Khutbah Jum’at Edisi 505 | Penjajahan Belum Berakhir, Ketika Umat Dijajah Pemikiran, Ekonomi, dan Moral
Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…
Sebentar lagi bangsa kita memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan yang telah diberikan kepada bangsa ini.
Kemerdekaan adalah nikmat besar.
Tetapi ada pertanyaan penting yang harus kita renungkan:
Apakah setelah terbebas dari penjajahan fisik, kita benar-benar telah merdeka?
Apakah umat sudah merdeka ketika banyak manusia masih diperbudak hawa nafsu?
Apakah kita benar-benar merdeka ketika anak-anak kita dikendalikan/diperbudak oleh algoritma media sosial?
Apakah kita benar-benar merdeka ketika sebagian masyarakat terjerat judi online?
Apakah kita benar-benar merdeka ketika narkoba menghancurkan generasi?
Apakah kita benar-benar merdeka ketika budaya konsumtif membuat manusia bekerja hanya untuk memenuhi keinginan yang tidak pernah selesai?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Penjajahan memang telah berakhir secara fisik, tetapi bukan berarti segala bentuk penjajahan telah lenyap. Dahulu penjajah datang membawa senjata, menguasai tanah dan memaksa manusia bekerja. Kini, bentuknya dapat berubah, pengaruh masuk melalui layar handphone, pikiran dibentuk oleh informasi, gaya hidup dikendalikan budaya konsumtif, ekonomi dibelenggu utang dan ketergantungan, sementara generasi perlahan kehilangan kendali atas dirinya.
Karena itu, kita harus menyadari bahwa kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga membebaskan diri, keluarga, dan generasi dari segala bentuk penguasaan yang menjauhkan kita dari Allah dan merampas kemandirian kita.
Kemerdekaan Hakiki Adalah Merdeka dari Penghambaan kepada Selain Allah
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56).
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?,”( Al-Jatsiyah Ayat 23).
Inilah kemerdekaan yang paling tinggi, yaitu ketika manusia tidak menjadi budak manusia, tidak diperbudak oleh harta, jabatan, popularitas, maupun hawa nafsu, tetapi menyadari bahwa dirinya diciptakan untuk menghambakan diri hanya kepada Allah سبحانه وتعالى.
Sebab, semakin seseorang tunduk dan taat kepada Allah, semakin ia terbebas dari berbagai bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah رحمه الله, kebebasan yang hakiki bukanlah hidup tanpa aturan, melainkan terbebas dari penghambaan kepada makhluk dan hawa nafsu dengan menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya; karena itu, ketundukan kepada Allah justru merupakan puncak kemerdekaan manusia.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada penjajahan yang harus kita waspadai.
Pertama: Penjajahan pemikiran
Ada penjajahan yang harus kita waspadai, yaitu penjajahan pemikiran, ketika umat perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga yang haram dianggap biasa, maksiat dianggap hiburan, membuka aurat dianggap kebebasan, kerusakan moral dianggap kemajuan, sementara nasihat agama justru dianggap kolot dan ketinggalan zaman. Inilah bahaya ketika standar kehidupan tidak lagi dibangun berdasarkan wahyu Allah, tetapi mengikuti hawa nafsu, tren, dan ukuran manusia. Allah berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.”(QS. Al-Hajj: 46).
Kedua, penjajahan ekonomi, yaitu ketika umat lebih banyak menjadi konsumen tetapi lemah sebagai produsen; senang membeli tetapi tidak membangun, gemar mengonsumsi tetapi kurang menciptakan, bahkan rela berutang demi gaya hidup namun belum sungguh-sungguh membangun kemandirian. Padahal Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja, berusaha, produktif, dan menjaga kehormatan dengan mengandalkan hasil usaha yang halal. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” [HR. Bukhari, no. 6435].
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَا مًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdam).
Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘alaihis salam. Maka umat Islam harus menjadi umat yang produktif, mandiri, terampil, dan kuat secara ekonomi.
Ketiga: Penjajahan moral
Ketika zina, pornografi, narkoba, perjudian, minuman keras, kekerasan, dan berbagai kemaksiatan semakin dinormalisasi, sesungguhnya yang sedang dihancurkan bukan hanya individu, tetapi juga masa depan generasi. Allah berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا —
“Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).
Islam tidak hanya melarang perbuatan dosa, tetapi juga menutup segala pintu yang mengantarkan kepadanya. Karena itu, orang tua wajib menjaga keluarganya, ulama membimbing umat, pendidik membangun karakter, masyarakat saling menasihati dalam kebaikan, dan pemerintah menghadirkan kebijakan yang melindungi masyarakat dari kerusakan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jika kita ingin benar-benar merdeka, maka kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi harus diisi dengan ketakwaan, penjagaan moral, dan pembangunan kekuatan umat.
Apa Resolusi Kita?
Pertama, merdeka secara iman, yaitu membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah dengan memperbaiki tauhid, menegakkan salat, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, serta menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan. Sebab, kemerdekaan yang hakiki bukan sekadar bebas dari tekanan manusia, tetapi ketika hati, pikiran, dan kehidupan kita tunduk hanya kepada Allah سبحانه وتعالى.
Kedua: Merdeka secara ilmu.
Didik generasi agar menguasai agama sekaligus ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan kompetensi. Jangan biarkan generasi Muslim hanya menjadi pengguna. Jadilah pencipta, peneliti, pengusaha, profesional, dan pemimpin yang bertakwa.
Ketiga, merdeka secara ekonomi, yaitu dengan membangun kekuatan ekonomi umat melalui pengembangan usaha, penguatan perdagangan, pengembangan wakaf produktif, pemberdayaan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja, sehingga umat tidak hanya menjadi konsumen tetapi mampu menjadi produsen yang mandiri dan berdaya.
Pada saat yang sama, kita wajib menjauhi riba, perjudian, penipuan, monopoli yang zalim, dan seluruh transaksi yang haram, karena kemandirian ekonomi harus dibangun di atas kehalalan, kejujuran, produktivitas, dan keberkahan.
Keempat: Merdeka secara moral.
Lindungi keluarga. Awasi penggunaan handphone anak. Jangan biarkan rumah menjadi tempat masuknya pornografi, perjudian, narkoba, dan berbagai kemaksiatan.
Kelima: Merdeka dalam persatuan.
Allah berfirman:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”(QS. Al-Anfal: 46).
Jangan habiskan energi umat untuk saling mencela. Jangan sampai umat sibuk bertengkar sementara generasinya kehilangan arah.
Bangun ukhuwah. Bangun pendidikan. Bangun ekonomi. Bangun peradaban.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kemerdekaan bukan sekadar upacara, tetapi amanah yang harus kita isi dengan tanggung jawab. Jangan sampai kita mengibarkan bendera kemerdekaan di luar rumah, tetapi di dalam rumah anak-anak kita justru terjajah oleh gadget dan berbagai pengaruh yang merusak, jangan sampai kita berbicara tentang kemerdekaan bangsa, sementara diri kita masih menjadi budak maksiat, dan jangan sampai bangsa ini merdeka secara politik, tetapi lemah dalam ilmu, ekonomi, moral, dan persatuan.
Karena itu, mari kita isi kemerdekaan dengan ketakwaan, kita kuatkan keluarga, kita selamatkan generasi, kita bangun ekonomi umat, kita tegakkan keadilan, dan kita perkuat persatuan, agar kemerdekaan menjadi jalan menuju bangsa yang beriman, bermartabat, mandiri, dan diberkahi Allah.
Dan kita mohon kepada Allah agar negeri ini menjadi negeri yang aman, adil, kuat, dan diberkahi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Download file PDF