Artikel

Jangan Pesimis Shalat Istisqa’ di Tengah El Nino

Oleh: Nofa Miftahudin

Di tengah kemarau panjang, kekeringan, dan ancaman krisis air, umat Islam diajak menghidupkan kembali tuntunan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam melalui shalat Istisqa’. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak semestinya memadamkan harapan kepada Allah, tetapi justru mengingatkan manusia akan keterbatasannya dan pentingnya berikhtiar.

Ada kegelisahan yang tak selalu dapat diukur dengan angka, petani yang menatap sawahnya mengering, warga yang harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air bersih, sumur yang semakin dangkal, dan pepohonan yang kehilangan kesegarannya. Di sejumlah daerah, kemarau bukan sekadar perubahan cuaca. Ia telah menjadi persoalan kehidupan.

Ilmu pengetahuan memberikan penjelasan. Teknologi membantu manusia membaca perubahan atmosfer, mengamati suhu permukaan laut, memprediksi musim, dan memperkirakan wilayah yang berisiko mengalami kekeringan. Namun, bagi seorang Muslim, pengetahuan tentang cuaca tidak seharusnya menghapus doa. Justru ketika manusia mengetahui besarnya ancaman dan keterbatasan ikhtiarnya, ia semakin menyadari kebutuhan untuk memohon pertolongan kepada Allah Yang Mahakuasa.

Di sinilah shalat Istisqa’ menemukan relevansinya. Bukan sebagai pengganti ilmu pengetahuan, bukan pula sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai ikhtiar ibadah yang diajarkan Islam ketika hujan sangat dibutuhkan. Jangan biarkan pengetahuan tentang kemungkinan kemarau mematikan harapan kepada Allah. Ketika sebab-sebab alam dipelajari, pintu doa tetap terbuka.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 22 September 2026 menyampaikan bahwa El Nino dengan intensitas sangat kuat sedang berlangsung dan berpotensi memperpanjang kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. BMKG mencatat anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 pada akhir Agustus sebesar +2,83°C, dengan indeks ENSO periode Juli–Agustus–September sebesar +2,63.

Dalam siaran pers tersebut, BMKG juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran di 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen dari luas daratan yang tercakup dalam analisis. Sebanyak 556 ZOM, yang mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia menurut laporan tersebut, masih mengalami musim kemarau. Di sejumlah titik pengamatan, hari tanpa hujan telah melampaui 60 hari, kondisi terpanjang yang disebutkan BMKG saat itu tercatat di Bantul, mencapai 131 hari. Data itu bukan sekadar deretan angka. Di baliknya ada kebutuhan air rumah tangga, keberlangsungan pertanian, risiko kebakaran hutan dan lahan, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air.

Dalam pembaruan analisis atmosfer dasarian II Oktober yang diterbitkan pada 23 Oktober 2026, BMKG masih mencatat El Nino sangat kuat. Indeks ENSO tiga bulanan Agustus–September–Oktober tercatat +3,05. Pada saat yang sama, peringatan dini kekeringan meteorologis masih berlaku untuk sejumlah kabupaten dan kota di berbagai provinsi. BMKG memperkirakan kondisi El Nino dapat bertahan hingga awal 2027. Ini adalah proyeksi ilmiah, bukan kepastian mengenai tanggal berakhirnya fenomena. Waktu berakhirnya El Nino harus mengikuti hasil pemantauan berikutnya, sedangkan berakhirnya kekeringan di setiap daerah bergantung pula pada kondisi hujan dan ketersediaan air setempat.

Di tengah kabar kemarau panjang, ada pula wilayah yang mulai memasuki musim hujan. Analisis BMKG untuk dasarian II Oktober 2026 mencatat sekitar 8,3 persen wilayah Indonesia, atau 58 Zona Musim, telah memasuki musim hujan. Wilayah yang disebut telah memasuki musim hujan meliputi Aceh, Sumatera Utara, sebagian Sumatera Barat, bagian utara Riau, sebagian Kepulauan Riau, bagian utara Bengkulu, dan sebagian kecil Kabupaten Bogor.

Informasi ini penting dibaca secara cermat. Memasuki musim hujan tidak berarti seluruh wilayah provinsi tersebut telah memperoleh hujan merata atau terbebas dari kekeringan. Demikian pula, hujan di satu kabupaten tidak menjamin sumber air di kabupaten lain telah pulih. Namun, keadaan tersebut mengingatkan kita bahwa dinamika cuaca terus berubah. Prakiraan membantu manusia bersiap, sementara pengamatan aktual menunjukkan perkembangan yang perlu terus diikuti.

Bagi umat Islam, hadirnya hujan di suatu tempat juga dapat menjadi pengingat untuk bersyukur. Bagi masyarakat yang masih mengalami kekeringan, keadaan itu menjadi alasan untuk terus berikhtiar, bukan untuk berputus asa. Islam tidak membiarkan umatnya menghadapi kekurangan hujan tanpa tuntunan. Shalat Istisqa’ adalah ibadah untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa manfaat. Pelaksanaannya dikenal dalam sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam dan dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir [40]: 60).

Ayat ini mengajarkan agar seorang hamba tidak memutus hubungan doa dengan Tuhannya. Berdoa bukan berarti manusia tidak berusaha. Doa adalah pengakuan bahwa manusia, dengan seluruh pengetahuan dan kemampuannya, tetap membutuhkan pertolongan Allah.

Al-Qur’an juga mengabadikan seruan Nabi Nuh kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh [71]: 10–12).

Ayat tersebut memberi pelajaran tentang pentingnya istighfar, pertobatan, dan kembali kepada Allah. Ia patut menjadi bahan muhasabah bersama, tanpa tergesa-gesa menghakimi orang yang tertimpa kekeringan sebagai orang yang sedang dihukum karena dosanya.

Dalam menghadapi musibah, seorang Muslim diajak memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan menumbuhkan kepedulian. Bukan mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan bertanya apa yang dapat diperbaiki dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam pun mengangkat tangan memohon hujan.

Ada kisah yang sangat menyentuh dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari. Pada suatu Jumat, ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa sedang berkhutbah, seorang laki-laki datang mengadukan keadaan masyarakat yang kesulitan akibat kekeringan. Ia meminta Rasulullah Shalallahu alaihi wa berdoa kepada Allah agar hujan diturunkan.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami.” Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Istisqa.

Dalam riwayat tersebut, hujan kemudian turun. Bahkan, setelah hujan berlangsung beberapa waktu dan menimbulkan kesulitan, Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam kembali berdoa agar hujan dialihkan ke sekitar Madinah, bukan menjadi bencana bagi penduduknya.

Kisah ini memberikan pelajaran mendalam. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam tidak mengajarkan manusia untuk menyerah ketika menghadapi kekurangan hujan. Beliau mengajarkan umatnya untuk meminta pertolongan Allah. Dan ketika hujan yang turun berlebihan menimbulkan kesulitan, beliau kembali memohon agar Allah mengarahkannya kepada keadaan yang lebih bermanfaat.

Yang dimohon bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan hujan yang membawa rahmat dan kemaslahatan. Karena itu, shalat Istisqa tidak sepatutnya dipandang sebagai ritual tanpa makna. Ia adalah wujud penghambaan, ketundukan, dan pengharapan kepada Allah, sekaligus pengingat bahwa hujan yang bermanfaat merupakan nikmat yang harus disyukuri dan dijaga.

Ada anggapan yang perlu diluruskan, jika manusia sudah mampu memperkirakan kapan hujan akan turun, apakah shalat Istisqa masih relevan?. Pertanyaan ini justru membuka ruang untuk memahami hubungan antara iman dan ilmu. Prakiraan cuaca bukan kepastian mutlak tentang setiap kejadian lokal. Ia disusun berdasarkan pengamatan, pengukuran, model, dan probabilitas. Teknologi membantu manusia memahami kecenderungan alam serta mengantisipasi risiko, tetapi tidak menghapus kebutuhan untuk berikhtiar.

Seorang petani yang mengetahui musim hujan diperkirakan terlambat akan menyesuaikan jadwal tanam. Pemerintah dapat menyiapkan distribusi air bersih. Masyarakat dapat menghemat air, menjaga mata air, dan mencegah kebakaran. Semua itu adalah ikhtiar yang perlu dilakukan berdasarkan pengetahuan.

Pada saat yang sama, seorang Muslim dapat memohon pertolongan Allah melalui doa dan shalat Istisqa’. Tidak ada pertentangan antara membaca prakiraan BMKG dan mendatangi tempat shalat untuk berdoa. Justru ketika BMKG memberi peringatan tentang kemarau panjang, umat Islam memperoleh kesempatan untuk meresponsnya lebih awal. Tidak perlu menunggu sumur benar-benar kering, tanaman mati, atau masyarakat mengalami krisis air yang parah untuk menghidupkan doa bersama. Mengetahui risiko lebih awal seharusnya mendorong kesiapsiagaan, bukan memadamkan harapan.

Jika ilmu mengingatkan kita tentang kemungkinan datangnya kesulitan, iman mengingatkan kita agar tidak kehilangan harapan kepada Allah. Ajakan untuk menunaikan shalat Istisqa bukan sekadar gagasan. Sejumlah daerah dan lembaga telah melaksanakannya pada 2026.

Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 1.000 orang mengikuti shalat Istisqa di Alun-Alun Purwokerto pada 12 Oktober 2026. Pesertanya berasal dari unsur pemerintah daerah, Kementerian Agama, berbagai instansi, dan masyarakat. Kegiatan itu menjadi ikhtiar spiritual di tengah kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sebanyak 3.200 santri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar bersama para pengajar dan masyarakat sekitar menunaikan shalat Istisqa pada 22 Oktober 2026.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan mengerahkan 627 unit pelaksana teknis pemasyarakatan untuk menyelenggarakan shalat meminta hujan secara serentak pada 18 September 2026. Kegiatan ini melibatkan petugas dan warga binaan di berbagai wilayah Indonesia.

Pada 19 Oktober 2026, Majelis Ulama Indonesia juga menyerukan umat Islam agar melaksanakan shalat Istisqa berjamaah, disertai pertobatan, istigfar, dan kepedulian terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan. Sehari setelahnya, Gubernur Jawa Timur menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.8.1/37860/011.2/2026 tentang Pelaksanaan Shalat Istisqa’. Seruan itu ditujukan kepada pesantren, pimpinan organisasi Islam, Dewan Masjid, dan MUI agar pelaksanaan shalat Istisqa semakin luas.

Data tersebut menunjukkan bahwa ikhtiar spiritual telah menjadi bagian dari respons masyarakat dan sejumlah lembaga terhadap kekeringan. Angka-angka itu bukan jumlah seluruh umat Islam yang melaksanakan Istisqa di Indonesia, sebab belum tersedia satu rekapitulasi nasional yang menghimpun seluruh kegiatan. Namun, dokumentasi tersebut cukup untuk memperlihatkan bahwa seruan memohon hujan telah bergema dari lingkungan pesantren, pemerintahan daerah, lembaga pemasyarakatan, hingga organisasi keagamaan.

Seruan shalat Istisqa’ akan kehilangan sebagian makna sosialnya jika setelah berdoa manusia kembali menyia-nyiakan air, merusak hutan, mencemari sungai, atau membiarkan tetangganya kesulitan mendapatkan air bersih.

Karena itu, ajakan Istisqa’ perlu disertai gerakan nyata. Masjid dan pesantren dapat mengajak jamaah menghemat air serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak. Pemerintah daerah perlu memastikan distribusi air bersih menjangkau warga yang membutuhkan. Para petani perlu memperoleh informasi mengenai ketersediaan air dan penyesuaian jadwal tanam. Masyarakat juga harus menjaga lingkungan dan mencegah pembakaran lahan.

Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘raf [7]: 56).

Ayat ini menyatukan dua pesan yang penting, berdoa kepada Allah dan tidak melakukan kerusakan di bumi. Dalam konteks kekeringan, keduanya relevan. Kita memohon hujan yang membawa rahmat, sembari menjaga sumber daya yang telah Allah anugerahkan. Hujan bukan sekadar fenomena meteorologis. Ia adalah bagian dari siklus alam yang menopang kehidupan. Ketika air tersedia, manusia wajib bersyukur; ketika air berkurang, manusia harus berikhtiar dan saling menolong.

Sudah saatnya seruan shalat Istisqa menjadi gerakan bersama di wilayah-wilayah yang membutuhkan hujan, dengan tetap mengikuti tuntunan syariat dan mempertimbangkan kondisi setempat. Para ulama dan pengurus masjid dapat memberikan pemahaman tentang tata cara Istisqa. Pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan Kementerian Agama, MUI, organisasi kemasyarakatan Islam, dan tokoh masyarakat. Pesantren dapat menjadi pusat pendidikan spiritual sekaligus kepedulian lingkungan.

Pelaksanaan shalat hendaknya tidak berhenti sebagai acara seremonial atau dokumentasi. Ia perlu menjadi momentum memperkuat taubat, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan antar manusia, dan meningkatkan solidaritas terhadap mereka yang mengalami kekeringan. Kita juga harus menjaga adab dalam berdoa. Tidak tepat menjadikan hujan yang belum turun segera sebagai alasan untuk menyimpulkan bahwa doa tidak didengar.

Tidak pula tepat menjanjikan bahwa hujan pasti turun pada tanggal tertentu setelah shalat Istisqa’. Waktu dan cara Allah mengabulkan doa bukan wilayah yang dapat kita pastikan. El Nino mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia berkaitan erat dengan dinamika alam yang luas. Kemajuan ilmu pengetahuan membantu kita mengenali risiko. Teknologi memungkinkan kita menyiapkan langkah antisipasi. Pemerintah dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk mengurangi dampak kekeringan.

Namun, semua itu tidak perlu membuat seorang Muslim merasa bahwa doa telah kehilangan tempatnya. Sebaliknya, ketika menghadapi ancaman yang besar, manusia semakin memahami keterbatasannya. Ia dapat mempelajari atmosfer, mengukur curah hujan, dan memperkirakan musim, tetapi tetap memohon kepada Allah agar ikhtiarnya diberi kemudahan dan hasil yang membawa kebaikan. Karena itu, marilah kita menghidupkan shalat Istisqa di tengah kebutuhan akan hujan. Mari datang kepada Allah dengan hati yang rendah, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melimpahkan rahmat-Nya, menurunkan hujan yang bermanfaat, mencukupkan kebutuhan air masyarakat, melindungi petani dan seluruh warga yang terdampak kekeringan, serta menjadikan negeri ini negeri yang pandai bersyukur dan menjaga amanah-Nya.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button