Sabtu, 6 Rabiul Awwal 1439 H / 25 November 2017 M

Khutbah Jumat Edisi 070: "Amal Islami Bukanlah Aktivitas Sesaat"


Materi Khutbah Jumat Edisi 070 tanggal 29 Jumadil Akhir 1437 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da'wah Jama'ah Ansharusy Syari'ah dapat download di:

 

 

Amal Islami Bukanlah Aktivitas Sesaat

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

Jamaah Jum’at  hamba Alloh yang  dirahmati Alloh SWT.

 

Segala puji bagi Alloh SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepadajunjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Alloh dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Adapun tema khutbah jum’at kali ini adalah : Amal Islami Bukanlah Aktivitas Sesaat.

Amal islami, perjuangan menegakkan Syari’at Islam bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat Anda memiliki waktu luang dan bisa Anda tinggalkan saat sibuk. Tidak! Amal islami terlalu agung dan mulia jika mesti diperlakukan begitu.

Perkara intima`/ komitmen dan keterikatan kepada dien ini tentu saja jauh lebih serius daripada yang seperti itu. Islam tidak seperti klub ilmiyah, klub olahraga, atau kepanduan yang cukup dikerjakan saat masih menjadi pelajar/ mahasiswa, lalu bisa ditinggalkan saat telah lulus. Atau cukup dikerjakan saat masih bujang dan boleh ditinggalkan setelah menikah. Atau Anda curahkan waktu sebelum Anda mendapat pekerjaan dan setelah mendapatkannya, atau Anda membuka klinik, apotek, biro konsultasi, atau Anda disibukkan dengan pelajaran-pelajaran khusus, maka Anda boleh meninggalkannya atau meremehkannya. Sekali-kali tidak! Amal islami bukanlah seperti itu.

Perkara amal islami dan intima` kepadanya sama dengan perkara ‘ubudiyah kepada Alloh yang sebenarnya. Oleh karena itu, semestinya seorang muslim tidak melepaskan diri dari amal islami kecuali bersamaan dengan keluarnya ia dari kehidupan ini.. Bukankah Alloh telah berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian datang kepadamu!” (QS. Al-Hijr: 99)

Sampai datang kematian!!!

Al-Qur`an tidak mengatakan ‘Sembahlah Rabbmu sampai kamu keluar dari Universitas atau saat menjadi pegawai atau sampai kamu menikah atau sampai kamu membuka klinik atau sampai kamu membuka biro konsultasi dst.”

Para pendahulu kita, as-salafus shalih memahami benar hakekat yang sederhana namun sangat urgen dalam dienullah ini.

Kita dapati ‘Ammar bin Yasir, beliau berangkat perang saat usia beliau telah mencapai 90 tahun. Perang! Bukan berdakwah, mengajar orang-orang, atau beramar makruf nahi munkar. Beliau berangkat perang saat tulang-belulang beliau sudah rapuh, tubuh telah renta, rambut telah memutih, dan kekuatan sudah jauh berkurang.

Adalah Abu Sufyan masih membakar semangat para pasukan untuk berperang saat beliau berumur 70 tahun.

Begitu pun dengan Yaman, Tsabit bin Waqasy. Keduanya tetap berangkat ke medan Uhud meski telah lanjut usia dan meski Rasulullah menempatkan mereka bersama kaum wanita, di bagian belakang pasukan.

Mengapa kita mesti pergi jauh?! Bukankah Rasulullah saw telah melaksanakan 27 pertempuran[1][60]. Semua peperangan itu beliau alami setelah usia beliau lewat 54 tahun. Bahkan perang Tabuk, perang yang paling berat bagi kaum muslimin, diikuti dan dipimpim langsung oleh beliau saat umur beliau telah mencapai 60 tahun.

Bagaimana dengan keadaan kita hari ini?! Kita dapat saksikan banyak sekali ikhwah yang meninggalkan amal Islami setelah lulus kuliah, menikah, sibuk dengan perdagangan, tugas, dlsb.

Kepada mereka, “Sesungguhnya urusan Dien dan Islam itu bukan urusan main-main.”

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ

“Dan kalian menyangka itu urusan yang remeh, padahal di sisi Alloh itu adalah urusan yang agung.” (QS. An-Nur: 15)

Saya katakan kepada mereka, “Mana janji kalian?! Janji yang telah kalian ikrarkan di hadapan Alloh dan di hadapan orang banyak dulu?!”

وَكَانَ عَهْدُ اللهِ مَسْئُولاً

“Dan janji Alloh itu akan dipertanyakan.”(QS. Al-Ahzab: 15)

Mana sajak pendek yang selama ini sering kalian perdengarkan?!

فِيْ سَبِيْلِ اللهِ قُمْنَا

نَبْتَغِيْ رَفْعِ اللِّوَاءِ       

مَالِحِزْبٍ قَدْ عَمِلْنَا

        نَحْنُ لِلدِّيْنِ فِدَاءُ        

فَلْيَعُدْ لِلدِّيْنِ مَجْدُهُ

أَوْ تُرَقْ مِنَّا الدِّمَاءُ      

Di jalan Alloh kami tegak berdiri

Mencitakan panji-panji menjulang tinggi

Bukan untuk golongan tertentu, semua amal kami

Bagi Dien ini, kami menjadi pejuang sejati

Sampai kemuliaan dien ini kembali

Atau mengalir tetes-tetes darah kami

Saya katakan kepada mereka, “Sesungguhnya akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi orang yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan. Sesungguhnya membatalkan janji kepada Alloh termasuk dosa yang terbesar di sisi Alloh dan di pandangan orang-orang yang beriman.”

فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ

“Maka barangsiapa melanggar janji, akibatnya akan mengenai dirinya sendiri.” (QS. Al-Fath: 10)

Siapa pun yang dikuasai oleh nafsu amarah bisu, ditipu oleh setan, atau mengundurkan diri dari medan amal islami hendaklah merenungkan firman Alloh ini:

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللهَ لَئِنْ أَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصَّالِحِيْنَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوْا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُوْنَ

“Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Alloh, “Sesungguhnya jika Alloh memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Alloh memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling.” (QS. At-Taubah : 75-76)

Kemudian hendaknya pula merenungkan firman Alloh tentang hukuman yang akan diterima

فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يُكَذِّبُوْنَ

“Maka Alloh menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Alloh, karena mereka telah memungkiri terhadap Alloh apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah : 77)

Sesungguhnya perkara amal islami adalah perkara yang sangat urgen.. Sayangnya, sebagian mereka yang lemah imannya ~beberapa di antaranya bergabung saat masih kuliah~ beranggapan bahwa amal Islami itu tak ubahnya dengan sarikat dagang untuk satu masa tertentu. Begitu masa kuliah selesai, selesai pulalah amal islami. Atau mereka menyangka masa amal islami adalah masa terjalinnya persahabatan atau pertemanan saat masih kuliah yang selesai begitu saja saat lulus. Semuanya selesai, tuntas!

Saya sebut mereka di sini sebagai orang-orang yang lemah imannya karena biasanya penyakit itu bermula dari lemahnya iman. Sakitnya hati, lemahnya semangat, dan tidak mengakarnya Iman, terletak di dalam hati, bukan di akal. Seringnya ~bahkan selalunya~ kerusakan itu terletak pada hati bukan akal; disebabkan oleh bolongnya iman, bukan kurangnya ilmu; karena syahwat, bukan syubhat; dan buah dari cinta dunia, bukan kurangnya kesadaran. Maka siapa yang ingin menjalani terapi atau berobat, semestinya memperhatikan hatinya, membersihkannya dari berbagai kotoran dan mengobati penyakit-penyakitnya iu.

Sayangnya, sedikit sekali dokter yang ada di zaman ini. Tentu saja maksud saya adalah dokter untuk penyakit hati. Kalau dokter penyakit jasmani, banyak sekali jumlah mereka, namun parah sekali juga penyakit yang menimpa mereka.

Sesungguhnya seseorang yang berbalik dari kebenaran setelah mengetahuinya adalah seorang yang mendahulukan kelezatan sesaat dan kesenangan semusim serta mencari kegembiraan dengan membayar kesedihan sepanjang masa, menceburkan diri ke sumur maksiat, dan berpaling dari cita-cita mulia kepada keinginan rendah lagi hina.. Selanjutnya ia akan berada di bawah kungkungan setan, di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu.

Berdasarkan pengalaman pribadi Dr. Najih Ibrahim, dia berkata : saya mendapati keadaan orang-orang seperti mereka jauh lebih buruk daripada kaum muslimin pada umumnya. kiranya itulah hukuman dari Alloh bagi mereka …

Bagai rajawali yang telah rontok bulu-bulunya

Setiap kali melihat burung terbang ia melihat segala kegagalannya.

JUMLAH BANYAK KERJA SEDIKIT

Hari ini kita melihat jumlah ikhwah multazimin (pembela agama Alloh) yang banyak sekali, sampai-sampai kita bisa melihat di satu kota, ada ratusan ikhwah di sana! Meski jumlah mereka luar biasa, namun jika Anda mencoba untuk menghitung jumlah personal yang aktif, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat, sehingga pantas disebut sebagai aktivis Islam, niscaya anda akan mendapati jumlah mereka tidak mencapai seratus orang. Bahkan Anda dapat menghitung dengan mudah dan menyebutkan nama-nama mereka..

Lalu, mana kerja, usaha, dan sumbangsih sekian ribu multazim itu?! Mana dakwah, hisbah, dan jihad mereka?!

Mereka mengambil peran sebagai penonton, tak lebih. Mereka merasa cukup sekedar telah berpindah dari jahiliyah kepada Islam.. Setelah itu, mereka berhenti di titik ini, tidak ingin meninggalkannya, tidak berhasrat untuk meningkat ke titik berikutnya, bahkan untuk sekedar mempersiapkan diri mereka sendiri sehingga nantinya mereka sanggup melangkah dan memberikan sumbangsih dalam pelbagai bidang amal islami.

Jika salah seorang dari mereka Anda tanyai; apa sumbangsih mereka kepada Islam, apa amal yang telah mereka kerjakan di jalan dien ini, dan apa yang telah mereka persembahkan kepada jamaah sejak mereka beriltizam sampai hari ini, mereka pun diam seribu bahasa.

Kita dapati mereka merasa cukup dengan menjadi pendengar saja. Merasa cukup dengan menghadiri halaqah, pertemuan, muktamar, membaca edaran, dan buletin yang diterbitkan, lalu sudah.

Atau menjadi seorang yang pasif tanpa sumbangsih.

Dilihat dari sisi amal islami mana pun, mereka tetap menjadi sosok yang benar-benar tidak serius dalam mempersiapkan diri.. Beberapa tahun berlalu mereka hanya menyelesaikan sebuah atau dua buah buku Islam yang semestinya diselesaikan dalam waktu ~paling lama~ satu pekan oleh orang-orang yang serius dan tekun.

Problem seperti inilah yang membuat tak tergalinya berbagai potensi untuk Islam dan dien. Potensi yang semestinya tampak nyata di semua bidang amal Islami; dakwah, hisbah, dan jihad…

Orang-orang yang hanya menyumbangkan sisa waktu, membelanjakan sedikit sekali dari kekayaan, serta mengerahkan upaya yang sangat minim untuk Islam ini mestinya tahu bahwa Alloh itu Maha baik, tidak menerima kecuali yang baik. Sebagaimana Alloh tidak menerima sedekah yang buruk, Alloh pun tidak menerima amal yang buruk, jika itu sengaja dipilih untuk Islam.

وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ

“Dan janganlah kalian pilih yang buruk-buruk darinya untuk kallian infakkan!” (QS. Al-Baqarah: 267)

Sesungguhnya yang dikehendaki oleh Islam adalah sebagian besar waktumu, hampir seluruh hartamu, dan segarnya masa mudamu. Islam menghendaki dirimu, seluruhnya. Islam menghendakimu saat kamu bertenaga, bukan saat telah loyo. Islam menghendaki masa mudamu, masa kuatmu, masa sehatmu, dan masa perkasamu, bukan masa rentamu. Islam menghadapi semua yang terbaik, termulia, dan teragung darimu.

Tidakkah kau lihat Abu Bakar ash-Shiddiq ra menginfakkan seluruh hartanya di jalan Alloh dan demi dakwah Islam, lalu ketika Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”, beliau menjawab, “Aku tinggalkan bagi mereka Alloh dan Rasul-Nya.”

Tidakkah kau lihat ‘Utsman bin ‘Affan membekali seluruh pasukan perang Tabuk sendirian[2]? Coba bayangkan, seorang diri membekali seluruh pasukan perang;  senjata, perlengkapan, bekal, kuda, onta, dan kebutuhan logistiknya.. Padahal jumlah pasukan saat itu lebih dari 10.000 personil.

Coba bandingkan sumbangsih agung ini dengan realita kita hari ini. Kita bisa mendapati banyak orang islam yang kaya hari ini ~bahkan dari kalangan multazimin~ namun kita kesulitan untuk mendapati seseorang yang menanggung seluruh ‘budget’ dakwah. Saya katakan ‘dakwah’ bukan ‘jihad’. Mengapa? Sebab jihad membutuhkan harta yang tak terbatas.

Sesungguhnya Islam membutuhkan orang yang memberikan segalanya untuk Diennya; kehidupannya, waktunya, hartanya, tenaganya, ruhnya, rumahnya, mobilnya, dan semua yang dimilikinya. Kita menghendaki seseorang yang ‘menjual dirinya kepada Alloh dengan keutuhan makna kalimat ini. Kita menghendaki seseorang yang setiap harinya membawa sesuatu yang baru untuk dipersembahkan kepada Islam.

Selayaknya setiap muslim bertanya kepada dirinya sendiri setiap waktu…

Berapa orang yang telah mendapatkan hidayah dari Alloh dengan perantara dirinya pekan ini?

Berapa desa yang telah dimasukinya guna menyeru penduduknya kepada Alloh? 

Sudahkah kerabat dekat, tetangga, dan kedua orang tua didakwahi?

Adakah langkah ini maju menuju pemahaman dan pengamalan Islam yang lebih baik?

Berapa banyak harta yang telah diinfakkan bagi kaum muslimin di jalan Alloh dalam sepekan ini?

Berapa banyak keluarga dari keluarga mereka yang tengah diuji sudah mendapatkan bantuan; tenaga, harta, materi, dan dorongan moral?

Berapa banyak keluarga syuhada yang telah dipenuhi kebutuhannya?

Berapa malam dihabiskan untuk memikirkan amal Islami secara umum, di kota atau desa tempat tinggal secara khusus? Atau kota dan desa terdekat?

Berapa kali telah beramar makruf nahi munkar?

Berapa kali telah berperang menghadapi musuh-musuh Islam dan meninggalkan sesuatu yang berarti pada mereka?!

Berapa kali memperjuangkan hukum Alloh dan membela kaum muslimin; darah dan kehormatan mereka?

Berapa kali mengunjungi orang sakit dan mengajak mereka kepada Islam? Atau memperbaiki hubungan yang renggang antara dua orang yang tengah berseteru? Atau mengunjungi ikhwah fillah? Atau menyerunya kepada Alloh dalam pekan ini?… Dan masih banyak lagi pertanyaan untuk berintrospeksi dari waktu ke waktu.

Dengan menjawab secara jujur, Anda akan tahu seberapa serius kelalaian dan peremehan yang Anda lakukan berkenaan dengan hak Alloh Dan dengan itu pula Anda dapat mencoba untuk memperbaikinya sebelum Alloh terlanjur menjatuhkan hukuman-Nya kepadamu dan menghalangimu dari kemuliaan beramal bagi dien-Nya dan menjadi bagian dari jalan aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Alloh dengan bashirah. (QS. Yusuf: 108) dan jalan dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mengharapkan keridhaan Alloh’.(QS. Al-Baqarah: 207)

Bagaimana pendapat anda jika ada seorang buruh pabrik, ia tidak mengerjakan apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa, kerjanya cuma mengisi daftar hadir di pagi hari lalu pulang di sore hari. Ia tidak menghabiskan waktunya di pabrik bersama teman-temannya yang bekerja dengan giat penuh semangat. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh pemilik pabrik terhadap buruh yang satu ini? Pasti ia akan memecatnya seketika.. begitu pun dengan ikhwah yang tidak memahami Islam selain memakai baju gamis dan memanjangkan jenggot, ia pasif dan tidak mempersembahkan sesuatu pun untuk Islam, kalau pun memberi hanya sedikit atau yang tidak baik..

Segelintir tokoh dan ikhwah yang aktif beramal islami dengan giat dan sungguh-sungguh, tidak akan pernah mampu menegakkan daulah Islam sendirian, seberapa pun usaha dan tenaga yang mereka kerahkan. Pun tidak akan mampu mengemban seluruh beban amal islami di negeri yang luas ini. Apalagi semuanya tahu tindakan yang diambil oleh thaghut untuk menghadapi para aktivis Islam. Tindakan yang menjadikan sekian ikhwah dihadapkan pada ujian yang berat dari waktu ke waktu, sehingga mereka meninggalkan ruangan kosong yang semestinya diisi. Operasi yang mereka lakukan membuat gerakan ikhwah tersendat dan terbatas, mengharuskan setiap ikhwah untuk lebih mengerahkan tenaga lagi, lebih meningkatkan diri dalam medan amal islami dan mengupayakan sumbangsih supaya ia lebih mampu mengemban tanggung jawab, tanggung jawab amal Islami, dan belajar bagaimana berdakwah, mentarbiyah, menegakkan hisbah, jihad, dan menggerakkan orang lain, dan semua skill yang dibutuhkan.

Seorang ikhwah selayaknya tidak berdiam diri di rumah, mengandalkan orang lain yang akan mengambil peran itu. Sebab siapa yang akan datang?! Semestinya ia berupaya ~semampunya~ untuk melaksanakan berbagai bentuk amal islami semuanya dengan semangat, giat, kuat, responsif, tekun, dan serius.

Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah untuk Nabi kita Muhammad SAW beserta keluarga, dan sahabatnya. Aamiin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Wallahul muwaffiq.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ