Sabtu, 21 Muharram 1441 H / 21 September 2019 M

Pernyataan Sikap Jama'ah Ansharusy Syari'ah Terkait Kekerasan dan Kedzaliman Terhadap Muslim Uyghur


SIARAN PERS

 

Tentang:

Tragedi Kekerasan dan Kedzaliman yang Dialami Masyarakat Muslim Uyghur Oleh Pemerintahan China

 

Download File Pdf:

 

Alhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘alaaalihi wa shahbihi ajma’in

 

Amma ba’du

 

وَإِنِ ٱسۡتَنصَرُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ فَعَلَيۡكُمُ ٱلنَّصۡرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوۡمِۢ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُم مِّيثَٰقٞۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٧٢

“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.” (QS Al-Anfal: 72)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:

 

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal cinta  dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota badan akan merasa demam dan susah tidur.” (HR. Muslim)

 

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ بِأَنَّهُمۡ ظُلِمُواْۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِيرٌ ٣٩

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS Al-Hajj: 39)

 

Tragedi kekerasan yang terus dialami masyarakat Muslim Uyghurdi Provinsi Xinjiang oleh pemerintahan Republik Rakyat Cina merupakan kejahatan kemanusiaan genosida yang serius dan tidak bisa dibenarkan dengan dalih apapun.

 

Berdasarkan laporan Amnesty Internasional, sebanyak satu juta etnis Uyghur dikumpulkan dalam sebuah ‘kamp’ konsentrasi untuk mendapatkan ‘pendidikan’ terkait doktrinasi ideologi dan nilai-nilai yang dianut oleh pemerintah Republik Rakyat Cina. Doktrinasi tersebut membuat etnis Uyghur mengalami kekerasan dan pembatasan hak-hak untuk menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim, seperti menggunakan hijab bagi perempuan atau jenggot bagi laki-laki, pelarangan berpuasa di bulan Ramadhan, pembatasan shalat lima waktu dan shalat Jumat yang tidak boleh lebih dari lima menit, hingga perintah untuk meninggalkan agamanya.

 

Kondisi ini perlu mendapat perhatian dan tindakan yang serius dari bangsa Indonesia maupun umat Islam khususnya. Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka Jama’ah Ansharusy Syari’ah menyatakan sikap sebagai berikut:

 

  1. Mengutuk keras kejahatan kemanusiaan genosida yang serius terhadap kekerasan yang dialami masyarakat muslim Uyghur, di Provinsi Xinjiang, Republik Rakyat Cina.
  2. Apabila tidak segera menghentikan tindakan kekerasan dan biadab terhadap masyarakat muslim Uyghur, maka kami menuntut dan mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil inisiatif memutuskan hubungan diplomatic dan mengusir Duta Besar Republik Rakyat Cina.
  3. Kepada kaum Muslimin agar mengambil upaya dan langkah yang dibenarkan syariat untuk menolong kaum muslimin Uyghur secara maksimal berupa mengajak kepada seluruh lapisanumat Islam untuk melakukan aksi kepedulian dan pemberian bantuan materiil maupun doa untuk kaum muslimin Uyghur.
  4. Mengajak kepada seluruh kaum muslimin khususnya yang berada di Indonesia untuk melakukan boikot terhadap seluruh produk-produk Cina, sebagai bentuk pembelaan dan kepedulian terhadap kekerasan yang dialami masyarakat Uyghur.
  5. Mendesak seluruh anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan dunia internasional untuk bersikap tegas dan melakukan langkah-langkah strategis untuk membantu menghentikan pembantaian dan kekejaman yang dialami masyarakat muslim Uyghur.

 

Demikian pernyataan sikap Jama’ah Ansharusy Syari’ah ini disampaikan sebagai upaya amar ma’ruf nahi munkar guna menghentikan kebiadaban dan kedzaliman yang terjadi terhadap masyarakat muslim Uyghur, di Provinsi Xinjiang, Republik Rakyat Cina.

 

Semoga Allah SWT Menolong Agama-Nya dan meninggikan derajat kaum Muslimin serta menghinakan mereka yang berbuat aniaya terhadap Islam dan Umat Islam.

 

Hasbunallahuwani’malwakiil, ni’malmaulawani’mannashiir.

 

Jakarta, 11 RabiulAkhir 1440 H / 20 Desember 2018 M

 

 

Abdul RochimBa'asyir

Juru Bicara