Rabu, 10 Rabiul Akhir 1440 H / 19 Desember 2018 M

Khutbah Jumat Edisi 196: "Belajar Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW"


Materi Khutbah Jumat Edisi 196 tanggal 15 Robi'ul Awwal 1440 dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Belajar Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

Belajarlah Memimpin Negara Seperti Nabi Muhammad SAW

Pada bulan Maulud Nabi Muhammad SAW seperti sekarang ini, banyak hal yang perlu diambil pelajaran, terutama oleh para pemimpin bangsa ini. Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang sukses. Beliau mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang hidup secara damai, aman, dan sejahtera.

Tentu, kapan dan di mana pun, bukan pekerjaan mudah untuk melakukan perubahan masyarakat dalam waktu yang singkat namun sedemikian mendasar itu.

Sadarkah kita, ketika sebuah Negara yang besar dan kaya seperti Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar. Yakni membuat warga negaranya bahagia. Sadarkah kita, musibah yang silih berganti terjadi di Negara ini, mulai dari gempa di Lombok, Palu, Bali dan Madura, bencana banjir setiap tahun yang dapat melumpuhkan Ibu Kota dan daerah lainnya, kecelakaan pesawat terbang dan mengambil nyawa para penumpangnya, bisa jadi musibah itu semua adalah teguran dari Allah kepada kita dan pemimpin-pemimpin kita. Korupsi yang menimpa elit Negara, fitnah yang saling ditujukan kepada lawan politik, perebutan kursi kepemimpinan Negara karena kepentingan golongan adalah sebuah tanda bahwa Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan.

Negara yang telah melewati gerbang besar yakni Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi seperti Indonesia, seharusnya sudah menjadi Negara yang dewasa dan maju seperti Negara-negara lainnya di dunia ini. Pertanyaan besarnya adalah, apa yang salah dari para pemimpin bangsa sekarang sehingga belum mampu wujudkan konsep baldatun toyyibatun warobbun ghofur (negara yang baik dan selalu dalam ampunan Allah SWT)? Sebenarnya jika para pemimpin-pemimpin tersebut mau meneladani sikap kepemimpinan Rasulullah SAW, mereka akan tahu bagaimana cara membuat rakyatnya bahagia, mereka akan tahu bagaimana membuat negaranya berkah, dan mereka akan tahu bagaimana cara memimpin secakap Rasulullah SAW.

Banyak sekali hal yang perlu kita contoh dari kepemimpinan Rasulullah SAW. Karena, beliau memang diutus oleh Allah SWT untuk memperbaiki budi pekerti dan akhlak manusia. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT yang artinya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)

“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) orang yang mengharap (ridha) Allah, (kedatangan) hari akhirat dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya…”(QS. Al-Ahzab: 21).

Rasulullah SAW senantiasa menunjukkan akhlak yang terpuji, sehingga beliau dapat menjadi contoh pemimpin yang sangat teladan di dunia. Ia mempunyai kepribadian yang utuh dan terpuji, yaitu Fathanah, Amanah, Shidiq dan Tabligh. Dalam kepribadiannya yang Fathanah, menandakan bahwa Rasulullah adalah sosok pemimpin yang cerdas. Cerdas dalam memimpin adalah kunci untuk menyejahterakan sebuah bangsa. Jangan sampai pemimpin yang duduk di pemerintahan adalah pemimpin yang tidak memiliki kapabilitas yang mumpuni. Sehingga mereka bukan memajukan sebuah Negara, melainkan memundurkan sebuah Negara. Selanjutnya adalah Amanah. Rasulullah adalah pemimpin yang sangat dipercaya oleh rakyatnya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya karena kapabilitasnya yang baik dalam memimpin. Sehingga tidak ada peristiwa dimana para rakyatnya mencaci pemimpinannya, memalukan pemimpinnya, dan tidak tunduk atas perintah pemimpin. Setelah Fathanah dan amanah adalah Shidiq. Ini yang sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin, yakni kejujuran. Ketika Rasulullah memimpin, semua rakyatnya merasakan kesejahteraan yang sangat melimpah, karena Rasulullah memimpin secara jujur. Tidak ada praktik-praktik korupsi seperti sekarang ini yang membuat rakyat semakin menjerit atas penderitaan yang didapat secara tidak langsung dari para pemimpin negaranya. Dan yang terakhir adalah Tabligh yang artinya menyampaikan. Seorang pemimpin harus menyampaikan kebaikan kepada para rakyatnya. Karena Rasulullah bersabda, sampaikanlah dariku walau satu ayat.

Fenomena sekarang, banyak pemimpin yang seakan tidak meneladani sikap kepemimpinan Rasulullah SAW. Doktrin yang menyatakan, Nabi Muhammad bukan pemimpin Negara, ia tidak pantas diikuti, tidak pantas diteladani, karena Muhammad hanya seoarang pemimpin agama. Doktrin-doktirn inilah yang merubah paradigma masyarakat, bahwa Islam seakan tidak boleh masuk ke ranah Negara. Mencoba memisahkan antara agama dan Negara adalah bentuk sekulerisasi. Dan ini adalah kesalahan besar dalam berbangsa dan bernegara. Padahal Rasulullah adalah sosok negarawan yang disegani oleh dunia dari dahulu sampai sekarang.

Michael H. Hart seorang yang beragama nasrani namun sangat kagum dengan pengaruh Nabi Muhammad SAW. The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History merupakan buku karya Michael H. Hart yang diterbitkan pada tahun 1978. Buku ini memuat 100 tokoh yang ia rasa memiliki pengaruh terkuat dalam sejarah manusia. Bukunya secara hangat diperdebatkan, konsep bukunya secara luas ditiru. Penting untuk dicatat bahwa Dr. Hart tidak memasukkan orang terbesar. Kriterianya ialah yang berpengaruh. Dalam bukunya tersebut ia mencumtamkan Nabi Muhammad SAW di nomor urut satu orang yang paling berpengaruh di dunia. Ketika Rasulullah memimpin Madinah, pengaruh Islam sangat luar bisa bagi peradaban dunia. Madinah kala itu menjadi pusat imperium Islam yang terus meluas wilayahnya di penjuru dunia. Rasulullah pun membuat piagam bertulis pertama di dunia yang bernama piagam Madinah.

Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah

Sebagai seorang Nabi dan Rasul, Rasulullah telah memainkan peran yang sangat mengagumkan dalam misi mendakwahkan Islam di Jazirah Arabia. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembawa risalah kenabian, Rasulullah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari kaum kafir Quraisy pada saat itu. Meskipun demikian, Rasulullah tetap mendakwahkan Islam dengan cara yang damai dan santun tanpa menaruh dendam terhadap musuh-musuhnya.

Sifat tersebut adalah bukti bahwa Rasulullah memang seorang yang mempunyai kepribadian yang luhur. Adalah al-Quran sendiri yang menegaskan, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah (Muhammad SAW) teladan yang baik bagi siapa saja yang mengharap (anugerah) Allah dan (ganjaran di) Hari Kemudian, serta banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).”

Rasulullah membawa begitu banyak prinsip dan ajaran luhur bagi umat manusia. Tak ada satu pun dari prinsip atau ajaran tersebut yang berlawanan dengan kehidupan. Rasulullah menyampaikan risalah yang beliau emban dengan penuh percaya diri dan keyakinan tanpa keraguan sedikit pun.

Sebagai seorang pemimpin, menurut Choudhury (1993) dan Watt (1961), Nabi Muhammad bukan hanya seorang pemimpin spiritual yang berjaya, sebaliknya merupakan pemimpin negara (stateman) dan pentadbir (administrator) yang berjaya.

Manakala dalam konteks pembawa perubahan (reformer) baginda telah berjaya menghasilkan revolusi yang signifikan dalam cara hidup dan pemikiran masyarakat Arab. Watt (1961) telah memaparkan tiga (3) kualitas kehebatan diri Nabi Muhammad (SAW) yang menyebabkan tersebarnya pengaruh Islam ke seluruh dunia, yaitu:

  1. Mampu melihat jauh ke masa depan (visioner)
  2. Kebijaksanaan sebagai pemimpin negara (stateman); dan
  3. Kemahiran sebagai pemimpin dalam memilih seseorang untuk di tempatkan pada jabatan tertentu.

Dalam perannya sebagai seorang pemimpin, Rasulullah memiliki karakteristik yang sangat baik dalam memimpin umat, agama dan negara. Semuanya itu dijalaninya dengan total penuh kejujuran, integritas, kedisiplinan, cinta, dan kasih sayang. Salah satu contoh ketika menyikapi orang yang melakukan kesalahan.

Pada saat ada seorang badui yang buang air kecil di dalam masjid, Rasulullah membiarkan seorang badui tersebut. Padahal sahabat-sahabatnya pada saat itu sangat marah dan ingin rasanya memberikan ‘pelajaran’ kepada orang tersebut.

Tetapi kemudian Rasulullah bersabda, “Biarkanlah ia, dan siramlah bekas kencingnya sampai bersih. Sesungguhnya aku diutus untuk mempermudah sesuatu bagi manusia, bukan untuk mempersulit dan menjadikannya berat.” (HR. Bukhari).

Karakter seorang pemimpin yang baik memang telah dimiliki Rasul sejak muda. Rasulullah terkenal berbudi pekerti baik, tidak ada suatu kejelekan yang dituduhkan kepadanya, tidak suka minum minuman khamr, tidak suka mendatangi tempat-tempat perjudian dan permainan yang membuat lalai yang pada umumnya digemari masyarakat Arab pada saat itu. Beliau juga terkenal sebagai orang yang berbudi luhur, berkepribadian yang kuat dan dapat dipercaya (al-Amin).

Sebagai seorang pemimpin, Rasul juga sangat dekat dengan umatnya. Sampai-sampai Rasulullah mengenal umatnya lebih banyak ketimbang mereka mengenal diri mereka sendiri. Rasulullah juga suka bercengkrama dengan orang-orang fakir-miskin.

Para sahabat Nabi ketika diminta persaksian, sepakat bahwa sebagai seorang pemimpin Rasulullah adalah Panutan Agung yang benar-benar sosok yang teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan.

Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh sahabat Jabir r.a, “Innallaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, sesungguhnya, Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Tidak hanya itu, dalam kepemimpinanya, Rasulullah juga memiliki sikap keberanian dan ketegasan, terutama pada saat berada di medan perang melawan musuh. Rasulullah terkenal juga sebagai pemimpin yang pandai mengendalikan diri, sabar dan mempunyai daya tahan, adil dan egaliter.

Para Rasul memiliki kedudukan yang sangat strategis, baik dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang interaksi sosial kaumnya. Dengan demikian, para Rasul memiliki tugas ganda, yakni menjaga kebenaran ajaran agama (hirasat ad-din) dan menjaga kedamaian publik (hirasat ad-dunya).

Hal ini dapat dilihat dari praktek Nabi saw. yang memiliki peran ganda dalam kehidupannya. Selain sebagai penyampai risalah, Nabi juga menjabat sebagai hakim yang memberikan keputusan hukum bagi anggota masyarakat yang sedang berselisih. Pada waktu yang bersamaan, Nabi juga berstatus sebagai kepala negara yang memiliki hak layaknya seorang pemimpin negara pada umumnya.

Berbicara tentang kepemimpinan, terdapat banyak pendapat mengenai tipe-tipe dan ciri-ciri ideal seorang pemimpin, dapat dikemukakan disini adanya tiga tipe kepemimpinan, yaitu:

  1. Tipe kepemimpinan yang bersifat transaksiona (transactional leadership).
  2. Tipe kepemimpinan yang bersifat transformatif (transformational leadership).
  3. Tipe kepemimpinan moral yang memimpin dengan dirinya, dengan karakter dan kepribadiannya sendiri (moral leadership).

Dari ketiga tipe kepemimpinan di atas, Rasulullah termasuk kedalam nomor 2 dan 3. Sebagaimana yang telah di jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Rasulullah mampu menggabungkan antara dua tipe kepemimpinan sekaligus, kepemimpinan transformatif dan kepemimpinan berdasarkan moral. Kemahiran seperti ini yang kemudian menjadikan Rasulullah dicintai umatnya.

Dalam gaya kepemimpinannya, Rasulullah mengedepankan sikap (a) ‘shidiq’, jujur, benar dan selalu menjaga diri dari perbuatan dosa dan kesalahan. Kemudian sikap (b) ‘fathonah’, kecerdasan, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, intelektual dan profesional, (c) sifat ‘amanah’, kredibilitas dan dedikasinya diakui, terpercaya dan legal, (d) sifat ‘tabligh’, yaitu komunikator yang komunikatif yang didasari nilai-nilai kebenaran Islam.

Semoga kita bisa belajar meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW dalam segala aspek kehidupan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ