Selasa, 13 Jumadil Akhir 1440 H / 19 Februari 2019 M

Khutbah Jumat Edisi. 197: "Visi Misi Pemimpin Dalam Islam"


Materi Khutbah Jumat Edisi. 197 tanggal 11 Jumadil Awwal 1440 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Visi Misi Pemimpin Dalam Islam

 (Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ المُؤْمِنِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ

أَيُّهاَ اْلحَاضِرُوْنَ اْلمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Hadirin rahimakumulloh,

VISI, MISI PEMIMPIN DALAM ISLAM

Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia. Oleh karena itu duniapun menyebut Indonesia sebagai Negara muslim terbesar di dunia. Dan tak heran segala bentuk kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakatnyapun lebih banyak bersendikan nilai-nilai islam

Lalu, sejauhmana sentuhan nilai islam dalam diri para pemimpin di Negara yang berpenduduk lebih 200 juta jiwa ini diimplementasikan?

Khutbah Jum'at ini mungkin tidak secara utuh atau konkret mengupas persoalan pemimpin dan kepemimpian, terutama kaitannya dengan islam. Tulisan ini hanya sebagai sebuah renungan penulis atas kondisi kehidupan bangsa, peran dan kondisi pemimpin yang ada saat ini.

Menurut saya selayaknya seorang pemimpin, apakah ia berada di sebuah lembaga Negara (formal) maupun dalam kehidupan masyarakat (informal), berpegang pada visi seperti disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 201) “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fiil akhirati hasanah wa qina adzabannaar” (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikkan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka)

Dari ayat di atas, jelas bahwa kalau kita ingin kebaikkan di dunia dan akhirat, maka sebagai seorang yang diberikan kepercayaan oleh mayarakat untuk menjalankan Negara ini jangan hanya untuk salah satu saja kebaikkan tersebut. Artinya bahwa amanat yang diemban tersebut bukan sebagai sebuah prestise diri saja, melainkan untuk memberikan rasa aman, tentram, damai dan sejahtera kepada masyarakatnya.

Harapan ini tercermin kalau seorang pemimpin tidak akan hidup dalam kemewahan, tidak akan mengejar sebuah jabatan tanpa mempertimbangkan mampu atau tidak memangku jabatan tersebut serta ambisius dalam mengejar suatu jabatan tersebut dengan menghalalkan segala cara.

Terkait dengan hal ini karena kondisi Negara kita dalam memilih calon-calon pemimpin Negara melalui proses politik dengan partai-partainya, maka merupakan tanggung jawab partai dalam menempatkan calon-calon tersebut, seperti seorang yang dicalonkan tersebut harus mempunyai kinerja yang baik, berkualitas (mempunyai pengetahuan kemasyarakatan, kenegaraan serta taat beribadah dan mempunyai pengetahuan yang baik dan mendalam mengenai agama), serta mengerti struktur  dari masyarakat yang akan dipimpinnya, hal ini nantinya terkait dengan bagaimana pemimpin tersebut dalam membuat kebijakan-kebijakan.

Kalau seorang pemimpin benar-benar menjalankan sesuai dengan amanah kebijakan yang dibuat akan berdasarkan pada kondisi masyarakat dan negaranya bukan pada kondisi pribadi atau golongan tertentu saja, maka pemimpin tesebut akan selamat baik di dunia maupun di akhirat, karena apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan agama dan aturan Negara.

Kita tidak menginginkan pemimpin-pemimpin kita di masa yang akan datang seperti pemimpin-pemimpin saat ini, di dunia mendapat rumah tahanan dan bagaimana di akhiratnya ? wallahualam …..naujubilah min jalik.

Sedangkan misi yang perlu kita jalankan untuk kehidupan ini adalah sebagai berikut “Wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun” (Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku)

Dari ayat tersebut jelaslah bagi kita bahwa tujuan manusia diciptakan di dunia ini untuk beribadah kepada Allah SWT, karena demi pengabdian tersebut manusia ditugaskan dimuka bumi ini, kenyataan itu merupakan bentuk kepatuhan yang serius terhadap kehendak Allah yang telah mengangkat kesuksesan tertinggi manusia di dunia dan merupakan satu-satunya sumber dalam mendapatkan ridhoNya.

Artinya sebagai manusia kita perlu merajut tali komunikasi dengan Allah SWT melalui ibadah serta bukti cinta kita kepada Allah adalah dengan ibadah pula, dengan kita berkomunikasi dengan Allah, kita akan mencampakkan segala topeng atau jubah kemanusiaan kita yang selalu berwujud keangkuhan, kesombongan dan keriyaan.

 Kalau kita mendalami ayat tersebut di atas, kita perlu merenungkan kembali bagaimana kondisi peribadatan kita saat ini ? bagaimana peribadatan pemimpin-pemimpi kita? Bagaimana peribadatan masyarakat saat ini? Semua jawaban itu ada dalam diri kita sendiri, kita perlu intropeksi diri, apakah kita sudah beribadah sesuai dnegan yang diperintahkan Allah?

Kalau kita sudah melaksanakan ibadah sesuai dengan yang diperintahkan Allah, insya Allah… apa yang kita laksanakan akan menjadi baik dan sesuai dengan aturan agama dan Negara. Misalnya kalau seorang pemimpin yang telah melaksanakan ibadah dengan benar, maka dalam setiap kebijakan yang dibuat akan berpedoman pada aturan-aturan yang tidak bertentangan dengan norma agama dan aturan Negara, karena pemimpin tersebut merasakan waskat yang mengawasinya bukan saja manusia yang punya keterbatasan kemampuan tetapi waskat yang selalu mengawasinya siang dan malam  kepadanya yaitu Allah SWT. Kalau misi telah telah melekat di hati kita, teruta pemimpin-pemimpin kita, maka pemimpin ini telah memiliki akhlak yang mulia baik di mata masyarakat apalagi di mata Allah SWT, alhamdulillah. Ini adalah harapan kita sebagai masyarakat terhadap pemimpinnya, kita menginginkan seorang pemimpin yang dapat menjadi imam bagi masyarakatnya dalam hal beribadah dan kebaikan, bukan menjadi imam dalam hal melaksanakan kemunkaran dan kemaksiatan.

Seorang pemimpin yang baik dan menjadi panutan adalah pemimpin yang dapat memberikan suritauladan kepada masyarakatnya tentang  kebajikan dan mengajak masyarakat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT yang telah memberikan kehidupan di dunia ini, serta perlu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah yaitu dengan menjalankan ibadah dengan baik dan benar dan menjauhi semua laranganNya.

Selanjutnya dalam menjalankan kehidupan ini kita perlu mempunyai tujuan, karena untuk menjalani kehidupan yang bertujuan, keyakinan dan niat adalah bekal utama, karena tujuan  merupakan proses langkah demi langkah, dimana setiap langkah majunya akan membawa kita lebih dekat pada perwujudan sisi besar dalam diri.

Hidup yang mempunyai tujuan berarti bahwa yang dilakukan selaras dengan siapa  diri kita, kejernihan tujuan, hati yang terbuka dan pikiran yang dipenuhi gairah memberi kita kekuatan untuk mengendalikan jalan hidup berdasarkan pilihan bukan peluang.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Oleh karena itu tujuan yang harus kita laksanakan untuk menjalani kehidupan ini adalah “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”  artinya dalam melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan dengan baik dan menjauhi hal-hal yang tidak baik. Disini jelas bahwa kalau kita ingin visi dan misi kita terlaksana dengan baik maka kita perlu melakukan hal-hal yang baik yang tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan aturan Negara. Dikaitkan dengan tujuan tersebut kita berharap bahwa para pemimpin kita dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan, artinya melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur. Tidak pilih kasih dalam menetapkan kebijakan dan dapat merasakan bagaimana penderitaan masyarakat dalam kondisi ekonomi yang serba sulit. Fenomena yang terjadi para calon pemimpin pada saat berkompetisi merebut hati masyarakat, banyak mengubar janji-janji, tetapi setelah menjadi pemimpin lupa terhadap janji-janji tersebut. Inikah “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”? oh… tidak, Harapan masyarakat terhadap pemimpinnya adalah seorang pemimpin yang cakap bukan dari ucapannya tetapi dari perbuatannya artinya seorang pemimpin harus bekerja secara cerdas untuk melaksanakan kebajikan demi masyarakatnya dan menjauhkan diri dari perbuatan yang munkar baik bagi dirinya maupun mayarakatnya.Seorang pemimpin hendaknya kuat tetapi tidak kasar, bertindak baik tetapi tidak jadi lemah, penuh pertimbangan tetapi tidak malas dan rendah hati tetapi tidak rendah diri.

Iman, Ilmu dan Amal

Oleh karena itu untuk melaksanakan visi, misi dan tujuan kehidupan kita ini, tidak bisa lepas dari landasan kehidupan kita sebagai umat manusia yang diciptakan Tuhan di dunia ini untuk menjalankan segala perintahNya, landasan yang perlu kita laksanakan tersebut adalah  “Iman, Ilmu, dan Amal”.

Iman artinya kita sebagai makhluk Allah SWT perlu beriman kepadaNya, yang mana kita perlu meyakini adanya Allah sebagai pencipta seluruh alam dan melaksakan perintahnya serta  menjauhi semua larangannya. Ilmu artinya kita hidup di dunia ini perlu berilmu baik ilmu agama mapun ilmu duniawi, karena tanpa ilmu kita tidak dapat hidup sebagaimana mestinya, karena kita tidak mengerti untuk apa kita hidup di dunia ini ? dan pepatah mengatakan, tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat, artinya adalah manusia dituntut untuk mencari ilmu agar hidupnya baik di dunia maupun di akhirat kelak selamat. Kalau manusia memiliki ilmu yang berguna dan bermanfat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain, maka manusia tersebut telah menjalankan apa yang telah di perintahkan oleh Allah.Sedangkan amal disini, adalah setiap manusia dalam menjalankan kehidupannya harus beramal. Artinya amal tersebut tidak saja dalam bentuk materi, tetapi non materipun dapat dijadikan amal, seorang pemimpin yang menjalankan tugas dengan baik dan sesuai dengan aturan Negara dan norma agama merupakan perbuatan amal yang sangat besar pahalanya, karena tugas yang diemban tidak didasarkan atas tujuan pribadi dan maksud-maksud tertentu, tetapi menjalankan tugas hanya karena ingin melaksanakan amanah yang diberikan masyarakat kepadanya, sehingga setiap gerak dan langkahnya yang ikhlas tersebut merupakan amal yang tak ternilai.

Semoga uraian ini dapat menjadikan kita sebagai masyarakat Indonesia lebih mawas diri dan teliti dalam memilih calon-calon pemimpin nantinya, karena bagaimanapun juga semua ini menjadi tanggungjawab kita bersama baik di dunia maupun di akhirat nantinya, semua ini adalah konsekuensi kita sebagai masyarakat yang telah memilih dan mempercayakan Negara ini kepada pemimpin lewat pemilihan langsung dari masyarakat.

Visi dan Misi Kepemimpinan Umat

Selama ini krisis kepemimpinan di kalangan ummat Islam memang menjadi persoalan pelik. Ummat Islam sudah seharusnya memiliki pemimpin ummat sekaligus pemimpin bangsa. Karena pada dasarnya kepemimpinan ummat dalam Islam sama halnya dengan kepemimpinan seorang manusia terhadap dirinya sendiri yaitu menjadi wakil Allah di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam Al Quran mengenai peran manusia sebgai khalifatul fil ardh. Sedangkan dalam konteks pemimpin bangsa, ummat membutuhkan pemimpin yang bisa menjadi teladan agar bangsa ini bisa lebih maju kearah yang diridhoi Allah SWT.

Memang sulit mencari figur pemimpin ummat Islam saat ini, apabila masih ada sekat-sekat organisasi yang membatasi, terutama menyangkut keyakinan akan kebenaran suatu ajaran dalam organisasi tersebut, Misalnya terkadang ada sebagian ummat Islam yang mengklaim bahwa organisasinya adalah yang terbaik dan yang lainnya adalah salah. Sikap inilah kemudian yang memicu lahirnya konflik internal ummat islam sendiri.

Saat ini sudah seharusnya persoalan klaim kebenaran itu dikesampingkan dulu, alangkah lebih baiknya apabila seluruh komponen ummat Islam memikirkan agenda bersama yaitu merumuskan persatuan ummat Islam di Indonesia, agar dari aktivitas itu dapat melahirkan pemimpin yang dapat dijadikan pegangan dalam bertindak. Walaupun aktivitas ini sebetulnya sudah sering dilakukan oleh lembaga formal seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI), tetapi kehadiran agenda bersama untuk mewujudkan kepemimpinan ummat ini selalu kandas ditengah jalan. Untuk itu saya kira semua pihak harus mafhum bahwasanya sekarang sudah saatnya ummat Islam menunjukkan kepemimpinnya bagi bangsa dengan solid dan berkualitas serta diterima rakyat yang notabene mayoritas Muslim.

Beberapa alasan yang bisa mendukung pernyataan ini diantaranya:Pertama, alasan jumlah penduduk, yang secara politis mayoritas ummat Islam seharusnya berhak mengatur dirinya sendiri sekaligus memimpin bangsa, karena dari jumlah penduduk di Indonesia mayoritas Muslim. Selain itu Indonesia dimata negara lain dianggap sebagai Negara Islam padahal sebenarnya tidak demikian. Indonesia bukan negara Islam, namun juga bukan Negara sekuler. Negara Indonesia adalah negara yang berKetuhanan Yang Maha Esa berdasar atas kemanusiaan yang adil dan beradab. Kedua, alasan historis, telah memberikan gambaran bagaimana perjuangan pemimpin ummat Islam yang secara sungguh-sungguh berusaha agar bangsa Indonesia menerapkan nilai-nilai Islam. Jumlah pemimpin umat Islam itu mayoritas, sehingga bisa diklaim bahwa banyak founding futher bangsa ini adalah ummat Islam. Ketiga, alasan dakwah, di mana hal ini merupakan hal yang paling penting. Kepemimpinan ummat Islam harus mampu meningkatkan aktivitas dakwah Islamiyah agar bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Mengingat kehancuran bangsa akibat dari krisis moral terus menjamur maka dakwah menjadi alasan yang tepat. Model dakwah ini harus disesuaikan dengan zaman saat ini. Dialog merupakan langkah efektif untuk mengurangi resistensi perbedaan dalam cara beragama. Dialog yang partisipatif ini harus terus dikembangkan agar tercipta nuansa saling toleran dan menghargai.

Ketiga alasan ini sebetulnya bisa menginspirasi semua kalangan terutama aktivis Islam di Indonesia untuk beriringan membangun ummat Islam di Indonesia menjadi terdepan. Ada dua strategi untuk merealisaskan keinginan tersebut, yaitu: Pertama, strategi perjuangan struktural yaitu sebuah langkah dengan melakukan perubahan pada level struktur negara, dengan tujuan agar berpihak kepada kehendak dan aspirasi ummat Islam. Hal ini mau tidak mau harus menggunakan jalur politik, baik ditingkat pusat maupun di daerah. Kalaupun masih ada sebagian ummat Islam yang masih menganggap tabu, maka jalur sktruktural ini masih terus dikuasai oleh orang yang tidak punya misi dakwah Islamiyah, dan hal ini tentunya berbahaya apabila dibiarkan. Pendekatan ini sekaligus bisa menjadi barometer bagi penggagas penegakan syariat Islam untuk melihat sejauh mana antusiasme masyarakat mengenai penerapan syariat Islam.

Strategi kedua,adalahpendekatan kultural, yaitu sebuah langkah pemberdayaan masyarakat dan perwujudan nilai-nilai Islam dalam sikap dan prilaku masyarakat Muslim. Hal ini bisa dilakukan melalui proses dakwah di pesantren, ceramah/khotbah Jum’at dan pengajian-pengajian kecil yang ada di masyarakat. Model komunikasi seperti ini bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya kepemimpinan ummat Islam di Indonesia, walaupun dari segi waktu memang tidak bisa dipastikan kapan akan terealisasi kesadaran masyarakat yang diidamkan memahami Islam secara kaffah. Karena proses dakwah tidak mengenal waktu dan hasil tetapi lebih menekankan pada prosesnya.

Dari dua strategi ini, muaranya adalah mengejawantahkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga negara ini benar-benar bernafaskan Islam sesuai dengan semangat pembukaan UUD 1945 “Berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa”. Dari semangat ini kita memperoleh pengakuan yang sangat besar, bahwa Islam telah menjadi bagian dari bawah sadar bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Namun, fenomena saat ini, pengakuan terhadap Islam sebagai nafas negara Indonesia ternyata hanya sebatas formalitas saja, tanpa ada perwujudan nilai-nilai Islam secara nyata. Hal ini terbukti dari banyaknya penyimpangan yang mewarnai Negara baik dalam bentuk tindakan korupsi, kerusakan lingkungan hidup, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Disinilah pentingnya peran perjuangan ummat Islam secara kultural, yaitu memberdayakan masyarakat agar mengaktualisasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks perjuangan struktural, formalitas kepemimpinan ummat yang berada di jabatan struktural kenegaraan seringkali jauh dari idealitas perjuangan ummat, karena tidak adanya komunikasi yang intensif antar ummat Islam sendiri. Kenyataan tersebut biasanya disebabkan oleh sensitifitas isu kepemimpinan nasional yang menyangkut afiliasi kepentingan politik.

Menurut saya, cara yang paling efektif untuk mewujudkan kepemimpinan ummat tanpa terjebak kedalam kepentingan partai politik yaitu dengan menyiapkan platform perjuangan ummat yang bersifat generalis agar bisa mengakomodasikan kepentingan politik berbagai pihak misalnya, semua komponen ummat Islam harus mendukung setiap pemimpin yang mempunyai kriteria sifat kepemimpinan Islam, diantarannya: Pertama, jujur dan amanah. Seorang pemimpin harus memiliki sifat dan prilaku jujur, perkataannya benar, bila berjanji menepati dan bila diberi tanggungjawab menjaga amanat. Kedua, cerdas dan pintar (berilmu) seorang pemimpin ummat harus memiliki kecerdasan dalam memahami ajaran Islam, cerdas dan tepat dalam mengambil keputusan dan cerdas dalam memahami aspirasi masyarakat yang dipimpinnya. Banyak contoh yang memberikan gambaran kepada kita bahwa negara yang pemimpinnya berilmu dapat maju dan berkembang.

Ketiga, adil, artinya bersikap sesuai dengan tempat yang benar, sedangkan lawan dari adil adalah zalim. Pemimpin ummat harus adil dalam menentukan keputusan, baik keadilan dalam konteks hukum, ekonomi mapun sosial. Sesuai perintah Allah SWT dalam Alqur’an, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dam Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, dan memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran“ . (QS An-Nahl: 90).

Keempat, keteladanan, artinya seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Pemimpin akan diikuti oleh rakyat apabila perkataan dan perbuatannya terpuji. Sebaliknya apabila perkataan dan perbuatan tidak baik dan benar, maka akan dijauhi oleh ummat.

Keempat kriteria ini dapat dilihat dari perjalanan seorang pemimpin ummat.Apabila dalam perjalanan hidupnya memenuhi kriteria maka sudah sepantasnya semua komponen ummat Islam dapat mendukung pemimpin tersebut, sehingga harapan untuk mewujudkan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT, insya Allah akan bisa terealisasi, dan bangsa ini akan cepat keluar dari krisis yang berkepanjangan. Wallahu’alam

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ