Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at Edisi 485 | Menutup Ramadhan dengan Amal Terbaik: Jalan Menuju Husnul Khatimah

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ.

Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…

Ramadhan adalah bulan pendidikan iman. Namun realitas yang kita saksikan, banyak kaum Muslimin yang kuat beribadah di awal Ramadhan, tetapi melemah di akhir Ramadhan. Masjid yang semula penuh perlahan berkurang, semangat tilawah menurun, qiyamullail mulai ditinggalkan. Padahal justru di penghujung Ramadhanlah terdapat kesempatan terbesar untuk meraih keberkahan dan ampunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22).

Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu.

Allah menjelaskan tujuan puasa dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa,”(QS. Al-Baqarah:183).

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan akhir Ramadhan adalah lahirnya ketakwaan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Karena itu, keberhasilan Ramadhan sangat ditentukan oleh bagaimana seseorang menutupnya.
Dalam tafsir para ulama dijelaskan bahwa takwa adalah menjaga diri dari murka Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Talq ibn Habib menjelaskan makna takwa: “Engkau beramal dalam ketaatan kepada Allah dengan cahaya dari Allah, mengharap pahala-Nya, dan meninggalkan maksiat kepada Allah dengan cahaya dari Allah karena takut kepada-Nya.” Karena itu tujuan puasa dalam QS. Al-Baqarah:183 adalah membentuk pribadi yang semakin taat dan menjauhi dosa.

Korelasinya dengan sisa hari terakhir Ramadhan adalah bahwa ketakwaan harus tampak pada peningkatan amal di penghujung Ramadhan, bukan justru melemah. Contohnya, seseorang memanfaatkan malam-malam terakhir dengan memperbanyak qiyamullail, istighfar, sedekah, dan tilawah Al-Qur’an, serta meninggalkan kesibukan yang melalaikan. Dengan demikian ia menutup Ramadhan dengan amal terbaik, dan itulah tanda bahwa puasa benar-benar melahirkan ketakwaan dalam dirinya.

Jamaah yang dimuliakan Allah
Akar masalah mengapa banyak orang tidak memaksimalkan akhir Ramadhan adalah kurangnya kesadaran tentang pentingnya penutup amal. Sebagian orang mengira bahwa yang penting sudah beribadah di awal, padahal dalam Islam penutup amal memiliki nilai yang sangat menentukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Artinya:“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.”(HR. Sahih al-Bukhari).

Hadits ini memberi pelajaran besar bahwa nilai suatu amal sering kali ditentukan oleh bagaimana ia berakhir. Karena itu, seorang mukmin yang cerdas justru akan menguatkan ibadahnya di akhir Ramadhan, bukan melemahkannya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Rasulullah ﷺ memberi teladan yang sangat jelas tentang bagaimana memaksimalkan akhir Ramadhan. Ketika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau meningkatkan ibadah secara luar biasa. Dalam hadits disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

Artinya:“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah,” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa akhir Ramadhan adalah puncak kesungguhan ibadah, bukan masa kelelahan spiritual.
Jamaah yang dimuliakan Allah

Di antara sebab lain manusia lalai memaksimalkan akhir Ramadhan adalah karena terlalu sibuk dengan urusan dunia, persiapan hari raya, belanja, main game dan berbagai kesibukan yang melalaikan. Padahal pada malam-malam itulah terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:“Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan,”(QS. Al-Qadr:3).

Artinya satu malam ibadah bisa lebih baik daripada ibadah selama lebih dari delapan puluh tiga tahun. Betapa ruginya orang yang melewatkan kesempatan luar biasa ini.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Karena itu solusi yang harus kita lakukan adalah menghidupkan sisa Ramadhan dengan hal sebagai berikut:

1. Taubat dan istighfar
Dirirwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi ﷺ: “Bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau ﷺ bersabda: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku,” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Makna Al-Afwu (Maha Pengampun), Al-Afwu adalah salah satu nama Allah ﷻ, yang bermakna Dzat yang memaafkan keburukan hamba-hamba-Nya dan menghapus jejak-jejak dosa mereka. Allah ﷻ menyukai dan memaafkan hamba-Nya, dan Dia suka jika sesama hamba saling memaafkan. Jika mereka saling memaafkan, Allah ﷻ akan memperlakukan mereka dengan ampunan-Nya, karena ampunan-Nya lebih Dia cintai daripada hukuman-Nya.

Mengapa Meminta Ampunan? Perintah untuk memohon ampunan pada Lailatul Qadar -setelah bersungguh-sungguh dalam beramal di sepuluh malam terakhir- adalah dikarenakan orang-orang yang arif (mengenal Allah ﷻ) tetap bersungguh-sungguh dalam beramal, namun mereka tidak melihat amal, keadaan, maupun ucapan mereka sebagai sesuatu yang sempurna. Maka mereka kembali memohon ampunan seperti layaknya orang berdosa yang penuh kekurangan.

2. Tilawah Al-Qur’an
Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an) karena di bulan ini, tepatnya pada malam Lailatul Qadar, Allah Subhanahu wa Ta’ala pertama kali menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Umat Islam dianjurkan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an melalui tadarus, tadabbur, dan pengamalannya untuk memaksimalkan keberkahan.

3. Sedekah
Sedekah di 10 hari terakhir Ramadan adalah amalan istimewa untuk melipatgandakan pahala, meraih keutamaan Lailatul Qadar, dan menyempurnakan ibadah puasa. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam meningkatkan kedermawanan di akhir Ramadan, menjadikannya momen terbaik berbagi (uang, makanan, atau barang) untuk membantu sesama merayakan Idul Fitri.

4. Qiyamullail.
Qiyamul Lail adalah salah satu ibadah yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala Hal ini karena Qiyamul Lail dilakukan ketika sebagian besar manusia sedang terlelap dalam tidur. Ketika seorang muslim bangun dari tidurnya untuk melaksanakan Qiyamul Lail, hal tersebut menunjukkan kesungguhan hati dalam beribadah dan keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam praktiknya, Qiyamul Lail dapat dilakukan dengan berbagai bentuk ibadah, mulai dari shalat tahajud, shalat witir, hingga memperbanyak doa dan membaca Al-Qur’an. Selama bulan Ramadhan, Qiyamul Lail juga sering diwujudkan melalui shalat tarawih yang dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah bersama keluarga.

Selain itu, Qiyamul Lail juga memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena dilakukan pada waktu yang penuh ketenangan. Pada saat malam hari, suasana menjadi lebih hening sehingga seorang muslim dapat lebih khusyuk dalam menjalankan Qiyamul Lail dan merasakan kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ramadhan adalah bulan maghfiroh/diampuni dosa-dosa yang lalu dan dibebaskan dari siksa api neraka. Orang yang mendapatkan ampunan Allah di bulan Ramadhan adalah orang yang benar-benar memanfaatkan kesempatan tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Artinya:“Sungguh merugi seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR. Sunan at-Tirmidzi).

Hadits ini menjadi peringatan bahwa Ramadhan adalah kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
dari berbagai dalil tersebut dapat dipahami bahwa akhir Ramadhan menjadi penentu keberhasilan ibadah selama sebulan penuh, karena dalam Islam nilai amal sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia diakhiri.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Sahih al-Bukhari). Artinya, seseorang yang mampu menutup Ramadhan dengan amal terbaik memiliki harapan besar mendapatkan ampunan Allah dan kebaikan akhir hidup (husnul khatimah).

Contohnya, seorang Muslim yang memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak qiyamullail, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, bersedekah, serta menjaga shalat berjamaah di masjid. Amal-amal ini menunjukkan kesungguhan dalam menutup Ramadhan dengan ketaatan, sehingga menjadi tanda bahwa ibadah Ramadhannya diterima oleh Allah.

Karena itu marilah kita manfaatkan sisa hari Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan iman, tanpa peningkatan amal, dan tanpa ampunan dari Allah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Menutup Ramadhan dengan kebaikan sejatinya adalah latihan menuju husnul khatimah, yaitu akhir kehidupan yang baik dalam ketaatan kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ

Para sahabat bertanya: bagaimana Allah menggunakannya? Beliau menjawab:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

Artinya:“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia akan memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum wafatnya.”(HR. Sunan at-Tirmidzi).

Karena itu, siapa yang mampu menutup Ramadhan dengan amal saleh, itu merupakan pertanda kebaikan yang Allah kehendaki baginya.

Marilah kita jadikan sisa Ramadhan sebagai kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri: memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat, memperbanyak sedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang menutup Ramadhan dengan kebaikan serta dianugerahi husnul khatimah. Wallahul muwaffiq

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Download file PDF:

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button