Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Hukum Jima' Dgn Istri Yang Sudah Selesai Haid Tapi Belum Mandi Besar


Nomor : 143707030003

Pertanyaan:

Apa hukumnya suami yang mendatangi istri ketika istri belum mandi besar karena haid dan saat itu sudah tidak keluar darah? Mohon penjelasan berkenaan dengan hukum kaffaroh. Terimakasih.

Ummu Robbani

 

Jawab:

Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam atas Rosulullah, keluarga beliau, para sahabat, dan siapa saja yang mengikuti mereka sampai datangnya hari kiamat.

 

HUKUM JIMA’ DENGAN ISTRI YANG SUDAH SELESAI HAID TAPI BELUM MANDI BESAR

Allah subhâhanu wa ta’âlâ berfirman,

وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Dan janganlah kalian mendekati (jima’) mereka (istri) sampai mereka (istri) suci. Apabila mereka (istri) telah bersuci (mandi besar) maka datangilah mereka itu (istri) di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu (farji). Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang bersuci.” (QS Al-Baqarah: 222)

Ibnu Katsîr rahimahullâh menjelaskan, “Para ulama telah sepakat bahwa apabila haid seorang wanita sudah selesai, tidak halal bagi suami untuk berjima’ dengannya sampai ia mandi besar atau tayammum jika ia memiliki udzur (alasan) syar’i untuk tidak mandi besar dengan memenuhi syaratnya. Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Yahyâ bin Bukair, salah seorang guru Imam Bukhârî dari madzhab Mâlikî bahwa boleh bagi suami berjima’ dengan istrinya semata-mata bersandar pada selesainya darah haid (walaupun belum mandi besar). Pendapat yang sama juga dinukil dari Ibnu Abdil Hakam. Demikian juga Al-Qurthubî meriwayatkan pendapat yang sama dari Mujâhid, Ikrimah, dan Thâwus sebagaimana telah dijelaskan. Imam Abû Hanîfah rahimahullâh, walaupun beliau juga berpendapat halal bagi suami berjima’ dengan istrinya semata-mata bersandar pada selesainya darah haid dan tidak memerlukan mandi besar, tapi beliau menjelaskan bahwa kebolehan tersebut ada jika darah haid tersebut tidak lagi keluar pada waktu lebih dari batas waktu maksimal haid yaitu 10 hari menurut pendapat beliau. Dan tidak sah jika darah haid selesai sebelum 10 hari.”

Dari penjelasan Ibnu Katsîr rahimahullâh di atas, bisa disimpulkan berdasarkan pendapat mayoritas ulama bahwa jima’ dengan istri yang sudah selesai haidnya tapi belum mandi besar adalah haram. Pendapat inilah yang lebih sesuai dengan lafal ayat di atas.

ADAKAH KAFFAROH DALAM MASALAH INI?

Para ulama juga berselisih pendapat dalam masalah ini. Madzhab Hambalî berpendapat tidak ada kaffaroh bagi suami yang jima’ dengan istrinya setelah berhenti darah haid dan belum mandi besar. Sementara Qotâdah dan Al-Auzâ’î berpendapat wajib membayar kaffaroh setengah Dinar.

Pendapat yang râjih (kuat) dalam masalah ini adalah tidak ada kewajiban membayar kaffaroh karena jima’ yang dilakukan tidak terjadi ketika sedang haid, tapi terjadi sebelum mandi besar. Maka perbuatan ini hanya mengakibatkan dosa saja dan wajib bertobat darinya.

Al-Bahûtî dari madzhab Hambalî menjelaskan dalam Kasysyâf Al-Qonnâ’, “Tidak wajib membayar kaffaroh jika jima’ terjadi setelah darah haid berhenti dan sebelum mandi karena demikianlah makna yang tersurat dalam ayat yaitu dalam keadaan istri sedang haid dan ia bukan wanita yang sedang haid (karena darah haidnya sudah berhenti).”

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa jima’ yang terjadi setelah darah haid berhenti dan sebelum istri tersebut mandi besar hanyalah merupakan pelanggaran syari’ah yang berkonsekuensi dosa yang wajib ditobati dan tidak wajib membayar kaffaroh.

Tentang hukum jima’ dengan istri ketika sedang haid dan kaffarohnya silahkan rujuk ke konsultasi syari’ah no. 1437070101.

Allâhu a’lam bish showâb.

Sabtu, 22 Rajab 1437 | 30 April 2016

Untuk file nya silahkan di download: