Khutbah Jum’at Edisi 515 | Mewarisi Semangat Resolusi Jihad: Jihad Santri Modern Melawan Kebodohan dan Kemerosotan Moral

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pekan ini, tepatnya kemarin bangsa kita baru saja memperingati sebuah momentum bersejarah, yaitu Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober.
Hari santri bukanlah sekadar perayaan seremonial bagi mereka yang memakai sarung dan peci. Lebih dari itu, hari ini adalah pengingat akan peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh para ulama pada tahun 1945.
Sejarah Hari Santri tidak dapat dipisahkan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad untuk membangkitkan semangat umat Islam melawan penjajahan.
Seruan ini menggerakkan para kiai, santri, dan masyarakat dalam perjuangan yang kemudian berkobar dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Sejarah ini membuktikan bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga lembaga pendidikan yang berjasa besar dalam mencerdaskan umat, membentuk akhlak, dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
Hari ini, musuh yang kita hadapi bukan lagi penjajah yang membawa senjata api atau meriam. Namun, kita sedang menghadapi musuh yang jauh lebih samar dan berbahaya, yaitu kebodohan, kemiskinan moral, dan derasnya arus destruktif di era digital. Oleh karena itu, esensi jihad bagi kita dan generasi muda saat ini harus ditransformasikan menjadi Jihad Modern.
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Bagaimanakah bentuk jihad santri dan umat Islam di zaman modern ini?
Pertama, Jihad Melawan Kebodohan (Jihad Ilmi)
Kebodohan adalah musuh manusia yang menjerumuskannya ke dalam kegelapan, kejahatan, kemaksiatan, dan kehancuran. Sedangkan ilmu adalah cahaya yang menghidupkan hati dan membimbing manusia menuju kebenaran dan kemuliaan. Allah berfirman dalam QS. Al-An‘am ayat 122 tentang orang yang dihidupkan hatinya dengan cahaya sehingga mampu berjalan di tengah masyarakat.
Karena itu, Islam menempatkan ilmu sebagai landasan sebelum berkata dan berbuat, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Bukhari dalam bab Al-‘Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-‘Amal (ilmu sebelum perkataan dan perbuatan), berdasarkan QS. Muhammad ayat 19.
Melawan kebodohan bukan sekadar memperbanyak pengetahuan, melainkan membangun pemahaman yang benar agar perkataan, tindakan, dan kehidupan kita senantiasa berada dalam cahaya petunjuk Allah.
Umat Islam tidak boleh menjadi umat yang tertinggal dalam ilmu pengetahuan. Kita dituntut untuk menguasai ilmu agama sebagai kompas kehidupan, sekaligus ilmu duniawi untuk mengelola bumi Allah ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS.Al-Mujadilah: 11).
Seorang santri dan muslim yang sejati adalah mereka yang menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu pengetahuan terutama ilmu agama Islam, bernalar yang sehat, dan menyebarkan kebenaran, bukan mereka yang ikut menyebarkan hoaks, fitnah, dan kemalasan di media sosial.
Kedua, Jihad Melawan Kemerosotan Moral (Revolusi Akhlak)
Indonesia tengah menghadapi krisis moral dan etika yang terlihat dari maraknya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, politik uang, judi online, narkoba, kekerasan seksual, dan perilaku tidak beradab di media sosial. Krisis ini tidak hanya bersumber dari kelemahan individu, tetapi juga dari budaya materialisme, hedonisme, dan sikap menghalalkan segala cara yang mengikis kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian sosial.
Karena itu, diperlukan upaya bersama untuk membangun kembali karakter bangsa melalui penguatan nilai agama, pendidikan akhlak, keteladanan pemimpin, serta penanaman nilai kejujuran, integritas, kemandirian, dan gotong royong. Sebab, kemajuan bangsa tidak cukup ditopang oleh kekayaan dan kecanggihan teknologi, tetapi harus dibangun di atas kualitas manusia yang berilmu, berintegritas, dan berakhlak mulia.
Sehingga benar apa yang dinyatakan oleh Ahmad Syauqi:
إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ فَإِنْ هُمْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا
“Sesungguhnya eksistensi bangsa-bangsa itu sangat bergantung pada akhlaknya. Apabila akhlak mereka pudar maka punahlah eksistensinya,”
Alasannya, akhlak adalah cermin keimanan, pondasi peradaban, pilar tegaknya tatanan masyarakat yang maju, instrumen pergaulan dan modal utama untuk menciptakan keadilan, kedamaian dan keamanan. Lebih dari itu akhlak sebagai landasan komunikasi sosial dan politik yang melahirkan suasana batin yang harmonis, hubungan yang humanis, interaksi yang toleran dan fleksibel.
Bahkan Akhlak memiliki peran penting dalam mewujudkan revolusi mental yang damai dan konstruktif serta sebagai mercusuar bangsa untuk mendapat pengakuan dan pujian tulus dari komunitas internasional sehingga hikmah utama diutusnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyempurnakan akhlak yang mulia.
Jihad melawan kemerosotan moral adalah perjuangan sungguh-sungguh untuk memperbaiki akhlak, menjaga kehormatan, dan menegakkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Jihad ini diwujudkan melalui perjuangan melawan hawa nafsu, kebodohan, ketidakjujuran, judi, pornografi, narkoba, korupsi, perundungan, serta berbagai perilaku yang merusak diri dan masyarakat.
Perjuangan tersebut harus dimulai dari diri sendiri melalui penguatan iman dan pengendalian diri, kemudian dilanjutkan dengan membangun keluarga yang berakhlak, pendidikan yang membentuk karakter, serta penggunaan teknologi secara bijaksana.
Jihad melawan kemerosotan moral bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga, lembaga pendidikan, ulama, masyarakat, dan pemerintah. Orang tua harus menjadi teladan, guru mendidik dengan ilmu dan akhlak, ulama menguatkan dakwah dan nasihat, masyarakat membudayakan amar makruf nahi mungkar, serta pemerintah menegakkan hukum secara adil.
Dengan demikian, jihad melawan kemerosotan moral merupakan perjuangan bersama untuk menyelamatkan generasi, memperbaiki kehidupan masyarakat, dan membangun bangsa yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta bermartabat. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Ahmad).
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Semangat Hari Santri mengajarkan kita tentang keseimbangan: kesalehan ritual kepada Allah, sekaligus kesalehan sosial kepada sesama manusia dan negara.
Mari kita jadikan momentum ini untuk mendidik anak-anak kita agar memiliki karakter santri: yaitu anak yang taat beribadah, rajin menuntut ilmu, santun bertutur kata, dan cinta pada tanah airnya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk terus berjihad di jalan kebaikan, menjaga persatuan bangsa, dan menjauhkan generasi kita dari segala bentuk kerusakan moral.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Download file PDF:




