Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at Edisi 516 | Jangan Tinggalkan Generasi yang Lemah: Menyiapkan Pemimpin, Melanjutkan Dakwah

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Peringatan Allah Ta’ala: Jangan Meninggalkan Generasi yang Lemah

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”(QS. An-Nisa’: 9).

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk mempersiapkan generasi setelah kita. Jangan sampai generasi–generasi di bawah kita jadi generasi yang lemah. Lemah di sini maknanya sangat luas, karena memang yang dikehendaki Al-Quran dalam ayat tersebut adalah univeralisasi makna. Baik kelemahan dalam aqidah, syariat, psikis, sosial, maupun ekonomi, dan lain sebagainya.

Kelemahan sebuah generasi, tak lepas dari tanggung jawab generasi sebelumnya untuk mengentaskan penerusnya dari jurang kegelapan dan kegagalan. Karena hidup sejatinya adalah kematian, maka salah satu usaha untuk mempersiapkan kematian tersebut adalah dengan mempersiapkan pengganti yang tangguh.

Sirah Nabawiyah: Rasulullah Tidak Hanya Berdakwah, tetapi Mendidik Generasi

Untuk memahami bagaimana menyiapkan generasi penerus, marilah kita melihat perjalanan Rasulullah ﷺ. Sirah Nabawiyah bukan sekadar kisah masa lalu untuk dikenang, melainkan sumber pelajaran untuk membangun kehidupan umat pada masa kini.

Ketika Rasulullah ﷺ memulai dakwah di Makkah, beliau menghadapi penolakan, tekanan, dan berbagai kesulitan. Namun, beliau tidak hanya menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Beliau juga mendidik manusia, membina keimanan, memperkuat akhlak, dan menumbuhkan orang-orang yang siap memikul amanah dakwah.

Di antara tempat penting dalam proses tersebut adalah rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Di sana, Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan wahyu, mengajarkan keimanan, dan membentuk kepribadian mereka.

Dari proses pembinaan itu lahir generasi yang tidak hanya mengenal Islam sebagai ajaran, tetapi juga berusaha mengamalkannya dalam kehidupan. Mereka belajar bersabar ketika menghadapi tekanan, berkorban ketika diperlukan, dan tetap berpegang pada kebenaran ketika menghadapi kesulitan.
Inilah pelajaran pertama dari sirah: dakwah yang berkelanjutan harus dibangun melalui pembinaan manusia, bukan hanya melalui banyaknya penyelenggaraan kegiatan dakwah semata.

Saatnya Membangun Generasi Rabbani yang Tangguh

1. Urgensi Membangun Generasi Rabbani

Umat Islam memiliki amanah menjadi umat terbaik dengan menjalankan dakwah, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

Karena itu, kebangkitan umat membutuhkan generasi Rabbani, yaitu generasi yang memiliki keimanan kuat, akhlak mulia, ilmu yang benar, dan komitmen nyata dalam dakwah.

2. Tiga Karakter Utama Generasi Rabbani

Pertama, Al-Islamu Qā’imun fī Nafsih | Islam tegak dalam diri.
Seorang dai harus menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh, baik dalam akidah, ibadah, akhlak, maupun perilaku sehari-hari. Dalil:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Dai harus menjadi teladan sebelum mengajak orang lain. Penguatan akidah, ketaatan syariat, keikhlasan, dan kualitas ibadah menjadi fondasi perjuangan dakwah.

Kedua, Al-Hirṣu ‘alā ad-Da‘wah | Semangat yang kuat dalam berdakwah.

Dakwah merupakan tugas mulia yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan keteguhan menghadapi berbagai ujian. Dalil:

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)’?” (QS. Fussilat: 33).

Dakwah tidak cukup dengan semangat sesaat, tetapi membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Tantangan eksternal maupun persoalan internal harus menjadi bahan evaluasi dan peningkatan kualitas dakwah.

Ketiga, Al-Isti‘dād li al-Mawti fī Sabīli ad-Da‘wah | Kesiapan berkorban di jalan dakwah.

Generasi Rabbani harus bersedia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan kenyamanan demi menjalankan amanah dakwah. Intinya bukan mencari kematian, melainkan memiliki komitmen yang teguh dan tidak mudah menyerah dalam ketaatan kepada Allah. Dalil:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab: 23).

Dakwah membutuhkan pengorbanan, loyalitas terhadap amanah, dan keteguhan dalam kebenaran.

3. Penyakit yang Melemahkan Umat

Materi ini menyoroti penyakit wahn, yaitu terlalu mencintai dunia dan takut menghadapi kematian. Sikap tersebut dapat melemahkan keberanian, pengorbanan, dan komitmen umat dalam menjalankan agama.

Karena itu, seorang dai perlu menata kembali orientasi hidup: menjadikan dunia sebagai sarana beramal, bukan tujuan utama, serta mempersiapkan kehidupan akhirat dengan amal saleh.

4. Strategi Membangun Generasi Rabbani

Strategi membangun generasi Rabbani dilakukan melalui pembinaan keimanan dengan memperkuat akidah, ibadah, ilmu, dan akhlak, pembinaan kapasitas dakwah dengan meningkatkan ilmu, keterampilan komunikasi, serta kemampuan membina masyarakat, pembinaan ketangguhan melalui latihan kedisiplinan, kesabaran, keikhlasan, dan kesiapan menghadapi ujian, keteladanan nyata dengan menyelaraskan perilaku dai dengan nilai-nilai Islam yang disampaikan, serta regenerasi secara berkelanjutan untuk melahirkan kader-kader baru yang memiliki kepribadian Rabbani dan siap melanjutkan perjuangan dakwah Islam.

Kebangkitan umat tidak cukup dengan banyaknya jumlah kaum Muslimin atau ramainya kegiatan dakwah. Kebangkitan membutuhkan manusia-manusia yang benar keislamannya, kuat semangat dakwahnya, dan tulus pengorbanannya.

Tiga karakter tersebut menjadi fondasi bagi lahirnya generasi Rabbani yang mampu memperbaiki diri, membina keluarga, membangun masyarakat, dan berkontribusi dalam kebangkitan umat melalui dakwah yang berilmu, berakhlak, dan berkesinambungan.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mampu meninggalkan warisan terbaik berupa generasi yang kuat iman, matang akhlak, luas ilmu, dan bermanfaat bagi umat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Download file PDF:

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button