Kokohkan Aqidah, Kuatkan Ukhuwah: Pesan Ustadz Ahmad Tohir dalam Kajian Kolosal Banten
SERANG (ansharusyariah.com)— Menuntut ilmu, khususnya ilmu aqidah, merupakan kewajiban yang melekat pada setiap Muslim dan tidak dapat diwakilkan oleh siapa pun. Pesan inilah yang menjadi inti muqadimah yang disampaikan Ustadz Ahmad Tohir, Qoid Sariyah Tarbiyah Wilayah Banten, dalam pembukaan Kajian Kolosal yang digelar pada Ahad, (2/8/2026), di Masjid Ibnu Abbas, Jelumprit, Waringin Kurung, Kabupaten Serang, Banten.
Di hadapan peserta kajian, Ustadz Ahmad Tohir mengawali penyampaiannya dengan mengajak seluruh jamaah mensyukuri nikmat Allah SWT, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang mengantarkan mereka hadir di majelis ilmu.
Menurutnya, kehadiran di majelis ilmu bukan sekadar menghadiri sebuah agenda rutin, melainkan merupakan bentuk nyata ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus ungkapan syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan.
“Setiap langkah menuju majelis ilmu merupakan bagian dari ibadah. Kehadiran kita adalah jawaban atas panggilan Allah untuk terus memperbaiki diri dengan ilmu yang benar,” ujarnya.
Aqidah Menjadi Prioritas Utama
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ahmad Tohir menegaskan bahwa di antara berbagai cabang ilmu syariat, ilmu aqidah harus menjadi prioritas utama karena menjadi pondasi seluruh amal seorang Muslim.
Ia menjelaskan bahwa memahami aqidah termasuk kategori wajib ‘ain, yakni kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap individu Muslim tanpa dapat diwakilkan oleh orang lain.
“Setiap manusia kelak akan berdiri sendiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, keyakinan yang benar tidak bisa diserahkan kepada orang lain. Masing-masing bertanggung jawab atas aqidahnya sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, pondasi aqidah yang kokoh akan melahirkan amal yang benar serta menjadi bekal dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang Muslim.
Empat Hikmah Menghadiri Majelis Ilmu
Dalam muqadimahnya, ia juga menguraikan sejumlah hikmah yang dapat diperoleh dari menghadiri majelis ilmu.
Pertama, majelis ilmu menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan silaturahmi antar sesama kaum Muslimin yang berasal dari berbagai daerah.
Kedua, majelis menjadi tempat belajar mengamalkan prinsip ketaatan kepada ulil amri dalam perkara yang sesuai dengan syariat Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Melalui pembinaan tersebut, jamaah dibimbing untuk memahami adab dipimpin maupun memimpin dalam koridor syariat.
Ketiga, majelis ilmu merupakan “taman surga” di dunia yang menghadirkan ketenangan hati dan kesegaran ruhani, sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh hiburan dunia.
Keempat, kehadiran di majelis merupakan bentuk kemenangan seorang hamba atas hawa nafsunya. Ketika banyak orang menghabiskan akhir pekan untuk kesenangan duniawi, seorang penuntut ilmu memilih mengisinya dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Membantu Meringankan Amanah Pemimpin
Selain pentingnya ilmu, Ustadz Ahmad Tohir juga mengingatkan bahwa kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, jamaah memiliki tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban para pemimpin dengan cara disiplin menghadiri program pembinaan, menaati arahan yang sesuai syariat, serta memiliki kesadaran tanpa harus terus-menerus diingatkan.
Menurutnya, kedisiplinan anggota bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi bentuk bantuan kepada para pemimpin agar tidak terbebani akibat kelalaian orang-orang yang dipimpinnya.
Menjadi Cahaya Dakwah
Menutup muqadimahnya, Ustadz Ahmad Tohir mengajak seluruh jamaah agar tidak berkecil hati meskipun jumlah kaum Muslimin yang istiqamah di atas manhaj yang benar mungkin belum banyak.
Ia mengibaratkan keberadaan mereka seperti titik kecil di tengah luasnya wilayah Banten. Namun apabila setiap individu mampu menjaga cahaya ilmu, iman, dan amal saleh, maka kumpulan titik kecil tersebut akan menjadi penerang bagi masyarakat di sekitarnya.
Ia pun mengajak jamaah untuk terus berpegang teguh kepada prinsip tawâshau bil-haq wa tawâshau bish-shabr, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, seraya meyakini firman Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.
Melalui pembinaan ilmu yang berkesinambungan, diharapkan lahir pribadi-pribadi Muslim yang kokoh aqidahnya, lurus manhajnya, serta mampu menjadi cahaya dakwah yang memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.