Kajian Kolosal di Masjid Ibnu Abbas: Ustadz Rusdi Tekankan Perbedaan Aqidah dan Manhaj dalam Gerakan Dakwah
SERANG (ansharusyariah.com)— Memahami perbedaan antara aqidah dan manhaj menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga arah perjuangan dakwah. Pesan itulah yang mengemuka dalam Kajian Kolosal yang disampaikan oleh Amir Ansharu Syariah Banten Ustadz Rusdi di Masjid Ibnu Abbas, Jelumprit, Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten pada Ahad, (2/2026).
Di hadapan para peserta kajian, Ustadz Rusdi menjelaskan bahwa tidak sedikit kesalahpahaman di tengah umat berawal dari ketidakmampuan membedakan mana yang merupakan prinsip dasar agama yang bersifat tetap dan mana yang merupakan metode perjuangan yang dapat disesuaikan dengan kondisi.
Menurutnya, aqidah merupakan pondasi keyakinan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. Karena bersumber dari wahyu, aqidah tidak boleh berubah dan menjadi titik temu seluruh kaum muslimin.
“Aqidah umat Islam seharusnya sama. Organisasi Islam mana pun, majelis taklim mana pun, dan jamaah mana pun memiliki rujukan yang sama, yaitu Al-Qur’an dan hadits yang sahih,” ujar Ustadz Rusdi.
Ia menjelaskan bahwa aqidah mencakup enam rukun iman, yakni iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar. Keenamnya menjadi fondasi keimanan yang tidak dapat ditawar.
Dalam kajian tersebut, ia juga mengingatkan bahwa iman tidak cukup hanya diyakini di dalam hati. Keimanan harus diwujudkan melalui ucapan lisan dan amal perbuatan sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dalam kehidupan seorang muslim.
Berbeda dengan aqidah, lanjutnya, manhaj merupakan jalan atau metode dalam mengimplementasikan ajaran Islam. Karena berkaitan dengan strategi dan ijtihad, manhaj memiliki ruang untuk berkembang sesuai kebutuhan zaman selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.
“Aqidah itu tetap, sedangkan manhaj adalah cara untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Cara berdakwah bisa berbeda, tetapi tujuan akhirnya tetap sama, yaitu menjaga kemurnian tauhid,” jelasnya.
Untuk memudahkan pemahaman, Ustadz Rusdi mengibaratkan aqidah sebagai tujuan perjalanan, sedangkan organisasi hanyalah kendaraan yang mengantarkan seseorang menuju tujuan tersebut. Sementara manhaj adalah pilihan rute yang ditempuh agar perjalanan dapat berlangsung dengan efektif dan sesuai kondisi.
Ia menilai perbedaan metode dakwah di antara organisasi Islam tidak semestinya menjadi sumber perpecahan selama seluruhnya tetap berpegang pada aqidah yang benar.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Rusdi juga menguraikan implementasi manhaj dalam berbagai bidang dakwah, mulai dari tarbiyah, hisbah, media dan informasi, penguatan ekonomi umat, hingga hubungan kemasyarakatan. Menurutnya, pembagian tugas tersebut merupakan bentuk strategi organisasi agar setiap bidang dapat berjalan secara efektif tanpa saling tumpang tindih.
“Setiap anggota memiliki amanah sesuai bidangnya. Ketika strategi telah diputuskan melalui musyawarah yang benar, maka tugas anggota adalah menjalankan amanah tersebut dengan disiplin dan penuh tanggung jawab,” katanya.
Kajian turut menyinggung sejumlah isu kontemporer yang sering menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Dalam pemaparannya, Ustadz Rusdi mengajak jamaah membedakan antara wilayah aqidah dengan wilayah ijtihad sehingga tidak mudah bersikap berlebihan ataupun meremehkan persoalan yang bersifat prinsip.
Ia mengingatkan pentingnya bersikap adil dalam menyikapi berbagai perbedaan pandangan, termasuk dalam persoalan kebangsaan dan strategi dakwah, selama tidak menggeser prinsip-prinsip dasar Islam.
Menutup kajian, Ustadz Rusdi mengajak seluruh peserta untuk terus memperdalam ilmu, menjaga adab dalam berdiskusi, serta mengutamakan rujukan dari Al-Qur’an, Sunnah, dan pedoman resmi dalam setiap aktivitas dakwah.
“Jangan mudah terbawa arus informasi di media sosial. Perkuat ilmu, jaga persatuan, dan sampaikan setiap masukan melalui jalur yang benar agar dakwah berjalan dengan tertib dan membawa maslahat,” pesannya.
Kajian Kolosal yang berlangsung di Masjid Ibnu Abbas tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan umat agar memiliki pemahaman yang kokoh terhadap aqidah sekaligus mampu memahami pentingnya strategi dakwah yang bijaksana dan sesuai dengan tuntunan syariat.