Artikel

Sentuhan yang Menenangkan

Oleh: Ustadzah Dessi Wijayanti, ST

Surat terbuka untuk para suami

Dear para Suami. Jangan tunggu “gairah” datang, baru memeluk istrimu.Karena bagi seorang istri. Pelukan bukan sekadar sentuhan. Pelukan adalah bahasa cinta.
Cara paling sederhana untuk merasa aman, dihargai, ditemani, dan dicintai.

Genggaman tanganmu bisa menjadi penguat harinya. Pelukanmu bisa menjadi tempat paling tenang setelah lelah yang panjang. Ada istri yang terlihat kuat menjalani semuanya. Mengurus rumah, anak, pekerjaan, bahkan tetap tersenyum menyambut suaminya pulang. Padahal hatinya sedang lelah. Pikirannya penuh. Tubuhnya penat.

Kadang ia menangis dalam diam. Menahan capeknya sendiri. Tetap terlihat baik-baik saja, padahal sedang ingin dipahami. Dan sering kali yang ia butuhkan bukan hadiah mahal. Bukan liburan mewah.

Bukan juga nasihat panjang. Ia hanya ingin merasa ditemani. Ingin dipeluk oleh laki-laki yang paling ia percaya.

Kadang sebuah sentuhan kecil lebih menenangkan daripada seribu kata. Sentuhan berupa usapan di kepala. Sentuhan berupa genggaman tangan. Sentuhan berupa pelukan hangat tanpa alasan. Karena sentuhan yang lahir dari kasih sayang mampu membuat hati merasa aman. Ada luka yang tidak sembuh dengan uang. Ada lelah yang tidak hilang dengan tidur. Tetapi bisa terasa ringan ketika dipeluk dengan penuh ketulusan.

Sayangnya, tidak sedikit suami yang hanya menyentuh istrinya ketika sedang “ingin”. Pelukan menjadi pembuka nafsu, bukan penenang jiwa. Padahal dalam rumah tangga, sentuhan yang paling dirindukan bukan selalu sentuhan penuh hasrat tetapi sentuhan yang membuat hati merasa tenang.

Jangan jadikan istrimu hanya tempat pelampiasan. Peluk hatinya, bukan hanya tubuhnya. Karena seorang istri yang dipeluk dengan cinta, akan merasa dirinya berharga. Ia merasa keberadaannya diinginkan, bukan hanya dibutuhkan saat suami memiliki keinginan.

Mulailah peluk istrimu tanpa alasan. Peluk saat ia sedang memasak. Peluk saat ia diam dan terlihat lelah. Peluk sebelum tidur. Peluk setelah sholat. Pegang tangannya saat berjalan.

Usap pundaknya ketika ia terlihat letih. Tatap matanya ketika berbicara. Dengarkan ceritanya meski sederhana. Karena perhatian kecil yang terus diulang, sering kali menjadi alasan sebuah hati tetap bertahan. Lalu katakan sederhana saja,

“Terima kasih ya sudah bertahan sejauh ini.”

Mungkin terlihat kecil bagimu tetapi bisa jadi itulah yang membuat hatinya kembali kuat. Sebab perempuan tidak selalu menuntut kemewahan. Kadang ia hanya ingin diyakinkan bahwa dirinya masih dicintai. Karena perempuan yang merasa dicintai dengan tulus akan lebih mudah lembut hatinya, tenang jiwanya, dan hangat sikapnya di rumah.

Wahai para suami… Jangan sampai istrimu tinggal serumah denganmu, tapi hatinya merasa sendirian. Jangan biarkan ia terbiasa memendam semuanya sendiri. Jangan biarkan ia merasa hadirnya hanya dibutuhkan saat rumah berantakan atau saat suami memiliki keinginan. Sebab hati perempuan itu lembut. Ia mungkin diam tetapi diamnya bisa menyimpan banyak kecewa.

Rumah tangga tidak hanya bertahan karena nafkah. Tetapi juga karena perhatian kecil yang dilakukan terus menerus. Karena cinta yang dipelihara setiap hari. Karena rasa aman yang dihadirkan oleh pasangan sendiri.

Dan ketahuilah… Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam adalah pribadi yang lembut kepada keluarganya.

Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan shahih).

Maka jangan malu menjadi suami yang hangat. Karena lelaki yang mampu menenangkan hati istrinya adalah lelaki yang besar jiwanya dan indah akhlaknya.

Kadang saat berselisih paham, suami tidak sadar sudah melukai istrinya. Terlepas dari besar atau kecilnya masalah yang diperselisihkan. Tahukah wahai para suami? Bagi seorang istri, didiamkan oleh laki-laki yang paling ia cintai bisa terasa sangat menyakitkan.

Ia tinggal serumah denganmu tetapi hatinya terasa jauh. Ia melihat wajahmu setiap hari tetapi tidak merasakan kehangatanmu lagi. Dan sering kali yang membuat perempuan menangis bukan kerasnya masalah. Tetapi dinginnya sikap pasangan. Perempuan mungkin bisa menerima kemiskinan. Bisa bertahan dalam lelah. Bisa menguatkan diri di tengah banyak ujian. Namun ketika hatinya merasa diabaikan di situlah ia perlahan rapuh.

Wahai para suami, diam bukan selalu tanda kedewasaan. Kadang diam yang terlalu panjang justru melukai. Jika marah, tenangkanlah diri. Tetapi jangan menghukum pasangan dengan kehilangan perhatian dan kasih sayang. Sebab rumah tangga tidak akan tenang jika ego sama-sama dipelihara. Bukankah lebih indah jika salah satu mengalah demi menjaga hati pasangannya?

Datanglah. Ajak bicara baik-baik. Pegang tangannya. Tatap matanya. Sampaikan apa yang mengganjal di hati tanpa merendahkan dan tanpa menyakiti. Karena kadang satu pelukan mampu menyelesaikan pertengkaran yang panjang.

Dan ketahuilah, Rosulullah adalah manusia paling lembut kepada keluarganya. Maka jangan biasakan membuat istrimu menangis dalam diam. Jangan biarkan ia merasa sendirian padahal suaminya ada di dekatnya. Sebab perempuan yang diperlakukan dengan lembut akan jauh lebih mudah luluh, tenang, dan setia menjaga rumah tangganya.

Semoga Allah melembutkan hati kita dalam menyelesaikan setiap perselisihan, menjauhkan rumah tangga kita dari dinginnya sikap dan kerasnya ego, serta memenuhi rumah-rumah kita dengan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin yaa Robb

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button