Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at Edisi 506 | Rabiul Awal: Meneladani Akhlak Rasulullah, Jalan Keluar dari Krisis Umat

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita sedang berada di bulan Rabiul Awal, bulan yang mengingatkan kaum Muslimin kepada sosok manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Kita mengenal nama beliau, mencintai beliau, memperbanyak shalawat kepada beliau, dan membaca perjalanan hidup beliau. Namun, di tengah kehidupan umat yang menghadapi berbagai persoalan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar seberapa banyak kita mengenal Rasulullah ﷺ: sejauh mana Rasulullah ﷺ benar-benar menjadi teladan dalam kehidupan kita?

Pertanyaan ini penting karena umat hari ini tidak hanya menghadapi persoalan ilmu, tetapi juga persoalan akhlak dan keteladanan. Kejujuran semakin mahal, amanah sering dikalahkan kepentingan, lisan mudah digunakan untuk mencaci, media sosial tidak jarang menjadi tempat menyebarkan fitnah dan permusuhan, sementara anak-anak dan generasi muda menghadapi berbagai pengaruh yang dapat merusak iman, moral, dan masa depan mereka.

Di dalam keluarga pun kita menghadapi persoalan yang tidak ringan. Ada orang tua yang sibuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi kurang memberikan perhatian dan keteladanan kepada anak. Ada orang yang tampak baik di hadapan masyarakat, tetapi belum mampu menghadirkan kelembutan dan kesabaran di dalam rumah. Bahkan perbedaan kecil terkadang berkembang menjadi pertengkaran besar karena hilangnya kesabaran, kasih sayang, dan kemampuan mengendalikan diri.

Semua ini menunjukkan bahwa krisis umat bukan hanya krisis pengetahuan, tetapi juga krisis pengamalan dan keteladanan. Ilmu agama semakin mudah diperoleh. Al-Qur’an mudah dibaca melalui telepon genggam.

Kajian tersedia di masjid, sekolah, pesantren, dan berbagai media. Hadits pun mudah ditemukan. Akan tetapi, kemudahan memperoleh ilmu belum otomatis menjadikan manusia lebih jujur, lebih amanah, lebih sabar, dan lebih baik akhlaknya. Di sinilah kita perlu kembali kepada Rasulullah ﷺ.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4).

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu kemuliaan terbesar Rasulullah ﷺ adalah akhlaknya. Akhlak beliau bukan sekadar sopan santun dalam pergaulan, tetapi akhlak yang lahir dari iman, ketakwaan, ketaatan kepada Allah, kasih sayang kepada manusia, keberanian menegakkan kebenaran, kesabaran menghadapi ujian, dan keadilan dalam memperlakukan sesama.

Karena itu, meneladani akhlak Rasulullah ﷺ berarti menjadikan kehidupan beliau sebagai pedoman nyata dalam kehidupan kita: bagaimana beliau beribadah, berbicara, memperlakukan keluarga, mendidik generasi, menghadapi perbedaan, memimpin masyarakat, memaafkan kesalahan, bersikap tegas terhadap kemungkaran, dan memperjuangkan kebenaran.

Allah سبحانه وتعالى menegaskan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”(QS. Al-Ahzab: 21).

Perhatikan kata أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ — uswatun hasanah, teladan yang baik.

Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani. Beliau bukan hanya untuk diceritakan, tetapi untuk diikuti. Beliau bukan hanya untuk dicintai dengan lisan, tetapi untuk dihidupkan ajaran dan akhlaknya dalam kehidupan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Jika kita ingin memahami mengapa Rasulullah ﷺ berhasil mengubah masyarakat, kita perlu melihat kondisi masyarakat Arab ketika beliau diutus. Pada saat itu terdapat kesyirikan, kezaliman, peperangan antarsuku, fanatisme kesukuan, perjudian, minuman keras, penindasan terhadap orang lemah, dan berbagai kerusakan moral.

Namun Rasulullah ﷺ tidak menghadapi kerusakan itu hanya dengan memperbaiki gejala yang tampak di permukaan. Beliau membangun manusia dari dalam.

Beliau menanamkan tauhid di dalam hati, beliau menguatkan iman kepada Allah dan hari akhir, beliau membentuk manusia yang jujur dan amanah, beliau menanamkan persaudaraan, beliau menegakkan keadilan, beliau mendidik manusia agar merasa diawasi Allah, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Dari manusia-manusia yang memiliki iman dan akhlak itulah kemudian lahir keluarga yang baik, masyarakat yang kuat, dan peradaban yang mulia.

Maka kita mendapatkan satu pelajaran penting:

Perubahan Umat Harus Dimulai Dari Perubahan Manusia

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra‘d: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan tidak boleh hanya diarahkan kepada orang lain. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

Sebab, hati yang baik akan melahirkan perilaku yang baik, perilaku yang baik akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang baik akan membentuk karakter, karakter yang baik akan memengaruhi keluarga, keluarga yang baik akan membangun masyarakat, dan masyarakat yang baik akan menjadi fondasi peradaban yang baik.

Karena itu, ketika kita melihat kerusakan masyarakat, jangan hanya bertanya, “Siapa yang harus disalahkan?” Mari bertanya lebih dahulu: “Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya?” Ketika kita melihat generasi muda bermasalah, jangan hanya mengatakan, “Anak-anak sekarang sulit dinasihati.”

Mari bertanya: “Sudahkah kita menjadi teladan yang mereka lihat setiap hari?”
Ketika kita menginginkan keluarga yang sakinah, jangan hanya menuntut pasangan dan anak-anak berubah.

Mari bertanya: “Sudahkah akhlak Rasulullah ﷺ hidup di dalam rumah kita?”
Dan ketika kita menginginkan masyarakat yang jujur dan amanah, mari kita mulai dengan menjadi pribadi yang jujur dan amanah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Aisyah رضي الله عنها ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Artinya, Rasulullah ﷺ adalah gambaran nyata bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an diterjemahkan menjadi kehidupan.

Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, beliau adalah orang yang jujur, Al-Qur’an mengajarkan amanah, beliau adalah orang yang amanah. Al-Qur’an mengajarkan kasih sayang, beliau adalah manusia yang penuh kasih sayang. Al-Qur’an mengajarkan keadilan, beliau menegakkan keadilan. Al-Qur’an mengajarkan kesabaran, beliau bersabar menghadapi berbagai ujian. Al-Qur’an mengajarkan pemaafan, beliau memaafkan ketika memiliki kemampuan untuk membalas.

Karena itu, jika kita ingin keluar dari krisis akhlak, maka kita tidak cukup hanya berbicara tentang akhlak. Kita harus menghidupkan akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan nyata.

Bagaimana caranya?

Pertama, jadikan cinta kepada Rasulullah ﷺ sebagai ittiba’.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”(QS. Ali ‘Imran: 31).

Ayat ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar pengakuan. Cinta harus melahirkan ittiba’, yaitu mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Maka jika kita mencintai beliau, mari kita mengikuti ajarannya, hukumnya, shalatnya, kejujurannya, amanahnya, kesabarannya, kasih sayangnya, dan akhlaknya.

Kedua, hidupkan kembali kejujuran dan amanah.

Krisis akhlak sering kali bermula dari sesuatu yang dianggap kecil: berbohong kepada pasangan, memanipulasi laporan, mengingkari janji, mengambil sesuatu yang bukan hak, menipu dalam perdagangan, menyalahgunakan amanah, atau menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, mari kita mulai kejujuran dari tempat terdekat, jujur di rumah, jujur dalam pekerjaan, jujur dalam perdagangan, jujur dalam kepemimpinan, jujur dalam laporan, dan jujur di dunia nyata maupun dunia digital.

Ketiga, hidupkan akhlak Rasulullah ﷺ di dalam keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama tempat akhlak anak dibentuk. Anak tidak hanya mendengar apa yang dikatakan orang tuanya, tetapi terutama melihat apa yang dilakukan orang tuanya.

Karena itu, jangan sampai kita mengajarkan anak agar tidak berkata kasar, tetapi anak mendengar orang tuanya saling mencaci. Jangan sampai kita meminta anak menjaga shalat, tetapi mereka jarang melihat orang tuanya bersegera menunaikan shalat. Jangan sampai kita meminta anak menjauhi gawai secara berlebihan, sementara orang tuanya sendiri tidak pernah meletakkan telepon genggam.

Maka hidupkan akhlak Nabi ﷺ di dalam rumah melalui shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, makan bersama, berbicara dengan lembut, meminta maaf ketika salah, memaafkan ketika ada kesalahan, dan menyediakan waktu untuk mendidik anak.

Jangan hanya memberikan anak fasilitas, berikan pula keteladanan. Jangan hanya memberikan gawai; berikan perhatian. Jangan hanya memberikan nasihat; berikan contoh.

Keempat, jadilah teladan bagi generasi muda.

Kita sering mengeluhkan perubahan perilaku anak muda. Namun, sebelum menyalahkan generasi, kita perlu bertanya: apa yang mereka lihat dari orang-orang dewasa di sekelilingnya?

Anak-anak belajar kejujuran dari orang tua yang jujur, mereka belajar kesabaran dari orang tua yang mampu mengendalikan amarah, mereka belajar shalat dari orang tua yang menjaga shalat. Mereka belajar adab dari orang tua yang menjaga lisannya, mereka belajar tanggung jawab dari orang tua yang menunaikan amanah, karena itu, generasi yang baik tidak cukup dibentuk dengan ceramah. Generasi yang baik membutuhkan teladan yang hidup.

Kelima, jadikan Rabiul Awal sebagai momentum perubahan nyata.

Jangan biarkan Rabiul Awal berlalu hanya sebagai pergantian bulan. Jangan biarkan kecintaan kepada Nabi ﷺ berhenti pada ucapan. Jangan biarkan shalawat hanya menggerakkan lisan, tetapi tidak mengubah perilaku.

Mari jadikan bulan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Jika selama ini kita mudah marah, mari belajar sabar, jika lisan kita sering menyakiti, mari belajar menjaga ucapan, jika amanah kita belum sempurna, mari segera memperbaikinya, jika hubungan keluarga renggang, mari mulai meminta maaf dan memperbaikinya, jika kita jauh dari Al-Qur’an, mari kembali membacanya setiap hari, jika anak-anak kurang mendapatkan perhatian, mari hadir untuk mereka, jika selama ini kita lebih banyak mengkritik keadaan, mari mulai menjadi bagian dari solusi.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Rasulullah ﷺ telah wafat, tetapi akhlak beliau tidak boleh ikut wafat dari kehidupan umatnya. Beliau telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunnah sebagai petunjuk. Karena itu, tugas kita bukan sekadar mengenang sejarah beliau, tetapi menjadikan petunjuk beliau hidup dalam kehidupan. Mari kita bertanya kepada diri kita:

Setelah mengenal Rasulullah ﷺ, apakah saya menjadi lebih jujur? Apakah saya menjadi lebih amanah? Apakah saya menjadi lebih lembut kepada keluarga? Apakah saya lebih mampu menjaga lisan? Apakah saya lebih peduli kepada sesama? Apakah saya lebih sabar menghadapi ujian? Apakah saya semakin takut kepada Allah?

Jika jawabannya semakin dekat kepada kebaikan, maka Rabiul Awal benar-benar telah menjadi momentum perubahan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sebagai kekuatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, dan memperbaiki kehidupan masyarakat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Download file PDF:

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button