Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Ancaman Riba, Memakannya, Mengambilnya Atau Memberikannya


Nomor: 143710010005

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz.
Afwan ana mau tanya Ustadz. Jika si Fulan minjam riba ke bank atau rentenir....
Al Baqoroh 275-276 ada ancaman neraka kekal...selamanya.

Pertanyaannya, itu buat si rentenirnya saja? Atau si Fulannya juga?

Jazakallah.....
Dadan, Bogor

Jawab:

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٧٥ يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri (ketika dibangkitkan pada hari kiamat) melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS Al-Baqarah: 275-276)

Imam Ath-Thabarî rahimahullah berkata dalam tafsirnya (Jâmi’ Al-Bayân, Jilid 6, hal. 11-12) menafsirkan ayat 275 surah Al-Baqarah,

“Apabila ada yang bertanya: Bagaimana dengan orang yang mengerjakan riba yang Allah larang dalam perniagaannya sedangkan dia tidak memakannya, apakah dia juga terkena ancaman dari Allah ini?

Jawabnya: Iya. Yang dimaksud dengan riba dalam ayat ini bukanlah dalam hal memakannya saja. Sesungguhnya ayat-ayat ini turun kepada orang-orang yang ketika itu sumber penghidupan dan makanan mereka itu dari riba. Oleh karena itu Allah memberi peringatan kepada mereka sesuai dengan keadaan mereka. Hal itu untuk menjadikan mereka menganggap besar urusan riba dan untuk menunjukkan buruknya keadaan mereka dalam mencari makan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٢٧٨ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al-Baqarah: 278-279)

Firman Allah di atas membenarkan pendapat kami bahwa yang Allah haramkan adalah seluruh makna riba dan sama saja apakah dia bekerja dengan riba, memakannya, mengambilnya, atau memberikannya sebagaimana sangat jelas disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَعَنَ اللهُ آكِلَ الرِّبَا، وُمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ إِذَا عَلِمُوْا بِهِ

‘Allah melaknat (menjauhkan dari rahmat) orang yang memakan riba, orang yang mewakilkannya, orang yang mencatatnya, dan dua orang yang menjadi saksinya, jika mereka mengetahuinya.’ (HR Ahmad, Abû Ya’lâ, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibbân)”.

Selesai ucapan Imam Ath-Thabarî.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa ancaman siksa neraka yang kekal tidak hanya bagi rentenirnya (pemakan riba) saja, tetapi dikenakan juga bagi orang yang memberikan riba.

Tentang pengertian kekal di dalam neraka, Imam Al-Qurthubîrahimahullah (Tafsîr Al-Qurthubî, Jilid 3, hal. 362) menukil pendapat Ibnu ‘Athiyyah, “Jika berkenaan dengan orang kafir maka kekal yang dimaksud kekal selamanya dalam pengertian sesungguhnya. Dan jika ayat ini ditujukan kepada pelaku maksiat riba dari kalangan muslim maka kekal yang dimaksud bukan kekal sebenarnya, tapi menunjukkan ancaman yang sangat keras, sebagaimana ucapan orang Arab: Raja yang kekal (maksudnya: kekuasaannya lama, bukan kekal selamanya dalam pengertian sesungguhnya).” Selesai nukilan Imam Al-Qurthubî.

Penafsiran kekal seperti ini juga disekapati oleh Imam Al-Baghawî rahimahullah (Tafsîr Al-Baghawî, Jilid 1, hal. 383) dengan menafsirkan ayat, “(dan barangsiapa kembali) setelah pengharaman ini pada perbuatan memakan riba dalam keadaan menghalalkannya (maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya).” Selesai ucapan Imam Al-Baghawî.

Ucapan beliau: “dalam keadaan menghalalkannya” menunjukkan bahwa yang benar-benar kekal di neraka adalah orang kafir yang melakukan riba, karena telah dipahami bersama bahwa barangsiapa menghalalkan apa saja yang Allah haramkan maka dia kafir. Sedangkan muslim yang melakukan riba dalam keadaan menyadari bahwa itu adalah dosa dan tidak menghalalkannya maka statusnya adalah pelaku dosa besar dan tidak kekal di dalam neraka.

Allâhu a’lam bish showâb.
Ahad, 5 Syawal 1437 | 10 Juli 2016

Untuk file nya silahkan di download: