Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Khutbah Idul Fithri 1438 H: "Menyatukan Umat Untuk Kemenangan Islam"


Materi Khutbah Idul Fithri 1438 H ini dikeluarkan oleh

Amir Jama'ah Ansharusy Syari'ah - Ustadz Mochammad Achwan

Download File Pdf:

 

Menyatukan Umat Untuk Kemenangan Islam

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا      وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا     وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  وَاللهُ أَكْبَرُ   اَللهُ أَكْبَرُ    وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنْ ضَيِّقِ الدُّنْيَا وَالْخُسْرَانِ فِي الْآخِرَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ

وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

قَال اللهُ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بَعْدَ أَنْ أَعُوْذَ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ١٠٢

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 18

أَمَّا بَعْدُ

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...

Telah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang penuh dengan ujian demi ujian. Hal ini Allah SWT tegaskan dalam Alquran:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS Al-Mulk: 2)

Ujian demi ujian ini juga telah menjadi bagian dari kehidupan orang-orang mukmin dari generasi ke generasi sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam firman-Nya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 2  وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ 3

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur (dalam keimanannya) dan mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 2-3)

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...

Demikian juga kita, umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas di negeri tercinta ini pun tidak luput dari ujian-ujian keimanan. Ujian keimanan terbesar bagi umat Islam di negeri ini adalah lepasnya mereka dari naungan hukum Allah SWT yang pada zaman dahulu, zaman kerajaan-jerajaan Islam, selama ratusan tahun pernah menaungi dan menjadi sumber kehidupan yang penuh dengan keadilan dan kesejahteraan bagi negeri tercinta ini. Kedatangan para penjajah kafir Barat telah merampas semuanya. Mereka merampas keadilan dan kesejahteraan di bawah naungan hukum Islam, kemudian menggantinya dengan kezaliman dan kesengsaaraan di bawah naungan hukum dan undang-undang buatan. Demikianlah, sampai saat ini umat Islam belum mampu untuk mengembalikan semua kejayaan masa lalu tersebut walaupun para penjajah kafir Barat telah lama hengkang terusir dari negeri ini.

Juga menjadi ujian keimanan yang sangat berat bagi umat Islam di negeri ini keadaan mereka yang terkotak-kotak dan tersekat-sekat dengan batas-batas jamaah, kelompok, dan golongan yang di atas dasar sekat-sekat tersebut mereka membangun loyalitas (wala’) dan anti loyalitas (bara’), bukan lagi membangunnya di atas dasar agama. Sesama anggota jamaah, kelompok, atau golongan merasa bersaudara, sedangkan dengan jamaah, kelompok, atau golongan lain tidak menganggapnya sebagai saudara walaupun satu agama. Keadaan ini berakibat satu sama lain tidak saling menolong, tidak saling menyapa, tidak saling mendoakan, dan bahkan yang terjadi sebaliknya: saling membenci, saling mencaci, saling bermusuhan, saling mengolok-olok, saling menjatuhkan, dan seterusnya. Keadaan ini sangat kontras dengan firman Allah SWT yang memerintahkan kepada kita agar bersatu dan tidak berpecah belah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ١٠٣

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103)

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...

Dengan kondisi umat Islam yang terpecah-pecah dan diperparah dengan sikap saling berbantah-bantahan yang mengarah pada sikap bara’ (berlepas diri) dari saudaranya sesama muslim dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang di kalangan ulama sendiri masalah-masalah tersebut diperselisihkan, menjadi semakin mudah pekerjaan musuh-musuh Islam untuk memecah belah kesatuan umat Islam yang akan berdampak pula pada lemahnya Islam itu sendiri. Padahal walaupun para ulama berselisih pendapat dalam banyak masalah ijtihadiyah, namun mereka tetap bisa menjaga nilai-nilai persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah). Jauh-jauh hari, Allah SWT telah mengingatkan keadaan seperti ini dalam firman-Nya:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ... ٤٦

“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian....” (QS Al-Anfal: 46)

Keadaan umat Islam demikian terpuruk, sedangkan tantangan yang dihadapi di negeri ini semakin hari semakin berat. Musuh-musuh Islam sudah semakin terang-terangan menampakkan gigi taringnya untuk menyingkirkan Islam dari negeri ini secara pelan-pelan. Syiar-syiar Islam dianggap sebagai kegiatan yang mengganggu ketertiban umum sehingga wajib ditiadakan dengan berbagai macam dalih diungkapkan. Para ulama, dai, dan aktivis Islam mulai diawasi untuk membatasi gerak dan aktivitasnya. Satu per satu, mereka dikriminalisasi. Perda-perda yang bernuansa syari’ah pun tidak ketinggalan dipreteli. Pelan tapi pasti, Islam di negeri ini mereka hendak padamkan dan singkirkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memang benar, seberapa banyak dan seberapa bahaya pun musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafik yang berusaha memadamkan cahaya Islam, Allah SWT menjamin bahwa segala usaha mereka akan berakhir pada kegagalan dan menjadi kerugian yang besar bagi diri mereka sendiri di dunia dan di akhirat. Allah SWT berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ٨

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS Ash-Shaf: 8)

Akan tetapi, tidak ada yang menjamin Islam dan umat Islam tidak akan hilang dari negeri ini. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Islam yang telah berjaya di Spanyol selama kurang lebih 700 tahun (711-1609 M) akhirnya hilang sama sekali dari sana. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sama sekali di benak umat Islam Spanyol waktu itu, karena Islam telah berabad-abad berkuasa dan telah mewariskan demikian banyak peradaban di sana. Islam telah menjadi agama turun-temurun dalam beberapa generasi. Dalam waktu sekejap saja Islam telah lenyap dari Spanyol. Waktu itu, umat Islam yang tidak mau murtad dibantai dan simbol-simbol Islam dimusnahkan nyaris bersih sehingga hampir tidak nampak jejak-jejak Islam yang pernah berkuasa selama 7 abad lamanya.

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...

Kita patut bersyukur kepada Allah SWT yang telah menaburkan benih-benih persatuan umat Islam di negeri ini dengan wasilah kasus penistaan agama yang sangat terkesan dibela oleh oknum-oknum yang sedang berkuasa. Antar individu umat Islam sudah mulai membuka diri masing-masing kepada, tidak lagi menutup diri dari saudaranya. Antar organisasi Islam sudah mulai menjalin komunikasi dan kerjasama untuk memenangkan Islam. Artinya, perjuangan memenangkan Islam di negeri ini belum selesai. Bahkan, sepertinya ini baru memulai. Benih-benih persatuan yang telah Allah SWT taburkan, wajib kita jaga dan kita rawat sehingga menjadi kekuatan yang dahsyat dalam rangka memenangkan Islam. Perselisihan-perselisihan yang ada di tengah-tengah umat harus mulai kita singkirkan, sebab ibarat tanaman padi, perselisihan-perselisihan tersebut adalah gulma yang akan mengganggu pertumbuhan padi dan bisa berdampak hasil panen yang kurang maksimal atau bahkan buruk.

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...

Dalam rangka semakin menyuburkan tumbuhnya bibit-bibit persatuan di tengah-tengah umat Islam, khususnya di Indonesia paling tidak ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Kesibukan masing-masing individu anggota jamaah, kelompok, atau organisasi terhadap program yang dipandang lebih utama dalam gerak perjuangannya tidak boleh menjadi sebab bagi mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban lain yang menjadi kewajiban minimal sebagai seorang muslim.

Umat Islam yang memandang bahwa amalan yang paling utama bagi jamaahnya adalah dakwah tidak boleh bodoh, misalnya, terhadap masalah akidah, fikih, halal dan haram, jihad, amar ma’ruf nahi munkar, dll walaupun dalam kadar pengetahuan yang minimal. Mereka yang bergerak di bidang amar ma’ruf nahi munkar juga tidak boleh bodoh, misalnya, terhadap masalah iman, Islam, akhlak, dakwah, cara memperbaiki hati, dll walaupun dalam kadar pengetahuan yang minimal. Mereka yang memandang bahwa amalan yang paling utama adalah menuntut ilmu juga tidak boleh bodoh terhadap masalah dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad fi sabilillah, dll. Intinya, silahkan masing-masing memiliki program utama dalam jamaahnya masing-masing, tapi jangan sampai kesibukannya dengan program-program jamaah menjadikan mereka tidak mengetahui masalah-masalah penting lainnya dalam Islam walaupun dalam kadar pengetahuan yang minimal.

Demikian juga ketika keadaan menuntut seluruh elemen umat Islam turun kelapangan untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi munkar secara bersama-sama, tidak boleh ada yang tidak berperan dengan beralasan sibuk menuntut ilmu atau alasan lainnya. Juga ketika seluruh komponen umat Islam dituntut untuk hadir berjihad fi sabilillah, tidak boleh ada yang tidak berperan karena alasan sibuk dengan program-program jamaahnya.

Kesadaran untuk saling bantu-menbantu dalam amal bersama untuk memenangkan Islam antar individu dan antar jamaah-jamaah Islam sudah saatnya untuk mulai dipupuk dan diperkuat sehingga energi umat ini bisa menjadi gelombang sunami dengan kekuatan yang sangat dahsyat yang bisa meluluh lantakkan seluruh kekuatan musuh-musuh Islam yang menghadang.

2. Membangun loyalitas (wala’) atas dasar Islam, bukan jamaah, kelompok, dan organisasi.

Umat Islam wajib dididik untuk menumbuhkan loyalitas dalam dirinya atas dasar agama. Artinya selama seorang individu, jamaah, kelompok, dan organisasi tidak keluar dari Islam maka wajib satu sama lain saling tolong-menolong dalam kebaikan, saling melengkapi dan menyempurnakan kekurangan dan kelemahan saudaranya yang lain walaupun di antara mereka ada perbedaan dalam hal metode perjuangan atau perbedaan-perbedaan pendapat yang masih bisa diterima dalam Islam. Misalnya umat Islam Indonesia yang tidak sedang berada dalam medan jihad wajib menolong saudara-saudaranya di negeri-negeri lain yang sedang berjihad sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing. Minimal membantunya dengan doa.

3. Umat Islam wajib dididik untuk tidak meremehkan usaha-usaha perjuangan Islam yang dilakukan oleh saudaranya yang tidak berada dalam satu jamaah atau organisasi dengannya. Ini adalah penyakit kronis yang telah lama menjangkiti umat Islam. Sikap meremehkan yang lain seperti ini akan memunculkan tindakan saling mengolok-olok, saling membenci, saling dengki, saling ghibah, saling menuduh, dan saling mengadu domba. Jika penyakit-penyakit ini masih bercokol di tengah-tengah umat Islam, maka jangan pernah berharap Islam bisa dimenangkan di negeri ini. Yang pasti terjadi musuh-musuh Islam akat terus berjaya dalam menjajah dan mengeksploitasi umat Islam beserta kekayaan alam di negerinya.

Rosulullah SAW senantiasa memotivasi para sahabat untuk melakukan amal sholih apapun yang bisa dilakukan sambil mendidik mereka untuk tidak meremehkan amal sholih yang dilakukan oleh saudaranya yang lain karena bisa jadi itulah yang menjadi sebab keselamatannya nanti di akhirat. Bahkan, Rasulullah SAW menebarkan ruh cinta pada kebaikan dan memuji siapapun yang melakukan kebaikan.

Alangkah indahnya jika persatuan umat Islam di negeri tercinta Indonesia ini terwujud. Walaupun masing-masing memiliki perbedaan-perbedaan yang bisa diterima di dalam Islam, akan tetapi satu sama lainnya bisa menerima perbedaan-perbedaan tersebut dengan tetap saling mencintai, saling tolong-menolong dalam kebaikan, saling menguatkan dalam perjuangan memenangkan Islam, dan saling menutupi kekurangan dan kelemahan sehingga tidak sampai nampak oleh pandangan musuh-musuh Islam. Tidak mustahil dalam keadaan seperti ini Islam akan benar-benar bangkit dari arah Timur yaitu dari negeri Indonesia tercinta kita sebagaimana telah disinyalir oleh seorang tokoh perjuangan Islam Palestina. Mudah-mudahan angan-angan kita ini dianggap sebagai doa oleh Allah SWT yang dikabulkan.

Semoga apa yang telah disampaikan dalam khutbah Idul Fitri ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Jikalau ada benarnya dalam khutbah, sungguh ini merupakan kebenaran yang datang dari Allah dan jikalau ada salah dan kekurangannya, maka itu semata-mata karena dhaifnya diri kami sendiri.

Wallahu a’lam bish showab

 

----o0o----

 

DOA

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِيْءُ مَزِيْدَةً. اللّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وآلِ إِبْرَاهِيْمَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تَمْكُرْ عَلَيْنَا وَيَسِّرْ هُدَانَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا

رَبَّنَا اجْعَلْنَا لَكَ شَاكِرِيْنَ، لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ رَاهِبِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ، إِلَيْكَ مُجِيْبِيْنَ أَوْ مُنِيْبِيْنَ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا وَاهْدِ قُلُوْبَنَا وَسَدِّدْ أَلْسِنَتِنَا وَاسْلُلْ سَحِيْمَةَ قُلُوْبِنَا

اَللّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَخُذْ بِأَيْدِيْهِمْ إِلىَ سَبِيْلِكَ وَاجْعَلْ هَوَاهُمْ تَبَعًا لِمَا جَاءَ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ وَأَرْشِدْهُمْ إِلىَ مَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِينَ

اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلمُجَاهِدِيْنَ فىِ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

اَللّهُمَّ فُكَّ أَسْرَى الْمُسْلِمِيْنَ اَللّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْحُكَّامِ الطَّوَاغِيْتِ الْمُرْتَدِّيْنَ وَاْلكَفَرَةِ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَالْخَائِنِيْنَ

اَللّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْيَهُوْدَ وَالنَّصرى

اَللّهُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَاجْعَلْهُ لَناَ إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً

 

Ya Allah penguasa Alam Semesta kekuasaan-Mu tak terbatas kasih sayang-Mu melebihi kasih sayang seorang ibu yang menyusui bayinya ampunan-Mu seluas langit dan bumi.

Hamba-hamba-Mu yang sedang berkumpul ditempat ini merengek menjerit memohon dan memanjatkan do’a kepada-Mu, kami yakin Engkau pasti mengabulkan untuk kami semua yang hina ini hamba-hamba-Mu yang sering bermaksiat kepada-Mu berlumuran noda dan dosa yang menghinakan.

Maka ampunilah ya Allah dosa-dosa kami semua minal Muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada, kami bertaubat kepada-Mu dengan taubat yang sesungguhnya

Yaa Mujiibas saailin.

                                                                             

اَللّهُمَّ ذَكِّرْناَ مَا نَسِيْناَ وَعَلِّمْناَ مِنْهُ مَا جَهِلْناَ وَارْزُقْناَ تِلاَوَتَهُ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ

رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَناَ وَصَلاَتَناَ وَرُكُوْعَناَ وَسُجُوْدَناَ وَتَحْمِيْدَناَ وَتَسْبِيْحَناَ. رَبَّناَ آتِنَا فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

1 Syawal 1438 H

Markaziyah

Jama'ah Ansharusy Syari'ah

Jakarta