Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Kesungguhan dan Kehati-hatian Dalam Menjaga Diri Dari Dosa


Segala puji milik Alloh dan semoga sholawat dan salam tercurahkan kepada Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam, kepada karib kerabat beliau dan kepada siapa yang selalu menolongnya.

Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barang siapa yang sanggup memberi jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada diantara dua bibirnya dan apa yang ada diantara kedua kakinya, niscaya aku jamin baginya surga.” (HR. Al-Bukhori dan At-Tirmidzi)

Satu jaminan dari seorang Nabi dan Rosul yang mana beliau adalah sosok manusia yang ucapannya bukan dari hawa nafsu, sebagai sebuah janji yang benar (yang pasti akan ditepati) diberikan kepada umatnya yang dapat menjaga dirinya di atas kesucian menjaga (lisan dan farajnya) dengan kompensasi yang demikian besar yaitu jaminan masuk surga.

Kalau ditanyakan kepada seorang ahli ilmu yang menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar dan mengajar dan kalau ditanyakan kepada seorang ahli ibadah yang berusaha keras dalam beribadah kepada Alloh dan kalau ditanyakan kepada seorang da’i yang siang-malam menegakkan dakwah, dan kalau ditanyakan kepada seorang mujahid yang begitu murahnya ia menghargai/menjual dirinya dalam berjuang dijalan Alloh. Mengapa mereka lakukan seperti itu? Tentu jawaban mereka semua adalah: “Yang kami inginkan tiada lain adalah surga”. Itulah harapan semua orang yang beriman kepada Alloh dengan berbagai jalan yang ditempuh menuju ridho-Nya. Itulah buah yang dapat dipetik dari kesungguhan dan kehati-hatian dalam menjaga dirinya (al-iffah), agar tidak terjerumus ke dalam jerat-jerat syahwat dan hawa nafsu.

Senantiasa waspada dan berhati-hati karena manusia akan menghadapi godaan tipu daya syaithon yang terkutuk. Sungguh syaithon telah bertekad akan menyesatkan manusia dengan berbagai cara. Pada saat syaithon menggiring manusia ke dalam sebuah kemaksiatan meskipun kecil cukuplah baginya sebagai starting point (langkah awal) untuk menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan yang lebih besar.

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (QS. Al-A’raaf: 16-17)

Bahkan ketika Rosululloh shallallahu 'alaihi wasallam telah berhasil membersihkan aqidah penduduk Mekkah sampai syaithon telah berputus asa untuk disembah dia berupaya menggoda manusia melalui hal-hal yang dianggap remeh.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma ia berkata: Sesungguhnya Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah dihadapan manusia pada haji wada’ beliau bersabda: “Sesungguhnya syaithon telah putus asa untuk disembah di negerimu (Mekkah) akan tetapi ia rela kalau ditaati selainnya yaitu dari amalan-amalan yang dianggap remeh dari amal-amal kalian, maka berhati-hatilah! Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian sesuatu jika kalian berpegang teguh dengannya sekali-kali tidak akan tersesat selamanya yaitu Kitabulloh dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Dari hal-hal yang dianggap remeh, sepele, dan kecil inilah bibit pertahanan iman seseorang yang berujung di lembah kehinaan bergelimang dalam dosa-dosa besar. Tidak sedikit orang saling bunuh gara-gara keseleo lidah. Tidak jarang dari zina mata sampai kepada bubarnya rumah tangga.

Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan sosok seorang mukmin seperti dalam sabdanya:

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam bersabda orang mukmin itu bukanlah seorang yang suka mencela dan suka mengutuk dan pelaku keji dan yang suka berkata kotor (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim dan berkata: Hadits shohih berdasarkan syarat Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Komentar Anas bin Malik radhiallahu 'anhu pada masa masih tersisa sebagian sahabat dan tabi’in:

Dari Anas radhiallahu 'anhu, dia berkata: “Sesungguhnya kalian telah melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan kalian lebih lembut dari sehelai rambut, sementara kami di zaman Rasululloh shallallahu 'alaihi wasallam menggolongkannya termasuk perbuatan yang menghancurkan (agama).” (HR. Al-Bukhori)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan tentang dosa-dosa kecil, “Hindarilah olehmu dosa-dosa kecil yang diremehkan, karena sesungguhnya perumpamaan hal itu bagaikan sekelompok kaum yang singgah di sebuah lembah, yang ini membawa satu batang ranting dan yang lain membawa satu batang ranting, hingga merekapun mampu memanggang roti mereka. Dan sesungguhnya dosa-dosa yang diremehkan itu bila dilakukan oleh seseorang, maka hal itu akan membinasakannya” (HR. Ahmad)

Lebih dari itu mari kita perhatikan pesan Az-Zahid bin Sa’ad rahimahullah ia berkata: “Janganlah kamu melihat kepada kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada Maha Besarnya Dzat yang kamu tentang / maksiati (yakni Alloh)”.

Yakinlah bahwa kalau kita dapat menjauhi dosa-dosa besar (kabair), Alloh akan mengampuni dosa-dosa kita dan Dia (Alloh) akan menempatkan kita pada tempat yang mulia.

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang kamu dilarang dari padanya, niscaya Kami ampuni dosa-dosa kalian dan Kami tempatkan kalian pada tempat yang mulia.” (QS. An-Nisaa’: 31)

Semoga kita menjadi orang-orang yang dijaga Alloh dari tipu daya syaithon dan menjadi orang yang selalu menjaga diri dari hal-hal yang tidak terpuji (al-'iffah) dan mendapatkan maqom (kedudukan) yang mulia di sisi-Nya. Aamiin. (red/ansharusyariah.com)