Sabtu, 21 Muharram 1441 H / 21 September 2019 M

Dari RUU P-KS Hingga Disertasi Zina


                                          Dari RUU P-KS Hingga Disertasi Zina

Sebuah Upaya Sistemik Kelompok Pembenci Agama Untuk Menghancurkan Moral Bangsa Indonesia

                 Oleh: Abdul Rochim Ba'asyir | Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah

 

"Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan. Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, tertarik kepada bisikan itu, dan menyenanginya, dan agar mereka melakukan apa yang biasa mereka lakukan. QS Al-Anam 112-113

Sebuah disertasi berjudul "Konsep Milk Al Yamin: Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital. Anggota Majelis Ulama Indonesia Komisi Dakwah Sukoharjo, Jawa Tengah tahun 2005" yang ditulis mahasiswa S3 Universitas Islam (UIN) Yogyakarta bernama Abdul Aziz menuai kontroversi. Pasalnya, disertasi tersebut menyampaikan bahwa Islam membolehkan hubungan seks di luar pernikahan.

Dalam pemberitaan Tempo.co tanggal 2 September 2019, Abdul Aziz mengatakan hubungan intim di luar nikah tidak melanggar hukum Islam sesuai tafsir Muhammad Syahrur. Ia berpendapat, di dalam Al-Qur'an tidak ada definisi zina yang ada hanya larangan untuk berzina.

Disertarsi tersebut ia tulis atas dasar kekhawatiran terhadap kriminalisasi hubungan intim non marital konsensual. Yaitu, hubungan seksual di luar pernikahan yang dilandasi persetujuan. Dengan kata lain, Abdul Aziz menolak adanya hukum bagi pelaku zina. Ia berpendapat, hukum razam itu adalah tindakan kriminal.

Meski mendapat kritikan dan masukan dari para penguji dan promotor disertasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, disertasi tersebut tetap diloloskan dan dinilai sangat memuaskan. Abdul Aziz pun mendapat gelar doktor dengan disertasi tersebut.

Akan tetapi kami melihat disertasi tersebut bukanlah sebuah karya ilmiah karena kesimpulannya adalah kesesatan dan kebatilan. Disertasi ini bukan ilmu karena tidak sama sekali memberi manfaat bagi umat manusia. Disertasi itu hanyalah pemaksaan logika penulisnya untuk melegitimasi pemikirannya yang sekuler. Maka aneh sekali mengapa disertasi seperti ini bisa diloloskan oleh para penguji?

Bagaimana mungkin ayat-ayat tentang Milkul Yamin (perbudakan) bisa berujung pada penghalalan seks di luar nikah? Penulis disertasi berarti menganggap seluruh anak gadis adalah budak yang dapat dijadikan sebagai pemuas nafsu dengan syarat ada kesepakatan. Ini adalah logika ngawur. Logika tersebut justru bertentangan dengan syariat Islam yang melawan perbudakan.

Seandainya hubungan seksual dengan Milkul Yamin itu sama dengan pembolehan hubungan seksual nonmarital (di luar pernikahan) mana mungkin Rasulullah memberlakukan hukuman bagi pelaku zina. Ini jelas adalah subhat.

Lalu siapakah Muhammad Syahrur, penulis kitab fikih Milkul Yamin yang dijadikan rujukan oleh penulis disertasi itu?

Syeikh Al-Bani, rahimahullah pada tahun 90-an telah menyampaikan pandangannya terhadap Muhammad Syahrur. Syeikh Al-Bani mengungkapkan bahwa ia mengenal Muhammad Syahrur. Menurutnya, Muhammad Syahrur adalah seorang atheis komunis.

Syeikh Al-Bani mengatakan, "Namanya Muhammad Syahrur, saya mengetahuinya, dia itu Syuyu'i (komunis), dia pergi ke Rusia dan belajar di sana. Ketika kembali saya berbicara dengannya tentang sebagian masalah maka menjadi jelas bagi saya bahwa ternyata dia itu mulhid (atheis)."

Kita tahu bahwa orang-orang atheis komunis di Indonesia sedang gencar-gencarnya untuk menghalalkan perbuatan zina untuk merusak moral bangsa ini. Dan efek dari longgarnya hukum-hukum perzinahan ini sangat besar. Ia akan membawa rusaknya keturunan, keharmonisan keluarga, anak-anak yang lahir tanpa orangtua yang jelas, penyakit-penyakit mematikan, dll.

Sebelum hebohnya kasus disertasi soal legalisasi zina ini, bangsa kita juga sedang dibawah ancaman pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). RUU ini berpotensi melegalkan perzinahan, aborsi dan penyimpangan seksual. Dalam RUU tersebut, seorang suami yang memaksa istrinya untuk berhubungan intim juga dapat dipidanakan dengan alasan kekerasan seksual.

Kelompok pro gender yang mengajukan RUU ini pada hakikatnya adalah pro demokrasi liberal. Mereka menganggap HAM adalah segalanya yang wajib dijunjung.  Mereka pun beranggapan perempuan adalah kelompok minor yang perlu diperjuangkan semua kepentingannya.  Atas nama HAM dan “kepentingan”  para perempuan inilah mereka terus menekan dan mendesak DPR untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Padahal jelas sekali pengaruh ide-ide Barat-liberal yang banyak menghasut dan mempengaruhi mereka.

Nampaknya, munculnya disertasi Abdul Aziz itu melengkapi instrumen yang dibutuhkan untuk mengesahkan RUU tersebut. Instrumen-instrumen untuk memberi kesan bahwa RUU itu mempunyai landasan "ilmiah". Padahal itu tidak ilmiah sama sekali.

Allah SWT telah mengatur alam semesta ini dengan ilmu dan ilmu Allah itu selalu benar dan menjadi kebenaran. Maka apabila ada yang bertentangan dengan ilmu Allah tersebut maka itu sudah pasti salah dan kesalahan. Oleh karena itu, manusia yang menentang hukum Allah ia pasti salah.

Seandainya Allah keliru atau salah dalam menentukan hukum-hukumnya, alam semesta ini sudah hancur dari dulu. Akan tetapi alam semesta tetap berjalan dalam keteraturan, itu membuktikan bahwa Allah itu benar dan mengatur alam semesta ini dengan ilmuNya yang penuh dengan kebenaran. Bukankah tidak ada setelah kebenaran selain kebatilan?

Maka kita semakin yakin bahwa ini adalah upaya untuk memuluskan agar RUU itu disahkan sehingga bangsa Indonesia akan masuk pada era keburukan moral sebagaimana kita lihat di bangsa-bangsa lain. Untuk apa hidup di tengah kemajuan teknologi atau ekonomi jika moralnya rusak?

Untuk itu, marilah kita istiqomah pada syariat Allah SWT, kita amalkan dan tegakkan ajaran yang mulia ini pada diri, keluarga, dan masyarakat kita hingga Allah SWT memberikan pertolonganNya kepada kita. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membiarkan kita hancur apabila kita berusaha untuk menegakkan hukum-hukumNya, tidak mungkin akan mendzalimi kita walaupun sedang ada jutaan makar dari musuh-musuh Allah untuk menghancurkan kita. Jadi tidak usah khawatir, kembali saja kepada Al-Quran dan syariatNya maka Insya Alloh kebaikan dan barokah itu akan datang kepada kita.

Kita juga harus mewaspadai setan-setan berbentuk manusia yang terus berusaha mengecoh umat ini dengan tipuan-tipuannya. Mereka dihiasai dengan gelar-gelar indah seperti profesor, doktor, dll akan tetapi semua itu hanyalah topeng untuk menggoyahkan iman umat Islam.

Jangan tertipu kepada mereka, kembalilah dan taatilah komando para ulama, karena sungguh kebaikan kita ada pada mereka yang membimbing kita untuk senantiasa taat kepada Allah SWT.