Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Hukum Berhubungan Badan Saat Istri Haid Atau Nifas


Nomor: 143707010001

Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz.
Saya mau tanya bagaimana hukumnya orang yang sedang haid atau nifas berhubungan badan sama suami. Saya pernah baca buku itu harus membayar emas seberat 1 gram, jika darah haidnya atau nifasnya masih banyak dan jika tinggal sedikit membayar setengahnya. Mohon penjelasannya pak ustadz.

Jazakalloh
Ummu R

Jawab:

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah.                          

HUKUM JIMA' DENGAN ISTRI YANG SEDANG HAID

Jima’ dengan istri yang sedang haid hukumnya haram, sebagaimana firman Allah,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS Al-Baqarah: 222)

“Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid” maksudnya jima’ (hubungan seks) di kemaluannya, khususnya karena hal itu haram hukumnya menurut ijma’ (kesepakatan ulama). Pembatasan dengan kata “menjauhkan diri pada tempat haid” menunjukkan bahwa bercumbu dengan istri yang sedang haid, menyentuhnya tanpa berjima’ pada kemaluannya adalah boleh. (Tafsir As Sa’di jilid 1, hal 358)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Lakukanlah segala sesuatu terhadap isterimu kecuali jima’.” (Shahih Ibnu Majah no. 527, Muslim no. 302)

Istri hendaknya menolak dengan halus jika suami menginginkannya dan menjelaskan bahwa jima’ saat haid hukumnya haram baik bagi suami maupun istri. Suami haram menggauli istrinya saat haid dan haram pula bagi istrinya melayaninya. (Aktsar Min Al-Jawab Lil Mar’ah, Syaikh Utsaimin)

BOLEH BERCUMBU TANPA JIMA'

Walaupun jima' pada saat istri sedang haid dilarang, tapi masih memungkinkan bagi suami untuk bercumbu dengan istrinya tanpa jima’. Sebagaimana penjelasan Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya bahwa boleh bercumbu dengan istri yang haid dan menyentuhnya tanpa jima’.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah memerintahkan kepadaku agar memakai kain sarung kemudian aku memakainya dan beliau menggauliku.” (Al-Mughni (3/84), Al-Muhadzab (1/187))

Dari Maimunah, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah menggauli salah satu istrinya sedangkan ia haid. Ia (istri) mengenakan kain sarung sampai pertengahan pahanya atau lututnya sehingga beliau menjadikannya sebagai penghalang.” (HR Bukhari no. 64)

 

HUKUM ORANG YANG JIMA' DENGAN ISTRI YANG SEDANG HAID

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarhu Muslim jilid 3 hal 204 mengatakan, “Apabila seorang muslim meyakini akan halalnya jima’ dengan istri yang sedang haid melalui kemaluannya maka ia menjadi kafir murtad. Kalau ia melakukannya tanpa meyakini kehalalannya, misalnya jika ia melakukannya karena lupa atau karena tidak mengetahui keluarnya darah haid atau tidak tahu bahwa hal tersebut haram atau karena dipaksa, maka ia tidak berdosa dan tidak pula wajib membayar kaffarah (denda). Jika ia jima' dengan istrinya yang sedang haid dengan sengaja (tanpa meyakini kehalalannya, pent) dan tahu bahwa dia sedang haid dan tahu bahwa hukumnya haram dengan penuh kesadaran maka berarti dia telah melakukan maksiat besar sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Syafi'i rahimahullah bahwa perbuatannya adalah dosa besar dan ia wajib bertaubat.”

 

KAFFARAH JIMA' DENGAN ISTRI YANG SEDANG HAID DENGAN SENGAJA

Bagi yang melakukannya dengan sengaja, para ulama berbeda pendapat tentang apakah ada kaffarah (denda) yang harus dibayar oleh suami ataukah tidak? Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada kaffarah yang harus dibayar dan sebagian yang lain mengatakan ada kaffarah yang harus dibayar. Perselisihan pendapat ini ada karena adanya perbedaan di dalam menilai keshahihan dalil-dalil yang berkenaan dengan masalah ini, diantaranya hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, berkata,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh orang yang mendatangi isterinya (jima') dalam keadaan haid untuk bersedekah dengan satu dinar atau setengahnya.” (HR Ahmad no. 2015 dan Abu Daud no. 230)

Para ulama yang menilai shahih hadits ini, seperti Imam Ahmad dan Imam Nawawi berpendapat bahwa ia wajib membayar kaffarah. Dan sebagian ulama yang lain dari kalangan madzhab Hanafi berpendapat bahwa ia tidak wajib dan hanya sunnah membayar kaffarah karena menilai hadits ini tidak sampai pada derajat shahih. Dalam masalah ini Syaikh Abdul 'Azhim bin Badawi dalam kitabnya Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz lebih menguatkan pendapat yang mewajibkan membayar kaffarah. Allahu a'lam bish showab.

 

BERAPA NILAI KAFFARAH YANG HARUS DIBAYAR?

Kaffarah adalah sedekah yang diberikan kepada fakir miskin dan jumlahnya berbeda menyesuaikan jima’ yang dilakukan di awal atau akhir waktu haid.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma secara mauquf, ia berkata, “Jika ia jima' dengan isterinya di awal keluarnya darah maka hendaklah bershadaqah 1 dinar dan jika di akhir keluarnya darah maka setengah dinar.” (HR Abu Daud no. 238)

Pendapat inilah yang diambil oleh madzab Imam Syafi'i.

Menurut Imam Ahmad bahwa jika darah haid berwarna merah maka ukurannya adalah 1 Dinar dan jika berwarna kuning maka ukurannya setengah Dinar. (Ma’alim Sunan karya Al Khithabi jilid 1 hal. 181)

Berdasarkan keterangan di atas, kaffarah yang harus dibayar bukanlah 1 gram emas, tapi 1 Dinar emas.

 

BERAPA NILAI 1 DINAR?

1 Dinar = 4,25 gr emas

Harga 1 gr emas berdasarkan situs harga-emas.org per 21 April 2016, jam 08:16 adalah Rp 567.000,00.

1 Dinar = 4,25 gr x Rp 567.000,00 = Rp 2.409.750,00

1/2 Dinar = Rp 1.204.875,00

Jadi kaffarah yang harus dibayarkan oleh orang yang jima’ dengan istrinya dalam keadaan haid adalah sedekah senilai Rp 2.409.750,00 atau Rp 1.204.875,00 (kurs 1 gr emas = Rp 567.000,00).

 

APAKAH KAFFARAH JUGA DIBAYARKAN OLEH ISTRI?

Dalam masalah ini Imam Ibnu Qudamah dan Syaikh Utsaimin rahimahumallah merincinya sebagaimana berikut:

a. Jika istri dipaksa dan tidak mengelaknya maka dia tidak berdosa dan juga tidak membayar kaffarah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

“Umatku dimaafkan karena salah, lupa, dan apa-apa yang dipaksakan atasnya.”

b. Jika istri tidak dipaksa, tapi ia melayaninya dengan sukarela maka ia juga harus membayar kaffarah bersama suaminya.Masing-masing mereka membayar satu Dinar atau setengah Dinar.

Allahu a’lam bish showab.

Jum’at 13 Rajab 1437 | 22 April 2016

untuk filenya silahkan di download: