Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Keutamaan Meninggalkan Debat Kusir


 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بَاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسِيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يَضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal: 46)

وَقَالَ تَعَالَى: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu karena nikmat Allah kalian menjadi orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103)

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu, berkata: Telah bersabda Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam:

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي رَبَضِ الجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبَيْتٍ فِي وَسَطِ الجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبَيْتٍ فِي أَعْلَى الجنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di surga bagian bawah bagi siapa yang meninggalkan perdebatan sekalipun dia benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di surga bagian tengah bagi siapa yang meninggalkan kebohongan sekalipun sedang bergurau. Dan aku menjamin sebuah rumah di surga bagian atasnya bagi siapa yang mulia akhlaknya. (HR. Abu Dawud no. 4800 dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1464)

Hadits ini menyebutkan tentang tiga kelompok orang yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan memenuhi persyaratannya. Kelompok pertama dijamin oleh Rasulullah mendapatkan rumah di surga bagian bawah dengan syarat meninggalkan al-mira’a (perdebatan) sekalipun dia benar. Kelompok kedua dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan rumah di surga bagian tengah dengan syarat meninggalkan kebohongan sekalipun sedang bergurau. Kelompok ketiga dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan rumah di surga bagian atasnya dengan syarat menghiasi diri dengan akhlak mulia.

Apakah yang dimaksud al-mira’a? Al-mira’a berbeda dengan al-mujadalah yang dalam bahasa kita juga diartikan dengan berdebat. Al-mira’a adalah berdebat dilandasi sikap melecehkan atau meremehkan lawan bicara atau yang biasa disebut dengan debat kusir. Sedangkan al-mujadalah adalah berdebat dengan saling mengajukan hujjah (argumentasi) dan saling menghormati lawan bicara. Al-mujadalah boleh dilakukan, bahkan menjadi keharusan untuk mencari kebenaran dari dua perkara yang diperselisihkan. Al-mujadalah banyak dilakukan oleh para imam madzhab dan para ulama setelah mereka, mudah-mudahan Allah merahmati mereka semua. Dengan adanya al-mujadalah ini maka kebenaran bisa tersingkap dan kesalahan bisa diluruskan.

Sedangkan al-mira’a wajib dihindari oleh setiap muslim. Berdasarkan realita kehidupan yang ada, al-mira’a hanya menjadikan pelakunya berhati keras, ujub, sombong, dan semakin jauh dari al-haq. Perdebatan yang dilakukan bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenangkan diri dan menjatuhkan lawan. Ketika lawan bicara berhasil dijatuhkan dan dilecehkan maka puaslah hatinya, walaupun dia harus mengarang cerita dusta, mendatangkan bukti-bukti bohong, mengangkat saksi palsu, dan lain sebagainya. Bisa jadi perilaku al-mira’a inilah yang disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sifat keempat dari empat sifat munafik dalam hadits berikut,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafik tulen. Barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifak hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanah dia khianat, jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru curang.” (HR Bukhari no. 34 dan Muslim no. 58)

Nifak adalah penyakit hati yang wajib dijauhi oleh setiap muslim agar hatinya sehat dan dia tetap berada dalam bimbingan Allah subhanahu wata’ala. Jika penyakit hati tersebut sudah mulai bercokol dalam hati seorang muslim dan dia tidak berusaha untuk membersihkannya maka yang terjadi adalah Allah akan menjauhkannya dari al-haq sedikit demi sedikit. Jika dalam keadaan seperti itu dia tetap tidak berusaha membersihkan hatinya maka bisa jadi lambat-laun dia akan keluar dari al-haq (murtad dari Islam), wal iyaadzu billaah. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, oleh karena itulah Allah menambahkan penyakit pada mereka dan mereka akan mendapat siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.(QS Al-Baqarah: 10)

Dan berfirman tentang Bani Israil,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS Ash-Shaff: 5)

Dua ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang disasatkan oleh Allah adalah orang-orang yang telah mengusahakan sebab-sebab kesesatan dan dia tidak bertaubat darinya. Oleh karena itu, ini menjadi pelajaran berharga bagi kita. Mari kita bersihkan hati kita dari penyakit hati, terutama penyakit nifak. Mudah-mudahan ketika secara tiba-tiba Allah memanggil kita, kita bisa menghadap-Nya dalam keadaan membawa hati yang bersih dan kita layak untuk disambut oleh Allah ‘azza wa jalla dengan ucapan,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS Al-Fajr: 27-30)

Marilah kita intropeksi diri untuk selanjutnya memotivasi diri kita masing-masing untuk berusaha sungguh-sungguh agar mendapatkan tiga keutamaan yang disebutkan dalam hadits di atas. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)!” (QS Al-Hasyr: 18)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala meridhai dan membantu terealisasinya niat-niat baik kita. Aamiin. (izzam/ansharusyariah.com)