Kamis, 9 Muharram 1440 H / 20 September 2018 M

Khutbah Jumat Edisi. 172: "Meraih Datangnya Pertolongan Allah Dengan Pengorbanan"


Materi Khutbah Jumat Edisi 172 tanggal 27 Rajab 1439 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Meraih Datangnya Pertolongan Allah Dengan Pengorbanan

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Allah Berjanji Menolong Orang Beriman.

Seringkali orang mengaitkan kemenangan dan pertolongan Allah SWT hanya kepada hal-hal yang bersifat lahiriyah, seperti (mengharapkan) dikalahkannya orang-orang kafir yang memegang kekuasaan suatu negeri, lalu kaum muslimin berhasil mendirikan sebuah baldah thoyibah (negara yang berkah diatur dengan syariat Islam dan diridhoi Allah SWT) yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka menjadikan musyawarah sebagai wasilah prinsip dalam menentukan garis-garis besar haluan negara berkah yang diatur syariat Islam memecahkan berbagai persoalan, serta memilih pimpinan tertinggi. Kemenangan tegaknya negara Indonesia berlandaskan syariat Islam hanyalah salah satu di antara  sekian banyak kemenangan atau pertolongan Allah SWT yang dijanjikan kepada orang-orang beriman.

Ketika kaum muslimin berada dalam keadaan yang amat sulit, seperti menghadapi makar musuh atau perlakuan tidak manusiawi dari mereka, maka kaum muslimin menengadahkan tangan mereka ke atas, seraya memohon kepada Allah SWT :

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).

Kata “Dekat” di dalam ayat diatas, merupakan istilah yang mengandung targhib (motivasi) dan tarhib (peringatan). Memberikan targhib, dalam arti memberikan dorongan kepada kaum muslimin yang senantiasa gigih berjuang dan bersabar menghadapi berbagai ujian dari musuh-musuhnya, agar lebih gigih lagi dalam berjuang, guna menyongsong janji-janji Allah. Dekat itu relatif, bukan merupakan hitungan waktu yang pasti.

Misalnya tentang kejatuhan Parsi di tangan Romawi, Al-Qur’an hanya mengisyaratkan dengan “bidl’u sinin” (antara tiga hingga sembilan tahun). Tentang hal ini, Abu Bakr Ash-Shiddiq meramalkan sekitar empat tahun. Kejadian itu menjadi kenyataan setelah empat tahun lebih. Hitungan ini bisa juga “dekat”. Ada kalanya, dua puluh atau dua puluh lima tahun, itu juga dekat, tergantung dari sisi mana kita melihat. Bagi orang-orang yang tak tahan ujian, maka 1 tahun terasa sangat panjang. Sebaliknya, bagi mujahid fi sabilillah yang tabah menghadapi berbagai ujian dakwah, maka 20 tahun menurutnya “dekat”.

Allah SWT berfirman: “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47).

Mengapa Rasulullah SAW pernah mengalami kekalahan dalam peperangan melawan musuh-musuhnya, seperti dalam Perang Hunain ?. ini termasuk “tarhib” peringatan bagi kaum muslimin agar tidak takabur karena banyaknya anggota pasukan, atau mengabaikan hasil musyawarah yang menyebabkan kekalahan kaum muslimin seperti dalam Perang Uhud. Peringatan Allah ini agar dijadikan ibrah (pelajaran) oleh mereka, sehingga mereka tidak mengulangi lagi di kemudian hari.

Termasuk bagian dari aqidah kaum muslimin, bahwa mereka harus senantiasa tawazun antara ar-raja (berharap: pahala, kemenangan, dan pertolongan) dan al-khauf (takut siksaNya, kekalahan, dan kesengsaraan ), agar kaum muslimin selalu berhati-hati dalam bertindak, tidak gegabah, ceroboh, dan isti’jal (tergesa-gesa). Kaum muslimin hendaklah selalu memiliki sifat: al-hilm (tidak mudah emosi dan tidak masa bodoh), al-anat (tidak tergesa-gesa, gegabah, dan ceroboh, namun bersikap kritis, cermat dan hati-hati), di samping itu mereka juga harus bertindak ‘arif karena ilmunya.

Pertolongan Allah SWT terdiri atas tiga jenis:

  1. Pertolongan bagi da’i, atau mujahid da’wah saja.
  2. Pertolongan bagi dakwah saja.
  3. Pertolongan bagi keduanya (da’i dan dakwah).

Semua bentuk pertolongan Allah tersebut pernah diberikan kepada para Rasul dan Nabi, juga kepada dai-dai yang berjuang mempertahankan manhaj Allah. Diantara mereka ada yang memperoleh pertolongan berupa kemenangan bagi dakwahnya saja, bagi dainya saja, namun ada pula yang memperoleh bagi keduanya, yaitu Islam dan negara bersyariah Islam dapat tegak, dan pejuang-pejuangnya ikut merasakan kemenangan.

Tanpa memahami hakikat pertolongan Allah tersebut, maka sudah pasti akan timbul dampak negatif bagi pelaku dakwah yang bentuknya bisa bermacam-macam, antara lain :

  1. Orientasi politik mengalahkan orientasi dakwahnya.
  2. Timbulnya rasa putus asa, sehingga mereka meninggalkan umat.
  3. Timbulnya fanatisme golongan atau fanatik terhadap jama’ah tertentu, yang menyebabkan kekeliruan, baik dalam hal tolong-menolong maupun dalam penerapan muwalah (perlindungan) dan mu’adah (permusuhan).
  4. Penyimpangan dari manhaj Allah dalam dakwah.

Janji Allah pasti akan datang selama juru dakwah memperhatikan dakwah bi hikmah, dengan mengikuti manhaj dakwah para nabi dan manusia-manusia teladan dalam dakwah pada jalan Allah. Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).

Keberanian, Perjuangan, Pengorbanan Menyebabkan Datangnya Pertolongan Allah SWT.

Berjiwa pemberani disertai pengorbanan dan berkeyakinan, bahwa jihad bukanlah penyebab kematian –namun kematian tidak dapat ditunda– adalah termasuk sebab yang dapat mendatangkan pertolongan dari Allah SWT. Orang-orang yang memiliki iman yang kuat dan sempurna termasuk golongan yang paling berani, dan sesempurna-sempurnanya keberanian adalah keberanian Rasulullah SAW. keberanian beliau tampak dalam berbagai peperangan besar yang beliau ikuti. Seperti keberanian beliau yang penuh heroik dalam perang Badar.

PENGORBANAN

Wahai mereka yang telah ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai diennya dan Muhammad sebagai Nabinya dan Rasulnya. Ketahuilah, bahwasanya Allah telah menurunkan ayat dalam surat Al Baqarah:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji[1] Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku"[2]. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. Al-Baqarah: 124).

Harga dakwah itu amat mahal menurut firman Allah Yang Maha Menar dan Maha Agung serta menurut lisannya Rasulullah SAW. Harga mengemban prinsip dan memindahkannya dari alam fikiran atau alam teori ke alam tatbiq (praktek) dan alam kenyataan, memerlukan banyak pengorbanan sehingga menjadi bebar-benar nyata hidup di alam dunia.

HARGA DAKWAH

Dakwah tidak akan mencapai kemenangan dan keberhasilan jika dakwah tersebut tidak diiringi pengorbanan.  Baik itu dakwah ardliyah (dari manusia) atau dakwah samawiyah (dari Allah).  Darah, tubuh, tulang belulang, nyawa, syuhada’ itu semua adalah api yang menyalakan pertempuran, api yang menyalakan peperangan ideologi, api yang menyalakan perang pemikiran. Adapun ayat tersebut di atas memperingatkan kita kepada persoalan penting dalam gelanggang peperangan ini. Yakni bahwa tidak ada surga bagi orang yang tidak mau berkorban dan menyumbangkan sesuatu.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).

PENGORBANAN RASULULLAH SAW.

Al Qur'an itu bukan hiburan dan bukan untuk kesenangan diwaktu-waktu senggang, akan tetapi Al Qur'an adalah manhaj (petunjuk jalan) bagi para Da’i yang menempuh jalan dien ini sampai hari kiamat, mengikuti jejak langkah penghulu para rasul Muhammad SAW dan pemimpin semua umat manusia.

“Aku adalah pemimpin anak cucu Adam, bukan menyombong”.  Meskipun demikian, keadaan beliau saat ini adalah seperti yang beliau sendiri ceritakan dalam hadits shahih di dalam kitab Shahih Al-Jami’ Ashaghir/ 1552 :

“Sungguh aku pernah disakiti karena menyampaikan risalah Allah dan tak seorangpun pernah disakiti seperti itu, aku pernah diintimidasi karena menyampaikan risalah Allah dan tak seorangpun pernah diteror seperti itu.  Dan pernah pula lewat pada diriku tiga puluh hari tiga puluh malam, sementara aku dan Bilal tak ada sesuatu yang dapat dimakan kecuali sedikit makanan yang hanya dapat menutupi ketiak Bilal”[i]

Ketika datang pembesar Quraisy kepada Abu Thalib, meminta dia agar mencegah keponakannya menyakiti perasaan mereka, maka Abu Thalib mengirim anaknya Uqail untuk menemui Rasulullah SAW dan mengingatkan bahwa kaum Quraisy mendesakkan agar menghentikan penghinaan terhadap mereka, maka beliau Rasulullah SAW menjawab dengan kata-kata sebagai berikut:

“Demi Allah, aku lebih baik tidak mampu meninggalkan sesuatu yang aku diutus untuknya daripada seseorang di antara mereka mencoba membakar matahari dengan nyala api”“Demi Allah, wahai paman.  Sekiranya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan perkara ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya”[ii]

Untuk menyampaikan dakwah bukan merupakan sesuatu yang mudah atau perjalanan yang menyenangkan. Allah Ta’ala berfirman:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (42)

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu Keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu Amat jauh terasa oleh mereka. mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jikalau Kami sanggup tentulah Kami berangkat bersama-samamu." mereka membinasakan diri mereka sendiri[3] dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”  (QS. At-Taubah: 42).

Sesungguhnya jalan dakwah adalah jalan yang panjang dan sukar.  Semuanya berduri, semuanya pengorbanan.  Bahkan mungkin engkau meninggal dunia sedangkan engkau belum mencapai satu buahpun dari hasil pekerjaanmu. Anas ra berkata : “Rasulullah SAW telah diwafatkan oleh Allah, sedangkan beliau belum pernah menikmati daging kambing bakar”[iii] “Tak pernah sekalipun keluarga Muhammad makan roti dari Sya’ir (jenis gandum) sampai kenyang selama dua hari berturut-turut”. “A’isyah berkata : “Demi Allah, kami belum pernah makan korma sampai kenyang kecuali sesudah penaklukan Khaibar”[iv]

Apakah kalian mengira bahwa prinsip dan keimanan itu hanya merupakan mainan atau senda gurau atau kesenangan yang disampaikan seseorang manusia lewat khutbah yang dihiasi dan dirangkai dengan kata-kata yang indah, atau ditulis dalam sebuah  buku lalu dicetak dankemudian disimpan di perpustakaan???

Itu sama sekali bukan jalan dar Ashabud Da’wah (penyampai da’wah)!!!

Sesungguhnya dakwah itu selalu akan memperhitungkan bahwa generasi pertama yang menyampaikan dakwah, mereka itu adalah tumbal bagi tegaknya yang diserukan.

Ucapan Sayyid Quthub

Sesungguhnya generasi pertama, mereka itu pergi sebagai api penyala buat tabligh dan sebagai bekal untuk menyampaikan kalimat yang tidak akan hidup kecuali dengan qalbu dan cucuran darah.

Sesungguhnya kalimat kita akan tetap mati seperti boneka yang tak bergerak, sampai kita mati karenanya.  Maka dia/kalimat itu akan bergoncang bangkit dan hidup diantara mereka yang hidup.  Setiap kalimat yang hidup diantara mereka yang hidup. Setiap kalimat yang hidup, maka ia akan bersemayam di hati manusia yang hidup, sehingga hiduplah ia bersama-sama mereka yang hidup.  Orang-orang yang hidup tidak akan ingin berdampingan dengan orang-orang yang mati, maka mereka hanya mau berdampingan dengan orang-orang yang hidup.  Adapun mayat itu akan tetap di kubur di bawah tanah, walaupun ia adalah mayat orang yang terhormat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

 

[1] Ujian terhadap Nabi Ibrahim a.s. diantaranya: membangun Ka'bah, membersihkan ka'bah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail, menghadapi raja Namrudz dan lain-lain.

[2] Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s., karena banyak di antara Rasul-rasul itu adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s.

[3] Maksudnya mereka akan binasa disebabkan sumpah mereka yang palsu.

 

[i] Shahih Al jami’ Ash Shaghir : 1552

[ii] Riwayat pertama dinyatakan hasan oeh Albani, dan merupakan penguat bagi riwayat kedua

[iii] HR Shahih Bukhari

[iv] HR Muslim