Khutbah Jum’at Edisi 444 | Kunci Sukses Membangun Keluarga dan Umat di Tengah Tantangan Zaman
Di era digital saat ini, membangun keluarga yang sehat dan harmonis(sakinah ma waddah wa rahmah) menjadi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu.
Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…
Di era digital saat ini, membangun keluarga yang sehat dan harmonis(sakinah ma waddah wa rahmah) menjadi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah mengubah seluruh sendi kehidupan, termasuk dalam relasi antar anggota keluarga. Anak-anak dan pasangan lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada dengan manusia; kemampuan bersosialisasi secara fisik pun menurun drastis.
Ditambah lagi, lahirnya generasi yang cenderung ingin serba instan, mudah tersinggung, tidak tahan kritik, dan cepat menyerah yang dikenal sebagai generasi strawberry semakin memperparah kondisi ini. Kemelekatan terhadap teknologi menjadikan banyak keluarga bukan hanya terganggu, tapi bahkan dikendalikan olehnya.
Banyak orang tua hadir secara fisik, tapi tidak hadir secara psikologis karena larut dalam dunia HP. Di sisi lain, keterbatasan lapangan pekerjaan serta minimnya aktivitas fisik juga memunculkan gaya hidup pasif yang berujung pada kelelahan mental, kegemukan, depresi, dan suasana rumah tangga yang kehilangan energi positif.
Dalam realitas sosial hari ini, kita menyaksikan betapa banyak keluarga Muslim yang terombang-ambing oleh krisis moral, kemerosotan akhlak, dan hilangnya arah spiritual. Maka di tengah kondisi yang penuh tantangan ini, kita sangat membutuhkan rujukan dari cahaya wahyu, dan teladan dari pribadi agung yang dijadikan Allah sebagai imam bagi seluruh umat manusia, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Sosok beliau bukan hanya panutan dalam hal tauhid dan pengorbanan, tapi juga dalam membangun keluarga yang kuat imannya, teguh dalam doanya, dan berkomitmen pada visi peradaban yang diridhai Allah.
1. Keluarga Nabi Ibrahim: Pondasi Spiritual dan Peradaban
Nabi Ibrahim bukan hanya dikenal sebagai bapak para nabi, tapi juga sebagai arsitek peradaban berbasis keluarga yang bertauhid. Ia tidak membangun dinasti kekuasaan, tapi membangun keturunan yang shalih dengan kekuatan iman, pendidikan, dan doa.
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia melaksanakannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku menjadikan engkau imam bagi seluruh manusia,”(QS. Al-Baqarah: 124).
Pelajaran dari ayat tersebut yakni bahwa di tengah tantangan kehidupan modern, salah satu krisis paling nyata dalam keluarga Muslim adalah melemahnya peran kepemimpinan ayah. Banyak keluarga kehilangan arah karena sosok ayah tidak lagi menjalankan fungsi utamanya sebagai pemimpin, nahkoda, sekaligus pendidik utama dalam rumah tangga.
Padahal, jika kita menengok kepada sosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, kepemimpinan beliau tidak bermula dari tahta atau jabatan, tetapi tumbuh dari ketaatan total kepada Allah, komitmen teguh terhadap nilai-nilai kebenaran, dan perhatian besar terhadap keluarganya. Inilah pelajaran penting bahwa membangun keluarga yang kokoh harus dimulai dari ayah yang berperan aktif, hadir secara spiritual dan emosional, serta mampu menuntun istri dan anak-anaknya menuju ridha Allah.
2. Doa Ibrahim: Strategi Membangun Keluarga yang Taat
Di tengah perjuangannya membangun pondasi peradaban tauhid, Nabi Ibrahim tidak melupakan doa untuk anak-anak dan keturunannya.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat penyantun.”(QS. Ash-Shaffat: 100–101).
Banyak orang tua di zaman sekarang hanya fokus mendoakan anaknya agar sukses dunia: pintar, kaya, dan punya jabatan. Padahal, doa terbaik adalah seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yaitu memohon agar anak menjadi orang shalih. Doa ini bukan sekadar harapan pribadi, tapi merupakan investasi spiritual jangka panjang demi lahirnya generasi yang mampu memimpin dengan hati nurani, bukan hanya kecerdasan duniawi. Anak yang shalih adalah benih utama bagi tegaknya umat yang kuat, bermoral, dan berintegritas.
Namun anak shalih tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari orang tua yang sabar membimbing dengan penuh kasih sayang, bukan yang sekadar menuntut anak menjadi sholeh. Ia dididik sejak kecil untuk mengenal Allah, mencintai Nabi, dan yakin bahwa Allah selalu mengawasinya. Anak dibiasakan shalat tepat waktu, berdoa, mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, serta dibina dalam kedisiplinan dan tanggung jawab.
Orang tua juga perlu menjaga anak dengan pendekatan dan komunikasi yang baik agar anak terjaga dari lingkungan yang rusak, orang tua juga membimbing anak agar selektif memilihkan teman, tontonan, dan akses teknologi. Dan yang paling penting, orang tua tak pernah lepas dari perhatian dan doa kepada Allah siang dan malam. Dari proses inilah, insya Allah akan lahir pemimpin yang jujur, tegas, penyayang, dan bertanggung jawab kepada Allah dan rakyatnya.
3. Doa Ibrahim untuk Keturunan: Fondasi Umat Bertauhid
Nabi Ibrahim tidak hanya berdoa untuk anaknya, tapi juga untuk seluruh keturunannya, agar menjadi umat yang taat dan istiqamah di atas agama:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَّكَ ۖ
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang-orang yang berserah diri kepada-Mu, dan (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu.”(QS. Al-Baqarah: 128).
Dan beliau juga memohon agar keturunannya diberi hati yang lembut, tidak menyembah berhala:
رَبِّ اجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Ya Rabbku, jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.”(QS. Ibrahim: 35).
Di tengah zaman modern, bentuk berhala bisa berupa materialisme, hedonisme, gawai, ideologi sekuler, bahkan ketenaran. Maka, tugas kita hari ini adalah mewarisi semangat Nabi Ibrahim dalam melindungi keluarga dari penyembahan modern terhadap dunia.
4. Korelasi dengan Kehidupan Modern
Hari ini kita menyaksikan keluarga-keluarga terpecah, anak-anak terpapar pornografi, kecanduan media sosial, dan tergerus identitas keislamannya. Maka tidak ada solusi yang lebih kuat daripada kembali kepada fondasi keimanan, spiritualitas dan kekuatan doa. Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ
“Doa adalah inti dari ibadah.” (HR. Tirmidzi)
Doa bukan hanya ibadah lisan, tapi energi ruhani yang membentengi keluarga, membangkitkan kesadaran, dan menuntun jiwa kembali kepada Allah.
Wahai kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Jika ingin keluarga kita menjadi sumber rahmat, dan anak-anak kita menjadi cahaya umat, maka mulailah dengan orang tua berusaha menjadi teladan bagi anaknya, lalu doa yang istiqamah, pendidikan berbasis tauhid, dan meneladani Nabi Ibrahim dalam setiap aspek kehidupan keluarga.
Mari jadikan rumah kita seperti rumah Ibrahim, rumah yang dipenuhi dzikir dan shalat, rumah yang menjadi pusat pendidikan iman dan akhlak, rumah yang berdoa siang dan malam untuk keselamatan generasi.
وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik (menjadi teladan) bagi orang-orang yang datang kemudian.”.(QS. Asy-Syu’ara: 84).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Download file PDF: