Senin, 6 Ramadhan 1439 H / 21 Mei 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 167: "Menjalin Persatuan Umat Islam"


Materi Khutbah Jumat Edisi 167 tanggal 14 Jumadil Akhir 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Asharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Menjalin Persatuan Umat Islam

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Berteman, berkumpul, berloyalitas, dan bersatu karena Allah.

Di antara hak tauhid adalah mencintai ahlinya yaitu para muwahhidin Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang-siapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang beri-man menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah: 55-56)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia …” (QS. Al-Mumtahanah: 1)

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Anfal: 73)

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Kedudukan kecintaan karena Allah dalam Islam sangatlah tinggi, karena dia adalah tali iman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam: “Tali iman paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ibnu Jarir)

Jamaah Jum’at yang berbahagia.

Dan dengan kecintaan karena Allah maka kewalian dari Allah dapat tergapai. Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu: “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi wala’ karena Allah dan memusuhi karena Allah maka sesungguhnya dapat diperoleh kewalian Allah hanya dengan itu. Dan seorang hamba itu tidak akan merasakan lezatnya iman, sekali pun banyak salat dan puasanya, sehingga ia melakukan hal tersebut. Dan telah menjadi umum persaudaraan manusia berdasarkan kepentingan duniawi, yang demikian itu tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi para pelakunya.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir)

Dari ayat dan hadits di atas menunjukkan tentang wajibnya loyalitas kepada orang-orang mukmin, dan berlepas diri dari orang-orang kafir, serta menunjukkan bahwa loyal kepada sesama umat Islam adalah kebajikan yang amat besar, dan loyal kepada orang kafir adalah bahaya besar.

Allah Ta’ala berfirman tentang bapak para nabi, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkar kepadamu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, prinsip loyalitas kepada kaum muslimin dan kebencian kepada orang kafir, sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam seperti termaktub dalam ayat di atas pada masa-masa ini seolah-olah telah redup di hati-hati kaum muslimin. Padahal prinsip loyalitas karena Allah adalah salah satu prinsip dalam agama Islam dan sebab tegaknya kemuliaan agama Islam di atas seluruh agama di dunia ini.

Umat Islam wajib bersatu karena Allah SWT.

Allah dan Rasul-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya telah menyuruh umat manusia agar hidup berjama’ah, berkumpul, saling membantu, saling meringankan dan melarang dari berpecah belah, bercerai berai, juga melarang saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Adapun bukti dan landasan dari Al-Qur’an Al-Karim serta Hadits Rasulullah Saw. yang mengisyaratkan akan hal itu, diantaranya adalah:

Firman Allah Ta’ala:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ibnu Abbas ra berkata kepada Sammak Al Hanafi, “Wahai Sammak berjama’ahlah, berjama’ahlah! Sesungguhnya umat-umat terdahulu itu binasa karena mereka berpecah-belah. Tidakkah engkau mendengar firman Allah:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara keseluruhan dan jangalah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, Ibnu Katsir menyebutkan tentang maksud ayat di atas yaitu “perintah untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an, berjama’ah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai,” Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَ يَسْخَطُ لَكُمْ  ثَلاَثاً : يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ أَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لاَ تَفَرَّقُوْا وَ أَنْ تَنَـاصَحُوْا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ , وَ يَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا : قِيْلض وَقَالَ , وَكَثْرَةَ السُّوأَلِ وَ إِضَاعَةَ الْمَـالِ رواه  مسلم

“Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian akan 3 hal dan marah akan 3 hal juga. Ia ridha kepada kalian akan hal; bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan bercerai berai, agar kalian saling menasihati orang yang oleh Allah ditakdirkan memegang urusanmu. Ia pun marah kepada kalian akan 3 hal; Banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. (HR. Muslim)

Al-Imam Al-Qurthubi berkata, “Allah mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya, serta kembali kepada keduanya ketika terjadi perselisihan. Ia juga memerintahkan kepada kita agar berkumpul dalam berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik secara keyakinan dan amalan. Hal tersebut adalah faktor yang menyebabkan bersatunya kalimat dan keteraturan yang menghilangkan perpecahan.

Dengan demikian kemaslahatan dunia dan dien akan tercapai, serta terselamatkan dari perselisihan. Ia juga memerintahkan agar berkumpul dan melarang berpecah-belah, sebagaimana yang terjadi pada dua kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani).” 

Petunjuk Syariat dalam memilih siapa yang dibolehkan jadi kawan.

لا تَصْحَبْ من لا يُنْهِضُك حالُه، ولا يَدُلُّك على الله مقالُه[1]؛ لأن (الرجل على دِين خليله)[2]، و(مَثَلُ الجليس الصالح كمثَل العطّار إن لم يُعْطك من عطره أصابك من ريحه)[3]، وخيارُ جلسائكم (مَن ذكَّركُم الله َرؤيتُه، وزاد في علمكم مَنطِقُه، وذكّركم بالآخرة عملُه)[4].

Janganlah engkau berteman dengan orang yang keadaannya tidak dapat membangkitkanmu dan perkataannya tidak membimbingmu kepada Alloh; karena (orang itu berada di atas agama temannya), dan (permisalan teman yang shaleh itu seperti tukang minyak wangi, jika dia tidak memberimu minyak wangi engkau masih mendapatkan baunya), dan teman-teman kalian yang baik itu adalah (orang yang jika kalian melihatnya niscaya mengingatkan kalian kepada Alloh, bicaranya dapat menambah ilmu kalian dan perbuatannya mengingatkan kalian kepada akherat).

Sesungguhnya saudaramu yang sebenarnya itu adalah orang yang bersamamu, dan orang yang rela membahayakan dirinya untuk memberi manfaat kepadamu, dan orang yang kalau kamu tertimpa musibah dia membantumu, dia mencerai-beraikan dirinya untuk memperkokoh dirimu.

فـ(لا تُصاحِب إلا مؤمناً، ولا يأكلْ طعامك إلا تَقِيّ)[5]؛ إذ لا يَعْدَمُ المؤمنُ خيراً،إن جالسْتَه نفعك، وإن ماشَيْتَه نفعك، وإن شاركْتَه نفَعَك[6]. ومَن أراد اللهُ به خيراً رَزَقه أخاً صالحاً: إن نَسِيَ ذَكَّره، وإن ذَكَر أعانه[7]

Maka (janganlah berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa), karena orang mukmin itu tidak pernah kosong dari kebaikan. jika engkau duduk bersamanya ia memberi manfaat kepadamu, jika engkau berjalan dengannya ia memberi manfaat kepadamu, dan jika engkau bekerja sama dengannya ia memberi manfaat kepadamu. Dan barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan padanya niscaya Alloh berikan kepadanya saudara yang shaleh: jika ia lupa dia mengingatkannya dan jika ia ingat dia membantunya.

Siapakah lawan atau musuh umat Islam?

Orang-orang kafir takkan pernah berhenti membuat makar untuk menjauhkan ummat manusia dari jalan Allah. Hal ini telah menjadi aksioma Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

Mereka (orang-orang kafir) tidak henti-hentinya memerangi kamu(umat Islam) sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217).

Dalam mengembangkan misinya orang yahudi dan nasrani yang mengingkari ayat-ayat Alloh SWT dan membunuh para nabi utusan Allah SWT mereka amat lihai mengemas kekafiran di balik wajah yang seakan tanpa dosa. Misalnya, menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib kaum dhu’afa, lewat aktivitas-aktivitas sosial yang diselenggarakan, baik atas nama agama, demokrasi maupun kemanusiaan.

Tragedi sejarah dunia modern membuktikan, bagaimana kebencian rezim-rezim Dzolim dan kuffar di Amerika, Rusia, atau negara-negara Eropa lainnya terhadap Islam dan umatnya sedemikian hebat. Sehingga para pejabat negara-negara itu secara bersama-sama atau sendiri-sendiri melalui forum internasional dan media massa berusaha menghasut dunia, melampiaskan sikap permusuhannya lewat kutukan, perbuatan maupun tulisan.

Kaum munafiq ialah mereka yang menjadikan Islam sekedar pelengkap saja. Islam sebagai topeng, dalam nama dan sebagian tata cara hidupnya. Akan tetapi jiwanya kufur karena sering diasah dan diasuh lingkungan yang jauh dari Islam/ sekuler dan liberal. Sehingga sikap hidup dan cara berfikirnya persis menyerupai kaum yahudi dan nasrani.

Mereka suka dan memilih keluar dari aturan Allah, lalu memandang Islam dan umatnya dengan pandangan merendahkan. Mereka menyerang Islam dari jurusan yang paling riskan. Adakalanya mereka tampil sebagai penyambung lidah musuh-musuh kafir. Tapi lebih sering, mereka menggali lubang sendiri untuk mengubur cita-cita Islam, dengan menjadi politisi ataupun propagandis-propagandis orang kafir. Dr. Musthafa As-Siba’i dalam hakadza alamatni alhayati Maktabul Islamiy Syria. Terjemahan indonesia : yang kualami dalam perjuangan : Pen GIP Juli 1994. Beliau berkata : “Tiga golongan manusia yang melenyapkan kebenaran dalam tiga tempat. Yaitu orang Ikhlas yang diam membisu dihadapan orang bathil, orang alim ditengah orang jahil, dan orang munafiq yang mendekatkan diri kepada orang dzalim”.

Dalam era globalisasi dan reformasi yang melanda abad ini, populasi musuh-musuh Islam dari kalangan orang munafiq terus meningkat, mereka memburu kebangkitan Islam melalui berbagai jurusan, mengacaukan pandangan pergerakan umat Islam dengan pendapat-pendapat dan isu yang membingungkan umat, dan terkadang bahkan sering juga secara langsung mereka menyerangmu, menuduhmu sebagai orang reaksioner, memecah belah persatuan, sektarian, merusak kebinekaan, diskiminatif, anarkis, memperjuangkan kepentingan kelompok, dan sebagainya, bahkan ia juga menyemburkan cemoohan, memancing kesabaran umat Islam.

Dalam kenyataannya, sikap orang-orang munafiq sesungguhnya lebih jahat dari orang kafir. Sebab orang-orang munafiq ini tidak pernah tampil secara terus terang sebai musuh orang beriman, sehingga sulit dideteksi tingkah lakunya. Disatu saat dia tampil layaknya seorang pembela Islam yang gigih, moderat tapi disaat lain dia berubah menjadi musuh yang sangat berbahaya dan menikam dari belakang. Banyak “keunggulan” atau “tinggi gelar dan kedudukan” yang terdapat pada diri kaum munafiqin, yang dengan itu umat mudah tertipu olehnya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka berkata kamu mendengarkan Perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar[8]. mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Konspirasi dan konvergensi (saling mengisi), antara orang kafir dan munafiq, dalam meredupkan cahaya kebenaran, sudah terjalin sejak agama Islam muncul pertama kalinya. Dan kerjasama mereka akan terus berlanjut hingga akhir zaman melalui berbagai macam “memorandum or understanding”, demi mendapat keuntungan duniawi serta memuaskan hawa nafsu mereka.

Larangan menjadikan orang kafir menjadi pemimpin.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah: 51-52)

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(pent. teman/pemimpin), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah:23)

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[9]. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik”. (QS. At-Taubah: 67)

Allah SWT menjadikan muwaalah (loyalitas, kesetiaan, dukungan dan kecintaan ) kepada orang kafir sebagai indikasi yang menunjukkan kemunafikkan, kekafiran, kebohongan dibalik penampilan keislaman, meski mereka mengaku yang sebaliknya dengan lisannya seolah-olah beriman. Allah SWT berfirman:

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah:81).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1]  - مِن الحِكم العطائية.Dari Al Hikam Al ‘Atho-iyyah.

[2]   Dinyatakan hasan oleh At Tirmidzi. Dan An Nawawi berkata: Hadits ini sanadnya shohih.

[3]  Diriwayatkan oleh Abu Daud, dinyatakan shohih oleh Al Hakin dan disetujui oleh Adz Dzahabi.Dan dinyatakan shohih oleh Al Albani.

[4] Diriwayatkan oleh Abu Ya’la.Al Haitsami berkata: Di dalamnya ada fulan yang muwatsaq, sementara sisa perowinya adalah perowi hadits shohih. Al Mundziri juga mengatakan hal serupa. Sementara Ibnu ‘Adi mencantumkannya dalam kitabnya Al Kamil Fi Dlu’afa-ir Rijal.Dan dinyatakan dlo’if oleh Al Albani. .

[5]   Dinyatakan shohiholeh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi.At Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan, dan hadits ini memang hasan.

[6]  Bunyi awalnya: مثل المؤمن كمثل العطار إن جالستَه...

Perumpamaan orang mukmin itu seperti penjual minyak wangi, jika engkau duduk dengannya....

… diriwayatkan oleh Al Bazzar. Al Haitsami berkata: Para perowinya muwatsaq. Dan dinyatakan dlo’if oleh Al Albani.

[7]Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya secara mursal. Sementara dalam riwayat Abu Daud sanadnyajayyidsesuai dengan syarat muslim.

[8]Mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar, Maksudnya untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh mereka bagus-bagus dan mereka pandai berbicara, akan tetapi sebenarnya otak mereka adalah kosong tak dapat memahami kebenaran.

[9]Maksudnya: Berlaku kikir