Khutbah Jum’at Edisi 451 | Jahiliyah Zaman Now: Ketika Kegelapan Lama Menjelma dalam Wajah Modern
Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…
Zaman modern yang kita hadapi hari ini disebut para ulama sebagai “Jahiliyah Modern” karena meski tampak maju secara teknologi, justru gelap dalam akidah, rusak dalam moral, dan timpang dalam hukum yang jauh dari nilai ilahiyah. Jahiliyah kini bukan menyembah berhala batu, melainkan materi, popularitas, dan hawa nafsu, bahkan dosa dipertontonkan dan dibanggakan. Inilah wajah baru jahiliyah lama: berbalut kemajuan, namun kosong dari iman. Maka solusi sejati bukan sekadar reformasi sosial, melainkan revolusi spiritual yaitu kembali total kepada tauhid murni, petunjuk wahyu, dan hukum Allah yang adil, sebagaimana peringatan dalam firman Allah:
أَفَحُكْمَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًۭا لِّقَوْمٍۢ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?. (QS. Al-Māidah: 50).
Berikut adalah beberapa perilaku jahiliyah yang menjelma dalam kehidupan umat hari ini:
1. Syirik Modern
Bukan hanya menyembah berhala fisik, tapi juga menyekutukan Allah dengan benda, kekuatan gaib, dan ketergantungan pada ramalan, zodiak, jimat, atau “dukun online (seperti cek khodam di tiktok)”.
2. Fanatisme Buta dan Kebencian Sesama Muslim
إِذْ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ
Artinya: Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka fanatisme jahiliyah(kesombongan jahiliyah) (QS.Al-Fath: 26).
Hari ini kita melihat umat Islam saling mencaci hanya karena perbedaan mazhab, partai, atau ormas. Dakwah berubah menjadi debat kusir dan perang status.
Fanatisme adalah ciri utama jahiliyah: membela kelompok, suku, warna kulit, atau negara secara membabi buta, tanpa dasar keadilan dan iman. Al-Qur’an menyebutnya sebagai ḥamiyyah al-jāhiliyyah, yaitu sikap keras kepala, emosional, dan menolak petunjuk ilahi.
Solusi atas fanatisme ini adalah kembali kepada keadilan wahyu, tabayyun dalam menilai, dan menjunjung persaudaraan umat manusia dalam bingkai tauhid. Islam hadir untuk memuliakan manusia, bukan untuk mengelompokkan dan merendahkan mereka berdasarkan simbol-simbol duniawi yang sempit.
3. Tabarruj dan Normalisasi Dosa
وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ
“Dan janganlah kalian menampakkan perhiasan seperti wanita-wanita jahiliyah terdahulu.”(QS. Al-Aḥzāb: 33)
Menurut bahasa, tabarruj adalah wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasannya kepada laki-laki (Ibnu Manzhur di Lisanul Arab). Tabarrajatil mar’ah artinya wanita yang menampakkan kecantikannya, lehernya, dan wajahnya.
Adapun normalisasi dosa, atau dalam bahasa Arab disebut “Ilful Ma’siyah”, adalah fenomena di mana suatu perbuatan dosa dianggap biasa dan wajar dilakukan oleh sebagian orang. Ini bisa terjadi pada dosa kecil maupun dosa besar, dan seringkali diawali dengan toleransi terhadap tindakan-tindakan yang sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran agama.
Akibat normalisasi dosa diantaranya kerusakan moral, normalisasi dosa dapat merusak moral dan akhlak individu dan masyarakat. Hilangnya Kepekaan. Orang yang terbiasa melihat dosa sebagai hal biasa akan kehilangan kepekaan terhadap dosa dan sulit untuk bertaubat dan terjerumus dalam dosa yang lebih besar: Dosa kecil yang dinormalisasi bisa menjadi pintu masuk menuju dosa yang lebih besar dan lebih berat.
Hari ini, aurat dipamerkan, maksiat dijadikan konten, dan zina dinormalisasi. Film, musik, dan media sosial mengubah malu menjadi hiburan.
4. Hilangnya Rasa Malu dan Ketakutan kepada Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَٱصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika kamu sudah tidak punya rasa malu, maka lakukanlah sesukamu.”.(HR. Bukhari)
Malu adalah benteng akhlak, dan hari ini benteng itu telah roboh.
5. Mengambil Hukum Selain dari Allah
Banyak umat Islam lebih tunduk pada hukum buatan manusia dan opini publik daripada kepada Al-Qur’an dan sunnah.
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,”(QS. Al-Māidah: 45).
Kita Harus Kembali ke Cahaya
Islam datang bukan untuk menghiasi zaman, tapi menghapus kegelapan. Rasulullah ﷺ mengubah peradaban dengan tauhid, tazkiyah, ilmu, dan akhlak. Itulah jalan keluar dari jahiliyah zaman now.
Wahai kaum Muslimin…
Jangan bangga dengan dunia yang terang oleh lampu, tapi gelap oleh maksiat. Mari hidupkan kembali cahaya Islam dalam diri, keluarga, dan masyarakat.
Seruan dan Solusi
Kita tidak bisa mengubah dunia ini sendirian, tapi kita bisa memulai dengan mengubah diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
بَدَأَ ٱلْإِسْلَـٰمُ غَرِيبًۭا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ فَطُوبَىٰ لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”(HR. Muslim).
Mari kita menjadi “ghurabā’” orang-orang asing yang membawa cahaya di tengah gelapnya zaman.
Bangun kembali iman dan tauhid, sucikan jiwa dari penyakit hati, tegakkan ilmu dan adab, hidupkan shalat dan dakwah.
Wahai hamba-hamba Allah…
Jahiliyah zaman ini tidak akan padam dengan kemarahan, tapi dengan cahaya dakwah. Tidak cukup dengan protes, tapi harus dengan perubahan. Bukan zamannya lagi kita hanya menjadi penonton dosa, tapi mari kita menjadi pelita umat dengan aksi nyata dan persatuan umat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.
اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Download file PDF: