Ahad, 23 Zulhijjah 1440 H / 25 Agustus 2019 M

Khutbah Jumat Edisi 208 : AKIBAT BERPALING DARI AL-QUR'AN.!!!


Materi Khutbah Jumat Edisi 208 Dzulqo'dah 1440 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

                                            AKIBAT BERPALING DARI AL-QUR'AN.!!!

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

 

           Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah Subhanahu Wata'ala.

 

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata'ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

                    MA’ASYIROL MUSLIMIN RAHIMANI WA RAHIMUKUMULLAH!!!

 

Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw. melalui perantara Malaikat Jibril yang berfungsi sebagai
mukjizat dan petunjuk bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya, serta
membacanya dipandang ibadah, yang dimulai dengan surat al-Fatihah dan
diakhiri dengan surat al-Nas yang diriwayatkan dengan jalan mutawatir.

Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang orisinalitasnya bisa
dipertanggungjawabkan. Hal ini patut dibanggakan, karena kitab-kitab suci
agama lain telah terkontaminasi ulah tangan manusia. Semua kitab suci mereka telah mengalami perubahan berupa penambahan atau pengurangan di dalamnya.

Di dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Tirmidzy, keutamaan al-Qur’an telah
digambarkan oleh Amir al-Mu’minin ‘Aly bin Abi Thalib. Dalam hadis marfu‘ tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam. menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab Allah yang berisikan berita tentang umat masa lampau dan
umat masa mendatang, di dalamnya terdapat hukum yang mengatur urusanurusan manusia. Al-Qur’an adalah pemisah antara yang benar dan yang salah, serta bukanlah senda gurau.

Barangsiapa yang meninggalkannya karena kesombongannya, maka Allah akan membinasakannya dan barangsiapa yang mencari petunjuk selain darinya, maka Allah akan menyesatkannya. Al-Qur’an adalah tali Allah yang sangat kuat, peringatannya penuh hikmah dan jalan yang sangat lurus. Al-Qur’an tidak diselewengkan oleh hawa nafsu, tidak bercampur dengan perkataan manusia dan para ulama tidak akan pernah bosan membaca dan mempelajarinya serta tidak menghadapi banyak bantahan.

Keajaibannya tidak akan pernah habis dan sirna, inilah kiranya yang membuat bangsa jin tidak berhenti mendengarkannya, mereka seraya berkata:

Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (al-Qur’an), (yang)
memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman
kepadanya.2 (QS. al-Jinn: 1-2)

Barangsiapa yang berkata berdasarkan al-Qur’an maka ia akan benar,
barangsiapa yang mengamalkannya maka ia akan mendapat pahala, barangsiapa yang menghukumi sesuatu dengannya maka ia akan berbuat adil dan barangsiapa yang menyeru kepadanya maka ia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah saw. adalah untuk
mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang,
serta membimbing mereka ke jalan yang lurus,3 sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ma’idah ayat 15-16:

“Wahai ahli kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu,
menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu

sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah

datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan.

Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang

mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu

pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya

dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.
” (QS. al-Ma’idah:
15-16)

Allah telah menyebut kitab suci yang diturunkan-Nya sebagai sumber
nilai dan cahaya yang memukau hingga menampakkan segala sesuatunya dengan jelas.

Sinar itulah yang kemudian menjadi petunjuk yang membedakan kebenaran
dan kebatilan bagi manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Siapa pun yang mendapatkan cahaya ini, maka tersorotlah apa yang ada dalam hatinya dan ia pun bisa mendeteksi dirinya sendiri dengan jelas. Ia bisa melihat semua fakta yang ada pada dirinya secara reflek dan jelas, hingga akan terlintas sebuah pertanyaan dalam hatinya, mengapa selama ini ia tidak bisa melihat kenyataan ini dengan sedemikian jelasnya?

Al-Qur’an adalah sumber nilai kehidupan, karena kehidupan yang sejati
adalah kehidupan yang berjalan sesuai petunjuk al-Qur’an. Sebaliknya,
kehidupan yang tidak sesuai dengan petunjuk al-Qur’an bukanlah kehidupan
sejati, meski dianggap sebagai kehidupan, sebagaimana firman Allah swt.:

Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia
cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak,
sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak
dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orangorang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.7 (QS. al-An‘am: 122).

Al-Qur’an adalah ruh kehidupan bagi manusia, tanpa ruh ini manusia
tidak akan bisa hidup dengan baik dan benar. Allah menyampaikan perintah-Nya
melalui ruh (al-Qur’an) kepada hamba yang telah dipilih-Nya, sebagaimana
firman-Nya:

Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (alQur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan alQur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benarbenar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.(QS. al-Syura: 52)

Dewasa ini, terdapat fenomena bahwa sebagian besar umat Islam telah
mengabaikan al-Qur’an (hajr al-Qur’an). Kebanyakan mereka sibuk dengan
perkara dunia sehingga mereka lalai membaca al-Qur’an, menghayatinya, serta
mengamalkannya. Selama ini al-Qur’an hanya dibaca pada acara kematian atau
pernikahan, al-Qur’an hanya sekedar dijadikan hiasan tanpa makna dan menjadi
kitab usang berdebu di antara buku-buku di rumah. Umat sekarang ini banyak
yang tidak mengacuhkan al-Qur’an layaknya apa yang pernah dilakukan oleh
kaum musyrikin dulu.

Salah satu faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan al-Qur’an
adalah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju.
Kemajuan teknologi membuat umat Islam terlena dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, sehingga mereka melupakan al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka.

Keadaan umat saat ini tepat sekali digambarkan oleh ayat yang
berisi aduan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam. kepada Allah Subhanahu Wata'ala. atas perilaku umatnya yang berpaling dari al-Qur’an,

Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Ayat di atas menceritakan pengaduan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam kepada Allah Subhanahu Wata'ala. tentang sikap dan perilaku kaum musyrikin Makkah terhadap al-Qur’an kala itu. Betapa kuat pertentangan kaumnya dan penolakan mereka terhadap al-Qur’an.

Mereka menuduh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam. tukang sihir dan ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka adalah mantra-mantranya. Mereka juga mengklaim Rasulullah sebagai ahli syair yang pandai merangkai kata demi kata sehingga menjadi indah dan enak didengar. Kendati ayat ini menceritakan tentang orang-orang musyrik yang tidak beriman kepada al-Qur’an, susunan ayat ini juga mengancam mereka yang berpaling darinya secara umum, baik yang tidak mengamalkannya maupun yang tidak mengambil adabnya.

Muhammad al-Ghazaly dalam kitabnya Kayfa Nata‘amal ma‘a al-Qur’an?
menjelaskan tentang kemunduran umat Islam disebabkan oleh pengabaian
mereka terhadap al-Qur’an. Ketika lampu dinyalakan, seseorang tidak mampu
melihat cahaya lampu tersebut karena matanya tertutup, maka yang bermasalah bukanlah lampunya tetapi mata orang tersebut yang tidak memanfaatkan cahaya lampu tersebut.11 Allah Subhanahu Wata'ala. berfirman dalam surat al-Maidah ayat 15:

Wahai ahli kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu,
menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu
sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan.(QS. al-Maidah: 15).

Oleh karena itu, seruan kembali ke al-Qur’an memang sangat relevan.
Hubungan kaum Muslim dengan al-Qur’an dewasa ini menuntut pengamatan dan pengkajian mendalam. Kini perhatian mereka hanya tertuju pada pembacaan saja, seperti penyempurnaan makharij al-huruf (tempat keluar huruf) dan semacamnya yang biasa dipelajari dalam ilmu tajwid. Tentu saja perhatian pada bidang ini tidak salah.

Sayangnya, itu ditempuh dengan mengabaikan sisi lain yang lebih penting dari pola hubungan dengan al-Qur’an, yaitu sisi pengkajian, pemahaman, penghayatan dan pengamalan.

Di era kontemporer ini, umat Islam mengalami kemunduran. Mereka
cenderung meninggalkan al-Qur’an, atau setidaknya hanya memperlakukannya
sebagai bahan bacaan ritual saja. Akibatnya al-Qur’an dan kaum muslimin
terputus hubungannya dengan semesta ini. Padahal al-Qur’an adalah kitab
petunjuk bagi umat manusia dan sebagai kitab yang mendorong perkembangan
pemikiran dan ilmu pengetahuan.

Muhammad al-Ghazaly menegaskan bahwa dengan al-Qur’an-lah kaum
muslimin pada generasi pertama dapat membangun peradaban yang mengungguli peradaban-peradaban besar yang bertengger di puncak dunia saat itu.14

Petaka Berpaling dari al-Qur’'an

Orang yang jauh dari hidayah Allah itu merasa nyaman dan enteng dengan keburukan serta kemaksiatan, sedang ia justru gelisah kala berinteraksi dengan kebenaran al-Qur’an

Dalam kehidupan manusia, orang yang berpaling dari al-Qur’an dan mengabaikan ajarannya, sesungguhnya itulah awal dari segala kesengsaraan hidupnya kelak.

Fikirannya terbuai dalam angan-angan kosong yang dijanjikan oleh setan, kawan barunya. Sedang dirinya tenggelam dalam kubang maksiat kepada Allah.Hal itu dikatakan pengarang Tafsir Fathu al-Qadir, asy-Syaukani, mengutip pendapat az-Zujaj, siapa di antara manusia yang berpaling dari al-Qur’an dan lalai dari mempelajari hikmah yang terkandung di dalamnya, niscaya Allah timpakan kepadanya pertemanan dengan setan.

Layaknya sekawan yang karib (qarin) orang itu kini tak lagi berjarak dengan setan. Padahal setan adalah biang kerok dari segala keburukan dan kesengsaraan dunia akhirat. Karena “terlanjur” akrab, alih-alih mampu menolak, jiwa yang sudah tertipu itu tak sungkan lagi menuruti segala bisikan yang membuatnya terjerat dalam perangkap jahat setan.

Orang yang jauh dari hidayah Allah itu merasa nyaman dan enteng dengan keburukan serta kemaksiatan, sedang ia justru gelisah kala berinteraksi dengan kebenaran al-Qur’an atau diajak kepada kebaikan. Inilah akibat daripada lalai mempelajari al-Qur’an atau tidak peduli dengan tuntunan yang disyariatkan. Orang tersebut dijauhkan dari kenikmatan iman, Islam, serta ukhuwah. Oleh Allah, orang itu kelak mendapatkan hukuman yang setimpal dan penyesalan tiada berbatas.

“Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman yang berkata: Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (Hari Kiamat)? Apakah jika kita telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang? Apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?

Berkata pulalah ia: Maukah kamu meninjau (temanku itu)? Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula): Demi Allah, Sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).” (Surah ash-Shaffat [37]: 51).

Bahaya Islam Phobia

Lebih jauh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi, mengurai dampak yang sangat dahsyat dari sikap menyepelekan al-Qur’an. Menurutnya, orang yang berani mengabaikan syariat agama dan tenggelam dalam kelezatan dunia, Allah menjadikan dirinya terbelenggu oleh tipu daya setan.

Saban waktu pikiran orang tersebut hanya dijejali oleh pesona syahwat dunia dan materi yang melenakan.Menurut pengarang Tafsir al-Maraghi tersebut, ketika hal itu menimpa, orang yang terjangkiti virus  anti al-Qur’an mendadak berubah menjadi sosok Islamophobia.

Ia berbalik arah menjadi orang terdepan yang menentang ajaran al-Qur’an dan syariat Islam. Setiap waktu ia justru larut dalam diskusi pemikiran dan perilaku yang merugikan serta menyakiti umat Islam.

Dikatakan, ibarat seekor lalat yang suka hinggap di berbagai kotoran atau lingkungan yang jorok, orang yang berpaling dari al-Qur’an itu hanya melahirkan keburukan dan maksiat kepada Allah. Atas nama pembaruan agama misalnya, mereka justru telah menistakan kesucian agama dengan cara berfikir yang nyeleneh.

Boleh jadi inilah yang menimpa sekelompok masyarakat yang dikenal dengan pemuja aliran Sipilis (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Meski kelompok itu datang mengatasnamakan gerakan Islam pembaruan atau pembebasan akal, tetapi sebenarnya mereka datang dengan racun pemikiran yang berbahaya buat umat Islam.

Faktanya, dengan karunia nalar yang diberikan oleh Allah, mereka justru berusaha mengobok-obok ajaran Islam. Silih berganti syubhat dan syahwat mereka hembuskan kepada umat Islam hanya untuk mengaburkan nilai-nilai al-Qur’an.

Ironisnya, demikian itu bukan karena tak paham dengan ajaran Islam, sebab tak sedikit di antara mereka berlatar akademisi bahkan tergolong cendekia yang punya segudang ilmu pengetahuan.Alhasil, tak ada alasan menunda untuk mengaca kembali kepada hikmah yang dikandung dalam al-Qur’an. Sebab di sana ada telaga jernih tempat hati bercermin mematut diri kembali.

Boleh jadi jiwa ini tak mampu merasakan kenikmatan membaca al-Qur’an bersebab kotoran yang melekat di dalam hati. Boleh jadi hati ini keras karena mulai berpaling dari dakwah dan syariat yang digariskan oleh Allah.

Allah berfirman:

ومن يعش عن ذكر الرحمن نقيض له شيطانا فهو له قرين، وإنهم ليصدونهم عن السبيل ويحسبون أنهم مهتدون

“Siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Surah az-Zukhruf [43]: 36-37).

Ciri-ciri Sikap Mengabaikan Al-Qur’an !

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, sikap mengabaikan Al Qur’an ada beberapa macam.

Pertama, mengabaikan Al Qur’an dengan tidak mendengarkannya dan tidak mengimani serta memerhatikannya.

Kedua, mengabaikan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dengan tidak berhukum dan mengambil keputusan darinya tentang masalah-masalah agama, baik pokok maupun cabang-cabangnya, serta tidak menyakini bahwa Al-Qur’an dapat dipercaya dan menyakini bahwa dalil-dalil di dalamnya adalah lafal biasa yang tidak ilmiah.

Ketiga, tidak mentadabburi Al-Qur’an serta mempelajari dan mencari tahu keinginan Rabb yang berfirman dalam Al-Qur’an.

Keempat, tidak meminta syafa’at serta tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai penyembuh untuk semua penyakit hati. Lalu meminta kesembuhan dari penyakit selain Al-Qur’an. Semua ini terkandung dalam firman Allah,

Dan Rasul (Muhammad) berkata,”Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan(Al-Furqan : 30)

Selain itu terkadang seseorang merasa dadanya terhimpit ketika mengabaikan Al-Qur’an. Karena, mereka meragukan bahwa Allahlah yang menurunkan Al-Qur’an serta meragukan kebenarannya di sisi Allah. Juga, ketidakpercayaan mereka kepada pembawa Al-Qur’an , Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Atau bisa juga karena mereka percaya bahwa Al-Qur’an merupakan makhluk Allah SWT. Mereka berpikir bahwa Al-Qur’an bukan merupakan kalam Ilahi.

Terkadang juga kesesatan itu terjadi karena adanya ketidaksempurnaan ilmu yang dimiliki oleh hamba Allah, sehingga mereka merasa memerlukan ilmu lain selain Al-Qur’an. Terkadang, ketidaksempurnaan ilmu itu terwujud dalam kurangnya pengetahuan mereka tentang apa yang dimaksud dari suatu dalil serta maksud dari dikeluarkannya dalil tersebut. Terkadang kesesakan mereka juga terjadi karena keraguan mereka akan maksud yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

 

Semua perasaan itu timbul akibat ketidakpuasaan kepada Al-Qur’an. Mereka menyadari bahwa di dalam jiwa mereka terdapat perasaan seperti itu. Jika engkau menemui pelaku maksiat, maka kau akan mendapati bahwa dirinya merasakan sesak dan sempit hidupnya karena Al-Qur’an. Hal itulah yang menghalanginya dari kebenaran Al-Qur’an. Renungkanlah hal ini !

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

 

Wallahul muwaffiq.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.