Sabtu, 21 Muharram 1441 H / 21 September 2019 M

Khutbah Jumat Edisi 212 : DAHSYATNYA ARUS PERUSAK AKHLAK DAN MORAL


Materi Khutbah Jumat Edisi 211 Dzulhijah 1440 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

MENSYUKURI KEMERDEKAAN INDONESIA SEBAGAI RAHMAT ALLAH

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Jamaah Jum’at  hamba Allah yang  dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepadajunjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…

Dahsyatnya arus kemungkaran perusak akhlak dan moral

Kemaksiatan/kemunkaran/kejahatan di negeri muslim terbesar, Indonesia, sudah sangat keterlaluan.
Tindakan biadab yang merusak sendi-sendi keimanan dan keharmonisan sosial itu sudah semakin merajalela dan dibiarkan berkembang terus di tengah masyarakat muslim. Lihatlah bagaimana para wanita Tuna Susila beserta germo-germonya sudah berani melakukan unjuk rasa di kota-kota besar, menuntut hak untuk berpraktik maksiat. Para penjudi, pemabok, kaum homoseks, pecandu dan pemasok minuman keras, pengedar narkoba, pemasok barang-barang porno juga sudah secara terang-terangan melakukan praktik kebejatan mereka. Di Jakarta, media massa melaporkan banyaknya praktik perjudian, pelacuran.

Melihat semua kebobrokan moral tersebut, sudah sama-sama dimaklumi, aparat pemerintah dan masyarakat muslim seolah-olah tidak berdaya, dan membiarkan semua kejahatan itu berlangsung terus. Apakah melihat semua itu umat Islam boleh berdiam diri? Jawabnya jelas: TIDAK! Umat Islam haram berdiam diri. Kemaksiatan (kemungkaran) adalah perbuatan yang jelas-jelas dikutuk oleh Allah SWT, pencipta Alam Semesta. Karena itu, secara tegas, Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar setiap muslim terlibat aktif dalam penghancuran kemunkaran. Setiap muslim tidak boleh berdiam diri saat menyaksikan kemunkaran. Jika berdiam diri – tetapi tidak setuju terhadap kemungkaran itu – dia berada dalam kondisi “selemah-lemah iman”. Tentu sangat tidak benar jika ada yang “setuju dan mendukung kemungkaran”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, wajib hukumnya mengingkari kemungkaran. “Hanya hal itu dilakukan sesuai dengan kemampuan untuk melakukannya. Adapun meningkari dengan hati adalah suatu yang mesti, apabila tidak diingkari dengan hati maka hal itu merupakan dalil (bukti) atas hilangnya iman di hati seseorang.” (Ibnu Taimiyah, Manhaj Da’wah Salafiyah,
th. 2001 hal. 17)

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa diantara kamu yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya; dan jika tidak mampu, (ubahlah) dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ashabus Sunan).

Jadi, umat Islam haram berdiam diri. Umat Islam wajib bertindak. Jika tidak bertindak, maka mereka akan terkena azab Allah SWT. Tatkala azab Allah datang, maka azab itu tidak pandang bulu, tetapi akan menimpa semua warga masyarakat, baik si pelaku maksiat atau pun orang-orang baik diantara masyarakat. Allah SWT berfirman: “Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya.” (QS Al Anfal:25).


Juga, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemunkaran, sedangkan mereka tidak mengubahnya, maka datanglah saatnya Allah menjatuhkan siksa-Nya secara umum. (HR Abu Dawud)
“Kamu harus mengajak mereka kepada yang makruf dan harus mencegah kemunkaran; jika tidak (kamu lakukan), maka Allah pasti akan menjadikan orang-orang paling jahat diantara kamu sebagai pemimpinmu (penguasa); dan jika orang-orang baik diantara kamu berdoa, maka doa mereka tidak dikabulkan.” (HR Al Bazzar dan Thabrani).


Jadi, dalam pandangan Islam, meluasnya kemungkaran, adalah sesuatu yang harus disikapi dengan serius, sebab hal itu berdampak langsung kepada kehancuran masyarakat. Kemungkaran bukanlah urusan pribadi yang setiap warga masyarakat boleh melakukannya dengan semena-semena atau seenaknya sendiri. Cara pandang seperti itu merupakan adalah cara pandang individualistik dan zionistik (lihat bagian berikutnya). Rasulullah SAW mengibaratkan, bahwa suatu masyarakat itu seperti para penumpang perahu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW membuat paparan tentang sekelompok penumpang kapal sebagai tamsil sebuah masyarakat. Penumpang menempati tempat duduknya masing-masing, ada yang dibagian atas dan ada yang di bagian bawah. Penumpang yang dibagian bawah, enggan naik ke atas, untuk mengambil air. Karena tidak mau repot-repot, maka ia melobangi saja bagian bawah tempat duduknya, untuk mengambil air. Digambarkan oleh Rasulullah SAW, jika para penumpang lainnya mendiamkan saja tindakan si penumpang, maka akan binasalah si penumpang, dan juga binasa seluruh penumpang kapal itu. Jadi, jika umat Islam berdiam diri, dan mendiamkan saja berbagai tindak kemungkaran melanda masyarakat mereka, maka umat Islam akan binasa bersama-sama dengan para pelaku maksiat.

Proyek zionis dan misi Kristen?

Umat Islam memiliki catatan-catatan sejarah dan bukti-bukti yang kuat, bahwa penyebaran kemaksiatan adalah merupakan suatu usaha penghancuran Islam oleh musuh-musuh Islam, terutama kaum zionis dan misionaris Kristen. Cara-cara seperti ini sudah lazim digunakan oleh penjajah Krsiten Barat dalam menghancurkan berbagai budaya negeri jajahannnya, seperti halnya cara Inggris menggunakan candu dalam menaklukkan Cina. Dalam Konferensi Misionaris di Kota Quds tahun 1935, Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen menyatakan: “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai orang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam, agar jadi orang yang tidak berakhlak sebagaimana seorang Muslim.

Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya.” Dalam salah satu bukunya (edisi Arab: Al Gharah ‘Alal ‘Alam Islamiy, hal. 275), Zweimer menulis: “Di dalam mata rantai kebudayaan Barat, gerakan misi punya dua tugas: menghancurkan peradaban lawan (baca: peradaban Islam) dan membina kembali dalam bentuk peradaban Barat. Ini perlu dilakukan agar si Muslim dapat berdiri pada barisan budaya Barat untuk melawan umatnya sendiri.” (Majalah Sabili, No 19 Th VII, 8 Maret 2000).


Salah satu strategi misi Kristen saat ini adalah “merusak Islam”. Mereka bukan hanya membujuk orang Islam masuk Kristen, tetapi juga berusaha menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya. Harry Dorman, dalam bukunya Towards Understanding Islam, mengungkapkan pernyataan seorang misonaris Kristen: “Boleh jadi, dalam beberapa tahun mendatang, sumbangan besar misionaris di wilayah-wilayah muslim akan tidak begitu banyak memurtadkan orang muslim, melainkan lebih banyak menyelewengkan Islam itu sendiri. Inilah bidang tugas yang tidak bisa diabaikan.” Dr. Cragg, seorang misionaris terkenal asal Inggris, menyatakan: “Tidak perlu diragukan bahwa harapan terakhir misi Kristen hanyalah melakukan perubahan sikap umat Muslim, sedemikian rupa sehingga mereka mau bertoleransi.”(Lihat buku Islam dan Orientalisme, karya Maryam, Jameela (Margareth Marcus), 1994:8-9, 51-52).

Sidik Jatnika, dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, penulis buku “Gerakan Zionis Berwajah Melayu” (tahun 2001, hal.196) mencatat strategi gerakan zionis untuk menghancurkan umat Islam: “Agen gerakan Zionisme di Indonesia yang paling mutakhir adalah gerakan dengan membonceng euphoria reformasi. Atas nama kebebasan, hak asasi manusia, dan tetek bengeknya, mereka secara terang-terangan mulai memperjuangkan pengakuan terhadap berbagai perilaku penyimpangan sosial maupun seksual sebagai realitas yang harus dihargai dan diberi hak hidup di Indonesia.

 

Mereka dengan lantang mengkampanyekan supaya komunisme dan ateisme; ataupun pemujaan terhadap setan diberi hak hidup di Indonesia sebagai layaknya sebuah agama ataupun ideologi. Bahkan, mereka tidak malu-malu lagi memperjuangkan supaya pelacuran, homoseksual, lesbian, dianggap sebagai profesi dan perilaku yang sah keberadaannya. Anehnya, jika masyarakat melakukan penggerebekan atau penggropyokan terhadap para pelaku penyimpangan sosial tersebut, bukan para pesakitan yang disalahkan. Tetapi justru masyarakatlah yang disalahkan karena telah melanggar hak asasi individu manusia untuk berzina, melakukan homoseksual maupun lesbian.” Dalam Protokolat Zionis ke-17 dikatakan: “Kita telah berhasil menyebar peradaban yang penuh kuman-kuman penyakit kotor di negara-negara yang memiliki peradaban yang terkenal luhur.” Abdullah Patani, dalam buku “Gerakan Freemasonry di Asia Tenggara” mengungkapkan sepuluh cara kaum Zionis dalam melumpuhkan dan menghancurkan Islam, diantaranya ialah: (1) menyebarkan pornografi dalam segala bentuknya, (2) merusak generasi muda dengan penyebaran segala jenis minuman memabokkan dan narkotika.

Jadi, merupakan hal yang sangat mungkin dan sangat masuk akal, jika penyebaran kemaksiatan sudah merupakan sesuatu yang terencana dan tersistematis yang dilakukan oleh agen-agen misi Kristen dan Zionis, dengan mengerahkan segala cara, termasuk menyuap para pejabat dan aparat agar mereka tidak bertindak untuk menegakkan kebenaran, bahkan sebaliknya, memusuhi umat Islam yang melaksanakan kewajiban menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Itulah fakta yang kini terjadi: para mujahid penegak al-haq harus berhadapan dengan berbagai resiko, sementara para penjahat dan penyebar kemungkaran bersorak-sorai karena mereka dibela oleh sebagian oknum-oknum zionis dan misionaris Kristen yang menyusup di jaringan pemerintah dan media massa.

PERKARA YANG MENYEBABKAN ADZAB TURUN

Di antara sebab turunnya siksa Allah Azza wa Jalla adalah sebagai berikut:

1. Adanya kemungkaran yang merajalela, baik berupa kesyirikan, kemaksiatan, maupun kezhaliman. Sebagaimana telah disebutkan oleh Ummul Mukminîn Zainab binti Jahsy Radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatanginya dalam keadaan terkejut, seraya berkata: “Lâ ilâha illallâh! Celakalah bangsa Arab, karena kejelekan yang telah mendekat, hari ini telah dibuka tembok Ya’jûj dan Makjûj seperti ini – beliau melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuknya – kemudian Zainab Radhiyallahu anhuma berkata: “Apakah kita akan binasa wahai Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal di sekitar kita ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, jika kemungkaran itu sudah merajalela”[ HR. Ath-Thabari, Jami al-Bayan fi Tawil al-Quran, Juz 13 (t.tp: Muassasah ar-Risalah, 2000), hlm. 474.].

Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu berkata:

مَا نَزَلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍِ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

Tidaklah musibah itu menimpa, kecuali disebabkan dosa, dan musibah itu tidak akan diangkat kecuali dengan taubat. (Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Juz 2 (Beirut: Dar Ihya at-Turats’ al-‘Arabi, 1420 H), hlm. 283).

 

2. Meninggalkan Amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Perumpamaan orang yang menjaga larangan-larangan Allah dan orang yang terjatuh di dalamnya adalah seperti suatu kaum yang sedang mengundi untuk mendapatkan tempat mereka masing-masing di dalam kapal. Sebagian mendapat tempat di bagian atas kapal dan sebagian lainnya mendapat di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah jika ingin mendapatkan air minum mereka melewati orang-orang yang ada di atas. Mereka (yang ada di bawah) berkata: “Andaikata kita melubangi perahu ini untuk mendapatkan air minum, maka kita tidak akan mengganggu mereka yang ada di atas”. Jika orang-orang yang ada di atas membiarkan perbuatan dan keinginan orang-orang yang ada di bawah (yaitu melubangi kapal), maka mereka semua akan tenggelam. [HR al-Bukhâri dan at-Tirmidzi]

Dalam mengomentari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin `Abdurrahmân al-Mubârakfûri rahimahullah berkata: “Dan memang seperti itu maknanya, jika manusia melarang orang yang berbuat maksiat, maka mereka semua akan selamat dari adzab Allah Azza wa Jalla , dan sebaliknya, jika mereka membiarkan kemaksiatan, maka mereka semua akan ditimpa adzab dan akan binasa, dan ini adalah makna ayat (di atas). (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, Juz 4, hlm. 38).

Imam al-Qurtubi rahimahullah juga berkata: “Dalam hadits ini terdapat pelajaran yang bisa dipetik, (di antaranya), datangnya adzab tersebut dikarenakan dosa yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan juga disebabkan oleh tidak adanya amar ma’ruf nahi mungkar (di tengah mereka). ( Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, Juz 4, hlm. 38).

Seperti itu pula yang telah disebutkan dalam hadits Abu Bakr Radhiyallahu anhu . Beliau berkata: “Sungguh, kami pernah mendengar Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kezhaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka Allah akan meratakan adzab kepada mereka semua. [HR Abu Dâwud, at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh al-Albâni).

Ayat dan beberapa hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya peran amar ma’ruf nahi mungkar dalam kehidupan manusia di alam semesta ini, karena dengan ditegakkannya hal itu, dahsyatnya arus perusak akhlak dan moral, lalu kesyirikan, kezhaliman dan kemaksiatan akan berkurang, kebaikan akan menyebar serta dengan izin Allah Azza wa Jalla akan terhindar dari adzab Allah Azza wa Jalla di dunia ini.

Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memberikan hidayah, inâyah serta taufik dan maghfirahnya kepada kita semua agar kita semua selamat dari adzab dan murka-Nya di dunia dan di akhirat. Amîn

Wallahul muwaffiq.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ