Antara Anak, Shalat dan Mengesakan Allah
Oleh: Ustadz Agil Firmansyah, S.Pd.
Amir Jamaah Ansharu Syariah Jawa Tengah
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala, mari kita melanjutkan pembahasan Islamic Parenting atau Pendidikan Islami metode Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam Kali ini masuk kepada pembahasan mengajarkan atau mengajak anak untuk shalat berjamaah adalah salah satu metode bagi orangtua untuk mengajarkan Tauhid kepada anak-anak, serta menjadi bukti perhatian Islam kepada para anak-anak, bahkan Rasulullah pun pernah mengajak cucunya Hasan dan Husein ketika shalat berjamaah.
Abdullah bin Syaddad berkata, “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat Maghrib atau shalat Isya, sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya.
Dalam salah satu sujud dari shalatnya itu, beliau lama sekali melakukannya.” Ayah perawi mengatakan, “Maka kuangkat kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yang sedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku. Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu. “Rasulullah menjawab, “Semuanya itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku.” (H.R. An-Nasa’i, Kitabur Tathbiq).
Kemudian dalam hadits yang lain disebutkan, Abu Qatadah Al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah shalat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke ta-nah dan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali. (H.R. Bukhari, Kitabush Shalat).
Dalam hadits riwayat Muslim dan Nasa’i, Rasulullah pernah shalat mengimami kaum muslimin sambil menggendong Umamah binti Abul Ash di pundaknya. Apabila rukuk beliau meletakkan-nya di tanah, dan apabila bangun dari sujudnya, beliau kembali menggendongnya.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala, bahkan suatu ketika Nabi pernah menghentikan khutbah dan turun dari mimbar untuk menyambut anak kecil yang berjalan tertatih-tatih menuju beliau.
Abdullah bin Buraidah telah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Ketika Rasulullah sedang berkhutbah kepada kami, tiba-tiba datanglah Hasan dan Husain yang keduanya mengenakan gamis berwarna merah dengan langkah tertatih-tatih. Rasulullah pun langsung turun dari mimbarnya lalu menggendong dan meletakkan keduanya dihadapannya, kemudian bersabda, Mahabenar Allah yang berfirman, Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian.” (Ath-Thaghabun: 15).
Beliau bersabda, “Ketika aku memandang kedua anak ini berjalan dengan langkah tertatih-tatih, aku tidak sabar hingga kuhentikan khotbahku untuk menggendong keduanya.” (H.R. At Tirmidzi).
Maa syaa Allah, begitulah salah satu metode Nabi kita dalam menjaga sekaligus mengajak, mengajarkan serta mengenalkan Tauhid kepada anak-anak. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam.
Keagungan dan kesucian ibafah shalat jum’at tidak mencegah Nabi dari memperhatikan anak-anak, selama dalam batas-batas tertentu yang tidak mengganggu atau menyebabkan rusak ibadah.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala, selain mengajarkan Tauhid dengan mengajak shalat berjamaah, sedari kecil anak-anak juga diajarkan mengucapkan kalimat Tauhid bahkan sejak permulaan mereka belajar berbicara.
Jundub bin Junadah berkata, “Dahulu kami telah bersama Nabi sejak kami masih remaja mendekati usia baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an dan kemudian kami mempelajari Al-Qur’an sehingga iman kami bertambah dengan mempelajari Al-Qur’an tersebut.” (H.R. Ibnu Majah).
Jadi, Nabi mengajarkan iman kepada para sahabat sebelum mengajarkan Al-Qur’an. Iman itu seperti disebutkan dalam hadits terdiri dari 73 atau 63 cabang. Yang paling utama adalah ucapan lailaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu itu cabang dari iman.
Anak kecil yang belum belajar berbicara itu ketika mendengar kalimat-kalimat azan, ia akan menirunya. Bahkan, ia akan selalu memperhatikannya saat orang-orang dalam kelalaian. Maka ia tanpa sadar telah berusaha mengucapkan kalimat tauhid dan kesaksian tentang kerasulan Nabi yang membawa tauhid tersebut. Karena itu, seorang guru hendaknya membiasakan anak yang masih belum bisa bicara tersebut agar mengucaphan kalimat tauhid Lailaha illallah. (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad).
Andai seorang pendidik mengetahui keagungan halimat tauhid, pasti akan selalu mengucapkannya dan Anda pastı memerintah anak-anak agar mengulang-ulanginya.
Imam Ahmad bin Abdullah bin Amr telah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya Nabi Nuh berkata kepada anaknya ketika akan meninggal, Aku memerintahmu untuk mengucapkan Lailaha illallah. Karena tujuh langit dan tujuh bumi itu seandainya berada di satu timbangan, sedangkan lailaha illallah berada di sebelahnya, niscaya Lailaha illallah lebih berat. (H.R. Ibnu Majah).
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan Lailahaillallah dan ajarilah ia agar di akhir hayatnya mengucapkan Lailaha illallah.” (H.R. At Tirmidzi).
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah, hendaknya yang menjadi kosakata awal yang dikenalkan ketika anak mulai berbicara adalah mengucapkan cabang iman yang paling utama dan tertinggi yaitu kalimat Lailaha illallah.
Syaikh Jamal Abdurrahman menuliskan, bahwa beliau membaca percakapan seorang penyanyi kepada istrinya sambil memandang takjub anaknya dalam sebuah gambar karikatur di sebuah surat kabar. Dalam karikatur itu, sang ayah berkata, “Kata pertama yang diucapkan anak kita bukan, ‘Papa’ melainkan ‘Lail’ (senandung nyanyian).”
Tidak heran bila hal seperti ini keluar dari seorang anak penyanyi dan pemusik. Akan tetapi, sungguh menyedihkan jika orang yang mengaku dirinya muslim mengajari anak-anak mereka mengucapkan nyanyian atau hal-hal lain yang tidak bermanfaat dalam fase peemulaan anak-anak berbicara.
Contoh seperti ini cukup banyak dan memilukan. Syaikh Jamal Abdurrahman melihat seorang lelaki membawa anaknya yang berusia sekitar empat tahun dan seorang lelaki lain yang menanyakan nama anak itu. Maka sang anak menyebutkan namanya yang sama dengan seorang penyanyi terkenal.
Selanjutnya, lelaki itu bertanya kepada sang anak, “Bisakah kamu bernyanyi seperti dia?” Ayah anak itu menjawab, “Tentu bisa.” Lalu sang ayah memerintahkan pada sang anak agar menyanyikannya dan sang anak pun mulai bernyanyi meski lisannya masih belum fasih mengucapkan beberapa huruf, sehingga lagu yang dinyanyikan sang anak itu terdengar begitu konyol rasanya dan tidak pantas dinyanyikan oleh anak sekecil dia.
Orang yang punya hati yang bersih pasti akan bertanya-tanya, “mau dibawa ke mana anak-anak seperti ini, mau jadi apa anak-anak seperti ini kelak?”
Betapa jauhnya perbedaan mereka dengan anak-anak generasi Islam terdahulu yang shalih. Orang-orang tua mereka membawa serta mereka ke berbagai medan peperangan dan mengajari mereka menunggang kuda serta menyerahkan tugas pendidikan kepada orang-orang yang dipercaya dapat menunaikannya hingga peperangan selesai. Mereka dididik sejak kecil demgam pendidikan yang Islami dan berkwalitas, bukan pendidikan yang tiada manfaatnya untuk Akhirat.
Sebagai penutup, Allah berfirman:
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (Al-An’am: 125).
Barakallahu fikum.
Diringkas dari “Athfalul Muslimin Kaifa Rabahumun Nabiyyul Amin” karya Syikh Jamal Abdurrahman.