Artikel

Saudaramu Butuh Solusi, Bukan Bully

Oleh: Ustadz Nofa Miftahudin, S.Th.I

Muhasabah sebagai aktivis dakwah. Dalam dunia dakwah dan pergerakan Islam, kita sering berbicara tentang istiqamah, militansi, dan komitmen. Kita terbiasa memuji mereka yang selalu hadir, aktif, dan siap bergerak. Namun ada satu ujian yang sering luput kita sadari, bagaimana sikap kita ketika melihat saudara seperjuangan mulai melemah, futur, atau menjauh dari aktivitas dakwah, kurang semangat dalam gelanggang dakwah, sering menyampaikan afwan atau bahkan tanpa kabar tiba-tiba lenyap tidak kelihatan batang hidungnya.

Tidak sedikit yang awalnya aktivis, kemudian mulai jarang hadir. Tidak sedikit yang dulu lantang, kini lebih banyak diam. Tidak sedikit yang dulunya di barisan depan, kini seperti tertinggal di belakang. Pertanyaannya bukan hanya: “Ada apa dengan dia?” Tetapi juga: “Ada apa dengan cara kita menyikapinya?” Futur Itu Fase, Bukan Aib. Futur bukanlah dosa besar, bukan pula tanda munafik. Futur adalah fase manusiawi dalam perjalanan iman. Bahkan para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pun mengalaminya.

Namun yang sering terjadi di lapangan justru sebaliknya orang yang futur bukan dirangkul, tetapi dijadikan bahan cibiran. Bukan dikuatkan, tetapi diberi label baper, lemah, luntur, menurun kualitasnya, maksiat, tidak taat, penghianat.

Padahal orang yang semangatnya menurun tidak butuh tekanan, ia butuh solusi. Bukan butuh bully, tetapi butuh empati. Allah Melarang Bully dalam Bentuk Apa pun. Islam sejak awal telah menutup rapat pintu pembullian, baik secara lisan maupun sikap. Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka. Jangan saling mencela dan memanggil dengan gelar-gelar buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah iman,” (QS. Al-Hujurat: 11).

Ayat ini bukan hanya untuk masyarakat umum, tetapi peringatan keras bagi aktivis dakwah agar lisan dan sikapnya tidak menjadi sebab runtuhnya hati saudara sendiri.

Keteladanan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam suatu hari datang seorang pemuda kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam dengan permintaan yang mengejutkan meminta izin untuk berzina. Para sahabat langsung marah dan ingin menghardiknya.

Namun Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam tidak membully, justru Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam mendekati, berdialog, menyentuh akalnya dan hatinya, lalu mendoakannya. Pemuda itu keluar dari majelis Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam dalam keadaan benci terhadap zina.

Saudaraku yang dimuliakan Allah Ta’ala, jika kepada pelaku maksiat besar Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersikap lembut, mengapa kepada saudara yang sekadar futur kita begitu keras?

Kisah inspiratif seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pernah merasa imannya turun drastis. Ia bahkan berkata “Hanzhalah telah munafik.”

Apa respon Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam?
Tidak ada bully. Tidak ada penghakiman. Beliau menjelaskan bahwa iman naik dan turun, dan itu adalah fitrah manusia. Orang yang mengakui futur bukan orang buruk, justru ia orang jujur. Ibarat saudara kita yang sedang futur itu adalah orang sakit, sakit imannya. Maka yang dia butuhkan adalah obat, solusi untuk mengatasi kefuturan. Bukan malah bullian atau lebel yang menyakiti perasaan.

Kadang orang futur bukan karena imannya lemah, tetapi karena cara dakwah kita terlalu berat, berlebihan. Ada nasehat indah dari Imam Asy-Syafi’i

مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَانَهُ،
وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ

Artinya:
“Barang siapa menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, ia telah menasihati dan menghiasinya. Barang siapa menasihatinya di hadapan orang banyak, ia telah membuka aib dan merusaknya,”

Begitu pula Sufyan Ats-Tsauri juga berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمْرَضُ كَمَا يَمْرَضُ الْجَسَدُ
فَإِذَا مَرِضَ احْتَاجَ إِلَىٰ رِفْقٍ لَا إِلَىٰ ضَرْبٍ

Artinya:
“Sesungguhnya iman bisa sakit sebagaimana tubuh sakit. Jika sakit, ia butuh kelembutan, bukan pukulan,”

Saudaraku yang semoga kita semua dalam bimbingan dan ridha-Nya, bully adalah memukul orang yang sedang sakit iman. Ibarat seorang dokter hanya memvonis pasien tanpa memberikan obat atau solusi.

Jika ada teman yang tidak aktif di aktivis pergerakan dakwah, maka sikap yang benar adalah tabayyun, bukan asumsi, datangi dengan empati, bukan interogasi, tawarkan solusi, bukan tekanan, doakan, bukan dijatuhkan. Karena boleh jadi ia sedang berjuang sendiri, dan kehadiran kita bisa menjadi sebab ia bangkit kembali.

Jangan sampai kita rajin berdakwah, tapi justru menjadi sebab orang meninggalkan dakwah. Saudaramu tidak butuh sindiran. Ia butuh sandaran. Tidak butuh label. Ia butuh penguatan. Mari jaga barisan ini dengan akhlak, bukan hanya dengan agenda. Dengan rahmat, bukan dengan tekanan. Dengan solusi, bukan bully.

Mohon maaf, tulisan ini sekali-kali bukan ditujukan untuk pembelaan kepada siapapun yang futur. Namun menjadi muhasabah bagi masing-masing kita sebagai aktivis dakwah.

Apabila berbagai langkah kebaikan untuk menolong saudara kita yang sedang mengalami futur sudah kita lakukan, maka jangan mengabaikan doa terbaik untuknya. Karena doa tulus dari kita sangat bermanfaat bagi dia dan kemudian kita bertawakal kepada Allah. Apabila memang saudara kita adalah hamba-Nya pilihan maka semoga Allah Ta’ala segera melembutkan hatinya, menguatkan tekatnya dan mengobarkan semangatnya kembali di dalam barisan dakwah yang mulia ini. Aamiin yaa Robb

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita penolong iman saudara-saudara kita, bukan peruntuh semangat mereka. Aamiin yaa Robb

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button