Khutbah Jum’at Edisi 508 | Menjaga Bumi Adalah Amanah: Hikmah di Balik Karhutla, Kemarau Panjang, dan Krisis Lingkungan
Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan bagaimana kemarau dan kekeringan membawa berbagai persoalan. Tanah menjadi kering, sumber air berkurang, pepohonan kehilangan kesegarannya, dan udara menjadi semakin panas.
Dalam kondisi seperti itu, ketika muncul titik api, kebakaran hutan dan lahan dapat berkembang dengan cepat. Asap menyebar, jarak pandang terganggu, aktivitas masyarakat terhambat, kesehatan terancam, dan saudara-saudara kita yang berada di sekitar wilayah kebakaran harus menghadapi keadaan yang tidak mudah.
Bagi kita yang hanya melihatnya melalui layar handphone, mungkin semua itu tampak seperti berita. Tetapi bagi mereka yang mengalaminya, itu adalah persoalan kehidupan sehari-hari.
Di balik hutan yang terbakar terdapat pepohonan yang hilang, satwa yang kehilangan habitat, lahan yang rusak, dan masyarakat yang terganggu kehidupannya.
Di balik udara yang dipenuhi asap terdapat anak-anak, orang tua, petani, pedagang, dan masyarakat biasa yang harus menghirup udara yang tidak sehat. Di balik kekeringan terdapat keluarga yang harus mencari air lebih jauh, petani yang khawatir terhadap tanamannya, dan masyarakat yang harus menghemat kebutuhan sehari-hari. Karena itu, karhutla dan kemarau panjang bukan hanya persoalan cuaca atau lingkungan. Di dalamnya terdapat persoalan manusia, kehidupan, dan tanggung jawab kita bersama.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,
Ketika melihat keadaan seperti ini, seorang Muslim tidak seharusnya hanya bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga bertanya, “Apa yang harus saya perbaiki?” Kita memang tidak boleh memastikan bahwa setiap bencana tertentu adalah hukuman Allah atas dosa seseorang, karena perkara gaib adalah urusan Allah.
Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kerusakan yang terjadi akibat kelalaian dan perbuatan manusia. Bencana harus menjadi momentum untuk berhenti sejenak, melakukan muhasabah, memperbaiki kesalahan, dan kembali kepada Allah. Allah ﷻ berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali kepada jalan yang benar.”(QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang sering kita lupakan: perbuatan manusia memiliki akibat. Ketika manusia memperlakukan alam dengan serampangan, ketika api digunakan tanpa kehati-hatian, ketika sampah dibuang ke sungai, ketika air digunakan secara berlebihan, dan ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kemaslahatan bersama, maka kerusakan dapat muncul dan akhirnya kembali kepada kehidupan manusia sendiri. Karena itu, melihat kerusakan lingkungan seharusnya membuat kita lebih berhati-hati terhadap setiap tindakan yang kita lakukan.
Allah ﷻ juga berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”(QS. Al-A’raf: 56).
Bumi yang kita tempati bukanlah sesuatu yang kita ciptakan. Kita datang ke dunia setelah bumi telah Allah siapkan dengan air, tanah, tumbuhan, hewan, udara, dan berbagai sumber kehidupan. Kita hanya menerima, memanfaatkan, dan menikmati sebagian dari nikmat tersebut.
Karena itu, manusia tidak boleh memperlakukan bumi seolah-olah bebas melakukan apa saja tanpa tanggung jawab. Kita boleh mengambil manfaat dari bumi, tetapi kita tidak boleh menjadikan pemanfaatan sebagai alasan untuk melakukan kerusakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Hadis ini memberikan prinsip yang sangat sederhana tetapi sangat penting. Seorang Muslim harus mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Jika api yang dinyalakan dapat membakar lahan orang lain, jika sampah yang dibuang dapat mencemari sungai, jika limbah yang dibuang dapat merusak sumber air, atau jika suatu tindakan menyebabkan masyarakat menghirup udara yang tercemar, maka perbuatan tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Seorang Muslim tidak hanya memikirkan apa yang boleh dilakukan, tetapi juga memikirkan apakah perbuatannya menimbulkan mudarat bagi orang lain.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Karena itu, menjaga bumi sebenarnya bukan perkara yang jauh dari kehidupan kita. Ia dimulai dari kebiasaan yang sangat sederhana. Ketika kita tidak membuang sampah sembarangan, kita sedang mencegah masalah. Ketika kita menghemat air, kita sedang menghargai nikmat Allah.
Ketika kita tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan, kita sedang mencegah bahaya. Ketika kita menjaga kebersihan lingkungan, kita sedang memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang lain. Kebaikan terhadap lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan besar, ia membutuhkan kesadaran yang dilakukan secara terus-menerus.
Namun di tengah semua ikhtiar tersebut, kita tidak boleh melupakan Allah. Ketika menghadapi kemarau dan kekeringan, kita perlu memperbanyak istighfar, taubat, doa, sedekah, dan amal saleh. Allah ﷻ berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian,”(QS. Nuh: 10–11).
Istighfar bukan hanya ucapan yang keluar dari lisan, tetapi harus melahirkan perubahan dalam kehidupan. Jika ada kesalahan, kita tinggalkan. Jika ada kebiasaan yang merusak, kita perbaiki. Jika selama ini kita boros, kita belajar hemat. Jika selama ini kita tidak peduli, kita mulai peduli. Kembali kepada Allah berarti memperbaiki hubungan kita dengan Allah sekaligus memperbaiki perilaku kita terhadap makhluk-Nya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,
Maka kemarau mengajarkan kepada kita arti bersyukur. Ketika air masih tersedia, jangan disia-siakan. Ketika udara masih bersih, jangan dicemari. Ketika lingkungan masih aman, jangan dirusak. Dan ketika ada saudara kita yang sedang menghadapi kekeringan atau karhutla, jangan biarkan penderitaan mereka hanya menjadi berita yang kita lihat lalu kita lupakan. Jika kita mampu membantu, bantulah sesuai kemampuan. Sebab nikmat yang kita terima bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi jalan bagi kita untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Pada akhirnya, menjaga bumi bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia adalah bagian dari amanah, syukur, tanggung jawab, dan ketakwaan kepada Allah.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,
Apa yang kita bicarakan pada khutbah pertama tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Iman selalu menuntut amal. Karena itu, setelah kita melihat keadaan lingkungan, memahami petunjuk Al-Qur’an, dan melakukan muhasabah, mari kita buktikan kepedulian itu melalui kehidupan sehari-hari. Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat, aktivis lingkungan, atau memiliki kemampuan besar untuk berbuat. Setiap orang dapat mengambil bagian dari tempatnya masing-masing.
Mulailah dari rumah. Gunakan air seperlunya. Jaga kebersihan. Kelola sampah dengan baik. Jangan membakar sesuatu secara sembarangan. Ajarkan anak-anak untuk mencintai kebersihan dan menjaga lingkungan. Kemudian perluas kepedulian itu kepada lingkungan sekitar. Jika ada sesuatu yang berpotensi menimbulkan kebakaran atau pencemaran, cegah sesuai kemampuan. Jika ada masalah lingkungan yang membutuhkan kerja bersama, jangan menjadi orang yang hanya mengeluh. Jadilah bagian dari solusi.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kepedulian juga berarti memperhatikan manusia yang terdampak. Ketika ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air, ketika ada keluarga yang terdampak kebakaran, atau ketika ada saudara yang membutuhkan bantuan, jangan sampai kita merasa bahwa masalah mereka bukan urusan kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya” (HR Muslim).
Maka jika kita memiliki kelebihan air, bagikan kepada yang membutuhkan. Jika memiliki makanan, bantulah dengan makanan. Jika memiliki kemampuan tenaga, gunakan untuk membantu. Jika memiliki kemampuan materi, sisihkan untuk mereka yang terdampak. Dan jika tidak mampu memberikan bantuan materi, jangan berhenti mendoakan dan mengajak orang lain untuk peduli. Setiap orang dapat mengambil bagian dalam kebaikan sesuai kemampuannya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala,
Kita juga harus menyadari bahwa ikhtiar manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah. Kita berusaha mencegah kebakaran, tetapi Allah yang menjaga bumi. Kita menghemat air, tetapi Allah yang menurunkan hujan. Kita membantu manusia, tetapi Allah yang memberikan pertolongan.
Karena itu, jangan hanya mengandalkan kemampuan kita. Perbanyak istighfar dan doa, dan apabila keadaan mengharuskannya, laksanakan shalat istisqa sesuai tuntunan syariat.
Di antara doa yang diajarkan ketika meminta hujan adalah:
سنن أبي داوود ٩٨٨: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي خَلَفٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ عَنْ يَزِيدَ الْفَقِيرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَوَاكِي فَقَالَ اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ قَالَ فَأَطْبَقَتْ عَلَيْهِمْ السَّمَاءُ
Sunan Abu Daud 988: Beberapa wanita mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis (karena kekeringan), kemudian beliau berdo’a: “Allahummasqina ghaitsan mughitsan mari’an nafi’an ghair dlarrin ‘ajilan ghaira ajilin” (ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang dapat menolong kami, yang menyenangkan kami, menyuburkan lagi bermanfaat dan tidak membahayakan, segera jangan ditunda-tunda).” Seketika itu juga, langit menurunkan hujannya atas mereka.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita pulang dengan membawa satu kesadaran sederhana: apa yang Allah titipkan kepada kita harus kita jaga. Air adalah amanah. Tanah adalah amanah. Udara adalah amanah. Lingkungan adalah amanah. Bahkan kemampuan kita untuk membantu orang lain juga merupakan amanah. Jangan sampai kita banyak meminta nikmat Allah, tetapi sedikit menjaga nikmat-Nya.
Karena itu, mari kita mulai dari diri sendiri. Kembali kepada Allah, berhenti melakukan kerusakan, menjaga lingkungan, dan membantu sesama. Jangan menunggu perubahan besar. Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan oleh banyak orang dengan istiqamah.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, menjaga negeri kita dari kebakaran, kekeringan, dan berbagai bencana, melindungi saudara-saudara kita yang terdampak karhutla, memberikan kesehatan dan keselamatan kepada mereka, menjaga harta dan keluarga mereka, serta menurunkan kepada kita hujan yang bermanfaat, menyuburkan, merata, dan penuh keberkahan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Download file PDF: