Ustaz Ahmad Ibnu Khaldun: Ilmu Harus Melahirkan Amal dan Akhlak
SERANG (ansharusyariah.com)— Jamaah Ansharu Syariah Banten menggelar Kajian Kolosal di Masjid Ibnu Abbas, Jelumprit, Waringin Kurung, Serang, Ahad (6/9/2026).
Kajian yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB tersebut menghadirkan Rois Sariyah Tarbiyah Jamaah Ansharu Syariah, Ustaz Ahmad Ibnu Khaldun, sebagai pemateri.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Ahmad membahas pentingnya membangun pribadi dengan “Jiwa yang Selesai”, yakni pribadi yang mampu menyelaraskan ilmu, iman, hati, dan amal dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keberhasilan dalam beragama tidak cukup diukur dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Ilmu perlu melalui proses pembinaan dan penyucian jiwa (tazkiyatun nufus) sehingga tercermin dalam perilaku dan akhlak seseorang.
Ilmu Harus Melahirkan Amal
Ustaz Ahmad menjelaskan adanya kesenjangan yang dapat terjadi antara ilmu dan praktik. Seseorang mungkin memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi belum tentu ilmu tersebut tercermin dalam perilaku maupun ketenangan hatinya.
Karena itu, ilmu harus menjadi fondasi yang melahirkan iman dan mendorong amal nyata. Ia mengibaratkan ilmu sebagai akar atau benih, sedangkan amal merupakan buah yang dapat terlihat dalam kehidupan seseorang.
Prinsip “berilmu sebelum berkata dan beramal” menjadi salah satu landasan yang ditekankan dalam kajian. Menurutnya, setiap perkataan dan perbuatan perlu didasari ilmu yang benar, dengan tauhid sebagai fondasi utama.
Namun, keberhasilan dalam proses tersebut tidak semata-mata diukur dari kesempurnaan hasil. Kesungguhan untuk terus memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Kealiman Bukan Sekadar Gelar
Pembahasan kemudian diarahkan pada makna kealiman. Ustaz Ahmad mengingatkan bahwa seseorang tidak semestinya dinilai alim hanya karena memiliki gelar akademik atau menguasai banyak pengetahuan.
Kealiman seharusnya tercermin dari sejauh mana ilmu membentuk perilaku dan memberikan manfaat bagi orang lain. Orang berilmu idealnya mampu mengamalkan apa yang dipelajarinya sekaligus menghadirkan kemanfaatan di tengah masyarakat.
Sebaliknya, ilmu yang hanya berhenti sebagai pengetahuan tanpa perubahan dalam kehidupan dapat menjadi persoalan bagi pemiliknya.
Karena itu, ilmu diharapkan mampu meresap ke dalam hati dan melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Tauhid dalam Menghadapi Persoalan Sehari-hari
Untuk menggambarkan penerapan tauhid dalam kehidupan sehari-hari, Ustaz Ahmad memberikan ilustrasi sederhana tentang secangkir kopi yang tertukar dengan garam.
Kesalahan kecil tersebut, menurutnya, dapat memicu kemarahan ketika seseorang masih dikuasai ego. Namun, proses pembinaan hati membuat seseorang belajar melihat berbagai peristiwa melalui perspektif tauhid.
Ia mengingatkan bahwa kemampuan manusia untuk mendengar, melihat, memahami, dan melakukan sesuatu berada dalam kehendak dan kekuasaan Allah.
Pemahaman tersebut diharapkan melahirkan pribadi yang lebih sabar, lapang dada, dan tidak mudah tersulut oleh persoalan kecil, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun bermasyarakat.
Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu
Ustaz Ahmad juga mengingatkan bahwa ilmu dapat menjadi jalan menuju kebaikan, tetapi dapat pula membawa seseorang kepada keburukan apabila orientasinya tidak lagi karena Allah.
Beberapa penyakit hati yang perlu diwaspadai antara lain keinginan untuk menyaingi orang berilmu, gemar berdebat untuk menunjukkan kehebatan, serta mengejar kedudukan dan pengakuan sosial.
Karena itu, proses menuntut ilmu perlu disertai evaluasi terhadap niat. Ilmu semestinya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah sekaligus semakin rendah hati ketika berinteraksi dengan sesama.
Amal Kecil dan Keikhlasan
Dalam kajian tersebut, peserta juga diajak untuk tidak meremehkan amal yang terlihat kecil. Besar atau kecilnya suatu amal yang tampak di hadapan manusia tidak selalu menjadi ukuran nilainya di hadapan Allah.
Ilustrasi seorang pemimpin yang bersedia mencuci piring tanpa diketahui orang lain menjadi gambaran bahwa kemuliaan seseorang bukan semata-mata terletak pada kedudukan, tetapi pada ketundukan dan keikhlasannya dalam beramal.
Demikian pula kisah seorang pemimpin yang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan, bahkan membebaskan seorang hamba setelah dirinya diperlakukan tidak menyenangkan. Kisah tersebut menjadi pelajaran mengenai pentingnya pengendalian diri dan sikap memaafkan sebagai bagian dari pembinaan jiwa.
Menjadi Pribadi yang Mempermudah
Pada bagian akhir kajian, peserta diajak menerapkan prinsip at-taysir, yakni mempermudah, serta at-tafsiyr, memberikan kabar gembira.
Seorang Muslim diharapkan mampu menghadirkan kemudahan, ketenangan, dan harapan bagi orang-orang di sekitarnya, bukan justru menjadi sumber kesulitan maupun ketakutan.
Kajian kemudian ditutup dengan refleksi tentang kondisi hati. Peserta diajak bertanya kepada diri sendiri apakah hati telah benar-benar tenang dan menerima ketetapan Allah, atau masih mudah dipenuhi kegelisahan dan perselisihan akibat persoalan dunia.
Melalui Kajian Kolosal tersebut, jamaah diajak untuk tidak berhenti pada pengetahuan agama semata. Ilmu diharapkan dapat menumbuhkan iman, iman melahirkan amal, dan amal kemudian membentuk akhlak yang semakin baik.
Dengan demikian, “Jiwa yang Selesai” bukan sekadar tentang banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana ilmu tersebut mengubah hati, perilaku, dan hubungan seseorang dengan Allah maupun sesama manusia.