak kepadanya. Maka, tidaklah bermanfaat ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut. Sebagamana tanah yang tandus meskipun turun hujan setap hari, tetap tidak bisa menumbuhkan tanam-tanaman.

Begitupun hati manusia, apabila ia banyak berbuat dosa dan maksiat, pemikirannya diwarnai, dibina dan dididik  dengan paham sesat seperti sekularisme, liberalisme, plularisme, dan komunisme, jauh dari aturan-aturan Allah SWT maka hatinya menjadi kotor. Setiap  melakukan kemaksiatan hatinya ternoda dengan noda hitam. Apabila berbuat dosa lagi, bertambah lagi noda hitamnya sampai hatinya hitam pekat, tidak mengenal mana yang baik dan tidak mengingkari yang munkar. Kalau hati seseorang seperti hati mayit, hati yang mati, maka ilmu yang dia miliki tidak dapat bermanfaat lagi. Oleh karena itu, hati harus selalu dibersihkan dengan banyak istighfar, bertaubat, menuntut ilmu, beramal shalih, meninggalkan perbuatan maksiat sehingga nantinya hati menjadi hidup, bersih putih serta suci kembali dan siap menggapai hidayah.

  1. Sombong dan dengki

Sombong dan dengki ini menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran. Inilah yang menjadi penghalang iblis untuk tunduk kepada perintah Allah SWT ketika Allah memerintahkan iblis untuk sujud kepada Adam mereka menolaknya dengan sombong dan iblis termasuk makhluk yang kafir. Iblis sombong karena menganggap dan merasa bahwa dirinya lebih mulia, karena ia diciptakan dari api, sedangkan adam diciptakan dari tanah. Iblis merasa tidak pantas untuk menghormati adam. Ini adalah bentuk kesombongan sehingga ia tidak bisa mengikuti kebenaran.

Hati kita harus dibersihkan dari sifat sombong di antara hal yang menyebabkan manusia menjadi sombong adalah karena dia merasa mempunyai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia merasa lebih dari yang lainya sehingga merasa lebih tinggi dari yang lain dan merendahkan selain dirinya. Sebab sombong yang lain adalah karena harta, seseorang yang merasa dirinya memiliki banyak harta dan uang, maka ia bisa menjadi sombong kepada yang lainnya. Sebab sombong yang lain lagi adalah karena keturunan. Merasa berasal dari keturunan mulia sehingga sombong kepada yang lainnya.

Selain sifat sombong adalah hasad atau iri dengki. Diantara manusia ada yang tidak mengikuti kebenaran karena dengki.

  1. Lebih mencintai kehormatan daripada kebenaran dan penegakkannya

Terkadang, seseorang itu mengetahui bahwa yang dia lakukan itu salah, tetapi dia tidak mau memperbaikinya. Dia berkata : ‘jika saya bekerja dengan benar, jujur, bersih, maka saya khawatir jabatan saya akan dicopot, atau tidak akan bisa naik jabatan. Kalau demikian, saya tetap tidak mau mengikuti yang benar, karena kebanyakan teman seprofesi saya juga tidak baik, tidak jujur, korup. Kalau hanya saya yang benar malah nanti dikucilkan, tidak bisa naik pangkat. Saya takut jabatan saya nanti dicopot oleh atasan, sehingga saya terpaksa berbuat curang.” Orang tersebut beralasan karena terpaksa, padahal sebenarnya dia bisa memilih altenatif lainnya. Jabatan merupakan salah satu penyebab yang dapat menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran.

EKSISTENSI THOIFAH MANSHUROH DALAM PENEGAKKAN ISLAM SEPANJANG ZAMAN

Sepanjang zaman tidak akan pernah kosong dari keberadaan thoifah manshuroh. Kendati banyak orang Islam keluar dari Islam, meninggalkan hukum Islam, mengikuti budaya dan hukum kafir. Dan bahkan meskipun orang-orang kafir, dzalim, dan sekutunya berupaya memadamkan cahaya agama Allah, merusak generasi-generasi Islam dan menjauhkannya dari Islam. Maka upaya mereka akan berakhir dengan sia-sia, oleh karena Allah SWT telah menjamin untuk senantiasa memunculkan dari generasi umat ini satu tanaman (generasi) yang mentauhidkan Allah Ta’ala, dimana Allah akan tetap menjaga dan menyempurnakan agama-Nya melalui perantaraan tangan mereka.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Sungguh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam telah memberikan informasi, bahwa ada sekelompok (thoifah) dari ummat ini yang Alloh Ta’ala jalankan untuk melaksanakan urusan yang penting lagi mulia ini. Mereka akan membela umat yang mulia ini dengan senjata, lalu Alloh menangkan mereka dalam (melawan) musuh-musuh mereka dan Dia berikan rizki kepada mereka dari naungan tombak. Beliau berkata,

وَإِنَّهُ لَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَزِيغَ اللَّهُ قُلُوبَ قَوْمٍ لَيَرْزُقَهُمْ مِنْهُمْ، وَيُقَاتِلُونَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Dan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di jalan Alloh dan orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan memberikan marabahaya kepada mereka. Alloh akan mencondongkan hati suatu kaum untuk memberikan rizki kepada sekelompok (yang berperang) itu dari mereka dan (kelompok itu) akan (terus) berperang hingga hari kiamat.” HR. at-Thobroniy dalam al-Kubro.

Tho’ifah (kelompok) ini yang paling awalnya, penghulunya dan teladannya adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau rodhiyallohu ‘anhum yang mulia. Hari ini, semua yang menegakkan nahr-nya[4] dalam peperangan besar ini demi (membela) islam dan kaum muslimin dengan sabar lagi berharap (ridho Alloh), maka dia adalah bagian dari thoifah manshuroh (kelompok yang mendapat kemenangan) insya Alloh. Beruntunglah seorang hamba yang dijadikan oleh Alloh bagian dari mereka dan diteguhkan hingga (wafat) bertemu dengan-Nya, serta melihat janji dan kabar gembira-Nya. Orang yang rugi adalah orang yang tidak pernah memukulkan anak panah (senjata) dalam peperangan besar ini.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1]Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

[2]Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

[3] Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah Dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

[4]Nahr adalah bagian bawah leher dan di atas dada.