Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Bolehkan Orang Tua Renta Menjamak Sholat Karena Sakit Pada Kandung Kemih?


Nomor: 143710040008

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum
Ada pertanyaan tentang orang tua umur 78 th.  Tiap hari pakai pempres karena sakit pada kandung kemih.Tentu sulit untuk terhindar dari najis.  Bagaimana cara shalatnya? Apakah boleh dijamak?

Ismail, Jakarta

Jawab:

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah.

Keadaan orang yang tua yang ditanyakan sama dengan keadaan wanita yang terus-menerus mengeluarkan darah istihadhah (darah penyakit). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan arahan agar menutup keluarnya darah dari kemaluan dengan kapas dan berwudhu setiap kali akan shalat sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhârî dan Muslim dari ‘Aisyah radhiallaahu anha, bahwa ia berkata, “Fatimah binti Hubaisy datang menemui Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang mengalami istihadhah maka saya tidak suci, apakah saya harus meninggalkan shalat?’ Maka Rasulullah shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

لاَ إِنمَّاَ ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكَ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلاَةٍ حَتَّى يَجِيْءَ ذَلِكَ الْوَقْتُ

“Tidak, sebab darah itu darah peluh dan bukan darah haidh. Jika engkau mendapatkan haidhmu maka tinggalkanlah shalat dan jika telah habis masa haidhmu maka mandilah engkau dan bersihkanlah darah itu kemudian berwudhulah engkau setiap kali akan shalat hingga tiba waktunya (waktu haid yang lain).”

Dan hadits Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُوْلَ الله إِنِّي أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَبِيْرَةً شَدِيْدَةً فَمَا تَرَى فِيْهَا قَدْ مَنَعَتْنِي الصَّلاَةَ وَالصِّيَامَ، فَقَالَ: ((أَنْعَتُ لَكِ (أَصِفُ لَكِ اسْتِعْمَالَ) الكُرْسُفَ (وَهُوَ القَطْنُ) تَضَعِيْنَهُ عَلَى الفَرجِ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ)) قَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ. وَفِيْهِ قَالَ: إِنَّمَا هَذَا رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَان، فَتَحِيْضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ فِيْ عِلْمِ الله تَعَالَى، ثُمَّ اغْتَسِلِيْ حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَيْتِ فَصَلِّي أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ أَوْ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُوْمِيْ

“Ya Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami istihadah yang deras sekali. Lalu bagaimana pendapatmu tentangnya karena ia telah menghalangiku shalat dan berpuasa? Beliau bersabda: “Aku beritahukan kepadamu (untuk menggunakan) kapas dengan melekatkannya pada farji, karena hal itu dapat menyerap darah”. Hamnah berkata: “Darahnya lebih banyak dari itu”. Nabipun bersabda: “Ini hanyalah salah satu usikan syetan. Maka hitunglah haidmu 6 atau 7 hari menurut ilmu Allah Ta’ala lalu mandilah sampai kamu merasa telah bersih dan suci, kemudian shalatlah selama 24 atau 3 hari, dan puasalah.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Oleh karena itu, ketika Syaikh Bin Bâz rahimahullah ditanya tentang seorang wanita yang mengalami kencing terus menerus, beliau menjawab, “Dia harus menjaga air kencingnya semampunya, misalnya dengan membalut kemaluannya dengan kain atau lainnya. Dan dia harus shalat tepat pada waktunya. Dia juga masih diperbolehkan shalat sunnah sesuai dengan waktunya. Dia juga boleh menjamak shalat zhuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya’. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

‘Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian!’ (QS At-Taghâbun: 16)”.

Selesai nukilan dari kitab Fatâwâ Syaikh Bin Bâz.

Kesimpulan dari penjelasan di atas:

  1. Hendaknya orang tua tersebut berusaha semampunya untuk menjaga kencingnya seperti dengan memakai pempers sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan karena itu bisa menyerap air kencing.
  2. Setiap kali akan shalat wajib atau shalat sunnah hendaknya berwudhu dahulu. Apabila keluar kencing ketika sedang shalat maka wudhunya tidak batal dan shalatnya tetap sah.
  3. Boleh menjamak shalat zhuhur dengan shalat asar dan shalat maghrib dengan shalat isya’. Boleh jamak taqdim (menjamak shalat di waktu pertama) atau jamak ta’khir (menjamak shalat di waktu kedua).

Allâhu a’lam bish showâb.
Ahad, 5 Syawal 1437 | 10 Juli 2016

Untuk file nya silahkan di download: