Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat Edisi 072: “Penghalang Terbesar Para Da’i”

Materi Khutbah Jumat Edisi 072 tanggal 14 Rajab 1437 H ini dikeluarkan oleh

Sariyah Da’wah Jama’ah Ansharusy Syari’ah dapat download di:

 

 

Penghalang Terbesar Para Da’i

(Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharusy Syari’ah)

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن)

 

Jamaah Jum’at  hamba Alloh yang  dirahmati Alloh SWT.

Segala puji bagi Alloh SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepadajunjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Alloh dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Penghalang terbesar para da’i.

Dalam kehidupan, banyak sekali rintangan berbahaya yang menghadang perjalanan para da’i Alloh dan mengancam para pejuang syariat Islam (aktivis Islam). Akan tetapi, persiapan yang matang, pengarahan yang benar, dan kewaspadaan yang kontinu dapat memberikan imunitas terhadap para da’i. Imunitas tersebut akan sanggup menyelamatkan mereka dari berbagai penyimpangan dan kebinasaan, serta mampu memberikan kesiapan kepada mereka untuk menghadapi berbagai fitnah dunia dan segala tipu dayanya sepanjang zaman.

Namun sayang, mayoritas da’i di zaman sekarang tidak memiliki imunitas spiritual yang kuat dalam menghadapi berbagai penyesatan dan tipu daya. Berbagai ide dan konsep akan tetap tinggal sebagai slogan-slogan dan teori-teori yang kosong, selama ide dan konsep tersebut tidak mampu memberi bekal praktis dan konkret kepada para aktivis dan orang-orang yang mengimaninya, sesuai dengan berbagai kejutan dan tantangan yang menanti mereka dalam rangka membangun masa depan dakwahnya. Demikian juga, ide dan konsep akan tetap menjadi slogan dan teori kosong, selama nilai-nilai dakwah dan idealismenya tidak menyatu dengan kehidupan para da’i. Kalau nilai-nilai dakwah dan idealisme telah menyatu dalam jiwa para dai, maka Islam di tangan mereka akan menjadi barometer segala keputusan (hukum), kunci yang memberikan solusi terhadap berbagai problematika dan menjadi rujukan segala pandangannya, dengan demikian, mereka tidak akan diperdaya oleh hawa nafsu dan dijebak oleh berbagai kecenderungan-kecenderungan destruktif.

Diantara faktor lain yang semakin memperparah kondisi di atas adalah bahwa para dai sendiri hidup di dalam masyarakat jahiliyah; sebuah masyarakat yang tidak mengenal intisari agama; sebuah masyarakat yang tidak memiliki tatanan nilai dan idealisme; sebuah masyarakat yang tidak mempunyai sensitifitas terhadap kebajikan; dan sebuah masyarakat yang dipenuhi oleh berbagai faktor destruktif, sehingga kerusakkan dan permisivisme menjadi simbol kemajuan dan peradaban, sedangkan sifat wara’ dan religiusitas dianggap sebagai simbol konservatifisme dan keterbelakangan.

Kalau para da’i Islam tidak memiliki kedalaman akidah, keluhuran akhlak, kekuatan iman, kualitas muhasabah yang tinggi terhadap diri mereka sendiri, selalu melakukan muraqabah kepada Alloh Rabbnya, selalu menjauhkan diri dari segala yang syubhat, berupaya meningkatkan kualitas ketaatan, dan senantiasa melakukan ibadah-ibadah sunnah, niscaya mereka akan terkontaminasi oleh berbagai polusi yang ada dalam masyarakat ini, bahkan akan terlempar ke dalam gelombang penyimpangan dan penyelewengan.

Adapun diantara penghalang terbesar para da’i adalah :

  1. Perempuan

Dalam kehidupan para dai-bahkan dalam kehidupan seluruh manusia-perempuan memainkan peran yang pengaruhnya luar biasa. Mereka bisa menjadi samudra kenikmatan sekaligus lautan bencana.

Dalam kehidupan dunia dakwah, terdapat banyak gambaran tentang kedua kondisi tersebut – samudra kenikmatan dan lautan bencana kaum perempuan. Diantara para Da’i ada orang yang keislamannya menjadi baik, jiwanya menjadi istiqamah, dan produktivitasnya meningkat setelah pernikahan. Namun, diantara mereka ada juga orang yang sesudah pernikahan kehidupannya menjadi berantakan, keislamannya menjadi rusak, dan akhlaknya menjadi bejat, sehingga mereka berpaling dari panggung dakwah dan mengabaikan keberadaannya.

Tidak diragukan lagi, bahwa setiap konsekuensi ada sebab dan penyebabnya. Orang yang gagal dalam pernikahannya adalah orang-orang yang sejak awal tidak terikat oleh ajaran-ajaran Islam tentang pernikahan dan syarat-syaratnya, sehingga gebyar penampilan membutakan mereka dari substansi dan kulit menyibukkan mereka dari isi. Akibatnya mereka terjerumus ke dalam keburukan akibat perbuatan mereka sendiri. Mereka hanya bisa menyesal. Akan tetapi sesal kemudian tidaklah berguna. Dalam rangka memelihara dan menyelamatkan kehidupan pernikahan dari berbagai bencana ini, maka Islam telah meletakkan kaidah-kaidah dan landasan-landasan sempurna dengan cara melakukan Islamisasi kehidupan rumah tangga atau mewujudkan rumah tangga yang Islami, membahagiakan setiap anggotanya, dan memperbaiki keturunannya. Berikut ini kaidah-kaidah dan landasan terpenting sebagai berikut:

  1. Kesucian maksud dan tujuan

Islam berupaya supaya maksud dan tujuan utama dari pernikahan adalah untuk menyempurnakan agama, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Barangsiapa dianugrahkan rezeki oleh Alloh wanita shalehah, maka Alloh akan menolongnya (untuk menyempurnakan) separuh agamanya. Karena itu, bertakwalah kepada Alloh untuk menyempurnakan separuh lainnya.” (HR. Thabrani. Hakim berkata: sanad hadits ini shahih).

Demikian juga, Islam berusaha menjadikan pernikahan sebagai faktor utama untuk memelihara jiwa, menyucikannya, mendorongnya untuk menempuh jalan ketaatan, dan sebagai proteksi diri dari segala sesuatu yang dilarang (ta’affuf).

Islam juga menegaskan, bahwa maksud dan tujuan pernikahan adalah membangun kehidupan rumah tangga yang Islami, sehingga rumah tangga itu menjadi landasan yang baik dalam membangun masyarakat Islam.

  1. Ketepatan memilih pasangan

Semenjak awal, Islam telah menegaskan tentang urgensi tepatnya memilih pasangan hidup dan pendamping diri. Bahkan Islam menganggap bahwa ketepatan memilih (pasangan) merupakan diantara faktor yang dapat membantu mewujudkan kehidupan rumah tangga yang Islami, kedamaian, dan ketenangan di antara kedua pasangan.

Memang kita mengakui, bahwa wanita muslimah ideal seperti itu sulit ditemukan dalam kondisi sosial seperti sekarang. Namun ketepatan memilih pasangan hidup akan mampu mewujudkan idealisme. Kendati unsur-unsur kewanitaan yang ideal dan diharapkan tidak terpenuhi secara total, namun setidaknya kita masih menemukan aspek-aspek positif dan baik dalam diri mereka.

Islam menegaskan bahwa kesempurnaan akhlak dan agama merupakan syarat utama untuk mewujudkan ketepatan pilihan. Berhati-hatilah terhadap kesalahan fatal dalam memilih pasangan. Seringkali, dibalik kecantikan, kekayaan, dan keturunan terdapat jebakan-jebakan maut yang menghancurkan. Islam menjelaskan bahwasanya keindahan akhlak itu lebih abadi daripada keindahan tubuh, dan kekayaan jiwa itu lebih berharga daripada kekayaan harta benda.

  1. Tidak ada tafrith dan ifrath

Demikian juga, Islam memperingatkan tentang bahaya memperturutkan hawa nafsu syahwat dan sikap berlebih-lebihan dalam melakukan hubungan seksual suami istri yang sah. Semua itu dalam rangka menjaga ketajaman akal dan pikiran agar tidak padam ditiup angin syahwat, dan untuk menjaga jiwa agar tidak diperbudak oleh naluri dan serbuan hawa nafsu.

Alangkah tepat Ibrahim bin Adham ketika berpendapat  tidak ada kebajikan yang dapat diharapkan dari mereka yang berlebihan berhubungan bersetubuh.

Cukuplah bagi para suami mengetahui sejauhmana kerusakan besar yang ditimbulkan oleh aktivitas hubungan seksual yang berlebihan terhadap keseluruhan fungsi tubuh. Dengan demikian mereka akan berpaling dari sikap berlebih-lebihan dan berasikap moderat dan hemat dalam segala sesuatu, termasuk dalam hubungan seksual.

Dr. G. Meilan berkata,” Detak jantung akan menjadi cepat hingga hampir mendekati 150 detik permenit. Tensi darah juga mengalami peningkatan drastis hingga mencapai titik maksimal. Nafaspun semakin meningkat kecepatannya. Peredaran darah di otak juga tidak terlepas dari perubahan ini. Otak mengkonsumsidarah lebih banyak dari biasanya. Dirinya dalam kondisi depresi berat. Selain itu, hitam mata bertambah luas, kulit mengeluarkan keringat, dan mulut mengeluarkan air liur. Produksi asam lambung dan hormon mengalami peningkatan. Oleh sebab itu-Dr. Meilan menambahkan lagi- orang yang mengalami nafsu seksual tinggi harus mengambil sikap ideal, setiap kali usia semakin lanjut. Disetiap usia senjanya, setiap orang harus mengalihkan perhatiannya kepada aktivitas intelektual. Sebab hal itu dapat memalingkan otak dan pikiran dari segala sesuatu yang berbau seksual.

Kebenaran ini telah diakui oleh para ilmuwan. Mereka hidup dalam suasana yang menyerupai ibadah. Kecendrungan berfikir merupakan sesuatu yang paling akhir mengalami kelemahan pada manusia. Maka alangkah indahnya, pada usia-usia  lanjut sekalipun, kalau seseorang masih dapat menikmati kelezatan intelektual yang meneduhkan.

Islam telah melarang hidup berlebih-lebihan dalam segala masalah, kendati masalah itu halal dan baik. Sikap ifrath dalam segala sesuatu itu juga berbahaya. Sedangkan sebaik-baiknya perkara adalah yang tengah-tengah.

  1. Kepribadian suami menjadi landasannya

Islamm memperingatkan para suami supaya tidak bersikap berlebihan dalam menggauli istri sesuka nafsunya. Hal itu dalam rangka menjaga kepribadian dan kesembangannya agar tidak rusak dan hancur. Sebab dalm sikap berlebihan terdapat kehancuran besar bagi kehidupan rumah tangga dan orang-orang yang ada didalamnya. Imam Al-Ghazali membahas hal ini dalam kitab Al-Ihya’. Beliau berkata,” Nafsu kaum wanita tergantung kepada nafsumu. Kalau engkau tiupkan sedikit awan kepadanya, maka ia akan mencengkrammudengan lama. Kalau engkau lembutkan tali kekangnya selam beberapa waktu, maka dia akan menarikmu satu hasta. Dan kalau engkau menariknya, lalu mencengkram tanganmu terhadapnya dengan keras, maka engkau akan memilikinya (mampu menundukkannya)”

Dengan demikian, kepribadian lelaki memainkan peranan besar dalam kehidupan berumah tangga. Selam sang suami tidak memiliki peran apa pun dalam kehidupan rumah tangganya, dimana sang istri tidak mendapatkan model yang ideal dan suri tauladan yang baik, tidak merasakan kedamaian dan kasih sayang maka tidak pelak lagi akad pernikahan akan ditimpa kehancuran.

Terkadang, sebagian suami beranggapan bahwa sikap main-main atau menganggap enteng (tasa-ul) pada permulaan kehidupan rumah tangga tidaklah menjadi masalah. Namun tiba-tiba mereka terjatuh sebagai korban kebodohan mereka selam kehidupannya. Yang benar adalah hari-hari pertama (dari kehidupan rumah tangga) itulah yang akan menentukan masa depan rumah tangganya secara keseluruhan. Oleh sebab itu, maka diantara kewajiban para suami adalah agar mereka lebih berhati-hatidan penuh perhitungan pada masa-masa ini daripada masa-masa lainnya.

Seorang suami tidak boleh memperturutkan dorongan hawa nafsu istrinya sampai batas yang dapat menghancurkan akhlaknya dan menjatuhkan secara total kehebatannya dipangkuan sang istri. Dia seharusnya yang menjadi hakim yang menimbang segala urusan berdasrkan neraca Islam, dan menempatkannya pada tempat masing-masing. Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali bahwasanya dia berkata, “Demi Alloh, tidaklah  seorang lelaki menuruti dorongan nafsu istrinya, kecuali Alloh akan membenamkannya kedalam neraka.”

Umar bin Khathab r.a. berkata, “Tentanglah kaum wanita, sesungguhnya pada penentangan terhadapnya ada keberkahan.”

Rasulullah SAW. Bersabda, “ Celakalah orang yang menghamba kepada istri.” (HR. Bukhari dan hadits Abu Hurairah).

Ringkasnya adalah, bahwa pernikahan (istri) adalah penghalang paling besar yang melanda kehidupan para da’i. Adalah kerugian terbesar kalau mereka sudah jatuh pada perjalanan pertama. Tetapi, diantara kewajiban mereka dalam aktivitas keislaman dan dakwah mereka adalah menampilkan realitas dan contoh-contoh ideal bagi kehidupan rumah tangganya. Dengan demikian, pergerakan Islam dan umat Islam akan mampu mendemonstrasikan keistimewaan-keistimewaannya yang paling jelas, yakni realistis.

Sebenarnya, problematik kegagalan dalam kehidupan rumah tangga para da’i, masih terap merupakan problematik utama, karena sering terjadi, dan bahayanya semakin bertambah besar. Dikatakan demikian sebab problematik semacam itu senantiasa melenyapkan bunga-bunga muda (para aktivits muda) dakwah dan menghilangkan tokoh-tokoh terbaiknya.

Kalau dakwah mengerahkan  sebagian besar potensi dan kemampuannya untuk kaderisasi anggota-anggotanya, maka sudah menjadi kewajibannya untuk berupaya lebih keras menjaga out-putnya agar tidak lenyap dalam kesia-siaan. Kalau yang penting adalah membangun, maka diantara hal yang lebih penting lagi adalah menjaga dan memelihara bangunan tadi dari kehancuran.

  1. Dunia

Islam menganggap dunia sebagai pusat pengalaman dan eksperimen manusia. Karena itu, Islam menyeru manusia untuk menerapkan pengalaman dan eksperimen itu dan mengambil manfaat serta hasil terbaik darinya. Hanya saja mereka tidak boleh bersikap berlebihan dan meremehkannya.

Di satu sisi, Islam merupakan motivator untuk beramal, bekerja, dan mencari rezeki, sedang di sisi lain Islam merupakan sebuah peringatan agar dunia tidak menjadi tujuan akhir bagi jiwa dan cita-cita. Islam menegaskan bahwa dunia adalah tempat yang fana.

Mayoritas para pendakwah adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan dakwah dan berhasil menggapai puncak kepemimpinan, kemudian mereka jatuh tersungkur ke bumi karena berbagai godaan dan fitnah. Mereka lebih memilih kehidupan dunia daripada akhirat. Alloh SWT berfirman :

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

Artinya: “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 37-41).

Diantara faktor – faktor penyelewengan dalam kehidupan para da’i :

  1. Tidak adanya lingkungan yang Islami dan bersih, yang dapat membantu dakwah untuk membina anggota-anggotanya menjadi sosok muslim yang kuat, lurus, kokoh, serta jauh dari berbagai pengaruh eksternal dan situasi-situasi yang tidak kondusif.
  2. Pengabaian pergerakan Islam terhadap manhaj aplikatif dalam pembinaan (kaderisasi). Hal itu merupakan diantara sebab yang menjadikan berbagai kajian keislaman sekadar teori tanpa isi. Akibatnya, tujuan dari kajian-kajian tersebut hanya sebatas pengetahuan, kesenangan, dan mencari popularitas saja.

Pergerakan Islam di zaman sekarang sangat membutuhkan para da’i yang mampu melahirkan manhaj praktis – aplikatif ; sebuah manhaj yang mampu meng-eliminasi faktor-faktor kelemahan diri mereka untuk menghadapi berbagai kemungkinan dan kesempatan.

Pada pemaparan yang lalu telah kita katakan bahwa kehidupan para da’i itu sarat dengan berbagai kendala dan penuh problematik. Selama persiapan preventif  pada diri para da’i belum bisa membuat mereka mampu melewati berbagai situasi dan kondisi dengan selamat dan aman, maka hasilnya terkadang tidak menyenangkan dan jauh dari yang diharapkan.

Diantara keagungan agama Islam adalah bahwa pandangannya mencakup segala situasi dan kondisi yang dialami manusia. Lalu,  jiwa manusia mempelajari situasi dan kondisi tadi, sehingga mampu menjelaskan sebab-sebabnya dan mengantisipasi segala akibatnya.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

 

Wallahul muwaffiq.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ.اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button