Selasa, 8 Sya'ban 1439 H / 24 April 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 169: "Sebab Sikap Pesimis Terhadap Dakwah Perbaikan Umat Islam"


Materi Khutbah Jumat Edisi 169 tanggal 6 Rajab 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Sebab Sikap Pesimis Terhadap Dakwah Perbaikan Umat Islam

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Telah berjalan berabad-abad lamanya generasi Islam meneguk dari mata air keutamaan mereka, mengambil cahaya mereka, menggunakan metode mereka dalam mendidik, dan menempuh jalan mereka dalam membina kemuliaan. Hal tersebut berlangsung hingga datang masa ketika hukum Islam terlepas dari masyarakat Islam. Sejak saat itu, hilanglah menara Khilafah Islamiyah sehingga musuh-musuh Islam berhasil mencapai sasaran mereka yang busuk dan tujuan mereka yang keji dalam mengubah tatanan dunia yang Islami menjadi tercerai-berai dan saling bersengketa yang didorong oleh hawa nafsu, ketamakan, dan prinsip-prinsip nonislami. Sehingga mereka tunduk kepada hawa nafsu dan kesenangan duniawi, terjerembab ke dalam kubangan pemikiran yang liberal, berjalan tanpa tujuan, dan hidup tanpa ada upaya untuk meraih kemuliaan, persatuan, dan eksistensi.

Mereka berkumpul tapi pada hakikatnya hati mereka tercerai-berai. Mereka tampaknya bagai satu kekuatan namun hakikatnya adalah buih lautan sehingga banyak dari para pengusung gerakan perbaikan dan penggiat dakwah kepada Allah diserang penyakit putus asa dan diliputi kelemahan. Mereka menganggap bahwa sudah tidak ada lagi jalan untuk memperbaiki umat ini, tidak ada lagi harapan untuk bisa mengembalikan kemuliaan, keperkasaan, dan eksistensinya. Bahkan, ada di antara para da’i itu yang berdakwah dengan cara mengasingkan diri sepenuhnya di dalam rumah.

Mereka beranggapan bahwa sekarang ini adalah masa akhir zaman. Sekaranglah waktunya seorang muslim untuk keluar dari rumah dengan membawa harta mereka menuju gunung-gunung atau belahan bumi mana pun untuk menyelamatkan agamanya dari malapetaka fitnah akhir zaman hingga menemui kematiannya.

Sikap berputus asa atau pesimis dari melakukan perbaikan umat Islam ini muncul karena 3 sebab:

  1. Muncul dari ketidaktahuan akan tabiat agama.
  2. Kecintaan kepada dunia dan takut pada kematian.
  3. Kebodohan terhadap hakikat penciptaan manusia.

Hadirin jamaah jum’at rahimakumullah.

Mengetahui tabiat agama Islam akan menumbuhkan optimisme dalam perbaikan umat Islam.

Ketika kaum muslimin memahami bahwa dinul Islam adalah agama kekuatan. Allah berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).(QS.Al-Anfal: 60).

Umat Islam tidak akan berputus asa berdakwah mengajak ke jalan Islam ketika kaum muslimin memahami bahwa Islam adalah agama ilmu yang mencakup dua ilmu, yaitu ilmu dunia dan ilmu akhirat. Allah berfirman:

“...Dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114).

Umat Islam tidak akan pesimis ketika mereka memahami bahwa Islam menempatkan manusia sebagai khalifah Allah (pengganti Allah) di muka bumi yang memegang tampuk kekuasaan, mengeluarkan kandungan-kandungannya, memperhatikan setiap rahasia yang terkandung di dalamnya. Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al-An’am:165).

Umat Islam tidak akan pesimis ketika mereka memahami agama mereka dalam semua aspeknya, dan ketika mereka mengetahui (terlebih lagi para pendakwah) akan tabiat agama ini dan hakikat agama Islam maka mereka tidak akan pernah putus asa dan mudah menyerah. Mereka tampil di medan dakwah, melaksanakan perbaikan, dan pembinaan. Selain itu, agar mereka kembali (sebagaimana pendahulu mereka para sahabat Nabi) menjadi guru bagi dunia dan penuntun umat manusia. Mereka bak pelita-pelita yang menerangi kegelapan dunia. Kemudian manusia meneguk ilmu darinya serta menyerap sumber pengetahuan dan kebudayaan sepanjang masa hingga Allah mewariskan bumi ini dan apa yang dikandungnya.

Kecintaan kepada dunia dan takut pada kematian penyebab pesimisme dari dakwah perbaikan.

Ketika kaum muslimin (terutama para ulama dan pendakwah) terbebas dari kecintaan kepada dunia, menjadikan perbaikan masyarakat dan usaha untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi adalah orientasi besarnya.

Ketika kaum muslimin terbebas dari sifat pengecut, rasa takut, dan membenci kematian. Ketika mereka meyakini dalam diri mereka bahwa rezeki itu di tangan Allah, yang bisa menimpakan manfaat dan bahaya hanyalah Allah.

Ketika kaum muslimin meyakini semua ini dan mereka terbebas dari sebab kelemahan dan ketakutan, maka pada saat itulah mereka akan mampu tampil dalam kancah dakwah kepada Allah, pendidikan, pengarahan, dan perbaikan. Mereka menyampaikan risalah dari Rabbnya tanpa ada rasa takut kepada seorangpun kecuali Allah.

Justru mereka merasa yakin bahwa Allah akan memberikan pertolongan dan mengokohkan mereka di dunia, dan mengganti rasa takut mereka dengan rasa aman, dari kehinaan menuju kemuliaan, dari perpecahan menuju persatuan. Semua itu tidaklah sulit bagi Allah, jika mereka benar dalam niat, membulatkan tekad, dan membebaskan diri dari keputusasaan, rasa takut, dan cinta dunia.

Ketika kaum muslimin mengetahui bahwa mereka diciptakan untuk mengemban tujuan dan hakikat yang luhur. Tujuan ini telah Allah tetapkan di dalam kitab-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat:56).

Akan tetapi, apa sebenarnya peribadatan yang Allah kehendaki dari kita, dan yang diperintahkan kepada kita yang kita harus tunduk melaksanakannya ? jawabannya tidak lain adalah ketundukan dan kepatuhan kepada manhaj dan jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya ini adalah amanah yang pernah Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tapi semuanya menolak dan merasa keberatan. Sesungguhnya ini adalah taklif (syariat) yang berkelanjutan untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju keleluasaannya, dari kesewenangan agama menuju keadilan Islam. Sesungguhnya ini adalah penyerahan wala’ (loyalitas) kepada Allah, Rasul, dan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya ini adalah penolakan terhadap prinsip-prinsip atau pemikiran-pemikiran yang tidak bersumber dari syariat Islam.

Inilah fungsi keberadaan seorang muslim di muka bumi. Inilah tujuan dari penciptaannya. Kapan saja seorang muslim memberikan wala’nya kepada Allah, Rasul, dan orang-orang beriman maka saat itulah dia menjadi hamba-hambaNya yang sesungguhnya. Begitu juga ketika ia memikul amanah dengan jiwa penuh keimanan dan kesungguhan maka saat itulah ia menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Ketika ia hanya menerima petunjuk dan syariat-Nya kemudian menolak yang selain dari-Nya maka saat itulah ia menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Ketika ia bergerak melakukan tindakan dan berjihad untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju keleluasaannya, dari kesewenangan agama menuju keadilan Islam, saat itulah ia menjadi hamba Allah yang sesungguhnya.

Jika tidak demikian, ia akan menjadi budak kesenangan, hawa nafsu, thaghut, keputusasaan, kekakuan, dan kelemahan. Ia berjalan tanpa arah, tanpa petunjuk, dan landasan. Allah berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Apakah orang yang sudah mati[1] kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am:122).

Oleh karena itulah hendaknya setiap muslim mengetahui tabiat agamanya dan membebaskan diri dari penyakit cinta dunia dan takut mati. Hal ini bertujuan agar mereka mengetahui tujuan dan dasar dari penciptaan mereka sehingga mereka bisa bangkit dengan Islam, mengembalikan kemuliaan yang telah lama hilang, membangkitkan tekad mereka yang kuat, kekuataan mereka yang besar dan persatuan mereka yang sempurna. Semuanya tidaklah sulit bagi Allah SWT.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1]Maksudnya ialah orang yang telah mati hatinya Yakni orang-orang kafir dan sebagainya.