Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Khutbah Idul Adha 1436 H - Ustadz Muhammad Achwan


KHUTBAH IDUL ADHA 1436 H

 

 

“Kepemimpinan Adalah Anugerah Allah Semata”

 

10 Dzulhijjah 1436 H

 

Ustadz Muhammad Achwan

Amir Jamaah Ansharusy Syari’ah

 

   اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، العَزِيْزِ الْغَفَّارِ، مُقَدِّرِ اْلأَقْدَارِ، مُصَرِّفِ اْلأُمُوْرِ وَمُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارِ، تَبْصِرَةً لاُولِي اْلأَلبَابِ وَاْلأَبْصَارِ، هُوَ الَّذِي أَيْقَظَ مِنْ خَلْقِهِ مَنِ اصْطَفَى فَأَدْخَلَهُ فِيْ جُمْلَةِ اْلأَخْيَارِ، وَوَفَّقَ مَنِ اجْتَبَاهُ مِنْ عَبِيْدِهِ فَجَعَلَهُ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ اْلأَبْرَارِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُالْعَظِيْمُ، اَلْوَاحِدُ الصَّمَّدُ الْعَزِيْزُ الحَكِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَفْضَلُ الْمَخْلُوْقِـيْنَ، وَأَكْرَمُ السَّابِـقـيْنَ وَاللَّاحِقِيْنَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِهِ وَأَعْظَمِ دَرَجَةٍ عِنْدَ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِهََِّ الْحَمْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِـيْرًا، وَالْحَمْدُ لِهََِد كَثِـيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِهَِبْ الْحَمْدُ

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ١٠٢

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ٧٠ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ٧١

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ ١٢٤ ١٢٤

Kaum Muslimin Rohimakumullah !

Setelah kita panjatkan segala puja dan puji kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang memang sepatutnya hanya diberikan kepada-Nya, kemudian ucapan sholawat dan salam atas junjungan kita, teladan kita, dan uswah kita, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga beliau, shahabat beliau, dan siapa saja yang mengikuti beliau dengan baik. Marilah kita bersyukur kepada Allah atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita, berupa nikmat Iman dan Islam yang tertanam dalam dada kita semua.

Hari ini, 10 Dzulhijjah 1436 H, kita dan kaum Muslimin dimana saja berada merayakan Idul Adha dan sebagian saudara kita menunaikan ibadah haji di Makkatul Mukarromah.

Idul Adha, penyembelihan hewan qurban, dan serangkaian ibadah haji adalah syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Sebagian besar ritual diatas tidak terpisahkan dengan perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihis salam beserta keluarganya.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah Kholilullah (kekasih Allah). Kisah hidupnya Allah abadikan dalam rangkaian ibadah haji dan hari Raya Qurban. Ia menjadi ikutan, teladan, uswah hasanah, sosok yang selalu dikenang manusia sepanjang zaman. Inilah buah dari ketaatan beliau atas perintah-perintah dan larangan Rabbnya yang dilaksanakan dengan segera (langsung) dan sebaik-baiknya ( فَأَدَّاهَا خَيْرَ اْلأَدَاءِ). Hal ini sebagaimana diberitakan oleh Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 124,

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ ١٢٤

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman,‘Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata,‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman,‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.’”

Sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam terhadap perintah dan larangan Rabbnya ia laksanakan dengan segera dan sebaik-baiknya, sekalipun perintah itu sangat berat dan terkadang tidak masuk akal. Betapa tidak …! Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang sholeh, setelah menginjak dewasa, justru ada perintah untuk menyembelihnya. Di lain waktu Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah untuk menyeru manusia berhaji, padahal ia sedang berada di padang pasir dan tidak ada satupun manusia ada disekitarnya. Inilah sosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang selalu menyempurnakan janji. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ ٣٧

Artinya : “Dan lembaran-lembaran Ibrahim, seorang yang selalu menyempurnakan janji ?” (QS An-Najm [53] : 37)

Tentang makna ayat ini, Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu menjelaskan, “Yakni menyempurnakan janji kepada Allah dengan melaksanakan tugas menyampaikan risalah.”

Qotadah radhiallahu ‘anhu menjelaskan, “Yakni menaati Allah dan menyampaikan risalah-Nya kepada semua makhluk.”

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah menunaikan seluruh perintah dan menjauhi semua larangan, serta menyampaikan risalah secara lengkap dan sempurna. Dengan demikian dia menjadi pemimpin umat manusia yang akan menjadi panutan dalam seluruh keadaan, ucapan, dan perbuatannya.

Dan tidak berlebihan jika dikatakan, “Kepemimpinan adalah anugerah Allah semata.”

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِهَِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Arsyadakumullah !

Lebih jauh marilah kita kaji sifat Nabi Ibrahim yang telah dianugerahi oleh Allah sebagai pelopor umat manusia,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٢٠ شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ١٢١ وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ ١٢٢ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ١٢٣

Artinya : “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif, dan sekali-kali bukanlah Dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad),‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif!’ dan bukanlah Dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.” (QS An-Nahl [16] : 120-123)

Ayat ini menjelaskan tentang beberapa sifat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, diantaranya :

1. Kenapa Nabi Ibrahim disebut sebagai umatyang artinya orang banyak ? Bisa juga disebut Imam, pengajar kebaikan (mu’allim). Ia dinamakan umat karena pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam terdapat sifat-sifat keutamaan dan kesempurnaan.

2. Beliau juga disebut Qonit yaitu orang yang selalu taat kepada Allah atau selalu menegakkan perintah-Nya.

3. Yang Hanîf yaitu orang yang menerima segala keputusan Allah dan berpaling selain dari-Nya. Ia tidak termasuk orang-orang yang musyrik, akan tetapi orang yang bertauhid. Orang yang berpaling dari jalan hidup yang batil kepada jalan hidup yang haq (benar). Menegakkan Dien secara utuh dan tidak menyimpang.

4. Selalu mensyukuri nikmat yaitu sesungguhnya Nabi Ibrahim selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah.

5. Yang dipilih Allah dan diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ ١٣

Artinya : “… Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS Asy-Syura [42]: 13)

6. Diberi kebaikan didunia Allah mencintai Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan dicintai semua manusia dan dicintai orang-orang yang bertauhid. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ ٨٤

Artinya : “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS Asy-Syu’ara [26] : 84)

7. Diakhirat ia digolongkan dengan orang-orang yang sholeh Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ ٨٣

Artinya : “(Ibrahim berdoa),‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh.” (QS Asy-Syu’ara [26] : 83)

Demikianlah sifat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, maka Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam agar mengikuti jejak dan langkah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya memperoleh keutamaan-keutamaan sebagaimana Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis salam.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِهَِ الْحَمْدُ

Ikhwany fiddin hadakumullah !

Marilah kita ber‘azzam untuk meneladani uswah kita Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan setelah ber’azzam selayaknya kita bertawakkal kepada Allah, karena Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩

Artinya : “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran [3] : 159)

عَنِابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، قَالَهَا إِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ قَالُوْا: إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَانًا، وَقَالُوْا: حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

Artinya : “Dari Ibnu ‘Abbas radhialallahu ‘anhu cukuplah Allah sebaik-baik tempat berlindung (bersandar). Nabi Ibrahim mengucapkannya tatkala ia dilempar ke dalam api dan juga diucapkan oleh Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tatkala mereka (orang-orang musyrik) berkata, ‘Sesungguhnya manusia telah berkumpul untuk memerangi kalian, maka takutlah pada mereka.’Maka hal itu menambahkan iman kepada mereka sambil berkata, ‘Cukuplah Allah sebaik-baik tempat bersandar.'" (HR. Bukhari)

Bertawakkal kepada Allah artinya menyerahkan segala upaya kita kepada-Nya, apapun yang terjadi terserah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Makar kuffâr (orang-orang kafir) membakar Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ternyata tidak dapat mencelakakannya, karena beliau telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan Allah melindungi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan cara-Nya.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ ٦٩

Artinya : “Kami berfirman,‘Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahîm." (QS Al-Anbiya’ [21] : 69)

Tawakal ‘alallah adalah modal utama dalam mengemban amanat Allah, karena kuffâr dan munafiqin selalu berupaya membuat makar terhadap orang-orang yang beriman. Mari kita perhatikan berita tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam ketika berhadapan dengan kaumnya,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ ٧١

Artinya : “Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu Dia berkata kepada kaumnya,‘Hai kaumku, jika terasa berat bagi kalian tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepada kalian) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusan kalian dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutu kalian (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusan kalian itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku”. (QS. Yunus [10] : 71)

Disamping bertawakal kepada Allah kita harus tetap waspada terhadap persekongkolan mereka. Tentu saja di setiap umat dan di setiap kurun waktu sampai akhir zaman selalu ada golongan yang merencanakan makar jahat terhadap para penyeru kebenaran dengan cara mengusirnya, memenjarakannya, bahkan membunuhnyadengan alasan yang batil untuk menutupi dan melenyapkan kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِن بَعْدِهِمْ ۖ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ ۖ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ ٥ وَكَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ ٦

Artinya : “Sebelum mereka, kaum Nûh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (Rasul).Tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap Rasul mereka untuk menawannya. Mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu, karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku! Demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.” (QS Al-Mu’min [40] : 5-6)

Akhir-akhir ini kita mendengar celotehan orang-orang yang tidak senang dengan ajaran Islam yang lurus.Ketika ada sekelompok kaum Muslimin yang ingin kembali kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dalam mengamalkan Islam dituding sebagai kelompok yang berfaham Arabisme dan langkah-langkah yang ditempuh untuk itu dikatakan Arabisasi, bukan Islamisasi. Ketika ada seorang muslim memelihara jenggot karena mengikuti anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dikatakan orang goblok dan semakin panjang jenggot, semakin goblok karena jenggot itu menyebabkan kebodohan. Mereka juga mengoceh bahwa umat Islam di Indonesia ini harusnya mengamalkan ajaran Islam Nusantara, Islam dengan cita rasa Nusantara. Dan celotehan-celotehan lain yang menyinggung dan menyakiti hati umat Islam. Bukankah ucapan-ucapan melecehkan Islam dan ajarannya termasuk dalam pengertian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ

Artinya : “Membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran.”

Diriwayatkan dari Abdul Qosim Thabrani, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَعَانَ بَاطِلًا لِيُدْحِضَ بِبَاطِلِهِ حَقًّا، فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِ اللَّهِ

Artinya : “Barangsiapa menolong kebatilan untuk melenyapkan kebenaran dengan kebatilan itu maka sungguh perlindungan Allah dan perlindungan Rasul-Nya telah terlepas darinya.” (HR Hakim dalam Al-Mustadrak no. 1734 dan menilainya sebagai hadits dengan sanad yang shahih dan Imam Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya)

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِهَِ الْحَمْدُ

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah !

Sungguh beruntunglah mereka yang selalu berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya ditengah-tengah tersebar luasnya fitnah dan paham-paham yang telah menyimpang dan menyesatkan manusia dari jalan yang benar.

Mengakhiri khutbah ini kami berpesan pada diri kami sendiri dan kaum Muslimin pada umumnya dengan menyampaikan ayat Allah dalam Qur’an surah Al-Baqoroh [2] : 151-152,

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ ١٥١ فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ ١٥٢

Artinya : “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada kalian), Kami telah mengutus kepada kalian Rasul yang berasal dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian, mensucikan kalian, mengajarkan kepada Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada kalian, dan mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui. Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepada kalian dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.”

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman akan nikmat yang telah dikaruniakan kepada mereka yakni diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan mereka dari berbagai keburukan, kemusyrikan dan kejahiliyahan (kegelapan) kepada kehidupan yang terang benderang dalam Islam.  

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menuntut agar orang yang beriman selalu mengingat-Nya dan bersyukur dan tidak mengkufuri (nikmat)Nya.

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا ٨

Artinya : “Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS Al-Muzammil [73] : 8)

Mengingat Allah dan beribadah dengan sepenuh hati tentu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah karena hal tersebut akan lebih menguatkan iman.

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِّنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا ٦٦

Artinya : “Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka,‘Bunuhlah diri kalian atau keluarlah kalian dari kampung kalian’, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS An-Nisa’ [4] : 66)

Demikian juga bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yakni dengan beramal dan melaksanakan perintah.

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ١٣

Artinya : “Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah) dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba’ [34] : 13)

Semoga kita diberikan ketetapan hati agar kita tergolong orang-orang yang selalu mengingat dan bersyukur kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

 

DOA

 

اَلْحَمْدُ لِهَِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِيْءُ مَزِيْدَةً، اَللَّهُمَّ رَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وآلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاجَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَخُذْ بِأَيْدِيْهِمْ إِلىَ سَبِيْلِكَ، وَاجْعَلْ هَوَاهُمْ تَبَعًا لِمَا جَاءَ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَرْشِدْهُمْ إِلَى مَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِينَ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِيْنَ وَالْمُجَاهِدِينَ فِي الشِّامِ وَفِي الْعِرَاقِ وفِي مِصْرَ وَفِي فِلِسْطِيْنَ وَفِي الصُّوْمَالِ وَفِي أَفْغاَنِسْتَانَ وَفِي أَنْدُونِسِيَا وَفِي كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَأَنْزِلِ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَوَحِّدْ صُفُوفَهُمْ

اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُوْدَ وَإِسْرَآئِيْلَ وَأَمْرِيْكَا وَالطَواَغِيْتَ

وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رِبِّ الْعَالَمِيْنَ

۞۞۞۞۞