Artikel

Seaktif Apapun Kita Berdakwah Jangan Lalai Dengan Pembinaan Kepada Keluarga Sendiri

Oleh: Ustadz Budi Eko Prasetiya, SS

Keluarga adalah prioritas utama dan pondasi pertama sebelum kita mengajak kebaikan kepada orang lain. Alasan Utama Dakwah Keluarga Jangan diabaikan dan tetap diutamakan adalah

1. Perintah Agama
Al-Qur’an secara tegas memerintahkan untuk menjaga diri dan keluarga terlebih dahulu dari api neraka

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا وَّقُوۡدُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُوۡنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ‏ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS. At-Tahrim: 6).

Nabi shallallahu ala’ihi wasallam juga menasihati kita tentang pentingnya peran keluarga dalam haditsnys

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku,” (HR. Tirmidzi).

2. Tanggung Jawab Utama
Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, dan kepala keluarga adalah pemimpin di rumahnya.

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.”

3. Benteng Pertama
Rumah tangga yang berlandaskan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (sering disebut sebagai keluarga Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah) secara otomatis membangun fondasi emosional, spiritual, dan mental yang kokoh bagi seluruh anggota keluarga.

Sebagai Benteng, Keluarga memiliki dampak Positif bagi Tumbuh Kembang Anak berupa :

▪︎ Keteladanan Nyata (Uswah Hasanah)
Anak adalah peniru yang ulung. Ketika melihat orang tua rajin beribadah, jujur, dan saling menghormati karena Allah, anak akan mengadopsi nilai-nilai kebaikan tersebut tanpa perlu dipaksa.

▪︎ Kesehatan Mental dan Emosional Lingkungan rumah yang menghidupkan iman dan jauh dari maksiat memberikan rasa aman bagi anak. Rasa aman ini sangat krusial untuk perkembangan otak dan rasa percaya diri mereka.

▪︎ Kecerdasan Moral
Pembiasaan nilai-nilai agama sejak dini melatih anak membedakan mana yang haq (benar) dan yang bathil (salah), sehingga mereka memiliki benteng kuat saat bergaul di luar rumah.

Untuk mewujudkannya, sebuah keluarga biasanya membangun beberapa kebiasaan kunci:

▪︎ Ibadah Bersama
Mengadakan salat berjamaah di rumah, mengaji bersama, atau saling mengingatkan untuk berpuasa sunah.

▪︎ Komunikasi Islami
Berbicara dengan adab secara lemah lembut, menghindari gibah (bergunjing), dan membiasakan kalimat-kalimat thayibah (seperti Bismillah, Alhamdulillah, Astaghfirullah).

▪︎ Mencari Rezeki yang Halal
Memastikan apa yang dimakan dan fasilitas yang digunakan anak-istri bersumber dari cara yang diridai Allah, karena rezeki haram dapat mengeraskan hati dan merusak keberkahan keluarga.

4. Kredibilitas Dakwah
Dakwah di luar rumah akan kehilangan wibawa jika kondisi moral keluarga sendiri justru terabaikan. Mengapa moralitas keluarga menjadi penentu wibawa dakwah di luar rumah:

▪︎ Agar tak terjadi Krisis Keteladanan
Dakwah yang paling efektif adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan/contoh nyata). Ketika masyarakat melihat adanya kesenjangan yang besar antara pesan suci yang disampaikan dengan realita moral keluarganya, pesan tersebut akan kehilangan daya pikatnya.

▪︎ Masyarakat berhak kritis
Kegagalan membina moral keluarga sendiri sering kali membuat sang pendakwah rentan dicap sebagai orang yang kontradiktif atau hanya pandai bersilat lidah.

▪︎ Rumah Tangga Sebagai “Laboratorium” Pertama
Rumah adalah tempat di mana karakter asli seseorang terlihat tanpa topeng sosial. Jika seorang pendakwah mampu bersikap sabar, mulia, dan menanamkan nilai agama kepada anak dan pasangan yang tahu persis kekurangannya, maka dakwahnya di luar akan memiliki “ruh” dan bobot spiritual yang kuat.

Mengabaikan keluarga demi mengejar panggung publik adalah bentuk ketimpangan prioritas. Keluarga memiliki hak nafkah batin dan pendidikan moral yang hukumnya fardhu ain bagi kepala keluarga, sementara dakwah publik sering kali bersifat fardhu kifayah atau sunnah tergantung konteksnya.

Strategi Mengimbangi Dakwah di luar dan Pembinaan Keluarga

1. Buat Jadwal Khusus
Alokasikan waktu rutin untuk mengaji atau berdiskusi agama bersama pasangan dan anak-anak di rumah.

2. Metode Keteladanan
Dakwah terbaik untuk keluarga adalah melalui akhlak dan perilaku nyata sehari-hari, bukan sekadar lisan.

3. Komunikasi Santai
Sampaikan nilai-nilai kebaikan lewat obrolan ringan saat makan bersama atau sebelum tidur.

4. Libatkan Keluarga
Jika memungkinkan, ajak pasangan atau anak dalam aktivitas dakwah di luar agar mereka merasa menjadi bagian dari perjuangan tersebut

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button