Artikel

Akibat Mena’ati Penguasa dalam Kemaksiatan | Antara Kehilangan Kebebasan Ruhani dan Keruntuhan Peradaban

Oleh: Ustadz Bahar Abdissalam

Dalam kehidupan umat manusia terdapat sunnatullah yang agung, yaikni ketika manusia lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan ridho Allah, maka Allah menghukum mereka dengan hilangnya keamanan dunia yang mereka pertahankan itu sendiri.

Para ulama ketika menjelaskan konsekuensi menaati penguasa dalam kemaksiatan, mereka menerangkan:

“Apabila manusia menaati para khalifah dan penguasa mereka dalam perkara-perkara bid’ah yang mereka ada-adakan, atau dalam kemaksiatan yang mereka perintahkan, karena takut kehilangan dunia dan kepentingan-kepentingan mereka, maka Allah akan mencabut rasa aman dan iman dari hati mereka. Allah akan menanamkan rasa takut dan kegelisahan dalam hati mereka, serta menimpakan kepada mereka kemiskinan dan kesempitan hidup. Namun, apabila mereka bertaubat dan kembali kepada Rabb mereka, niscaya Allah akan mengubah keadaan mereka menjadi penuh keamanan, keimanan, ketenteraman, kebahagiaan, dan kecukupan,”

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا ۝ فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا

“Betapa banyak negeri yang durhaka terhadap perintah Rabbnya dan para rasul-Nya, maka Kami menghisabnya dengan hisab yang sangat keras dan Kami mengazabnya dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat buruk dari perbuatannya, dan kesudahan urusan mereka adalah kerugian.” (QS. Ath-Thalaq: 8–9). (Mausu’ah khozain al islamiyyah fi dhouil Qur’an wa sunnah 10/92).

Sadarilah, pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk menjadi hamba Allah semata. Ketika ia menyerahkan ketaatan mutlak kepada selain Allah dalam perkara yang bertentangan dengan syari’at-Nya, ia telah merusak fitrah penghambaan yang menjadi dasar kemuliaannya

Dari sinilah awal segala kerusakan bermula. Sebab, kemaksiatan yang dilakukan karena syahwat masih menyisakan pengakuan terhadap kebenaran, dan berakhir dengan penyesalan, sedangkan kemaksiatan yang dilakukan atas nama ketaatan kepada manusia mengandung unsur pengagungan terhadap makhluk di atas perintah sang Khalik.

Karena itu, Al-Qur’an berulang kali mengaitkan antara ketaatan kepada Allah dengan keamanan, dan antara penyimpangan dari petunjuk-Nya dengan ketakutan serta kesempitan hidup.

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang memperoleh keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82).

Assa’dy menerangkan:
“Apabila mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman sama sekali, baik berupa syirik maupun berbagai kemaksiatan, maka mereka akan memperoleh keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Namun apabila mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik saja, tetapi masih melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan, maka mereka tetap mendapatkan pokok petunjuk dan pokok keamanan, meskipun tidak memperoleh kesempurnaannya. Dan mafhum (pemahaman kebalikan) dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak memiliki kedua perkara tersebut, maka mereka tidak mendapatkan petunjuk dan tidak pula keamanan, bahkan bagian mereka adalah kesesatan dan kesengsaraan,” (Taisir al karim arrohman 1/263).

Dan Keamanan dalam pandangan Al-Qur’an bukan pertama-tama lahir dari kekuatan militer, stabilitas politik, atau kemajuan ekonomi, melainkan dari kemurnian tauhid dan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, rasa takut yang menyelimuti suatu masyarakat sering kali bukan sekadar akibat ancaman eksternal, melainkan hukuman atas kerusakan spiritual yang berakar di dalam hati mereka.

Inilah sebabnya mengapa umat yang rela mengikuti kebatilan demi menjaga jabatan, harta, atau kedudukan, pada akhirnya kehilangan ketiga-tiganya sekaligus. Mereka mengorbankan agama demi dunia, tetapi Allah mencabut keberkahan dunia yang mereka kejar. Harta bertambah namun ketenteraman hilang, kekuasaan meluas namun rasa aman lenyap, pembangunan berdiri megah namun jiwa masyarakat dipenuhi kegelisahan dan inilah realitas hari hari ini.

Ibnul Qayyim mengatakan :

وأصل كل فتنة إنما هو من تقديم الرأى على الشرع، والهوى على العقل. فالأول: أصل فتنة الشبهة، والثانى: أصل فتنة الشهوة.

“Pangkal setiap fitnah adalah mendahulukan pendapat di atas syari’at dan hawa nafsu di atas akal yang lurus, pertama asal fitnah syubhat kedua fitnah Syahwat,” (Igotsatu allahfan fi mashoyid assyaithon 2/167).

Maknanya, ketika manusia lebih tunduk kepada tekanan kekuasaan daripada kepada wahyu, saat itulah fitnah dan kerusakan mulai menyebar.

Karena itu para ulama salaf dahulu berkata, waspadalah terhadap dua golongan manusia:

  1. Pengikut hawa nafsu yang telah disesatkan oleh hawa nafsunya.
  2. Pencinta dunia yang telah dibutakan oleh dunianya.

Dan mereka juga berkata, waspadalah terhadap fitnah seorang alim yang fasik dan seorang ahli ibadah yang bodoh, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi setiap orang yang terfitnah, Wallohul musta’an.

Pelajaran dari Sejarah Para Nabi

Sejarah para nabi menunjukkan bahwa sumber kekuatan umat bukanlah penguasa yang kuat, melainkan aqidah yang kuat. Ketika Bani Israil menyimpang dari perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu para pemimpin mereka, Allah menimpakan kehinaan dan perpecahan kepada mereka. Sebaliknya, ketika generasi sahabat menegakkan tauhid dan menolak tunduk kepada kemaksiatan, Allah memberikan kepada mereka keamanan, kemenangan, dan kepemimpinan dunia.

Oleh sebab itu, krisis terbesar suatu bangsa bukanlah krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis ketaatan kepada Allah. Sebab ekonomi dan politik hanyalah gejala lahiriah, sedangkan aqidah adalah akar yang menentukan sehat atau rusaknya seluruh bangunan peradaban.

Kaidah Agung dalam Perubahan Umat

Sunnatullah tidak berubah, dari Aisyah putri Abu Bakar radhiyallohu ‘anha ia berkata, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun menyebabkan manusia murka, maka Allah akan mencukupkannya dari urusan manusia. Dan barang siapa mencari keridaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia,”

Dalam riwayat lain disebutkan
“Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya,” (Al jami’ asshohih lissunan wal masanid 10/122).

Artinya, siapa yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya. Dan siapa yang mencari ridha Allah meskipun manusia murka, Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya.

Karena itu, jalan keluar dari berbagai krisis bukanlah memperbanyak kompromi terhadap kemungkaran, melainkan kembali kepada tauhid, taubat, dan keberanian moral untuk menempatkan perintah Allah di atas segala kepentingan duniawi.

Ketika manusia takut kepada Allah, Allah akan menghilangkan ketakutannya terhadap selain-Nya. Namun ketika manusia lebih takut kepada makhluk daripada kepada Allah, Allah akan menjadikan makhluk itu sendiri sebagai sumber ketakutan yang tidak pernah berakhir (Al bayan wa attabyin 3/100).

Inilah hakikat yang banyak disaksikan dalam sejarah, orang yang menjual agamanya demi keselamatan dunia tidak memperoleh keduanya, agama hilang dan dunia pun tidak memberi ketenangan.

Itulah makna mendalam firman Allah:

فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا

“Maka mereka merasakan akibat buruk dari perbuatannya, dan kesudahan urusan mereka adalah kerugian,” (QS. Ath-Thalaq: 9).

Kerugian terbesar bukanlah hilangnya harta atau kekuasaan, melainkan hilangnya keberkahan, keamanan, dan pertolongan Allah dari kehidupan individu maupun umat. Itulah kerugian yang menjadi pangkal segala kerugian lainnya.

Ketahuilah, persoalan ini bukan sekadar masalah fiqih siyasah atau etika sosial, tetapi menyentuh inti tauhid dan hak Allah atas hamba-Nya. Sebab, hakikat agama adalah tunduk kepada Allah dengan penuh ketaatan, kecintaan, dan pengagungan. Ketika seseorang mengetahui bahwa suatu perintah bertentangan dengan syariat Allah lalu tetap mengikutinya karena takut kehilangan jabatan, harta, kedudukan, atau keselamatan duniawi, maka ia telah mendahulukan ketakutan kepada makhluk di atas ketakutan kepada Allah.

Allah berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan para ulama dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah,” (QS. At-Taubah: 31).

Ketika ayat ini dibacakan kepada sahabat Adi bin Hatim, ia berkata:

“Kami dahulu tidak menyembah mereka”
Maka Nabi menjawab:

أليسوا يحرّمون ما أحلّ الله فتحرّمونه، ويحلون ما حرّمه فتحلونه.. ؟

“Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan lalu kalian ikut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan lalu kalian ikut menghalalkannya..?,”

Adi menjawab: “Benar.”

Nabi bersabda:

فتلك عبادتهم

“Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (Tafsir Al kasyaf 2/264).

Maka yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Agama adalah apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada dua golongan makhluk yang dibebani syariat, yaitu jin dan manusia.

Karena itu, setiap orang wajib beriman kepada beliau, kepada apa yang beliau bawa, serta mengikutinya lahir dan batin.
Beriman kepada beliau dan mengikuti beliau merupakan Jalan Allah, Agama Allah, ibadah kepada Allah, ketaatan kepada Allah, dan merupakan jalan yang ditempuh oleh para wali (hamba-hamba pilihan) Allah. Wallohul musta’an

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button