Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at Edisi 507 | Maulid Nabi ﷺ: Dari Jahiliyah Menuju Peradaban Melakukan Misi Rasulullah di Tengah Krisis Zaman

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan manusia hari ini. Kita hidup pada zaman yang sangat maju. Dahulu manusia membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyampaikan sebuah berita, sekarang berita dapat sampai ke seluruh dunia hanya dalam beberapa detik. Dahulu seseorang harus pergi jauh untuk mencari ilmu, sekarang ilmu dapat ditemukan melalui telepon genggam. Rumah semakin lengkap dengan berbagai fasilitas, kendaraan semakin canggih, komunikasi semakin mudah, dan teknologi semakin berkembang.

Tetapi di balik semua kemajuan itu, kita melihat kenyataan yang kadang membuat hati kita bertanya. Mengapa ketika teknologi semakin maju, manusia justru semakin mudah tertipu? Mengapa ketika komunikasi semakin mudah, permusuhan semakin banyak? Mengapa ketika informasi semakin melimpah, kebohongan juga semakin mudah menyebar? Mengapa ketika manusia memiliki banyak fasilitas, sebagian keluarga justru kehilangan ketenangan? Mengapa anak-anak kita semakin mengenal dunia melalui layar, tetapi sebagian dari mereka justru semakin jauh dari Al-Qur’an dan masjid?

Kita melihat perjudian dapat masuk ke rumah melalui telepon genggam. Seseorang tidak perlu datang ke tempat perjudian. Cukup membuka aplikasi, memasukkan uang, kemudian berharap mendapatkan keuntungan yang sebenarnya hanya membawa kerugian. Kita melihat narkoba dan berbagai bentuk penyalahgunaan zat mengancam generasi muda. Kita melihat pornografi dan konten yang merusak kehormatan semakin mudah diakses. Kita melihat fitnah dan penghinaan menyebar melalui media sosial. Bahkan terkadang sebuah jari yang sederhana dapat menjadi sebab rusaknya kehormatan seseorang karena kita ikut menyebarkan berita yang belum tentu benar.

Di dalam keluarga pun persoalannya tidak sedikit. Ada rumah yang besar tetapi tidak lagi terasa hangat. Ada orang tua yang mampu memberikan berbagai fasilitas kepada anak, tetapi tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan anaknya. Ada suami dan istri yang tinggal di bawah satu atap, tetapi hati mereka semakin jauh. Ada anak yang secara materi tidak kekurangan, tetapi secara perhatian dan keteladanan merasa sendirian.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kalau kita melihat kenyataan tersebut, kita menyadari bahwa persoalan manusia bukan hanya persoalan teknologi, ekonomi atau fasilitas. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu persoalan manusia itu sendiri: hati, iman, akhlak dan arah hidup.

Dan ketika berbicara tentang persoalan manusia, kita perlu kembali mengingat sosok yang diutus Allah سبحانه وتعالى untuk memperbaiki manusia, yaitu Rasulullah Muhammad ﷺ.

Kita sedang berada pada momentum Rabiul Awal. Bulan yang mengingatkan kita kepada Rasulullah ﷺ. Nama beliau kembali kita sebut. Shalawat kembali kita lantunkan. Sirah beliau kembali kita pelajari. Namun hari ini marilah kita tidak berhenti pada pertanyaan, “Kapan Rasulullah ﷺ dilahirkan?”

Mari kita bertanya lebih dalam: “untuk apa Rasulullah ﷺ diutus?” Dan setelah mengetahui misi beliau, mari kita bertanya kepada diri kita: “apakah misi itu sudah terlihat dalam kehidupan kita?”

Rasulullah ﷺ diutus di tengah masyarakat yang memiliki kemampuan berdagang, berbahasa, dan bersosial, tetapi mengalami kerusakan akidah, moral, dan kehidupan sosial: kesyirikan, fanatisme, kezaliman, perjudian, dan minuman keras. Beliau tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi membangun manusia dari dalam: menguatkan iman, membersihkan jiwa, mengajarkan ilmu, membentuk akhlak, dan menumbuhkan persaudaraan. Dari manusia yang berubah, lahirlah masyarakat yang berubah.

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al-Jumuah: 2).

Apa itu Jahiliyah Menurut Al Qur’an?

Di sinilah pentingnya kita memahami apa yang dimaksud dengan jahiliyah. Jahiliyah sering diterjemahkan sebagai kebodohan. Tetapi jahiliyah dalam Al-Qur’an tidak sesederhana orang yang tidak sekolah atau tidak memiliki pengetahuan. Jahiliyah berkaitan dengan keadaan ketika manusia jauh dari petunjuk Allah dan kemudian menjadikan hawa nafsu, kesombongan, fanatisme atau ukuran manusia sebagai pedoman hidup.

Karena itu, seseorang bisa memiliki pendidikan tinggi tetapi masih memiliki sifat jahiliyah. Seseorang bisa menguasai teknologi tetapi menggunakan teknologi untuk kemaksiatan. Seseorang bisa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak memiliki ketundukan kepada Allah. Seseorang bisa pintar berbicara tentang kebaikan tetapi perilakunya justru merusak orang lain. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini?”(QS. Al-Ma’idah: 50).

Ayat ini memperlihatkan bahwa salah satu karakter jahiliyah adalah ketika manusia berpaling dari petunjuk Allah dan lebih mengikuti ukuran yang bertentangan dengan kebenaran.

Maka persoalannya bukan sekadar “tahu atau tidak tahu.” Persoalannya adalah apakah manusia mau tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah? Sebab ada orang yang tidak tahu lalu belajar dan berubah. Tetapi ada juga orang yang sudah tahu tetapi tetap mengikuti hawa nafsunya. Inilah yang harus kita waspadai dalam kehidupan kita.

Jahiliyah Adalah Kesombongan yang Menolak Kebenaran

Jamaah yang dimuliakan Allah ,
Al-Qur’an juga menyebut salah satu karakter jahiliyah dengan istilah حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ, yaitu fanatisme atau kesombongan jahiliyah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:

إِذْ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ ٱلتَّقْوَىٰ وَكَانُوٓا۟ أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS. Al-Fath: 26).

Jahiliyah juga berupa kesombongan dan fanatisme yang membuat manusia menolak kebenaran. Dahulu berbentuk fanatisme kesukuan, kini bisa muncul dalam kelompok, golongan, organisasi, atau kepentingan. Perbedaan yang seharusnya biasa berubah menjadi permusuhan ketika ego lebih besar daripada kebenaran. Karena itu, saat berbeda pendapat, tanyakan: “Apakah saya sedang mencari kebenaran atau sekadar ingin menang?”

Jahiliyah bukan hanya tentang kesesatan akidah, tetapi juga hilangnya rasa malu dan kehormatan. Dahulu kemaksiatan dilakukan secara tersembunyi, hari ini dapat dipertontonkan melalui layar dan media sosial; aib yang dahulu dijaga, kini terkadang dijadikan konten demi popularitas. Karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kemajuan manusia bukan hanya pada ilmu dan teknologi, tetapi juga pada rasa malu, kehormatan, dan akhlak.

Jahiliyah bukan sekadar nama sebuah zaman, tetapi sifat dan karakter yang dapat berubah wajah. Dahulu ada berhala, kini manusia bisa diperbudak harta, jabatan, popularitas dan hawa nafsu; dahulu ada perjudian, kini masuk melalui telepon genggam, dahulu penghinaan terjadi langsung, kini menyebar melalui media sosial. Karena itu, modern dalam teknologi tidak otomatis maju dalam akhlak; banyak informasi tidak otomatis banyak hikmah. Kemajuan peradaban lahiriah tidak berarti kemuliaan manusia.

Rasulullah ﷺ mengubah manusia dengan manhaj yang menyentuh hati, akal, dan perilaku: membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, serta mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah. Manusia dibangun imannya, dibersihkan hatinya, diberi ilmu, dan dibentuk akhlaknya hingga lahir pribadi yang menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat. Inilah fondasi perubahan dan peradaban yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ tidak sekadar mengubah keadaan masyarakat, tetapi mengubah manusia dari dalam. Para sahabat yang dahulu keras, fanatik, egois, bahkan memusuhi Islam, berubah menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, rela berkorban, dan mencintai sesama. Inilah kekuatan manhaj Rasulullah ﷺ: peradaban tidak dimulai dari gedung yang megah, tetapi dari hati manusia yang berubah karena iman.

Krisis umat bukan hanya karena zaman yang berubah, tetapi ketika hawa nafsu mengalahkan petunjuk Allah, kesombongan menolak kebenaran, fanatisme memecah persaudaraan, rasa malu hilang, dan teknologi mempercepat kemaksiatan. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mengapa zaman semakin rusak?” tetapi bertanyalah, “Apa yang sudah saya lakukan agar diri dan keluarga saya tetap berada di jalan Rasulullah ﷺ?”

Perubahan tidak dimulai dari orang lain, tetapi dari diri sendiri. Jika ingin anak dekat dengan Al-Qur’an, kita harus lebih dulu dekat dengannya; jika ingin anak rajin salat, kita harus menjadi teladan; jika ingin generasi jujur, kita harus menjaga kejujuran. Jangan hanya mengeluhkan keadaan jadilah orang pertama yang berubah, karena perubahan besar selalu dimulai dari diri yang mau memperbaiki diri.

Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh masyarakat, tetapi kita mampu mengubah rumah kita. Jadikan rumah tempat pertama anak mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, menjaga salat, belajar adab, dan merasa aman bersama orang tuanya. Karena melanjutkan misi Rasulullah ﷺ tidak selalu dimulai dari mimbar dan ruang publik, tetapi dimulai dari rumah dengan orang tua yang hadir, menjadi teladan, dan mendidik dengan kasih sayang.

Dari Jahiliyah Menuju Peradaban

Rabiul Awal bukan sekadar momentum mengenang Rasulullah ﷺ, tetapi momentum untuk bercermin dan berubah. Rasulullah ﷺ membawa manusia dari jahiliyah menuju hidayah, dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan menuju ilmu, dari kerusakan menuju akhlak, dan dari permusuhan menuju persaudaraan. Risalah beliau telah sempurna, tetapi tugas kita adalah menghidupkan petunjuknya dalam kehidupan.

Kita mungkin tidak mampu mengubah dunia hari ini, tetapi kita bisa mengubah diri, memperbaiki salat, mendekat kepada Al-Qur’an, menjaga keluarga, mendidik anak, menjaga lisan dan jari dari fitnah, serta menjadi manusia yang bermanfaat. Jika setiap Muslim memperbaiki dirinya dan setiap keluarga membangun iman, ilmu, dan akhlak, insyaAllah dari rumah-rumah itulah peradaban Islam akan kembali tumbuh.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita mungkin tidak mampu menghilangkan seluruh kegelapan zaman, tetapi kita bisa menjadi cahaya di lingkungan kita, jujur ketika banyak orang berdusta, menjaga lisan ketika fitnah tersebar, mendidik anak ketika kemaksiatan mengancam, peduli ketika masyarakat mulai individualis, dan mengajak kepada kebaikan dengan iman, ilmu, dan akhlak; karena perubahan besar selalu dimulai dari manusia yang mau menjadi cahaya bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Download file PDF:

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button