Artikel

JIWA PEMBUNUH SEORANG MUSLIM SELAMANYA TIDAK AKAN BISA MERASA TENANG

Oleh : Ustadz Hamzah Baya, S.Pd.I, M.Pd | Qoid Sariyah Pendidikan dan Kaderisasi Markaziyah, Jamaah Ansharu Syariah

Sebengis dan sedahsyat apapun musuh menimpakan siksaan terhadap seorang mukmin, justru mereka sendirilah yang akan ditimpa berbagai tekanan jiwa dan siksaan batin. Baik sebelum, saat, maupun sesudah dia melakukan kedzalimanya dan menimpakan siksaannya kepada seorang mujahid.

Seusai mereka lelah dan puas berbuat dzalim dan menimpakan siksaanya, dia tidak bisa beristirahat tenang. Dia tidak bisa merasakan ketentraman.

Kondisi psikologisnya porak poranda oleh badai siksa darimana saja yang datang tiba-tiba melanda batinya. Dia tidak bisa tidur dengan tenang, dan hidupnya selamanya tidak akan bisa merasa tenang dan tentram.

Itulah yang terjadi kepada gubernur Kufah Irak Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi Tak lebih dari lima belas hari setelah membunuh Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu, mendadak Hajjaj terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaaannya silih berganti antara pingsan dan siuman.

Tidurnya tak nyenyak lagi, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan menggigau; “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku!. Ini Sa’id bin Jubair berkata; “Mengapa engkau membunuhku?”. Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri; “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair?. Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”.

Kondisi itu terus berlangsung hingga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj; “Apa yang Allah Shubhanahu wa Ta’ala perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”. Dia menjawab; “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat”.

Mereka akan terus membenci aktifis penyeru kebenaran hingga merekapun mati dalam keadaan membawa kemarahan, matilah kamu dengan kebencian mu !

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هٰٓاَنْتُمْ اُولَاۤءِ تُحِبُّوْنَهُمْ وَلَا يُحِبُّوْنَكُمْ وَتُؤْمِنُوْنَ بِالْكِتٰبِ كُلِّهٖۚ وَاِذَا لَقُوْكُمْ قَالُوْٓا اٰمَنَّاۖ وَاِذَا خَلَوْا عَضُّوْا عَلَيْكُمُ الْاَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۗ قُلْ مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antara marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati,”. (Q.S Al imran:119)

Itulah bukti nyata yang menunjukkan kesalahan kalian dalam mencintai mereka. Kalian mencintai dan berbuat baik pada mereka, sedangkan mereka itu tidak mencintai kalian dan justru membawa rasa permusuhan dan kebencian terhadap kalian, mengimani semua kitab suci yang diturunkan, termasuk kitab suci mereka sedangkan mereka tidak mengimani kitab suci kalian, maka bagaimana mungkin kalian menyukai mereka?

Apabila berjumpa dengan kalian mereka berkata dengan segala kemunafikan mereka, “Kami beriman dan membenarkan.” Apabaila mereka saling menyendiri dengan sebagian yang lain, maka tampak dari mereka kegelisahan dan kesedihan, lalu mereka pun menggigit ujung-ujung jari mereka (marah dan menahan emosi) karena kebencian, disebabkan mereka melihat keakraban kaum muslimin dan persatuan mereka, kekuatan islam dan kehinaan mereka dengan islam. Mereka tidak suka dan sangat membenci syariat Islam dan mengolok-olok kaum muslimin dengan berbagai macam cara.

Katakanlah kepada mereka, “Matilah kalian dengan kemarahan dan kebencian kalian.” Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati sanubari (kalian), dan akan memberikan balasan kepada masing-masing orang terhadap apa yang mereka usahakan, yang baik ataupun yang buruk. (Tafsir Al muyassar)

Semoga Allah menempatkan para syuhada di tempat tertinggi di Jannah firdaus dan membalas setiap tetes darah dengan balasan yang setimpal di dunia dan akhirat, Aamiin…

Sumber 📚: Shuwaru Min Hayati At-Tabi’in

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button