Artikel

Kajian Tafsir | Empat Pilar Kemenangan Umat

Oleh: Ustadz Bahar Abu Abdissalam

Secara ushuliy, penutup sebuah surat sering kali berfungsi sebagai khulashoh manhajiyyah (ringkasan metodologis) terhadap seluruh kandungan surat. Setelah Allah menjelaskan pergulatan antara iman dan kufur, kemenangan dan kekalahan, keteguhan dan kemunafikan, maka Allah menutupnya dengan empat fondasi peradaban perjuangan.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman..! Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap-siaga, dan bertakwalah kepada Alloh agar kamu beruntung,” (QS. Ali ‘Imron: 200).

Imam As-Sa’di berkata:

“Dari ayat ini diketahui bahwa tidak ada jalan menuju keberuntungan (al-falah) kecuali dengan : kesabaran, saling menguatkan dalam kesabaran (mushobaroh), dan murobathoh (bersiap siaga serta teguh di atas ketaatan) sebagaimana yang disebutkan dalam ayat. Maka tidaklah seseorang memperoleh keberuntungan kecuali dengan perkara-perkara tersebut, dan tidaklah seseorang kehilangan keberuntungan melainkan karena ia menyia-nyiakannya atau sebagian darinya. Allah-lah yang memberi taufik, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya,” (Tafsir assa’dy : Taisir al karim arrohman 1/162 ).

Empat pilar yang menjadi syarat lahirnya kebangkitan umat dan kemenangan risalah.

1. Shobar, Bangun Ketahanan Diri

Perintah pertama adalah memperbaiki diri sebelum memperbaiki dunia. Sabar dalam perspektif maqoshid bukan sekedar menahan diri dari keluh kesah, tetapi kemampuan menjaga istiqamah terhadap tujuan syari’at meskipun jalan menuju tujuan itu panjang, berat, dan penuh pengorbanan.

Aktivis Islam sering bersemangat di awal perjuangan, namun tidak semua mampu bertahan ketika menghadapi fitnah, tekanan sosial, keterbatasan dana, minimnya apresiasi, atau lambatnya hasil dakwah.

Karena itu Alloh memulai dengan:

> “اصبروا”

“Kokohkan dirimu terlebih dahulu,” Sebab orang yang tidak mampu memimpin dirinya tidak akan mampu memimpin umat.

2. Mushobaroh, Saling Menguatkan

Jika “sabar” adalah bertahan, maka “mushobaroh” adalah mengalahkan lawan dalam kesabaran, sebagaimana dinuqilkan Abdul karim al qusyairiy:

“Mushobaroh adalah bersabar di atas kesabaran, terus bersabar hingga kesabaran itu sendiri tenggelam dalam lautan kesabaran, sehingga seakan-akan kesabaran pun tidak lagi mampu menanggung besarnya kesabaran tersebut,” (Arrisalah al qusyairiyyah 1/326).

Makna yang beliau kehendaki bukanlah makna harfiah, melainkan penegasan bahwa mushobaroh adalah puncak kesabaran, keteguhan yang terus-menerus, berlapis-lapis, tanpa menyerah meskipun ujian datang silih berganti.

Di sinilah pelajaran besar bagi harakah Islam, musuh-musuh Islam bekerja puluhan tahun membangun pengaruh pemikiran, media, ekonomi, dan politik, maka tidak cukup aktivis Islam hanya bersabar.

Mereka harus memiliki visi yang lebih panjang, napas perjuangan yang lebih panjang dan kesungguhan yang lebih kuat.

Karena dalam sunnatullah, sering kali yang menang bukan yang paling kuat sesaat, tetapi yang paling lama bertahan di atas prinsip yang benar.

3. Murobathoh, Institusi dan Kekuatan Peradaban

Ini adalah puncak ayat. Secara bahasa, ribath atau murobathoh berarti berjaga di perbatasan, berjaga dan bersiaga yakni tetap tinggal dan berjaga di perbatasan yang berhadapan dengan musuh (Assohah lil jauhari 3/1127).

Demikianlah para ahli bahasa menjelaskannya. Seakan-akan orang yang melakukan ribath telah mengikat dirinya di wilayah perbatasan itu, karena ia terus-menerus menetap dan berjaga di sana dalam suatu masa tertentu.

Adapun ats-tsaghr (الثغر) adalah daerah rawan yang menjadi celah masuk ke negeri-negeri Islam dan dikhawatirkan menjadi pintu serangan musuh, seperti ‘Asqolan, Iskandariyah (Alexandria), Dimyath (Damietta), dan daerah-daerah semisalnya dikala itu.

Namun secara maqoshid, maknanya lebih luas, menjaga titik-titik strategis agama agar tidak direbut oleh kebatilan. Hari ini perbatasan umat bukan hanya benteng militer.

Perbatasan umat adalah masjid, pesantren, kampus, media, ekonomi, keluarga, dunia digital dan ruang pemikiran.

Bahkan Setiap medan yang menentukan arah umat adalah wilayah Ribath. Karena itu perjuangan Islam tidak cukup berupa semangat individual.

Ia harus berubah menjadi lembaga berjama’ah, jaringan, kaderisasi, pendidikan, penguatan ekonomi, dan pembangunan peradaban.

Sebab kebenaran yang tidak memiliki penjaga akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.

“Orang-orang beriman terkadang mengalami kekalahan, dan terkadang menjadi sasaran kezaliman serta penindasan. Akan tetapi, kesudahan yang baik pasti menjadi milik mereka, selama mereka terus-menerus berpegang teguh kepada tuntutan iman mereka, yaitu tetap teguh di atas kebenaran dan senantiasa beramal saleh (Tafsir al wasit li Attanthowi 12/299).

4. Taqwa, Senantiasa menjaga Kemurnian Tujuan

Setelah menyebut perjuangan yang panjang, Allah menutupnya dengan takwa, ini menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya masalah strategi. Banyak gerakan gagal bukan karena kekurangan program, tetapi karena kehilangan ruh keikhlasan.

Ketika dakwah berubah menjadi ambisi kekuasaan, persaingan kelompok, perebutan pengaruh, atau kebanggaan organisasi, maka ruh perjuangan mulai hilang.

Sebab takwa adalah kompas yang memastikan seluruh aktivitas perjuangan tetap berputar mengelilingi ridho Allah.

Rahasia Urutan Ayat
Urutan ayat ini sangat menakjubkan:

  1. Islah an-nafs (perbaikan diri).
  2. Menguatkan barisan.
  3. Menjaga peradaban.
  4. Memurnikan orientasi.

Inilah manhaj perubahan Islam, individu yang kokoh akan melahirkan jama’ah yang kuat, kemudian hadirlah peradaban yang terjaga karna ridho Allah sebagai tujuan.

Pelajaran untuk Para Aktivis dan Pejuang Islam

Ayat ini mengajarkan bahwa perjuangan Islam bukan perlombaan menuju popularitas, melainkan perjalanan panjang menuju ridho Allah.

Tugas pejuang Islam bukan memastikan dirinya menyaksikan kemenangan, tetapi memastikan dirinya menjadi bagian dari rantai perjuangan yang mengantarkan kemenangan itu.

Nabi Nuh berdakwah hampir seribu tahun, para sahabat menanam, generasi setelah mereka memanen. Salahuddin memetik buah dari benih yang ditanam ulama dan mujahid sebelumnya.

Maka jangan ukur keberhasilan dakwah dengan cepat atau lambatnya sebuah hasil.

Namun ukur dengan sejauh mana kesabaran tetap terjaga, prinsip tauhid dan aqidah tetap tegak, barisan tetap kokoh dan takwa tetap hidup.

Karena Allah tidak menjanjikan kemenangan kepada yang paling banyak pengikutnya, tetapi kepada yang paling teguh dalam iman dan paling benar jalannya.

Sebab suatu umat tidak akan beruntung hanya dengan semangat yang menggebu, tetapi dengan kesabaran, keteguhan menghadapi lawan, penjagaan terhadap benteng-benteng agama, dan ketakwaan kepada Allah.

Sebagian ahli bahasa berkata:
Bersabarlah ketika memperoleh kenikmatan, dan kuatkanlah kesabaranmu ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan. Bersiap-siagalah (berjaga dan berjuang) di negeri-negeri yang berhadapan dengan musuh. Dan bertakwalah kepada Tuhan langit dan bumi, agar kalian memperoleh keberuntungan di negeri yang kekal abadi (akhirat). (Tafsir Al bughowi 2/157).

Dan karena itu Allah menutup ayat ini dengan satu janji yang menjadi cita-cita seluruh pejuang:

لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Agar kalian memperoleh al-falah (keberuntungan, kemenangan, dan kesuksesan yang sempurna),”

Attobari mnuturkan ketika mnafsirkan ayat tersebut :

Dan bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman. Maka waspadalah terhadap-Nya dengan tidak menyelisihi perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya, agar kalian memperoleh keberuntungan. Maksudnya: “Agar kalian meraih al-falah (keberuntungan), sehingga kalian kekal dalam kenikmatan abadi, dan berhasil memperoleh segala yang kalian harapkan di sisi-Nya.

Dan bertakwalah kepada-Ku dalam hubungan antara Aku dan kalian (yakni tunaikan hak-hak-Ku dan jangan melanggar perintah-Ku), agar kalian beruntung esok hari ketika kalian berjumpa dengan-Ku. (Jami’ul bayan 6/338)

Dan al-falah bukan sekadar menang di dunia, melainkan selamatnya agama, tegaknya kebenaran, dan kemenangan di hadapan Allah pada hari ketika seluruh perjuangan dipertanggungjawabkan.

Faedah-faedah ayat

1. Gangguan dan penderitaan yang menimpa seorang mukmin di jalan Allah, sehingga ia terpaksa berhijrah, meninggalkan kampung halamannya, atau berjihad, termasuk sebab terbesar dihapuskannya dosa-dosa dan dilipatgandakannya pahala.

2. Ukuran keberuntungan bukanlah kenikmatan dunia yang dimiliki orang kafir, berupa harta dan berbagai kesenangan, walaupun tampak besar dan mengagumkan. Karena dunia akan lenyap, sedangkan yang menjadi ukuran hakiki adalah nasib akhir mereka di akhirat, di negeri yang kekal abadi.

3. Sebagian Ahli Kitab ada yang jujur terhadap kebenaran yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, lalu beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka dan kepada apa yang diturunkan kepada kaum mukminin. Mereka itulah yang akan memperoleh pahala dua kali lipat.

4. Bersabar di atas kebenaran, menghadapi dan mengalahkan para pendusta yang menentangnya, serta berjihad untuk menegakkannya, merupakan jalan menuju keberuntungan dan kemenangan di akhirat. Wallohul musta’an

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button