Senin, 1 Rabiul Awwal 1439 H / 20 November 2017 M

Khutbah Idul Fitri 1437 H - Ustadz Muhammad Achwan


KHUTBAH IEDUL FITHRI 1 Syawal 1437 H

Ustadz Muhammad Achwan

 

 

-Mewaspadai Persekongkolan-

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا      وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا     وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  وَاللهُ أَكْبَرُ   اَللهُ أَكْبَرُ    وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ، وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ

اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ١٠٢

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ٧٠  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ٧١

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ:

مَا يُجَٰدِلُ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَا يَغۡرُرۡكَ تَقَلُّبُهُمۡ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٤كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۖ وَهَمَّتۡ كُلُّ أُمَّةِۢ بِرَسُولِهِمۡ لِيَأۡخُذُوهُۖ وَجَٰدَلُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ فَأَخَذۡتُهُمۡۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ٥وَكَذَٰلِكَ حَقَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ٦

أَمَّا بَعْدُ:

 

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ma’aasyirol Muslimiin Rahimakumullaah !

 

Takbir, Tahmid, Tahlil dan Tasbih dikumandangkan tiada henti. Dosa-dosa telah berguguran seiring berlalunya bulan suci Ramadhan yang agung penuh berkah dan ampunan Allah Yang Maha Pengampun.

Pagi ini (1 Syawal 1437 H) kaum Muslimin merayakan hari kemenangan, hari penghapusan dosa dan hari kembalinya seseorang yang dikehendaki Allah kepada kesucian (Fithrah) bagaikan bayi yang baru terlahir dari rahim ibunya.

Buah dari keberhasilan seorang mukmin yang telah dapat mengalahkan dirinya, mengekang syahwatnya, mengendalikan nafsunya menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan, menghindarkan diri dari perilaku yang tidak terpuji sehingga menjadilah sosok manusia Muttaqien, semulia-mulia manusia di sisi Allah SWT.

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Kaum Muslimin arsyadakumullaah!

 Keberkahan bulan Ramadhan dalam lintasan sejarah sebagai wujud limpahan rahmat karunia Allah kepada umat Islam, kemenangan-kemenangan besar umat Islam atas musuh-musuhnya terjadi pada bulan Ramadhan.

  • Perang Badr al-Kubra terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 H, pada hari itu Allah SWT menolong Islam dan kaum Muslimin yang hanya berjumlah sekitar 300 orang dibawah komando langsung Rasulullah SAW, berhadapan dengan pasukan musyrikin yang berjumlah sekitar 1000 orang dipimpin oleh Abu Jahal.
  • Perang Khondaq disebut juga perang Ahzab (perang sekutu) diawali pada bulan Ramadhan tahun 5 H menggali parit sebagai pertahanan, pada bulan Syawal umat Islam meraih kemenangan besar terhadap tentara Ahzab.
  • Rasulullah SAW beserta sepuluh ribu sahabat beliau berangkat dari Madinah pada tanggal 10 Ramadhan, tanpa peperangan manaklukkan Makkah pada tanggal 21 Ramadhan peristiwa inilah yang sering disebut “Fathu Makkah”
  • Perang Hiththin, peperangan antara pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Sultan Sholahuddin al Ayyubi melawan pasukan salibis (Nashrani). Sepuluh ribu pasukan salibis tewas ditangan kaum Muslimin. Baitul Maqdis yang sejak 3 Sya’ban 429 H dikuasai salibis dapat direbut dan kembali kepangkuan Umat Islam pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan 584 H.
  • Perang ‘Ain Jalut (Jum’at 25 Ramadhan 658 H). Di tempat yang bernama ‘Ain Jalut inilah terjadi peperangan antara pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Al Muzhaffar Syaifuddin Qutuz dan Zhahir Pepris melawan pasukan Tartar yang dipimpin oleh Kitbuqa.

Dua tahun setelah Hulaqo Khan raja Tartar berhasil menduduki Baghdad pada tahun 656 H, setelah membumi hanguskan dan membantai seluruh penduduknya sekitar 800 ribu sampai 2 juta orang termasuk Khalifah Al Mu’tashin Billah (Khalifah terakhir Bani Abbasiyah).

Dalam peperangan inilah pasukan Muslimin memperoleh kemenangan besar dan berhasil menghancurkan tentara Tartar yang sadis dan bengis, bahkan pangeran Jamaluddin Aqusyi berhasil menerobos ke jantung pertahanan musuh dan membunuh panglima perang Tartar Kitbuqa.

  • Khususnya di negeri kita, pada 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945) Allah SWT memberikan karunia kepada umat Islam di negeri ini dengan diproklamasikannya kemerdekaannya setelah merangkai perjalanan jihad fi sabilillah sejak abad ke-16 M melawan penjajah kafir Nashrani yang dimulai oleh Sultan Fattah, Raja Kerajaan Islam Demak yang kekuasaannya menginduk pada Khalifah Turki Utsmani (Ottoman). Demikian seterusnya estafet jihad fi sabilillah ini terus beralih sehingga kita pun mengenal tokoh-tokoh pahlawan nasional seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pattimura, HOS Cokroaminoto, KH Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dll.

Demikianlah kemenangan-kemenangan yang dianugerahkan Allah SWT kepada Islam dan kaum Muslimin di bulan Ramadhan, bulan yang Agung nan penuh Berkah.

Momentum Ramadhan adalah ditundukkannya syahwat maupun nafsu oleh iman, dihancurkannya kebathilan dan dimenangkannya kebenaran.

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

Artinya :

“Dan Katakanlah : "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS Al Isro’ : 81)

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ikhwaniy fiddiin hadaakumullaah!

 Akankah keberkahan bulan Ramadhan bisa diperoleh kembali oleh umat Islam hari ini? Tentu kita selalu meyakini bahwa Allah SWT tidak akan menyalahi janji-Nya, rahmat-Nya sangat luas meliputi segala sesuatu, nikmat-nikmat dan karunia-Nya tak terhitung, dan kalau Allah telah memberikan-Nya kepada satu kaum tidak akan pernah dicabut kembali kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.

 

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ٥٣

Artinya :

“(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS Al Anfaal : 53)

Dalam ayat di atas Allah SWT memberitahukan tentang keadilan-Nya yang sempurna dalam ketetapan hukum-Nya, dimana Dia (Allah) tidak akan merubah nikmat yang telah dikaruniakan kepada seseorang/kaum melainkan karena dosa yang dilakukannya, yang demikian itu seperti firman-Nya.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّندُونِهِۦ مِن وَالٍ ١١

Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS Ar Ra’du : 11)

Keadaan mereka tak ubahnya Fir’aun dan pengikutnya serta orang-orang yang seperti mereka, ketika mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Allah membinasakan mereka disebab-kan dosa-dosa mereka dan Allah cabut kembali nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Betapa sedih dan trenyuh kita hari ini. Ramadhan bulan yang Agung dan penuh berkah telah dilecehkan sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang bersekongkol untuk merusak citra Islam dan kaum Muslimin. Gara-gara sweeping warung Tegal yang berjualan di siang hari di bulan Ramadhan, muncullah kata-kata yang benar-benar melecehkan “Ramadhan Raid”, serangan Ramadhan.

Seolah ibadah Shoum Ramadhan merupakan pemaksaan terhadap seseorang, umat yang tidak toleran, umat Islam Indonesia adalah umat yang keras memaksa orang berpuasa dan merampas makanan.

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Kaum Muslimin Rahimakumullaah!

Adanya pergeseran nilai secara umum dalam tubuh kaum muslimin seperti itulah yang menyebabkan jauhnya rahmat Allah dari mereka. Sementara kondisi internal kaum muslimin sedemikian rupa, di pihak lain musuh-musuh Islam dan Umat Islam sangat antusias menempuh dengan segala cara yang memungkinkan untuk melenyapkan kebenaran (Al-Islam) ini, walau dengan cara/hujah-hujah bathil, tindakan-tindakan yang tak manusiawi, memenjarakan para aktivis muslim bahkan tak segan-segan membunuh mereka sekalipun belum tentu bersalah secara hukum dan memang belum ada ketetapan hukumnya.

Hal tersebut diperkuat dengan sebuah hadits Ibnu Abi Hatim :

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ بِسَنَدِهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: أَوْحَى اللَّهُ إِلَى نَبِيٍّ مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ: أَنْ قُلْ لِقَوْمِكَ: إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ قَرْيَةٍ وَلَا أَهْلِ بَيْتٍ يَكُونُونَ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ فَيَتَحَوَّلُونَ مِنْهَا إِلَى مَعْصِيَةِ اللَّهِ، إِلَّا تَحَوَّلَ لَهُمْ مِمَّا يُحِبُّونَ إِلَى مَا يَكْرَهُونَ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ مِصْدَاقَ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ: {إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ}

Artinya :

Ibnu Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibrahim, ia mengatakan: “Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi dari Nabi-nabi Bani Israil: ‘Hendaklah kamu katakan kepada kaummu bahwa tidaklah penduduk suatu desa dan tidak pula anggota keluarga yang taat kepada Allah kemudian mereka merubah dari ketaatan menuju kemaksiatan kepada Allah, kecuali pasti Allah akan merubah untuk mereka dari apa yang mereka senangi menjadi sesuatu yang mereka benci’. Kemudian dia mengatakan: ‘Hal itu dibenarkan dalam kitabullah:  Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS 13:11)”. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 hal. 440)

Allah berpesan kepada Nabi-Nya (Muhammad SAW) yang tentu saja pesan untuk orang-orang beriman agar jangan sampai terperdaya tipu daya mereka, karena sejak dahulupun karakter orang-orang kafir memang seperti itu.

مَا يُجَٰدِلُ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَا يَغۡرُرۡكَ تَقَلُّبُهُمۡ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٤كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۖ وَهَمَّتۡ كُلُّ أُمَّةِۢ بِرَسُولِهِمۡ لِيَأۡخُذُوهُۖ وَجَٰدَلُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ فَأَخَذۡتُهُمۡۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ٥وَكَذَٰلِكَ حَقَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ٦

Artinya :

“tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.

sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (Rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap Rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?

dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka”. (QS Mukmin : 4-6)

Kaum Muslimin tidak boleh terperdaya makar-makar jahat kuffar wal munafiqin, tentu harus senantiasa waspada terhadap persekongkolan yang mereka lakukan. Kondisi kita lebih sulit kalau dibanding pada masa-masa awal Islam, sebab dimasa itu orang-orang munafiq belum berani secara terang-terangan menampakkan permusuhannya, akan tetapi pada masa kita, hari ini kita saksikan mereka yang mengaku beriman secara terang-terangan bekerjasama dengan ‘aduwallah untuk memerangi kaum muslimin yang berjuang demi tegaknya Syari’at Allah dan Rasul-Nya.

Mereka lontarkan slogan yang menyesatkan jauh dari nilai-nilai Islam seperti “Pemimpin Kafir yang jujur lebih baik daripada pemimpin Muslim yang korup”.

Jelaslah pernyataan seperti ini sarat dengan kepentingan duniawi dan secara tidak langsung menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan mengabaikan orang-orang beriman.

لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِي شَيۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَىٰةٗۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨

Artinya :

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu)”. (QS Ali Imran : 28)

Maka barangsiapa berbuat yang demikian lepaslah dia dari agama Allah, lepaslah dia dari Syari’at Allah, karena hal yang demikian itu bukan berasal dari tuntunan Dienullah.

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah!

Sangat jauh berbeda antara kehendak Allah dan kemauan orang-orang yang mengikuti syahwatnya. Allah berkehendak menjelaskan syari’at-syari’at-Nya, perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya dan berkehendak memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki atas jalan hidup yang benar dan menyelamatkan baik di dunia dan di akhirat yang telah ditempuh orang-orang Shaleh dan para Nabi terdahulu serta senantiasa menerima taubat hamba-Nya.

Sementara mereka yang larut dengan syahwatnya berkemauan memalingkan orang-orang beriman dari kebenaran, tersesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.

يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمۡ وَيَهۡدِيَكُمۡ سُنَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَيَتُوبَ عَلَيۡكُمۡۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٢٦وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمٗا ٢٧

Artinya :

“Allah hendak menerangkan (hukum syari'at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)”. (QS An-Nisa : 26-27)

Kejahatan yang besar adalah upaya-upaya menjauhkan umat Islam dari agamanya, melecehkan Islam, membantah dengan hujjah yang bathil untuk melenyapkan kebenaran (al Islam). Perhatikan !

وَمَا نُرۡسِلُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَۚ وَيُجَٰدِلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّۖ وَٱتَّخَذُوٓاْ ءَايَٰتِي وَمَآ أُنذِرُواْ هُزُوٗا ٥٦وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعۡرَضَ عَنۡهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ إِنَّا جَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا ٥٧

Artinya :

“Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.

dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu Dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya”. (QS Al Kahfi : 56-57)

Sungguh perbuatan mereka tidaklah berdampak kecuali untuk diri mereka sendiri akibat dari mengolok-olok ayat-ayat Allah, berpaling dari kebenaran, tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan, hati mereka tertutup, telinga mereka tersumbat, maka tidaklah sekali-kali mereka akan mendapat petunjuk selama-lamanya.

اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     اَللهُ أَكْبَرُ     وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Ma’asyirol muslimin haadakumullah!

Pemikiran-pemikiran menyimpang, gagasan-gagasan busuk seperti skenario-skenario jahat dan semacamnya bersumber dari syahwat yang tidak terkendali, hawa nafsu yang diperturutkan. Mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa:

إِذَا تَوَحَّدَتِ الشَّهْوَةُ وَالْغَفْلَةُ كَـوَّنَتَا أَصْلَ كُلِّ سُوْءٍ فِي النَّفْسِ الْبَشَرِيَّةِ وَإِذَا الْـتَـقَتِ الشُّبْهَةُ وَالشَّهْوَةُ وَالْغَفْلَةُ فَهِيَ مَصْدَرُ كُلِّ شَرٍّ

Artinya :

“Apabila syahwat berkumpul dengan kelalaian maka keduanya menjadi sumber segala keburukan dalam diri manusia. Dan apabila syubhat, syahwat dan kelalaian bertemu maka ketiganya menjadi sumber kejahatan”.

Oleh karena itu seharusnyalah kita sebagai orang-orang yang beriman selalu menjaga diri dari hal-hal yang demikian. Fainsya Allah dengan melaksanakan ibadah shoum dengan sebenar-benarnya kita akan terlatih mengendalikan diri sehingga tidak terjerumus ke jurang kebinasaan.

Rasul SAW sangat khawatir menimpa umatnya dari penyimpangan syahwat dan kesesatan hawa nafsu.

عَنْ أَبِيْ بَرْزَةَ الْأَسْلَامِيْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِيْ بُـطُوْنِكُمْ وَفُرُوْجِكُمْ وَمُضِلاَّتِ الْهَوَى

Artinya :

            “Dari Abiy Barzah Al-Aslamiy radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Hanyasanya yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah syahwat yang menyimpang dari keinginan perut dan kemaluan kalian serta kesesatan hawa nafsu”. (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

Upaya konkrit yang harus kita lakukan untuk menjaga diri dari skenario-skenario jahat kuffar wal munafiqin adalah setiap individu muslim hendaklah mengekang diri dari hal-hal yang mengarah kepada kemaksiatan kepada Allah, sabar dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan optimis/yakin bahwa Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.

Ibnu Qoyyim bertutur : “Sesungguhnya sumber segala kejahatan adalah syubhat dan syahwat. Syubhat tidak dapat diredam kecuali dengan yakin. Dan syahwat tidak dapat ditolak kecuali dengan sabar, dan dengan perantaraan sabar dan yakin engkau dapat mencapai tingkatan imam fiddin.

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

Artinya :

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”. (QS As-Sajdah : 24)

Semoga apa yang kami sampaikan dalam khutbah Iedul Fithri ini dapat bermanfaat bagi kita semua, jikalau ada benarnya dalam khutbah, ini sungguh kebenaran datangnya dari Allah, dan jikalau ada salah dan kekurangannya, itu semata-mata karena dhaifnya diri kami sendiri.

Wallahu a’lam bish showab

 

----o0o----

 

DOA

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِيْءُ مَزِيْدَةً. اللّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وآلِ إِبْرَاهِيْمَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تَمْكُرْ عَلَيْنَا وَيَسِّرْ هُدَانَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا

رَبَّنَا اجْعَلْنَا لَكَ شَاكِرِيْنَ، لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ رَاهِبِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ، إِلَيْكَ مُجِيْبِيْنَ أَوْ مُنِيْبِيْنَ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا وَاهْدِ قُلُوْبَنَا وَسَدِّدْ أَلْسِنَتِنَا وَاسْلُلْ سَحِيْمَةَ قُلُوْبِنَا

اَللّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَخُذْ بِأَيْدِيْهِمْ إِلىَ سَبِيْلِكَ وَاجْعَلْ هَوَاهُمْ تَبَعًا لِمَا جَاءَ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ وَأَرْشِدْهُمْ إِلىَ مَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِينَ.

اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلمُجَاهِدِيْنَ فىِ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

اَللّهُمَّ فُكَّ أَسْرَى الْمُسْلِمِيْنَ اَللّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْحُكَّامِ الطَّوَاغِيْتِ الْمُرْتَدِّيْنَ وَاْلكَفَرَةِ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَالْخَائِنِيْنَ

اَللّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْيَهُوْدَ وَالنَّصرى

اَللّهُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَاجْعَلْهُ لَناَ إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً

 

Ya Allah penguasa Alam Semesta kekuasaan-Mu tak terbatas kasih sayang-Mu melebihi kasih sayang seorang ibu yang menyusui bayinya ampunan-Mu seluas langit dan bumi.

Hamba-hamba-Mu yang sedang berkumpul ditempat ini merengek menjerit memohon dan memanjatkan do’a kepada-Mu, kami yakin Engkau pasti mengabulkan untuk kami semua yang hina ini hamba-hamba-Mu yang sering bermaksiat kepada-Mu berlumuran noda dan dosa yang menghinakan.

Maka ampunilah ya Allah dosa-dosa kami semua minal Muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada, kami bertaubat kepada-Mu dengan taubat yang sesungguhnya

Yaa Mujiibas saailin.

                                                                              

اَللّهُمَّ ذَكِّرْناَ مَا نَسِيْناَ وَعَلِّمْناَ مِنْهُ مَا جَهِلْناَ وَارْزُقْناَ تِلاَوَتَهُ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ

رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَناَ وَصَلاَتَناَ وَرُكُوْعَناَ وَسُجُوْدَناَ وَتَحْمِيْدَناَ وَتَسْبِيْحَناَ. رَبَّناَ آتِنَا فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

1 Syawal 1437 H

Markaziyah

Jama'ah Ansharusy Syari'ah

Jakarta