Bulan Muharram, Keutamaannya, dan Amalan yang Dianjurkan di Dalamnya
Oleh: Ustadz Bahar Abu Abdissalam
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan seluruh sahabatnya.
1. Keutamaan Bulan Muharram
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan) yang diagungkan oleh Allah Ta’ala.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram,” (QS. At-Taubah: 36).
Qatadah rahimahullah berkata:
“Ketahuilah, bahwa kedzaliman (perbuatan dosa dan maksiat) pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman pada waktu selainnya. Meskipun kezaliman pada setiap keadaan tetap merupakan dosa yang besar, namun Allah Ta’ala mengagungkan perkara yang Dia kehendaki. Mahasuci dan Mahatinggi Rabb kita,” (Jami’ul ulum wal hikan 3/1041).
Di antara keutamaan bulan ini adalah bahwa Nabi menyandarkannya kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan.
Beliau bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram,” (HR. Muslim dari hadist Abu huroiroh)
Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan kedudukannya yang tinggi.
2. Hikmah Dijadikannya Muharram Sebagai Awal Tahun
Dijadikannya Muharram sebagai awal tahun Hijriah mengingatkan seorang muslim bahwa kehidupannya adalah rangkaian perjalanan menuju Allah, yang harus diisi dengan ketaatan, ibadah, dan introspeksi diri.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi,” (Qimatuzzaman 27).
Hendaklah seseorang merenungkan, apakah hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Jika ia melihat bahwa pada siang harinya ia telah memperoleh banyak kebaikan, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah Ta‘ala atas taufik yang diberikan-Nya. Namun jika yang terjadi sebaliknya, maka hendaklah ia bertobat dan bertekad untuk memperbaiki kelalaian yang telah lalu pada malam harinya. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapus keburukan-keburukan.
Hendaklah ia juga bersyukur kepada Allah atas kesehatan tubuhnya dan masih tersisanya umur yang dengannya ia dapat mengejar dan memperbaiki kekurangan yang telah terjadi.
Dahulu, sekelompok ulama salaf menyukai agar tidak berlalu satu hari pun kecuali mereka telah bersedekah pada hari itu, dan mereka bersungguh-sungguh melakukan setiap kebaikan yang mereka mampu.” (Mukhtashor minhajul qoshidin 60).
Karena itu, orang yang berbahagia adalah yang mengawali tahunnya dengan taubat yang tulus, evaluasi diri, dan tekad kuat untuk istiqamah di atas jalan Allah.
3. Amalan-Amalan yang Disyari’atkan di Bulan Muharram
1. Memperbanyak Puasa
Berdasarkan sabda Nabi :
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram,” (HR. Muslim).
Maka dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan ini sesuai kemampuan.
2. Berpuasa pada Hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
“Aku tidak pernah melihat Nabi begitu bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan atas hari-hari lainnya selain hari ini, yaitu hari Asyura.” (Muttafaq ‘Alaih).
Nabi juga bersabda:
“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, Atturmudzy abu Dawud dan Ahmad).
Ini menunjukkan besarnya karunia dan rahmat Allah kepada hamba-Nya.
3. Berpuasa Tanggal 9 Bersama 10 Muharram
Nabi bersabda:
“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada tanggal sembilan,” (HR. Muslim).
Tujuannya adalah untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10.
Tingkatan puasa Asyura yang paling sempurna adalah:
1. Puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
2. Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram.
3. Puasa tanggal 10 Muharram saja.
4. Bertaubat dan Memperbarui Komitmen kepada Allah
Awal tahun merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri).
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok,” (QS. Al-Hasyr: 18).
Di antara amalan terbaik pada bulan Muharram:
- Taubat yang sungguh-sungguh.
- Mengembalikan hak dan menunaikan kewajiban kepada sesama.
- Menjaga shalat wajib.
- Memperbanyak zikir dan istighfar.
- Menyambung silaturahmi.
- Menyantuni anak yatim dan janda dhua’afa.
4. Amalan-Amalan yang Tidak Memiliki Dasar yang Sahih di Bulan Muharram
Tidak ada riwayat sahih dari Nabi tentang:
- Mengkhususkan malam pertama Muharram dengan ibadah tertentu.
- Mengkhususkan hari pertama tahun Hijriah dengan shalat tertentu.
- Do’a khusus awal tahun.
- Merayakan tahun baru Hijriah sebagai ibadah yang berpahala khusus.
- Mengkhususkan makanan, zikir, sedekah, atau ritual tertentu pada malam Asyura.
Karena pada dasarnya ibadah bersifat tauqifiyyah, yaitu hanya boleh dilakukan berdasarkan dalil yang sahih.
Assa’dy rahimahullah menuturkan:
“Dan tidaklah disyari’atkan suatu perkara kecuali yang telah disebutkan dalam syariat kita,”
Maksudnya, hukum asal dalam ibadah adalah tauqifiyyah (berhenti pada dalil). Seorang hamba tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang telah disyari’atkan oleh Rasulullah..
Allah Ta’ala berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (selain Allah) yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?,” (QS. Asy-Syuara: 21).
Dan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda:
كُلُّ عَمَلٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Setiap amalan yang tidak berdasarkan perintah kami, maka amalan itu tertolak,”
Karena itu, kita mengatakan bahwa asal dalam ibadah adalah menunggu ketetapan nash (Al-Qur’an dan Sunnah). Tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu bentuk ibadah kecuali yang datang dari Nabi. Kaidah ini merupakan kaidah yang telah dikenal luas di kalangan para ulama (Syarah nadzom Qowai’d al fiqhiyyah 3/10).
Faedah Kaidah
- Ibadah harus berdasarkan dalil, bukan sekadar perasaan, kebiasaan, atau anggapan baik.
- Semua bentuk ibadah baru yang tidak memiliki landasan syariat adalah tertolak, meskipun pelakunya berniat baik.
- Berbeda dengan urusan muamalah dan adat kebiasaan, hukum asalnya adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Adapun ibadah, hukum asalnya adalah tidak boleh sampai ada dalil yang mensyari’atkannya.
Karena itu para ulama merumuskan kaidah:
> الأصل في العبادات الحظر والتوقيف، والأصل في العادات الإباحة..
Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang (sampai ada dalil yang mensyari’atkannya), sedangkan hukum asal dalam adat dan muamalah adalah boleh (sampai ada dalil yang melarangnya).
Wal hasil..
Bulan Muharram adalah salah satu musim ketaatan yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Di dalamnya terkumpul kemuliaan waktu dan besarnya pahala. Karena itu, seorang muslim hendaknya menyambutnya dengan taubat yang tulus, memperbanyak puasa, khususnya puasa Asyura, serta menjadikan awal tahunnya sebagai awal baru dalam ketaatan dan kedekatan kepada Allah.
Sebagian ulama salaf berkata:
“Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah secara tersembunyi, niscaya Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Dan barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia, Barang siapa yang memberikan perhatian besar terhadap urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupkan baginya urusan dunianya,” (Al ikhlas wa anniyyah 54).
Semoga Allah menjadikan tahun kita sebagai tahun yang penuh kebaikan, keberkahan, petunjuk, dan taufik untuk memanfaatkan musim-musim ketaatan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabatnya. Allohumma Aamiin.
Wallohul musta’an